
Sementara itu, di kediaman rumah Joko ....
"Lapar sekali aku, sepertinya aku masih punya telur, biar aku goreng saja," batinnya.
Joko pun berjalan ke dapur, dia membuka wakul, alias tempat nasi, yang terletak di atas meja dapur itu.
"Untung, masih ada nasi, kalau nggak, aku harus memasak dulu, dan itu memakan waktu yang lama," batin Joko.
Setelah itu, Joko berjalan ke arah kompor, hendak menggoreng telur, dan betapa terkejutnya dia, karena netranya mendapati sosok perempuan yang sedang duduk di atas kompor, dengan sebelah kaki terangkat ke atas.
"Hem, kamu lagi, mau apa sih? Dan itu, kakinya turun, perempuan kok duduknya seperti itu," gumam Joko, kepada sosok di hadapannya, yang ternyata adalah hantu Rindi.
Hantu Rindi pun menurunkan sebelah kakinya yang dia angkat ke atas kompor.
"Apakah kamu bisa membantuku? Kali ini saja, setelah itu, aku akan pergi dari dunia ini."
"Kamu mau kemana? Mudik? Jiah, ternyata hantu suka mudik juga ya hahaha!" Joko terbahak.
"Apanya yang lucu?" hantu Rindi terlihat geram.
"Ya kamu itu yang lucu hehe, katanya mau mudik."
"Siapa yang mau mudik? Aku bilang mau pergi dari dunia ini, dan aku harus kembali ke alamku."
"Lho, kenapa memangnya? Apa kamu sudah bosan sama si Franky?"
"Dunia kita kan sudah berbeda, dan aku harus kembali ke alamku selanjutnya, kamu pikir enak jadi hantu, bergentayangan nggak jelas setiap hari."
"Aku mana tahu, kan aku belum pernah jadi hantu hehe," kekeh Joko.
"Ya sudah, aku mau minta tolong sama kamu."
"Minta tolong apa?"
"Aku kan sudah pernah bilang, kalau jasadku sudah di kuasai oleh jin itu, jadi aku mau minta tolong sama kamu, aku yakin, hanya kamu yang bisa menolongku."
"Kenapa kamu begitu yakin sekali, kalau hanya aku yang bisa membantumu?"
__ADS_1
"Karna orang sakti di desa ini ya hanya kamu, dan yang aku kenal pun hanya kamu, si Sella nggak mungkin bisa, dia masih anak-anak, si Franky pun nggak punya ilmu apa-apa, dia hanya bisa melihat makhluk gaib saja."
"Lantas, apa yang bisa aku lakukan?"
"Aku minta tolong, keluarkan jin genit itu, dari dalam jasadku."
"Terus, setelah itu, apa yang akan terjadi selanjutnya?"
"Ya aku akan masuk lagi ke dalam jasad milikku, supaya bisa di makamkan dengan layak, dan roh ku pun bisa tenang."
"Lho, bukannya kamu itu kekasihnya Franky? Terus, kalau kamu pergi, apa kamu nggak kasihan sama si Franky, dia jadi kesepian lagi."
"Bukankah masih banyak perempuan di dunia ini? Suatu saat nanti, Franky pasti menemukan tambatan hatinya, hidupku sudah di gariskan sampai di sini saja, dan aku nggak mungkin melawan takdirku."
"Baiklah, aku akan membantumu, tapi kamu harus memberikan botol berisi jin itu, kalau enggak, bagaimana cara aku membantu kamu?"
"Aduh, botol itu sudah aku kasihkan kiya Romli."
"Bodoh sekali kamu, kenapa di kasihkan dia?"
"Ya aku minta tolong sama dia, untuk mengeluarkan jin itu dari tubuhku."
"Ya aku kan nggak tahu, em nanti malam aku ambil lagi saja botol itu."
"Ya biar kiyai itu, yang mengeluarkan jin itu dari jasad kamu."
"Iya, tapi ini sudah berapa hari, nggak ada kabar, lama sekali, aku mau secepatnya, kasihan ibuku setiap hari nggak tenang hidupnya, dia selalu bersedih, aku nggak tega melihatnya."
"Ya sudah, terserah kamu sajalah, dasar hantu, membingungkan huft."
