Pulau Abadi

Pulau Abadi
Mbak Kunti


__ADS_3

"Lho, kamu ini bagaimana sih Le? Katanya mau main di rumah aku, sekarang sudah sampai sini malah minta pulang, nanggung banget sih Le," ujar Franky.


Leon tampak bingung dia menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Lho, kan kita sudah ngobrol lama dari tadi, ini sudah sore, dan sebentar lagi malam."


"Sudahlah, kamu menginap saja di sini, pulang besok, sudah mau malam, nanti di jalan di culik mbak kunti lho," ledek Franky.


Pada saat yang bersamaan, angin dingin berhembus menyeruak masuk ke dalam rumah Franky, seketika bulu kuduk Franky dan Leon meremang.


"Kok aku jadi merinding," gumam Leon.


"Sama Le, aku juga," sambung Franky.


"Kalian ini, jangan suka sembarangan menyebut nama mereka, apalagi ini sudah petang, mereka pasti akan datang mendengar namanya di sebut," kata Nila yang tiba-tiba sudah berada di hadapan mereka berdua.


Franky dan Leon tertegun, terlebih lagi Leon yang masih memperhatikan Nila dengan perasaan ngeri, entah mengapa di mata Leon, Nila seperti hantu yang menyeramkan, dia selalu merinding saat berdekatan dengan Nila.


"Lho, La, kamu bukannya sudah pulang kost, kok di sini lagi, kapan masuknya?" heran Franky.


Belum sempat Nila menjawab pertanyaan Franky, tiba-tiba terdengar suara kekehan lirih di telinga mereka


"Su.. suara.. a.. apa itu Fran?" gagap Leon ketakutan.


"Nggak tahu Le, seperti suara orang tertawa tapi kok aneh tertawanya," sahut Franky.


"Kalian sudah memanggil kuntilanak, paham?" tutur Nila.


Franky dan Leon terkejut, jantung mereka berdegup kencang karena merasa ketakutan yang luar biasa.


"Te.. terus, gimana ini La?" Franky ikut tergagap.


"Kalian masuklah ke kamar, jangan ada yang keluar, kunci pintu kamar dan beristirahatlah, lain kali, tidak perlu kepo dengan urusan orang, paham? Biar aku yang mengusir dia," jawab Nila dengan nada datarnya.


Franky mengajak Leon masuk ke kamarnya, dia segera mengunci pintu, mereka berjalan menuju tempat tidurnya, merebahkan diri dan memakai selimut rapat-rapat.


"Fran, Nila itu sebenarnya siapa? Sepertinya dia seram sekali," bisik Leon.


"Seram bagaimana Le? Orang cantik begitu di bilang seram," sahut Franky yang juga berbisik.


"Benar, dia itu cantik, tapi kok aku merinding ya kalau berada di dekat dia, kamu juga mau saja sih, baru ketemu di hutan langsung di ajak pulang."


"Aku hanya kasihan saja, dia itu baik, selalu masak, cuci baju, dan melayani aku seperti seorang istri."


"Kalau begitu, kamu nikahi saja dia, biar ada pengganti istri kamu."

__ADS_1


"Aku baru saja kenal, belum tahu seluk beluknya, masa iya langsung aku nikahi, kamu ada-ada saja Le, nanti kalau ternyata dia sudah punya suami, malah aku di cap PE-LA-KOR lagi."


"Pelakor kan sebutan untuk perempuan Le, mana ada pelakor laki-laki, kamu ini suka mengarang," sambung Leon.


"Sama saja Le hehe."


"Terus, bagaimana dengan Rindi?" tanya Leon lagi, masih berbisik.


"Nggak tahu Le, aku jadi gagal fokus."


"Gagal fokus bagaimana?"


"Aku jadi ingin memiliki mereka berdua."


"Huuu kamu ini, serakah."


"Biarin saja." Franky tersenyum evil.


Sementara di luar rumah Franky, tengah berdiri Nila dan sosok perempuan berwajah hancur dan sebelah bola matanya menjulur keluar, rambutnya panjang dan berantakan sebagian menutupi wajahnya.


Dia memakai gaun panjang berwarna putih kumal, lebih pantasnya di sebut Kuntilanak.


"Mau apa kamu mbak Kunti?" tanya Nila dengan nada santai.


