Pulau Abadi

Pulau Abadi
Kencan yang Aneh 2


__ADS_3

Penjual sate itu pun segera menaiki motornya, dan mengendarai menuju rumahnya.


Rinjani tersenyum smirk sambil menatap bakul sate yang terus berlalu dan perlahan menghilang di kegelapan malam.


Sementara itu Franky terbelalak, dia sangat terkejut dan tak percaya melihat Rinjani menghabiskan dua porsi sate sekaligus dalam sekejap.


"Ka.. kamu lapar atau doyan, Rin?"


Rinjani meringis malu.


"Hehe, maaf, Fran, saya sudah menghabiskan makanan kamu, kita beli lagi ya?"


"Eng.. nggak perlu, Rin, aku malah senang kalau kamu makan banyak, biar sehat hehe."


"Tapi kan saya sudah menghabiskan bagian anda, dan anda jadi tidak makan."


"Sebenarnya, aku nggak begitu lapar, aku hanya menemanimu makan saja, supaya kamu lebih berselera."


"Wah, Anda memang sangat pengertian."


Franky merasa tersanjung mendengar ucapan terakhir Rinjani.


Namun seketika Franky mengernyitkan dahinya, dia merasa ada yang aneh dengan diri Rindi, hanya saja kali ini dia sudah tak berani membatin lagi.


Malam pun perlahan mulai larut, hawa dingin kian menyeruak menusuk tubuh hingga ke dalam tulang, keadaan sekitar pun mulai sepi.


Kini di tempat itu hanya tersisa Franky dan Rinjani, suasana sangat sunyi, hanya suara hewan malam yang terdengar.


"Kita pulang, Rin, sudah tengah malam, kamu juga butuh istirahat kan?"


"Baiklah, Fran."


"Oh iya, aku akan mengantarkan kamu pulang sampai rumah, motor kamu biar di antar ke rumah kamu besok pagi, kamu tinggal sebutkan saja nama bengkelnya."


"Tidak perlulah, Fran, saya akan ambil sendiri saja, sudah tidak apa-apa."


"Ya sudah deh, terserah kamu saja, sekarang yuk kita pulang."


Franky mengemudikan mobilnya, dia mengantarkan Rinjani ke rumah Rindi.


Sampai depan rumah Rindi, Rinjani turun.


"Trimakasih, Fran, sudah mengajak saya kencan."


"Sama-sama, Rin, ya sudah kamu masuk, aku pulang dulu ya."


Rinjani tersenyum dalam anggukannya.


Setelah Franky pergi, Rinjani melayang menembus masuk ke dalam kamar Rindi, dia mengembalikan semua ke posisi semula hanya dengan mengerjapkan matanya, kemudian Rinjani menghilang.


Perlahan Rindi membuka matanya, dia terduduk, kemudian Rindi melirik jam dinding, dia pun terbelalak.

__ADS_1


"Astaga, kenapa aku bisa ketiduran, harusnya malam ini aku kencan dengan Franky, dan sekarang sudah jam dua belas malam," batinnya.


Rindi pun menelpon Franky, namun saat itu Franky sedang dalam posisi mengemudikan mobil, dan dia saat itu berada di kawasan susah sinyal.


"Kok nggak aktif sih, apa mungkin dia sudah tidur? Atau jangan-jangan justru dia marah sama aku? Duh, gimana ini?"


Rindi pun mengirim pesan kepada Franky, berharap Franky akan membacanya ketika dia membuka ponselnya.


Kemudian Rindi melanjutkan membaca novel, sementara itu Franky hampir tiba di rumahnya.


"Rindi kok aneh sekali hari ini? Terus, cara dia berbicara juga mengingatkan aku sama seseorang, tapi siapa ya?" Franky bertanya-tanya dalam hati.


"Ah sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja," ujar Franky lirih.


Kini Franky telah tiba di rumahnya, dia pun masuk ke dalam rumahnya, setelah sebelumnya memasukkan mobilnya ke bagasi.


Di dalam kamar, Franky membuka ponselnya dan membuka layarnya.


"Hah? Rindi kirim pesan? Hem, baru saja ketemu, apa dia sudah kangen lagi sama aku," Franky tersenyum penuh percaya diri.


Franky membaca pesan dari Rindi.


"Fran, maafkan aku, sungguh aku nggak sengaja ketiduran tadi, kita jadi batal ketemuan deh, apa kamu besok positif berangkat ke lembah itu? Kalau iya, ya sudah kita ketemu lagi kalau kamu sudah pulang dari sana, aku akan selalu menunggu kamu, Fran."