Ya sudah, nanti malam aku akan ambil botol itu, lalu aku kasih ke kamu."
"Ya sudah begitu juga boleh, hem, aku ini lapar, mau goreng telur, kok jadi diajak ngobrol terus sama kamu," gumam Joko.
Joko pun melanjutkan aktifitasnya, dia mengambil telur yang ada di meja dapur, kemudian menggorengnya. Setelah telur itu matang, Joko pun mengambil piring, dan mengisinya dengan nasi.
"Eh kamu mau makan juga, nggak? Biar aku gorengin telur buat kamu, itu nasi juga masih banyak, aku hanya punya telur saja, nggak punya makanan lain."
__ADS_1
Hening, tak ada jawaban.
"Hey, kamu bisu atau tuli?" tanya Joko sambil menoleh ke arah hantu Rindi.
Joko tertegun, karena hantu Rindi sudah menghilang dari hadapannya.
"Huft, dasar hantu, hilang dan muncul seenaknya sendiri, mungkin dia takut, kan sebentar lagi matahari muncul, takut kepanasan dia hehe," batin Joko.
"Ya sudah, aku makan sendiri saja,"
Joko pun menikmati nasi telur yang di masak sendiri.
Sementara itu, hantu Rindi kini telah berada di rumah kiyai Romli. Dia menembus masuk ke dalam rumah kiyai Romli. Sampai di dalam, hantu Rindi, bejalan berkeliling setiap sudut rumah itu.
"Kok sepi, kemana kiyai itu?" gumam hantu Rindi. Dan hantu Rindi pun berjalan di sekitar rumah kiyai Romli, dia berniat akan mengambil botol, yang berisi jin Rinjani.
"Di mana dia menyimpan botol itu?" gumam hantu Rindi.
Hantu Rindu memeriksa setiap sudut ruangan rumah, dan terakhir kali, dia masuk ke dalam kamar kiyai Romli.
Netranya tertuju pada sebuah lemari pakaian, di dalam kamar itu, hantu Rindi pun berjalan mendekati lemari itu.
Setelah dekat, hantu Rindi membuka lemari tersebut, alangkah bahagianya, ketika melihat sebuah botol terletak di dalam lemari itu. Hantu Rindi pun segera mengambil botol itu, kemudian menghilang dari tempat itu.
Kini hantu Rindi berada di sebuah kebun kosong. "Hihihi, akhirnya aku dapatkan kamu lagi," gumam hantu Rindi, sambil memutar-muta botol itu, sambil terkekeh.
Dan di dalam botol itu, Rinjani tengah duduk, dengan raut wajah kesal.
"Kenapa botolnya gerak-gerah sih? Saya kan jadi tak bisa berkonsentrasi, saya sudah bosan berada di dalam sini," ujar Rinjani.
Di sisi lain, kiyai Romli baru saja pulang dari pengajian di masjid, dia segera masuk ke dalam kamarnya, untuk berganti pakaian. Ketika kiyai Romli membuka lemari, hendak mengambil pakaian yang akan dia pakai, dia sangat terkejut.
"Lho, botolnya kok nggak ada, di mana ya? Perasaan aku taruh di sini terus, aneh sekali."
Kiyai Romli pun mengambil salah satu pakaian, yang ada di dalam lemari itu, lalu dia memakainya. Setelah itu, kiyai Romli keluar dari kamarnya, dan berjalan ke ruang depan, dia duduk di sana, sambil merenung.
"Siapa yang mengambil botol itu ya? Nggak mungkin hilang sendiri, tapi di rumah ini, nggak ada siapa-siapa lagi, selain aku, terus bagaimana aku bisa mengeluarkan roh jin pulau itu, dari jasadnya Rindi, kalau botol yang berisi jin itu saja sudah nggak ada?" batin kiyai Romli.
__ADS_1
Kiyai Romli tampak sedang merenung. "Apa jangan-jangan, di ambil sama arwah si Rindi lagi ya? Ya aku yakin, pasti arwah Rindi yang mengambil botol itu, tapi untuk apa? Apa dia sudah berubah pikiran ya?"
Kiyai Romli terus berpikir. "Ah sudah lah terserah, aku nggak mau ikut campur, yang penting niatku baik."