Pulau Abadi

Pulau Abadi
Penampakan Nila


__ADS_3

Malam semakin larut, Putri tidur di ruang televisi sedangkan Leon tidur di sofa ruang tamu. Putri merasa mengantuk sekali, dia pun memejamkan matanya, ketika Putri hampir terlelap, samar-samar dia mendengar suara wanita meminta tolong.


"Tolooong ... tolong aku ...."


Suara itu lirih, namun terdengar jelas di telinga Putri. Putri pun beranjak dari tidurnya, dia mencari sumber suara itu. Ketika melewati ruang tamu, dia melihat Leon telah tertidur pulas dengan dengkuran yang cukup kencang.


"Toloooong ... Toloooong ...."


Suara itu kembali terdengar, suara rintihan di keheningan malam yang membuat bulu kuduk meremang. Namun Putri sama sekali tak merasa ketakutan, dia berpikir bahwa manusia derajatnya lebih tinggi dari jin atau makhluk halus.


Putri adalah gadis indigo, yang mempunyai kemampuan melihat makhluk halus, bahkan dia pun dapat berkomunikasi dengan makhluk halus tersebut.


"Sebenarnya, siapa yang meminta tolong?" batin Putri.


Putri membuka pintu, dan keluar dari rumah Franky. Dia berjalan hingga sampai di latar depan rumah.


Wuuussshhh!


Seketika angin berhembus kencang menerpa dedaunan yang melekat di batang pohon, yang berada di halaman rumah Franky. Sekelebat bayangan putih melayang, kemudian berdiri membelakangi Putri.


"Siapa dia? Dan apa maunya?" Putri terus membatin.


"Hey, siapa kamu? Dan apa maumu?" tanya Putri memberanikan diri.


"Tolooong ... Tolong aku ...."


Kini bayangan putih itu membentuk sosok wanita berpakaian serba ungu.


"Apa yang harus aku bantu untukmu?"


Wanita itu membalikkan badan ke arah Putri, tampak jelas wajahnya yang pucat dan kelopak matanya yang menghitam, wanita itu melambaikan tangan ke arah Putri, seolah mengisyaratkan Putri untuk mendekat.


Namun Putri tak menurutinya, karena dia sadar waktu telah menunjukan tengah malam, dan dia pun tahu kalau sosok yang berdiri di depannya bukan manusia biasa.


Wanita itu pun tersenyum menyeringai, dan terus melambaikan tangan, menyuruh Putri untuk mendekat.


"Hey, jangan ganggu anak kecil!"


Sebuah suara dari kejauhan mengejutkan Putri. Putri pun menoleh ke arah suara itu.


"Mas Joko?" panggil Putri.


"Kamu masuk, biar aku yang urus hantu itu."


"Lho, jadi ... Mas juga bisa ...." Ucapan Putri terhenti.


"Benar sekali, aku dan juga Franky bisa melihat makhluk gaib, sudah sekarang kamu masuk, ini masih malam, kamu istirahat lagi saja, kalau kamu melayani perempuan itu, bisa-bisa kamu celaka."


"Baik, Mas." Putri pun berjalan masuk ke dalam rumah Franky.


Braaakkk!


Putri menutup pintu rumah Franky setengah membantingnya.


"Buset, emosi jiwa dia," kelakar Joko dalam hati, kemudian dia mencoba berkomunikasi dengan sosok di depannya.


"Siapa kamu? Dan mau apa kamu mengganggu manusia?"


"Apa kau tak mengenaliku?"


"Hah? Memangnya kita pernah kenalan?" Joko mengerutkan keningnya, sambil terus memperhatikan wajah sosok itu dengan seksama.


"Memang kamu siapa? Sudah, jangan berbelit-belit, to the point saja."


"Aku Nila."


Joko terbelalak.

__ADS_1


"Nila? Nila ... Bidadari?"


"Iya betul."


"Waduh, apa kabar kamu, Nil?"


"Kabar buruk," cetus Nila.


"Memang apa yang terjadi sama kamu? Terus, muka kamu juga jadi jelek gitu," ejek Joko.


"Jangan menghina kau!"


"Dih, memang kenyataan kok."


"Aku minta tolong sama kamu."


"Minta tolong apa?"


"Selendangku diambil orang."


"Hah? Memang, gimana ceritanya?"


"Apa aku boleh cerita di rumah kau? Kalau di sini, nanti bisa gawat, kalau ada orang lewat, kau dikira gila nanti, karna orang melihat kau bicara sendiri."


"Duh, nanti istriku curiga, kalau dia sampai berpikir, kamu adalah selingkuhanku malah repot Nil."


