Pulau Abadi

Pulau Abadi
Makan Gratis


__ADS_3

Pukul tujuh pagi, Joko terbangun, dia melihat kedua temannya masih terlelap dalam tidurnya.


"Yeee, pada muka bantal nih, woy! Bangun, Le, Fran!" seru Joko sambil mengguncang tubuh kedua temannya secara bergantian.


Perlahan, Franky membuka matanya, kemudian mengerjapkannya. "Jam berapa, Jok?"


"Jam tujuh lebih, Fran."


Franky pun bangun dari tidurnya, dia hendak mandi, namun lagi-lagi dia mencium aroma masakan.


"Jok, setiap hari kok ada masakan gratis ya, sebenarnya, siapa yang mengirim masakan itu sih?"


Joko mengerutkan keningnya. "Hah? Maksud kamu apa, Fran? Memang ada masakan lagi? Hidung-ku belum normal nih," sahut Joko.


"Belum normal kenapa, Jok?"


"Baru bangun, hehe, memangnya, mana masakannya?"


"Tuh, di meja," tunjuk Franky.


Joko menoleh ke arah yang ditunjuk, di meja yang terletak di sudut kamar, dan seketika dia terbelalak melihat beraneka macam masakan telah tersaji di meja itu.


"Kok aneh sekali ya, Fran, tiap hari ada makanan, tinggal makan, kalau seperti ini terus, uang kamu utuh, Fran, haha!" Joko meledek Franky.


"Iya juga ya, Jok, hehe, ya sudah aku mau mandi dulu," kata Franky.


"Ya sudah sana, Fran, habis kamu gantian aku, si Leon biar tidur terus, nggak perlu dibangunkan," kelakar Joko.


"Biarkan saja, Jok, dia memang tukang tidur juga di rumahnya, kamu jangan kaget."


"Kaget kenapa, aku pun sudah hafal."


Franky tersenyum, kemudian keluar kamar, dan berjalan menuju kamar mandi, hendak melaksanakan ritual mandinya.


Di dalam kamar, Joko masih mengamati masakan di atas meja itu.


"Sebenarnya siapa sih, yang suka mengirim masakan sebanyak ini, aku harus menyelidiki hal ini," batinnya.


Setelah mengamati masakan itu dengan seksama, Joko melihat ada ikan asin, dan seketika itu juga, dia teringat Nawang, si kucing hitam.


Joko mengambil dua buah ikan asin itu, dan memberikannya kepada Nawang di belakang.


"Apa kamu tahu, siapa sebenarnya orang yang selalu mengirim masakan?"


"Aku tak tahu, anak muda," sahut Nawang.


"Namaku, Joko, kamu kenapa selalu memanggil-ku anak muda, kamu sendiri justru lebih muda dari-ku," kelakar Joko dalam hati.


"Memangnya kenapa? Terserah aku saja lah," cetus Nawang.


"Hem, ya sudah, terserah padamu saja, hehe, cepat makanlah ikan asin itu, kamu pasti lapar kan?"


"Meooong ...."


Nawang pun segera memakan ikan asin pemberian Joko, kemudian kembali meringkuk, sambil mengerjapkan matanya.


"Hem, dasar kucing, selesai makan pasti tidur," cibir Joko, yang kemudian berlalu dari hadapan Nawang.


Joko masuk ke dalam kamar, kemudian memindahkan semua masakan yang ada di dalam kamar satu persatu, ke ruang depan.

__ADS_1


Tak lama, Franky selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi, ketika dia hendak berjalan menuju kamar, langkahnya terhenti, dia pun menoleh.


Franky mengamati kucing hitam itu, dia merasakan aneh pada kucing itu, namun segera dia tampik perasaannya, dan kembali berjalan menuju kamarnya.


Di dalam kamar, Franky tak melihat masakannya, dia pun berpikir telah dipindah Joko ke ruang depan, untuk itu, dia pun berjalan ke ruang depan.


Di sana, Joko telah duduk menunggu Franky.


"Eh, ayo, Fran, kita makan!" seru Joko.


"Kamu nggak mandi dulu, Jok?"


"Ah kelamaan, Fran, keburu lapar, hehe."


"Ya sudah ayo kita makan, itu si Leon belum bangun juga."


"Sudah biarkan saja, Fran, mungkin dia sekalian tidur, kan nanti malam kerja, takutnya ngantuk pas kerja."


"Betul juga kamu, Jok, ya sudah kita makan dulu saja."


Mereka berdua pun mengambil nasi putih, di dalam tempat nasi, dan memindahkannya ke piring, kemudian memilih lauknya.