Isi pesan dari Rindi.


Franky mengerutkan keningnya.


"Lho Rin, kita kan baru saja berkencan, kamu ini gimana sih, masa baru setengah jam yang lalu kamu sudah lupa?"


Balasan pesan dari Franky.


Di dalam kamarnya, Rindi merasa heran.


"Maksud kamu apa, Fran? Aku tuh ketiduran, dan ini baru saja aku bangun, kamu mimpi mungkin," balas Rindi.


"Ya ampun Rin, beneran deh, kamu tadi ke rumahku, terus kamu bilang kalau motor kamu bannya kempes, terus kita ke taman bunga, dan kita pesan sate, malah kamu makan sateku juga sampai habis," balas Franky lagi.


Rindi semakin bertambah heran.


"Hah? Apa si Franky sedang ngehalu, ya?"


"Ya sudahlah, Fran.. kamu istirahat saja, mungkin kamu lelah, aku juga masih ngantuk, dan mau istirahat, besok kita kan sama-sama kerja."


"Okelah, Rin, selamat beristirahat ya, sampai jumpa lagi di lain waktu."


Pesan pun berakhir...


Franky menaruh ponselnya di dekat bantal, dan dia pun merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Rindi bilang, dia ketiduran, lho terus tadi aku kencan sama siapa dong? Masa iya aku mimpi? Hem.. benar-benar kejadian nggak masuk akal."

__ADS_1


Tanpa sadar, Franky pun terlelap dalam tidurnya.


****


Dan di dunia gaib, Rinjani masuk ke dalam tempat kediamannya.


"Kau menemui manusia itu lagi?" tanya Pangeran Endro yang sudah berada di dalam.


"Bukan urusan anda!"


"Kau itu istriku, jadi kau sudah menjadi urusanku, paham?"


Rinjani tak menjawab, dia masuk ke dalam kamarnya, dan merebahkan tubuhnya di samping Raju.


Tak lama Pangeran Endro masuk ke dalam kamar, dia mendekati Rinjani, tangannya yang besar dan berkuku tajam membelai surai milik Rinjani, namun segera di tepis oleh si pemilik surai itu.


Pangeran Endro terlihat sangat geram.


"Kau akan menyesal atas sikapmu, Rin."


"Sudahlah, jangan banyak bicara, kalau anda memang sudah tak tahan dengan sikap saya, anda bisa menceraikan saya."


Pangeran Endro terbelalak, dia tak mungkin bisa menceraikan Rinjani, karena dia sangat mencintai Rinjani sampai kapan pun.


"Bagaimana caranya, supaya dia bisa luluh kepadaku," batin Pangeran Endro.


"Sampai kapan pun, saya tak akan pernah luluh dengan anda."


Deg!


Pangeran Endro terkesiap, dia lupa kalau Rinjani juga makhluk gaib sama seperti dirinya, oleh karena itu, Rinjani dapat mendengar kata hatinya.


Pangeran Endro pun terdiam.


****


Pagi hari pun tiba, di dunia manusia, Franky bangun, dia mandi dan perpakaian rapi, hari itu dia akan pergi ke lembah ilusi untuk menyiapkan buku terbarunya.


Dia mangambil koper yang sudah berisi pakaian dan perlengkapannya, dan menaruhnya di dekat pintu depan rumah.


Sebelumnya Franky mengirim pesan kepada Leon untuk bersiap-siap, karena dia akan menjemput Leon.


Sambil menunggu balasan pesan dari Leon, Franky menyeduh teh melati dan menikmatinya di teras depan rumahnya.


Tanpa di sengaja, Franky melihat Sella berjalan di depan rumahnya, Sella menoleh ke arah Franky dan menatap lekat ke arahnya.


Lama Sella menatap Franky, kemudian Sella pun berlalu pergi.


"Anak itu kok aneh sekali ya, sebenarnya ada apa sama dia?" batin Franky.


"Ah sudahlah, biarkan saja, lagian dia itu kan masih anak-anak, jadi ya wajar lah kalau bersikap seperti itu."

__ADS_1


Franky segera menghabiskan tehnya, dan membawa gelasnya ke dapur, kemudian dia mengambil kopernya dan memasukannya ke dalam bagasi mobilnya, karena Leon mengirim pesan bahwa dia telah siap.


__ADS_2