Pulau Abadi

Pulau Abadi
Teror Hantu Hutan


__ADS_3

Selesai makan, Leon mengantar Putri pulang, dengan meminjam mobil Franky.


"Rumah kamu mana, Put?" tanya Leon sambil mengemudikan mobilnya.


"Ikuti saja jalan ini, nanti ada gang kecil, masuk saja, nah rumahku dekat sana."


Leon terus mengendarai mobilnya, hingga tiba di desa R, kini mereka sampai di rumah Putri. Mereka disambut ramah oleh kedua orang tua Putri, Leon pun menceritakan kejadian yang menimpa Putri.


"Terimakasih nak Leon, kalau ada waktu, main-main ke sini, jangan sungkan," kata ibu Putri.


Hati Leon berbunga-bunga, dia seakan mendapat kode lampu hijau, dan semakin yakin untuk mencintai Putri. Selang beberapa saat mereka mengobrol, Leon pun berpamitan pulang, dia langsung menuju rumah Franky.


"Fran, ayo antar aku pulang," kata Leon setibanya di rumah Franky.


"Oke Le, Vi, aku antar Leon pulang dulu ya."


"Iya Mas, hati-hati ya."


"Oke sayangku."


Franky pun mengantar Leon pulang ke rumahnya, setelah itu, dia kembali pulang ke rumahnya.


****


Malam hari pun tiba, kala itu Via sudah terlelap dalam tidurnya. Franky merebahkan tubuhnya di samping Via. Selang beberapa menit, sayup-sayup Franky mendengar suara seorang wanita sedang menangis.


"Hik, tolong aku ...."


"Siapa yang menangis malam-malam begini? Kok minta tolong." batinnya.


Franky beranjak dari tempat tidurnya, dan berjalan keluar kamar, dia berjalan ke dapur, namun tak ada seorang pun di sana, sedangkan suara tangisan itu masih terus terdengar.


Dan bersamaan dengan itu, Joko telah selesai menunaikan aktifitas suami istri, tak lama, Nawang tertidur pulas, tiba-tiba Joko berasa ingin buang air, dia pun pergi ke kamar mandi, selesai buang air, ketika Joko hendak kembali ke kamarnya, sayup-sayup dia mendengar suara tangisan seorang wanita.


"Hik, tolong aku ...."


"Siapa sih, malam-malam gini nangis segala? Ganggu orang mau istirahat saja," lirihnya.


Tangisan itu semakin terdengar jelas di telinga Joko, namun Joko tak dapat melihat sosok tersebut, hanya mendengar saja.


"Gila, hantu atau siluman? Kok nggak mau aku lihat, takut aku naksir kali ya haha, ih nggak mungkin, istriku saja tak kalah cantik," batinnya.


Karena penasaran, Joko pun pergi ke rumah Franky.


"Lho, ada apa Jok, malam-malam begini?" heran Franky.


"Fran, kamu dengar juga nggak?"


"Dengar apa, Jok?"


"Aku dengar suara perempuan nangis di rumah, tapi nggak kelihatan wujutnya."


"Lho, sama kalau begitu, Jok."


"Jadi, kamu dengar juga?"


"Iya Jok, suaranya minta tolong gitu."


"Lho, sama, Fran."


"Siapa ya, Jok?"

__ADS_1


"Tunggu deh, kok aku mikirnya, suara itu dari arwah penasaran," kata Joko.


"Arwah penasaran?"


"Iya, Fran, jangan-jangan itu suara para arwah yang di buang di hutan."


"Oh, iya aku hampir lupa, Jok, aku belum mengecek ke sana dari kemarin."


"Ya sudah, ayo kita ke hutan sekarang," ajak Joko.


"Ya sudah ayo, kita jalan saja, supaya nggak menimbulkan kecurigaan," usul Franky.


"Oke, Fran."


Mereka berdua berjalan hingga tiba di hutan, sesampainya di hutan, mereka memasuki hutan itu, hingga berada di sebuah jurang.


Ketika hendak berjalan menuju hutan, mereka dikejutkan oleh penampakan hantu wanita, dengan wajah rusak, darah mengucur di seluruh tubuhnya, dan bau anyir pun menyeruak menusuk hidung.


"Gila, bau sekali, rasanya ingin muntah aku," gerutu Joko.


"Sama Jok, aku juga," sambung Franky.


"Hey, siapa kamu? Dan kenapa kamu berada di sini?" tanya Joko.


"Tolong aku ...."


"Apa yang harus aku lakukan untuk menolongmu?"


