Pulau Abadi

Pulau Abadi
Menemui Nawang


__ADS_3

Setelah mandi, Joko bersiap hendak pergi ke rumah Nawang.


"Aku berangkat dulu ya, Fran, Le."


"Oke, Jok, hati-hati," kata Franky disertai anggukan kepala Leon.


Kemudian Joko keluar dari penginapan dan berjalan menuju rumah Nawang. Jarak dari penginapan ke rumah Nawang tak begitu jauh, namun juga tak begitu dekat, dan hal itu tak menjadi masalah bagi Joko.


Setelan berjalan beberapa menit, Joko pun sampai di rumah Nawang, dia mengetuk pintu rumah Nawang yang tertutup rapat.


Tok ... tok ... tok ....


Tak lama, pintupun terbuka, keluarlah Nawang dari dalam rumah, dia tersenyum ceria melihat siapa yang berdiri di hadapannya.


"Kau, Mas? Ayo masuk."


Joko pun masuk ke dalam dan duduk di kursi yang telah tersedia, diikuti Nawang duduk di sebelah Joko.


"Kau dari mana, Mas?" tanya Nawang.


"Dari penginapan, semua urusan sudah selesai, oh iya kita mau pulang, apakah kamu mau ikut dengan-ku?"


"Sekarang, Mas?"


"Iya, Na."


"Ya aku sih mau saja," tutur Nawang.


Seketika Joko menyadari, bahwa rumah Nawang kini kosong, tak ada satupun barang-barang di dalam rumah itu, hanya ada kursi tanpa meja.


"Lho, ini rumah kok kosong, Na?"


"Kan aku sudah bilang, kalau aku akan menjual rumah ini beserta isinya, kau lupa ya?"


"Ya nggak lupa, memangnya sudah laku?"


"Sudah, dua hari yang lalu, dibeli sama saudagar terkaya di desa ini," ujar Nawang.


"Oh, berarti kamu sudah siap ikut aku pulang hari ini?" tanya Joko.


"Iya, aku sudah siap, tapi aku takut, Mas."


"Lho, takut kenapa?"


"Apa orang tua kau akan merestui hubungan kita?"


Joko menepuk keningnya mendengar pertanyaan Nawang.


"Aku lupa cerita sama kamu, kalau orang tua-ku juga sudah meninggal, aku tinggal sendiri di rumah."


Seketika Nawang merasa iba dengan Joko.


"Kita sama, kamu yang sabar ya."


Joko mengangguk, sambil melebarkan senyumnya.


"Ya sudah, sekarang kamu berkemas, dan ikut aku pulang," kata Joko.


"Aku sudah siap dari kemarin, aku hanya membawa baju ganti saja, dan uang hasil menjual rumah ini," sahut Nawang.


"Oh, kalau begitu mana tas kamu? Biar aku bawakan."


"Iya sebentar."

__ADS_1


Nawang pun masuk ke dalam, tak lama dia keluar lagi, dengan membawa koper yang langsung diraih oleh Joko.


"Kamu tunggu sini sebentar ya, Na, aku akan mengambil mobil untuk menjemput kamu, kasihan kalau jalan, lumayan jauh."


"Eh, tak apalah, kita jalan bareng saja, aku sudah biasa jalan jauh kok."


"Beneran nggak apa-apa nih?"


"Iya," angguk Nawang.


Kemudian Joko menggandeng tangan Nawang, sedangkan tangan satunya lagi menarik koper milik Nawang yang berisi pakaian.


Beberapa lama kemudian, mereka tiba di penginapan, Joko mengajak Nawang masuk, mereka di sambut oleh Franky dan Leon, dan Nawang pun tersenyum ramah.


"Kalian sudah pada siap?" tanya Joko kepada kedua temannya.


"Sudah, Jok, ayo kita langsung berangkat saja," ujar Leon.


"Iya, Jok, lebih cepat lebih baik," sambung Franky.


"Ya sudah, yuk," ajak Joko.


Keempat orang itu segera naik ke dalam mobil, dan Franky yang akan mengemudikannya, sedangkan Joko dan Nawang duduk bersebelahan di Jok belakang, sementara Leon duduk di depan bersebelahan dengan Franky.


Perlahan, Franky mengemudikan mobilnya melewati sepanjang pulau abadi itu, dia merasa heran karena perjalanan kali ini begitu lancar tanpa gangguan apapun.


"Kok tumben ya, Jok, jalannya aman," ucap Franky kepada Joko.


"Aman gimana, Fran?" tanya Joko.


"Ya, biasanya kan banyak gangguan, hantu lah, apalah."


"Iya juga ya, biasanya sebentar-sebentar ada kejadian yang nggak jelas," sambung Leon.


"Ya kan hantunya sudah kabur, eh maksudnya kita sudah melaksanakan tugas kita menguburkan jasad hantu penunggu pulau itu," papar Joko.


