Pulau Abadi

Pulau Abadi
Mencuri Selendang


__ADS_3

Malam berganti siang, dan kini malam kembali merangkak, setelah Nawang terlelap dalam tidurnya, Joko bersiap pergi ke hutan yang dimaksud oleh Franky.


Sampai di hutan, Joko mencari danau tempat para Bidadari selalu mandi, setelah menemukan danau itu, bagai pucuk di cinta ulam pun tiba, kebetulan malam itu, Joko melihat tujuh Bidadari sedang turun dari tangga pelangi, mereka hendak melaksanakan ritual mandinya.


Ketika mereka tengah asik mandi, Joko berjalan mengendap-endap, menuju ke tempat di mana mereka menaruh selendang alias pakaian adat kahyangan.


Joko memperhatikan ketujuh selendang milik para Bidadari itu, kemudian netranya tertuju ke sebuah selendang berwarna ungu.


"Itu pasti selendang Nila, ya betul, dia kan pakaiannya serba ungu," batin Joko.


Kemudian Joko mengambil selendang berwarna ungu itu, dan segera berjalan menjauhi danau itu. Joko menunggu di sebuah tempat, tak jauh dari danau itu. Tak lama, Joko mendengar langkah kaki seseorang, sambil mengeluh.


"Huft, siapa lagi sih, yang mengambil selendangku? Kenapa terjadi lagi, masa iya aku harus tinggal di bumi lagi, huft."


Ternyata dia adalah Nila, yang telah kehilangan selendangnya.


"Aku yang mengambilnya," celetuk Joko tiba-tiba, sambil berjalan mendekati Nila.


Nila menoleh ke arah sumber suara, kedua bola matanya membulat seketika.


"Joko?"


"Hay Nila, apa kabar?" tanya Joko sambil meringis.


"Kau lagi?"


"Memang kenapa? Bosan sama aku? Hehehe ...."


"Kenapa kau mengambil selendangku? Apa maumu?"


"Sudah, nggak perlu banyak tanya, sebaiknya kamu ikut saja denganku."


"Ke mana?"


"Ke neraka ... ya ke rumahku lah."


"Mau apa kau?"


"Yang jelas, aku nggak akan memperkosa kamu."


Nila terdiam sejenak ....


"Kalau kamu nggak mau ikut denganku, ya silahkan saja, aku juga nggak akan memaksa kamu, tapi kamu pun nggak akan bisa pulang tanpa selendang ini, hahaha!" Joko tertawa sambil memutar-mutar selendang yang di pegangnya.


"Benar-benar jahat, kau!" seru Nila.


"Aku nggak jahat, aku hanya memerlukan bantuanmu, kalau sudah selesai, kamu boleh pulang."


"Tapi aku tidak mau satu rumah dengan laki-laki, bukan muhrim lagi."


"Kau tenang saja, aku sekarang sudah punya istri, dan dia bisa menjadi temanmu."


"Istri? Benarkah?"


"Hey, kamu pikir aku ini nggak laku ya?"


"Cih, siapa juga yang bilang begitu?"


"Ya sudah, ayo ikut aku."


Nila berjalan mengikuti Joko. "Sebenarnya, apa maumu?"


"Ya sudah, kita duduk dulu yuk, aku akan cerita banyak sama kamu.


Joko dan Nawang duduk di sebuah batu besar, mereka masih berada di dalam hutan itu. Joko menceritakan tentang Anton, bisnis ginjal berkedok salon, dan para pendonor yang menjadi korban.


"Wah, sadis sekali sih."


"Maka dari itu, La, aku butuh bantuanmu."

__ADS_1


"Terus, apa yang dapat aku lakukan?"


"Kamu jadi penyusup di salon itu, dan selidiki apa yang ada di dalam salon itu, awasi pergerakan mereka, dan satu lagi, cari sampel ginjal itu untuk dijadikan barang bukti."


"Kenapa harus aku?"


"Karna kamu siluman, nggak bisa dilihat orang."


"Enak saja kau, mengatai aku siluman."


"Lho, memang benar kan? Memang kamu pikir, kamu siapa?"


"Aku ini Bidadari yang turun dari kahyangan."


"Ah, sama saja, yang jelas, kamu itu bukan manusia biasa."


Nila terdiam, dan membenarkan ucapan Joko.


"Eh, kamu rindu nggak sama Franky?"


"Rindu? Buat apa?"


"Kamu bukannya dulu pacarnya dia."


"Itu sudah menjadi masa lalu, sudahlah jangan diungkit lagi."


"Iya, iya, eh si Franky sudah menikah sekarang."


"Terus, apa urusannya denganku?"