"Tolong kuburkan aku secara layak, supaya kematianku sempurna."


"Tapi maaf, aku nggak bisa bertindak semauku, aku akan hubungi pihak berwajib secepatnya, supaya keluargamu mencari jasadmu, dengan begitu mereka bisa menguburkanmu dengan layak."


"Iya betul, kalau kita bertindak sembarangan, nanti bisa-bisa kita yang dituduh sebagai pelaku atas kematian kalian semua." Franky menimpali.


"Bukan hanya kamu yang aku tolong, tapi semua temanmu juga," kata Joko.


"Kamu korban donor ginjal itu ya?" tanya Franky.


"Betul sekali, anak buah Anton menawariku donor ginjal, mereka memang mengimingiku uang dalam jumlah besar, nggak munafik, aku memang sedang butuh uang, tapi setelah aku mendonorkan ginjal, bukan uang yang aku terima, melainkan nyawaku yang melayang, mereka menyuntikan cairan pemicu serangan jantung, supaya kita seolah mati karna terkena serangan jantung," papar hantu itu.


"Ya ampun, sungguh keji mereka," geram Franky.


Joko pun berjalan mendekati jurang itu, dan melongokkan kepalanya ke dalam jurang itu. Betapa terkejutnya dia, melihat apa yang berada di dalam jurang, banyak mayat berserakan.


"Buset, sudah banyak sekali korbannya," batin Joko.


Kemudian Joko berjalan mendekati Franky, dan menceritakan apa yang baru saja di lihatnya.


"Yang benar kamu, Jok? Kok seram sekali, ah aku nggak mau lihat, takut nggak bisa tidur," gumam Franky.


"Ya sudah, nggak perlu dilihat juga lagi, Fran, aku kan hanya kasih tahu kamu saja."


Kemudian Joko berkomunikasi lagi dengan hantu itu. "Em, aku ada ide, bagaimana kalau kamu bantu aku?" ujarnya.


"Bantu apa?" tanya hantu itu.


"Kita bekerja sama."


"Maksud kamu apa?"


"Ya, kamu kan sekarang sudah jadi hantu, jadi kamu bisa menyelinap ke salon itu, kamu bisa cari sampel untuk barang bukti," papar Joko.

__ADS_1


"Wah ide bagus itu," sambung Franky.


"Ah, enggak ah, aku saja sedang kesal, karna belum waktunya aku mati, masih banyak urusanku di dunia," cetus hantu itu.


"Yeee, nggak mau ya sudah, berarti kamu bakal lama, kalau mau mati sempurna."


"Terserah saja," ucap hantu itu.


"Dih, dasar hantu baper."


"Sudahlah, Jok, kita pulang yuk, kita pikirkan berdua jalan keluarnya," ucap Franky.


"Ya sudah deh Fran, ayo."


Franky dan Joko pulang meninggalkan hutan itu.


Sampai di rumah Franky, Joko berniat hendak singgah sebentar di sana.


"Aku di sini dulu ya, Fran?"


"Iya, Jok, santai saja."


"Beneran nggak ganggu kamu?"


"Ganggu apa sih, Jok?"


"Ya, siapa tahu kamu mau tidur."


"Tidur sih gampang Jok, yang terpenting kita rundingan dulu masalah tadi."


Joko tampak sedang berpikir .... "Eh Fran, aku ada ide."


"Apa, Jok?"


"Bagaimana kalau kita minta bantuan Nila?" usul Joko.


"Nila?"


"Iya, Fran, kamu masih ingat nggak ... Nila si bidadari, yang kamu curi selendangnya?"


"Enak saja, aku nggak mencuri, Jok."


"Hehe, iya, iya, bagaimana?"


"Caranya gimana, Jok?"


"Ya, kita panggil dialah."


"Kamu bisa, Jok?"


"Bisa Fran, pakai ilmu telepati."


"Wah, kamu benar-benar sakti Jok, kalau urusan makhluk gaib, kamu ahlinya."


"Ya gitu deh, aku belajar bertahun-tahun, Fran. Kalau nggak ada hasilnya, ya percuma kan?"


"Iya sih Jok, terus, apa yang akan kamu lakukan."


"Kamu dulu bertemu Nila di mana, Fran?"


"Di hutan dekat perkemahan, Jok."

__ADS_1


"Ya sudah, nanti kasih aku alamatnya, aku akan bertapa di sana, memanggil si Nila."


"Siap, Jok, semoga saja berhasil."


__ADS_2