"Nanti aku yang akan menjelaskan."


Joko tampak berpikir sejenak.


"Apa kamu nggak bisa ubah diri kamu, supaya bisa terlihat oleh manusia? Bukannya dulu kamu bisa dilihat manusia, ya?" pinta Joko.


"Bisa, tapi ...."


"Tapi apa?"


"Lho, gimana sih?"


"Sekarang, kau ikutlah denganku."


"Ke mana?"


"Sudah, jangan banyak tanya, pegang tanganku, dan pejamkan mata."


Joko menuruti apa yang diperintahkan oleh Nila, satu menit kemudian, Nila menyuruh Joko untuk membuka mata, dan dalam sekejap mereka telah berada di sebuah air terjun pelangi.


"Di mana ini?" tanya Joko penasaran.


"Kita di air terjun pelangi."


"Buat apa kita ke sini?"


"Ya, itulah, aku ingin kau menolongku."


"Apa itu?"


"Coba lihat batu itu," tunjuk Nila.


Joko melihat sebuah batu besar di dekat air terjun itu.


"Nah, selendangku terjepit di batu itu, tolonglah, ambilkan untukku."


"Memangnya kamu nggak bisa ambil sendiri?"


"Mana bisa aku?"


"Hem, bilang saja malas."

__ADS_1


"Apa kau bilang?"


"Sudah lewat."


Nila terlihat geram dengan ucapan Joko. "Mau menolongku tidak? Kalau tidak mau, aku akan terus mengikutimu, sampai rumah."


"Dih, ngancam."


"Ya sudah, ayo ambilkan selendang itu."


"Iya, iya, huft."


Dengan segenap kekuatan, Joko berhasil mengambil selendang yang terhimpit di batu besar itu, dan menyerahkannya kepada Nila.


Nila pun menerimanya, dan segera memakainya. Dan dalam sekejap, Nila berubah cantik dan bercahaya, dia pun melayang terbang ke atas langit, hingga hilang dalam pandangan.


"Dasar Bidadari aneh, ganggu orang saja malam-malam." Joko pun kembali pulang ke rumahnya.


Keesokan harinya, Via bangun, dia keluar dari kamarnya dan berjalan ke depan, dia melihat Putri tertidur pulas di ruang televisi, sedangkan Leon tidur di sofa yang terletak di ruang tamu.


Via tersenyum melihat mereka. "Aku akan memasak banyak, biar mereka bisa makan dulu di sini," batinnya.


Via keluar rumah, menuju warung sayuran terdekat, dia berbelanja segala sesuatu yang dia butuhkan. Selesai memasak, Putri terbangun karena mencium aroma sedap dari dapur.


Putri berjalan ke dapur. "Kamu sudah bangun?" tanya Via.


"Iya Bu, hehe, gara-gara aku mencium aroma sedap."


Via tersenyum ramah. "Sana mandi dulu, terus kita sarapan."


"Baik, Bu."


Putri pun melaksanakan ritual mandi, dan bertepatan dengan itu, Franky terbangun, dia keluar kamar dan menuju ke depan.


"Le, bangun, sudah sore ini."


Franky membangunkan Leon yang masih tertidur di sofa.


Leon menggeliat, dan membuka mata perlahan.


"Hem, bau apa nih, Fran? Sedap sekali, bikin lapar, hehe."


"Makanya bangun, terus mandi sana, istriku sudah masak, kita makan bersama."


"Wah siap, Fran, ini yang aku tunggu." Leon bergegas ke belakang, hendak mandi.


Tak lama, keempat insan makan bersama.


"Ayo, makan yang banyak Put, biar sehat, kamu juga Mas Leon," celetuk Via.


"Iya, Bu," sahut Putri.


"Kalau Leon nggak perlu disuruh, pasti ini semua habis nggak tersisa," kelakar Franky.


"Yeee, kamu pikir aku serakus itu, Fran?" Leon mencibir.


"Hehe, bercanda, Le."


"Iya Ngga, santai saja, nanti pasti aku habiskan semuanya, hahaha!" Leon terbahak.


Franky dan Via hanya tersenyum geli, melihat tingkah Leon, sedangkan Putri tersenyum malu-malu.


"Ngga, aku pinjam mobilnya ya, aku saja yang mengantar Putri," kata Leon.


"Iya Le, bawa saja, tapi diantar pulang sampai rumah lho si Putri, jangan kamu sasarin," kelakar Franky.


"Ah, kamu, Fran, nyebelin."

__ADS_1


Franky terkekeh.


__ADS_2