
Pagi hari pun tiba, seperti biasa ketiga pria itu bangun, untuk menjalankan aktifitasnya masing-masing.
"Aku mandi dulu ya, Fran, Jok," kata Leon.
"Baiklah, Le," kata Joko disertai anggukan kepala Franky.
Ketika Leon hendak bangkit, hidung bulatnya mencium aroma sedap dari suatu masakan.
"Eh Fran, Jok, kalian mencium bau masakan nggak?" tanya Leon.
Franky dan Joko saling berpandangan, kemudian hidung mereka mengendus sesuatu, dan memang benar, mereka pun mencium aroma masakan.
Leon terus mengendus, seolah aroma itu berasal dari kamar mereka sendiri, dan ketika Leon mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, netranya berhenti pada sebuah meja yang berada di sudut kamar.
Kedua bola mata Leon membulat, tatkala melihat apa yang tersaji di meja itu.
"Hey! Kalian, lihatlah di meja itu!" seru Leon.
Franky dan Joko pun menoleh ke arah yang dimaksud, dan kedua bola mata mereka pun membola sempurna. Di atas meja itu, telah tersaji nasi beserta lauk pauk nya.
Joko berdiri, dan mendekat ke meja itu. "Siapa yang masak sebanyak ini? Dan ... sejak kapan makanan ini ada di meja? Dari siapa ya?" herannya.
Franky ikut berdiri dan mendekati meja itu, dia pun terbelalak. "Wah, makanan! Banyak sekali," lirihnya.
"Apa kamu nggak tahu, Le, siapa yang mengirim makanan ini?" tanya Joko kepada Leon mencoba memastikan lagi.
"Lah, kan kamu lihat sendiri, aku baru bangun, bareng sama kamu juga," kata Leon.
"Iya juga, ya," gumam Joko.
"Kamu juga nggak tahu, Fran?" Joko bertanya kepada Franky.
"Lah, apa lagi aku, Jok," ujar Franky.
"Apa bu Regina ya," lirih Joko.
"Em, bisa jadi, Jok," sambung Leon.
"Ya sudah, aku akan ke rumah bu Regina, kalau memang benar dia yang kasih, aku akan mengucapkan terimakasih."
"Oke deh, Jok, aku mandi dulu, abis mandi, makan deh, hehe," kekeh Leon.
Joko menggeleng, kemudian dia keluar kamar dan berjalan menuju keluar penginapan, hingga dia tiba di rumah bu Regina yang jaraknya hanya berdekatan dengan penginapan itu.
Tok ... tok ... tok ....
Joko mengetuk pintu rumah bu Regina. Dan tak lama, keluarlah seorang wanita dari dalam rumah itu, yang adalah bu Regina.
"Oh kamu, ada apa ya?" tanyanya.
"Eh enggak, Bu, saya hanya ingin mengucapkan terimakasih," sahut Joko.
"Terimakasih? Buat apa?" bu Regina mengerutkan keningnya.
"Ya, terimakasih, untuk masakan yang ibu kasih."
"Hah? Masakan? Maaf, apa kamu mengigau?" bu Regina terlihat heran.
__ADS_1
"Lho, tapi di kamar saya ada nasi sama lauk cukup banyak."
Bu Regina mengerutkan keningnya, dia berpikir kalau Joko sedang mengigau.
"Saya nggak merasa kasih masakan ke kalian."
Ucapan bu Regina, membuat Joko semakin bingung.
"Lho, jadi, masakan itu dari siapa, ya?"
"Saya juga nggak tahu, dan saya ini baru bangun tidur, belum masak juga, apa lagi belanja bahan makanan. Nah, ini saya mau mandi, terus ke pasar," papar bu Regina.
Joko menggaruk kepalanya tak gatal itu.
"Ya sudah ... maaf, Bu, saya permisi."
Bu Regina mengangguk, dan Joko pun membalikan badan berjalan menuju ke penginapannya.
"Gimana, Jok?" tanya Leon, yang baru saja selesai mandi, dan melihat Joko masuk ke dalam kamar.
"Bu Regina bilang, dia nggak ada kasih masakan."
"Hah?" Franky dan Leon terkejut.
"Ah sudahlah, nggak perlu dipikir pusing, kita makan saja, kan kita juga nggak mencuri, makanan itu ada sendiri di kamar kita, ya kan?" ujar Joko.
"Iya sih, eh atau jangan-jangan dari makhluk gaib itu, Jok," celetuk Leon.
"Hah? Makhluk gaib? Ah ada-ada saja kamu, Le." Franky menimpali.