"Kamu nggak cemburu?"


"Hahaha!" Nila tertawa menggelegar.


"Buset, ketawanya pelan-pelan saja kali."


"Kalau pelan namanya bukan ketawa."


"Jawab saja sendiri," ledek Nila.


"Huuu ... dasar!"


Nila terkekeh. "Ngomong-ngomong, kau kenal istrimu di mana?"


"Kepo ya?" ledek Joko.


"Biarin saja."


"Di pulau abadi."


"Pulau abadi? Tempatnya jin genit itu?"


"Nah, kamu masih ingat?"


"Mana bisa aku lupa, dia selalu mencari masalah denganku."


"Tapi dia sudah tenang di alamnya."


"Maksudmu?"


"Ternyata dia gentayangan karna mencari jasadnya."


"Memang, di mana jasad dia?"


"Disembunyikan dalam lukisan terus aku temukan dan aku kubur, ya dia ikut hilang juga."


"Memang, siapa yang menyembunyikan jasadnya, dan apa tujuannya?"


"Mana kutahu, aku hanya menjalankan tugas saja, tapi di sana, aku sempat berkelahi dengan orang yang namanya Jarwo, tapi dia sudah mati juga."

__ADS_1


"Apa kau bilang? Jarwo?"


"Kenapa? Apa kamu kenal dia?"


"Iya, dan dia yang mengenalkan saudaranya, kepada ayahku."


"Maksud kamu apa?"


"Jadi gini, ada sepasang suami istri yang tidak dikasih keturunan, dan dia terus memohon kepada dewa, dan akhirnya dikabulkan juga, dan ayahku menitiskan cucunya kepada sepasang suami itu, melalui Jarwo."


Joko bertambah bingung dengan ucapan Nila. "Ah, aku nggak paham, tapi setahu aku, Jarwo itu orang yang jahat."


"Kalau masalah itu, aku pun tak paham, tapi yang jelas, ayah ku nenitipkan cucunya kepada manusia, dengan syarat, kalau sudah dewasa, mereka harus mengembalikan anak yang diasuhnya.


"Lho, kok gitu?"


"Ya, karna bidadari tidak bisa berlama-lama hidup di bumi."


"Memang kenapa?" Joko bertambah heran.


"Aku tidak bisa menjelaskan secara rinci, yang jelas, kalau Bidadari terlalu lama hidup di dunia manusia, dia akan punah."


"Wah, yang benar kamu?"


"Iya."


"Apa yang dimaksud Nila, adalah Nawang?" batin Joko.


"Apa kau bilang? Nawang?" Nila dapat mendengar suara hati Joko.


"Aduh, kenapa aku lupa sih, pakai bicara dalam hati segala, kamu ini kan sama seperti Vio, bisa dengar suara hati orang."


"Makannya, kalau bicara, ya bicara saja, tak perlu pakai suara hati segala."


Joko meringis, dan menggaruk kepalanya yang tak gatal itu. "Hehe, iya La."


"Tadi kamu menyebut nama Nawang, siapa itu Nawang?"


"Istriku."


Nila membelalakan matanya.


"Apa? Jadi, kau menikah dengan saudaraku?"


"Saudara? Tunggu ... apa maksud kamu?"


"Eh, tidak, mungkin saja aku salah."


"Kamu ini bagaimana sih, La? Bicara nggak jelas."


"Ya, wajar saja, namanya orang kaget."


"Jadi bagaimana? Apa kamu mau membantuku?"


"Baiklah, kalau di rumah ada istrimu, aku mau saja, dengan begitu, aku ada teman, dan nanti kau kenalkan aku dengan istrimu."


"Siap, istriku orangnya ramah, pasti kamu bisa cepat akrab sama dia, dan kamu harus menyamar jadi manusia biasa, dan tolong jangan sampai penyamaranmu ketahuan sama siapa pun, bisa repot urusannya."


"Okelah, tapi Franky pasti akan tahu."


"Ya, kalau dia sudah pastilah, tapi bisa dikondisikan, nanti aku jelaskan sama dia."


"Ya sudah kalau begitu, kita pulang saja, nanti kau punya istri mencarimu."


"Dia sudah tahu rencanaku kok, mengenai penyelidikan salon itu, jadi tenang saja."


"Bagus deh kalau begitu."


"Ya sudah kamu tutup mata, kita pulang lewat jalan gaib," titah Joko.

__ADS_1


Joko dan Nila pun memejamkan matanya, dan tanpa menunggu lama, mereka telah tiba di rumah Joko, saat itu waktu sudah menunjukan pukul lima dini hari, dan adzan subuh terdengar berkumandang.


__ADS_2