"Eh, Jok, kucing kamu itu, sepertinya aneh ya."


"Aneh gimana, Fran?" tanya Joko pura-pura tak tahu.


"Ya aneh saja lah, sepertinya di beda dengan kucing lainnya."


"Ah mungkin hanya perasaan kamu saja, Fran." Joko berusaha menutupi fakta.


"Iya mungkin saja hanya perasaan-ku."


"Wah, wah, wah, makan nggak ajak-ajak nih," kelakarnya.


"Ah kamu saja masih tidur, Le," seloroh Franky.


"Iya, Le," sambung Joko.


Leon duduk, bergabung dengan mereka, dan tanpa disuruh, dia mengambil piring dan mengisinya dengan nasi beserta lauknya.


"Eh, eh, eh, mandi dulu dong, biar seger, baru makan," ledek Joko.


"Ah kamu ini, Jok, seperti sudah mandi saja, aku tahu kamu juga belum mandi kan.


Wajah Joko merah padam. "Kok kamu tahu, Le?"


"Lah, itu di pinggir mulut kamu, masih ada karak iler hahaha!" Leon terbahak.


Joko meraba pinggiran bibirnya. Dan benar saja, dia merasakan air liur yang sudah mengering menempel di sana, dan seketika Joko pun meringis, sedangkan Franky hanya tersenyum geli.


"Hehe, kita sama berarti, Le," seloroh Joko menahan malu.


Leon terkekeh.


"Eh, Le, kamu nanti malam jadi berangkat kerja?" tanya Franky.


"Jadi, Fran, eh kamu ikut yuk, kan kamu nggak ada kerjaan," kata Leon.


"Nggak ada kerjaan gimana, Le, aku tiap hari mencari inspirasi, itu termasuk pekejaan," ujar Franky.

__ADS_1


"Iya, aku tahu, kamu bikin novel, kan? Kamu bisa bikin di tempat kerja-ku, kan malah tenang."


"Ah nggak enak, Le, kalau orang kerja, ya kerja, kalau bawa teman, ya jelas nanti jadi masalah."


"Nah, betul tuh, Le, bilang saja kamu takut hahaha!" Ledek Joko, sambil memasukan makanannya.


"Aha, aku ada ide!" seru Leon.


"Apa itu, Le?" tanya Franky penasaran, sambil terus mengunyah.


"Sama kamu saja,.Jok, kalau kamu jelas nggak ada kerjaan," kata Leon.


"Yeee, enak saja nggak ada kerjaan, aku banyak urusan, Le, lah kamu pikir, aku kesini ngapain?"


"Ya mungkin cari jodoh," cibir Leon.


"Huuu, dasar otaknya kotor," cibir Joko.


Franky tersenyum geli, sambil menghabiskan makannya.


Leon terkekeh, sambil terus memasukan makanan ke dalam mulutnya.


"Berarti aku berangkat sendiri, nih?" ujar Leon.


"Kamu ini aneh, Le, sebenarnya kamu niat kerja nggak sih?" cetus Joko.


"Ya niat lah, Jok."


"Kalau kamu memang nggak niat, dari awal jangan daftar, dari pada berhenti di tengah jalan, kan malah kamu yang repot," sambung Franky.


"Iya, iya, aku berangkat sendiri nanti."


"Ya iyalah, harus berangkat sendiri, kan kamu yang daftar, masa si Franky yang berangkat, ada-ada saja kamu, Le," kelakar Joko.


Leon tak menjawab ucapan Joko, dia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Mereka bertiga pun segera menghabiskan makanannya.


"Huft, penyakit lama," celetuk Leon.


"Apa itu, Le?" tanya Franky.


"Siapa yang sakit, Le?" Joko tak mau kalah.


"Ini, kenapa ya, kalau habis makan, pasti kenyang, hehe," Leon terkekeh.


"Haduh, kamu ini, Le, ada-ada saja," ucap Joko.


"Kalau habis makan masih lapar, ya kita pasti makan terus, Le," kata Franky.


Lagi-lagi Leon terkekeh.


"Sudah sana, kamu langsung mandi saja, Le, sepertinya nyawa kamu belum kumpul, jadi ngaco omongannya," ledek Joko.


"Ah nanti saja, kalau mau berangkat kerja, males ah jam segini kok mandi."


"Ya ampun, kamu itu jorok sekali, Le," kata Joko.


"Kamu juga belum mandi, Jok."


"Nah ini aku mau mandi."

__ADS_1


Franky menggelengkan kepala, merasa gemas dengan kedua temannya itu.


__ADS_2