
Satu tahun kemudian ....
Franky kini telah menjadi seorang novelis yang sukses, karyanya banyak yang mengagumi serta banyak pula para wanita yang mengincarnya, untuk dapat menjadi kekasih hatinya. Namun Franky selalu menolak mereka dengan halus, dia belum menemukan tambatan hati yang cocok di hatinya.
Suatu pagi, di sebuah hutan yang sunyi, Franky sedang berjalan seorang diri sambil membawa laptop di dekapannya, dia berniat hendak mencari inspirasi untuk merilis buku terbarunya di dalam hutan tersebut.
Setelah berjalan hingga masuk ke dalam hutan, netranya mengarah ke sosok wanita yang tengah berlari, seolah sedang menghindari sesuatu. Franky dapat melihat bahwa raut wajah wanita itu memancarkan aura ketakutan.
"Siapa perempuan itu? Kenapa dia lari-lari seperti dikejar-kejar orang?" batin Franky.
Franky pun mengejar wanita tersebut yang terus berlari, hingga akhirnya Franky dapat mengejar wanita itu, dia meraih pundak wanita itu.
"Jangan! Ampun! Jangan sakiti aku!" teriak wanita itu.
"Hey, aku bukan orang jahat," kata Franky.
Wanita itu menoleh ke arah Franky, dan seketika Franky mendadak dejavu. Franky kagum dengan wanita yang kini berada di hadapannya, kecantikan wanita itu seakan telah menghipnotisnya.
"Sepertinya, aku pernah bertemu dengan perempuan ini, tapi di mana ya?" batin Franky.
Sedangkan wanita di hadapan Franky pun menatap intens ke arah Franky, dia pun seperti mengingat sesuatu.
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya wanita itu.
Franky terkesiap. "Eh, entahlah, tapi ... sepertinya begitu," lirihnya.
"Kalau nggak keberatan, bolehkah kita berkenalan?" tanya wanita itu.
"Boleh saja, namaku Franky."
"Franky? Nama yang familiar," gumam wanita itu.
"Familiar?" beo Franky.
"Ya familiar, ah sudahlah lupakan saja, oh iya nama-ku Via."
Franky dan Via pun bersalaman.
"Salam kenal, oh iya kamu kenapa kok lari-lari?" tanya Franky.
"Aku sedang dikejar oleh seseorang," jawab Via.
"Siapa?"
"Ceritanya panjang, sebaiknya kita cari tempat duduk yang aman yuk, biar enak ngobrolnya."
"Oke kalau begitu."
Franky dan Via berjalan lagi hingga masuk ke dalam hutan paling ujung, mereka menemukan sebuah tempat duduk terbuat dari kayu, berbentuk memanjang, mereka berdua duduk bersebelahan.
"Jadi gini ceritanya, ada orang yang memintaku untuk menjadi pendonor ginjal ...." Via mulai bercerita.
"Apa? Pendonor ginjal? Apa mungkin di rumah sakit ada orang yang membutuhkan ginjal," sela Franky.
"Kalau memang untuk orang yang benar-benar membutuhkan ginjal, aku bersedia mendonorkannya," ucap Via.
__ADS_1
"Terus?" Franky semakin ingin tahu.
"Masalahnya, aku banyak mendapat informasi, kalau orang itu sengaja merekrut banyak pendonor ginjal, untuk bisnisnya."
"Hah? Bisnis? Bisnis kok bisnis ginjal, sepertinya nggak beres itu," ujar Franky.
"Nah maka dari itu, aku nggak mau, dan dia bersedia membayar mahal untuk sebelah ginjal-ku."
Franky pun mulai curiga, dengan orang yang dimaksud oleh Via.
"Sebenarnya, untuk apa ginjal-ginjal itu?"
"Aku kurang paham juga, tapi yang jelas, aku dengar dari teman-ku, kalau mereka akan menghabisi nyawa orang yang sudah bersedia mendonorkan ginjalnya, karna diyakini, akan membocorkan rahasia salonnya."
"Salon katamu?" Franky semakin penasaran.