"Sudah, jangan berpikir macam-macam, ini sudah pada mandi belum?"
"Dih, males ah, masa aku suruh cium ketiak kamu, hem." Joko menggembungkan kedua pipinya.
Franky dan Leon tertawa terpingkal.
"Kamu, Fran? Sudah mandi?" Joko menatap ke arah Franky.
"Ini aku mau mandi," jawab Franky.
"Ya sudah cepat mandi, terus giliran aku, nah setelah itu, kita makan bareng," ujar Joko.
"Iya, Jok, aku mandi sebentar, kamu jaga di kamar," kata Franky.
"Dih, ngapain, Fran? Suruh jaga kamar segala?"
"Nanti makanannya dihabisin sama kucing," kelakar Franky.
"Yeee, kucing ku nggak suka makanan seperti itu," cetus Joko.
"Bukan kucing kamu, yang aku maksud, Jok."
"Terus, siapa?" Joko merasa penasaran.
Franky melirik ke arah Leon, yang sedang menyisir surainya.
"Aku bukan kucing, lho," celetuk Leon, yang dapat membaca gelagat Franky dari pantulan cermin yang berada di hadapannya.
__ADS_1
Franky dan Joko terkekeh.
"Sudah sana mandi, Fran. Kelamaan kamu, aku sudah lapar sekali," ujar Leon.
"Iya, iya," sahut Franky seraya mengambil handuk yang melekat di bahu Leon.
Kemudian, Franky keluar kamar dan berjalan menuju ke kamar mandi. Ketika melewati gudang, entah kenapa Franky merasa seperti ingin berhenti di depan gudang itu, dia seolah mendengar suara yang memanggilnya.
Franky menempelkan kupingnya, di pintu gudang itu.
"Meooong ... Meooong ....!"
Tiba-tiba Franky dikejutkan oleh suara kucing dari arah dapur. Franky pun menoleh, dia melihat Nawang sedang berdiri mengawasinya.
"Oh iya, aku kan mau mandi, ngapain juga sih ngurusin gudang itu," batinnya.
Di dalam kamar, Joko merasa ada sesuatu yang terjadi di luar kamar.
"Seperti suara Nawang tadi, ada apa ya dia?" batin Joko kemudian segera keluar kamar, dan berjalan ke arah kamar mandi.
Dan benar saja, dia melihat Nawang sedang berdiri, menghadap gudang itu, kedua bola matanya yang tajam, terus menatap gudang itu.
"Ada apa, Nawang? Kamu nggak seperti biasanya, mengeong terus," kata suara hati Joko.
"Teman kamu, mencoba mendekati gudang itu lagi," jawab suara hati Nawang.
Joko terbelalak, sambil menatap intens, ke arah gudang itu.
"Hem, rupanya makhluk itu mencoba mengganggu Franky lagi, tapi nggak masalah, pintu gudang misterius itu sudah aku tutup, dengan kekuatan gaibku," batin Joko.
"Ya sudah, kamu yang tenang ya, Nawang, nggak perlu ikut panik," ujar suara hati Joko.
Nawang pun mengangguk, ketika Nawang berbalik arah ....
"Eh tunggu!" Joko memanggilnya dalam hati.
Nawang menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah Joko. "Ada apa lagi, anak muda?"
"Em, apa kamu tahu, siapa yang mengantar masakan untuk kita?"
Nawang terbelalak, namun kemudian, dia bersikap cuek dan santai. "Mana aku tahu, aku selalu berada di belakang terus, sedangkan kamar kalian di tengah."
"Oh, ya sudah kalau begitu, aku hanya heran, siapa yang mengantarkan makanan untuk kita, dan tadi aku tanya sama bu Regina, dia bilang nggak merasa memberi kita makanan."
"Ya sudah, dimakan saja, mungkin itu rejeki kalian, yang penting makanan itu bukan hasil curian, kan," ujar suara hati Nawang.
"Iya, setelah ini kita makan, ya kita hanya heran saja, tiba-tiba ada makanan di dalam kamar, kan aneh."
"Nggak akan aneh, kalau nggak ada yang merasa kehilangan makanan itu."
"Oke, deh," angguk Joko.
Dan bertepatan dengan itu, Franky keluar dari dalam kamar mandi.
"Sudah selesai mandi nya, Fran?"
"Sudah, Jok," angguk Franky sembari memberikan handuk kepada Joko.
__ADS_1
Joko pun meraihnya, dan masuk ke dalam kamar mandi, dia pun melaksanakan ritual mandinya, sambil bersiul riang.