Mobil terus melaju, suasana hening saat itu, Nawang tertidur dengan kepala tersender di pundak Joko. Joko hanya tersenyum-senyum sendiri, entah apa yang dia pikirkan.


Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya mobil yang dikendarai Franky pun tiba di rumahnya.


"Sudah sampai Jok, Le ...." Franky membangunkan temannya yang ternyata tertidur.


Leon mengucek matanya, dia menoleh ke kiri dan ke kanan, dengan raut wajah bingung.


"Ini di mana, Fran?"


"Ya di rumah-ku lah, Le, ayo masuk dulu, ini masih sore, belum terlalu malam, nanti aku antar kamu pulang ke rumah," kata Franky.


"Ya sudah deh, ayo."


Sementara itu, Joko membangunkan Nawang.


"Na, kita sudah sampai, ayo turun."


Nawang menggeliat, dan membuka matanya perlahan.


"Eh, sudah sampai? Tak terasa, aku ngantuk sekali, terus rumah kamu mana?"


"Ini rumah Franky, kalau rumah-ku berapa langkah saja dari sini, ayo kita masuk dulu di rumah Franky.


Nawang pun menuruti ucapan Joko, dan mereka berempat turun dari mobil, lalu masuk ke dalam rumah Franky.


"Huft, akhirnya kita kembali lagi ke rumah kita," gumam Franky.

__ADS_1


"Ya kamu, Fran, nah aku belum," celetuk Leon.


"Alah nanti juga aku antar, ngobrol dulu lah," sahut Franky.


"Terus, apa rencana kamu, Jok?" Erlangga bertanya kepada Joko.


"Aku akan ke tempat ketua desa ini, kalau aku akan nikah dengan Nawang," jawab Joko.


"Oh bagus deh, nanti aku bantu persiapannya," kata Franky.


"Hem, enak yang mau nikah, terus aku nikah sama siapa ya," cibir Leon meledek Joko.


"Sama hantu juga nggak apa-apa," ledek Joko.


"Yeee, enak saja, aku masih waras dong," ucap Leon.


Franky dan Joko terkekeh, sedangkan Nawang hanya tersenyum geli.


"Kalau kamu, apa kegiatan kamu selanjutnya, Fran?" Joko balik bertanya.


"Biasa, Jok, aku akan terus berkarya membuat novel," jawab Franky.


"Wah, hebat kamu, semangat kawan, semoga tambah sukses dan cepat dapat pendamping hidup."


"Amin, makasih, Jok."


Kemudian Franky pun berjalan menuju ke dapur, dia memasak empat porsi mie instan, dan menghidangkannya kepada ketiga temannya.


"Ayo makan dulu, kalian pasti lapar kan, tapi maaf seadanya ya," kata Franky sambil menata empat mangkuk mie instan di atas meja.


"Duh, kamu ini pakai repot-repot segala, Fran," ujar Joko.


"Iya, Fran, nggak bilang juga mau masak mie, tahu gitu kan aku bantu," sambung Leon.


"Ah sudah, nggak apa-apa, santai saja, ayo kita makan."


Mereka berempat pun segera menikmati mie instan buatan Franky, setelah itu Leon berpamitan untuk pulang ke rumahnya.


"Aku pulang dulu, Fran, Jok, Na, lain kali kita ketemu lagi, main-main."


"Iya, Le, ayo aku antar," kata Franky.


"Jok, Na, aku antar Leon pulang dulu ya."


"Iya, Fran, aku sama Nawang sekalian pulang ya, nanti malam aku mau menemui ketua desa," sahut Joko.


"Oke, Jok, makasih ya, sudah membantu aku meyelesaikan masalah."


"Santai lah, itulah gunanya kawan, saling membantu."


Kemudian Franky dan Leon berjalan keluar rumah, mereka menuju mobil, sedangkan Joko mengajak Nawang ke rumahnya.


Malam hari, Joko menemui ketua desa, dia membahas tentang pernikahannya dengan Nawang.


Dan seminggu kemudian, acara pernikahan Joko dan Nawang berjalan dengan lancar, mereka merayakan secara sederhana.


Satu bulan setelah menikah, Nawang berunding dengan Joko, kalau dia ingin mempunyai usaha.


"Kamu mau usaha apa, Na?" tanya Joko.


"Aku pernah kursus nyalon, dan aku juga punya ketrampilan menyalon, jadi, apakah kau tak keberatan, kalau aku membuka usaha salon?"


"Wah ide bagus itu, Na, bolehlah, sebelah rumah ini masih ada tanah kosong, nanti aku bangun tempat untuk salon."

__ADS_1


"Makasih ya, Mas," kata Nawang sambil memeluk Joko.


"Iya, sayang," jawab Joko sambil tersenyum bahagia.


__ADS_2