
Rindi segera melahap keenam telur itu sekaligus, hingga habis tanpa tersisa sedikit pun, kemudian Rindi meminum habis satu gelas kopi hitam yang telah tersuguh.
Ketika bu Mira, kembali ke dapur, dia sangat terkejut, kedua bola matanya membulat seketika.
"Rin, kamu lapar?"
"Iyalah bu, saya lapar, memangnya kenapa? Kan tadi saya sudah bilang kalau saya lapar sekali."
"Benar juga ya, wajarlah, dia kan koma selama dua bulan lebih," batin bu Mira.
"Ya sudah, setelah makan, kamu istirahat ya, kondisi tubuh kamu kan belum pulih betul."
"Baik bu."
Bu Mira pun kembali masuk ke dalam kamarnya, dia duduk di bibir kasur, dan tampak sedang merenung.
"Sejak Rindi koma, kok jadi aneh ya kelakuannya, logat bicaranya pun berbeda dari Rindi yang sebelumnya, ah sudahlah, mungkin ini efek dari komanya," batin bu Mira.
Malam hari pun tiba, bu Mira kala itu sudah terlelap dalam tidurnya.
Dan Rundi pun sedang merebahkan tubuhnya du atas kasur, di dalam kamarnya.
Tiba-tiba muncul kepulan asap hitam di dalam kamar Rindi, dan perlahan membentuk Pangeran Endro.
Pangeran Endro menatap intens ke arah Rindi yang tak lain adalah Rinjani.
"Kau memang sudah gila, Rin!"
Rinjani hanya bersikap tenang, dan pandangannya pun terarah ke depan.
"Kau memanfaatkan tubuh orang dengan posisi tak sadarkan diri, benar-benar licik kau, Rin!"
"Terus, apa masalahnya, pangeran?"
"Aku hanya ingin mengingatkan kau, Rin kalau kau sampai berhubungan dengan manusia itu, tamat riwayatmu, kau akan punah dan menghilang."
"Anda ini lucu sekali, saya yang menjalani semuanya, kenapa pula anda yang repot? Kalau pun saya memang akan punah, kan saya yang merasakan, dan bukan anda, jadi anda tak perlu repot-repot mengkhawatirkan keadaan saya."
"Kau memang keras kepala, Rin!" geram pangeran Endro kemudian berubah wujud menjadi kepulan asap hitam, kemudian menghilang dari pandangan.
Kin pangeran Endro telah tiba di istana kerajaan milik Raja Jin.
Pangeran Endro mendatangi Raja Jin yang tengah bersemedi.
Pangeran Endro duduk menunggu Raja Jin.
Tak lama, Raja Jin telah selesai bersemedi.
"Ada apa, pangeran?"
__ADS_1
"Romo, Rinjani semakin lama semakin menggila, sekarang, dia memanfaatkan tubuh manusia yang sedang tak sadarkan diri akibat kecelakaan, untuk mendekati manusia yang pernah dia cintai itu."
"Apa??? Gawat, ini tak dapat di biarkan, kalau Rinjani sampai berhubungan dengan manusia itu, kekuatannya akan tersedot, dan tidak menutup kemungkinan, kalau Rinajni akan punah."
"Terus, kita harus bagaimana, Romo?"
"Tak ada jalan lain, selain menghentikan perbuatannya."
"Tapi.. bagaimana caranya Romo? Rinjani itu sangat keras kepala."
"Itulah Rinjani, saya sendiri pun kewalahan menghadapi tingkahnya," ujar Raja Jin.
Pangeran Endro mengepalkan tangannya, dia merasa geram terhadap Rinjani.
Sementara di kamar Rindi, Rinjani hendak keluar dari tubuh Rindi, dia ingin berjalan jalan mencari uadara segar di luar rumah, namun sebagai Rinjani dan bukan sebagai Rindi, karena kalau Rinjani kembali ke wujud asalnya, dia dapat menghilang, sehingga orang-orang tak dapat melihatnya.
Namun Rinjani merasa kesulitan untuk keluar dari tubuh Rindi, karena semakin dia berusaha keluar maka semakin kuat pula energi tubuh Rindi mengikatnya.
"Kenapa saya tak bisa keluar ya?"
"Kau tak akan bisa keluar dari tubuh itu, dan sekarang, kau akan hidup sebagai Rindi, bukan sebagai Rinjani," ucap sebuah suara yang tak berwujud.
Rinjani terkesiap, dia mencari-cari sumber suara tersebut.
"Siapa anda?" tanya Rinjani heran.
Rinjani tampak mengingat lagi suara itu, dan sepertinya, dia memang mengenalinya.
"Apakah itu kau, Ratu?" tanya Rinjani memastikan.
"Ya benar, kau kan yang meminta untuk bereinkarnasi," kata pemilik suara, yang ternyata adalah Ratu penguasa pantai di pulau Abadi.
"Tapi, kenapa saya tak bisa keluar dari tubuh ini?"