"Mereka tadi hanya bergurau, wajar kalau mereka menyebut namamu," kata Nila.


"Justru itu aku datang, karna namaku di panggil," kata Kuntilanak itu.


"Terus, kamu datang mau apa?" tanya Nila mulai emosi.


"Tentu saja, untuk mengajak mereka bermain-main," sahut Kuntilanak itu.


"Aku adalah pelindung mereka, jadi, sebaiknya kamu pergi saja dari sini, aku pastikan kalau mereka tidak akan pernah memanggilmu lagi.


"Tidak bisa, mereka sudah mengusikku hihihi," si Kuntilanak terkekeh mengerikan, hingga terdengar sampai ke kamar Franky.


"Fran, itu kan suara..." ucapan Leon terputus.


"Ssstt, sudah di bilangin, jangan menyebut namanya," bisik Franky sambil menempelkan jari telunjuknya di kedua bibir Leon.


Leon pun terdiam, dia menempelkan tubuhnya ke tubuh Franky.


"Kau memang keras kepala, maka.. rasakan ini!"


Nila mengeluarkan kilatan cahaya berwarna ungu dan mengarahkannya ke Kuntilanak di hadapannya.

__ADS_1


Seketika tubuh Kuntilanak terpental ke belakang berjarak seratus kilometer dari tempatnya berdiri.


Nila tak memberikan kesempatan barang sekali pun kepada Kuntilanak itu untuk melindungi dirinya.


Dia terus mengeluarkan kilatan cahayanya bertubi-tubi ke arah Kuntilanak itu hingga Kuntilanak itu kewalahan, akhirnya tubuh Kuntilanak itu berubah menjadi gumpalan asap berwarna keabuan dan perlahan menghilang.


Nila pun pergi meninggalkan rumah Franky dan pulang ke tempat kosnya.


"Kok sepi ya Fran, apa dia sudah pergi?" bisik Leon.


"Siapa yang pergi Le?" Franky balik bertanya.


"Katanya nggak boleh di sebut."


Franky pun paham maksud Leon.


"Mungkin sudah pergi, ayo kita tidur," ujar Franky


Akhirnya mereka berdua masuk ke alam mimpi masing-masing.


****


Nun jauh di Pulau Abadi, tepatnya di dalam hutan, Rinjani sedang berbincang-bincang dengan ayahnya.


"Romo, bagaimana ini? Saya ingin hidup bersama Franky."


"Tidak bisa anakku, sudah dibilang berkali-kali, kalau kalian berbeda dunia, kamu adalah bangsa Jin, sedangkan Franky adalah manusia biasa, dia tak punya kekuatan seperti kita, kalau kau ingin dia ikut bersamamu, itu artinya dia harus mati, maka jiwanya bisa kau bawa, tapi itu pun kalau bisa, kalau jiwanya langsung menuju ke alam yang seharusnya, sama saja kau pun tak bisa bersamanya," sahut Raja Jin.


"Tapi Romo, hidup saya jadi tak tenang."


"Tak tenang bagaimana? Kau sudah menikah dengan Pangeran Endro, tapi kenapa juga kamu malah meninggalkan dia?" ujar Raja Jin.


"Saya tidak mencintainya Romo," sahut Rinjani


"Sudahlah, terima saja takdirmu, kalau jiwamu masih tersesat dan belum waktunya menuju ke alam yang seharusnya, bersabarlah, suatu saat pasti kau bisa bersatu dengan manusia itu, bila tiba masanya nanti," tandas Raja Jin bijak.


Rinjani diam, dia meratapi takdir yang menimpanya.


"Saya menyesal, kenapa dulu berambisi ingin selalu awet muda, akhirnya jadi begini, kalau saja dulu saya tak melakukan perjanjian gaib dengan Sang Penguasa Pantai, pasti sekarang roh saya sudah menuju ke alam yang seharusnya, mengingat seharusnya saya sudah meninggal saat ini," lirih Rinjani.


"Sudahlah anakku, lupakan manusia itu, dan kembalilah bersama Pangeran Endro."


"Tidak bisa Romo, saya tak mencintai dia, dan saya pun tak dapat melupakan Franky, rasanya sangat sulit sekali."


Raja Jin pun berlalu meninggalkan Rinjani, dia memang tak suka berdebat dengan anaknya itu.

__ADS_1


__ADS_2