"Karna kau telah bereinkarnasi, jadi mana bisa kau keluar masuk seenaknya dari tubuh itu."
Rinjani bingung, dia merasakan dua hal, bahagia dan sedih, bahagia karena keinginannya terkabul, dan sedih karena dia harus bersemayam di dalam tubuh makhluk lain.
"Ratu, saya memang ingin sekali bereinkarnasi, tapi tidak di dalam tubuh manusia lain, saya hanya ingin bereinkarnasi, murni dari diri saya sendiri."
"Kau hanya bereinkarnasi untuk sementara saja, tidak untuk selamanya, alasan kenapa aku memilih tubuh manusia itu untuk kau bersemayam di dalamnya, karna tubuh manusia itu sebenarnya sudah mati, dia kecelakaan, benturan di kepalanya cukup kencang, sehingga membuat dia tak dapat di selamatkan, untuk itu di koma, dan kalau pun kau tak masuk ke dalam tubuhnya, manusia itu dalam waktu dekat ini akan mati, untuk itu pergunakanlah waktu yang singkat ini sebaik mungkin, kau paham kan maksudku?"
"Tunggu ... apa maksud anda, Ratu?" Rinjani semakin tak mengerti dengan maksud Ratu penguasa pantai itu.
"Kau di beri kesempatan untuk melakukan tujuh kebaikan, kalau kau berhasil melakukannya, barulah kau akan bereinkarnasi menjadi manusia seutuhnya, tapi, kalau kau gagal melakukan tujuh kebaikan, kau akan mati bersama tubuh manusia itu, dan tak akan pernah hidup lagi."
"Jadi, sekarang ini, saya belum menjadi manusia seutuhnya?"
"Belum, dan kau masih setengah jin, atau makhluk gaib, kau masih tetap mempunyai kekuatan, tapi, kau tak bisa seenaknya keluar masuk ke tubuh manusia itu!"
__ADS_1
"Huft, baiklah Ratu, saya akan melaksanakan perintah Ratu," jawab Rinjani lemas.
Sesaat suasana pun hening, dan suara Ratu penguasa pantai, pun telah menghilang.
"Sial, kenapa jadi begini? Yang saya mau bereinkarnasi menjadi manusia seutuhnya, kenapa pula harus sementara? Dan kenapa saya harus melakukan tujuh kebaikan? Cih, peraturan macam apa ini?" gerutu Rinjani.
"Kalau tahu akan seperti ini, saya pun tak mau masuk ke dalm tubuh manusia ini."
Tiba-tiba, perut Rinjani merasa lapar, dia pun berjalan keluar rumah, dan mencari penjual sate.
Hanya beberapa langkah saja, Rinjani menemukan warung sate, dia pun menghampirinya.
"Bang, satenya lima puluh tusuk ya, yang mentah saja."
"Hah? Kok mentah, Neng?" tanya penjual sate itu dengan keheranan.
"Iya bang, saya mau bakar sendiri saja, hehehe," Rinjani pun tertawa terkekeh, membuat bulu kuduk yang mendengarnya, meremang.
"Kok tiba-tiba aku jadi merinding begini ya," gumam penjual sate itu dalam hati.
"Merinding kenapa, Bang? Kedinginan ya?"
Alangkah terkejutnya penjual sate itu, karena Rinjani bisa mendengar suara hatinya.
"Eh.. eng.. enggak kok neng," jawab penjual sate terbata.
Kemudian penjual sate itu, membungkus lima puluh tusuk sate mentah, dan memberikannya kepada Rinjani.
Diam-diam, penjual sate itu memperhatikan kaki Rinjani, dia merasa lega seketika ketika kali Rinjani menapak di tanah.
Rinjani menerima sate itu, dan menyerahkan sejumlah uang kepada penjual sate itu.
Setelah mengucapkan terimakasih Rinjani segera pergi.
Penjual sate merasa senang, karena sate jualannya laris, sampai di rumah, dia pun hendak menghitung kembali uang yang dia dapat dari berjualan sate.
Penjual sate itu membuka laci, dan mengambil uang yang berada di dalamnya.
Kemudian menghitungnya, betapa terkejutnya si penjual sate itu, karena di antara uang-uang tersebut, terdapat beberapa lembar daun.
"Hah? Daun dari mana ini? Kenapa banyak sekali daun di dalam laci ini?"
Namun penjual sate itu pun dalam sekejap telah lupa, dengan kejadian yang baru saja di alaminya, dia berpikir bahwa daun-daun tersebut, jatuh dari pohon, di dekat warung tempat dia berjualan.
Dan penjual sate itu pun tak terlalu fokus ke jumlah uang yang dia dapatkan dari hasil menjual satenya, karena setiap harinya, satenya selalu laku keras, dan keuntungan yang di dapatkan sangatlah lumayan.
****
Hai.. hai.. apakah kalian suka sama ceritanya? kalau suka beri like & vote serta tinggalkan komentar 🤗
__ADS_1