"Iya, jadi salon itu hanya kedok saja, nah, orang-orang yang datang ke salon itu, dialah orang yang akan mendonorkan ginjalnya," papar Via.
"Gila, drama macam apa itu?" gumam Franky.
"Entahlah, tapi sudah banyak korbannya, dan mereka semua yang mati, dibuang ke sebuah sungai," kata Via.
"Wah, ini nggak bisa dibiarkan, aku akan menyelidiki."
"Sebaiknya jangan, karna mereka sangat pintar, bisa-bisa kamu yang akan celaka," cegah Via.
"Aku nggak bisa biarkan ini terus-terusan terjadi, mengingat semakin banyak korban berjatuhan," cetus Franky seolah ikut merasa gusar.
"Ya sudah, tapi kamu harus hati-hati."
"Kamu jangan khawatir Vi, oh iya, rumah kamu di mana?"
"Kamu tinggal sama siapa?"
"Aku hanya tinggal sendiri," kata Via sambil menunduk.
"Lho, memang orang tua kamu kemana?"
Via terdiam, dengan posisi masih menunduk.
"Hey, apa aku salah bicara?" tegur Franky.
"Mereka sudah meninggal, menjadi korban orang itu juga," lirih Via, tanpa sadar bulir bening menetes di pipi tirusnya.
"Maksud kamu, mereka mendonorkan ginjalnya?"
Via mengangguk lemah.
"Kurang ajar, ini nggak bisa dibiarkan, bisa-bisa orang-orang di dunia ini habis jadi korban dia!" Franky mulai merasa kesal.
Via hanya diam, merenungi nasibnya.
"Gini saja, kamu ikut aku ke rumah, nanti aku carikan tempat kos yang aman, tenang saja, aku akan melindungi kamu, aku punya teman yang sakti, mungkin dia bisa membantu mengatasi masalah ini."
"Maaf, aku takut merepotkan-mu, karna kita juga baru kenal," kata Via.
__ADS_1
"Nggak ada kata repot di kamus ku, kalau kamu mau selamat, ayo sekarang ikut aku, tapi kalau kamu mau menjadi pendonor ginjal, ya silahkan saja," ujar Franky setengah mencibir.
Via seperti tak punya pilihan, akhirnya dia mengikuti kata-kata Franky.
"Baiklah, aku akan ikut dengan-mu, tapi benar kan aku nggak merepotkan?" Via nampak ragu.
"Aku juga tinggal sendiri," ucap Franky.
"Lho, orang tua atau saudara kamu?"
Erlangga menggeleng. "Orang tua-ku sudah meninggal, dan aku nggak punya saudara."
"Apa mereka juga, jadi korban pendonor ginjal?"
"Hahaha! Kamu itu lucu, Vi," tawa Franky.
Via mengerutkan keningnya, dan Franky pun menceritakan kisah hidupnya yang sedari kecil telah yatim piatu, dan dia tinggal di panti asuhan.
"Oh, maaf aku nggak tahu."
"Santai saja, Vi, ya sudah ayo kita pulang."
"Tunggu!"
"Kenapa, Vi?"
"Kamu ke sini mau ngapain?"
Franky menceritakan profesinya sebagai penulis.
"Oh, jadi kamu ke sini mau cari inspirasi untuk buku kamu?"
"Iya betul."
"Wah, kalau gitu, aku jadi ganggu kamu dong, kamu jadi nggak bisa nulis gara-gara aku."
"Bilang sekali lagi, aku buang kamu ke sungai."
"Dih, sadis sekali."
"Haha, sudah ayo, sekarang ikut aku ke rumah, aku tuh santai, nulis besok juga nggak masalah.
Via pun mengikuti Franky berjalan, dengan mengekor di belakang, kini mereka berdua sudah berada di luar hutan, Franky mengajak Via menuju ke mobilnya.
Kemudian Franky mengemudikan mobilnya hingga tiba di rumahnya. Dan mereka berdua pun turun.
"Ini rumah-ku, Vi, tapi sekarang kita langsung saja ke rumah teman-ku, dekat kok."
Via pun mengangguk, dan mengikuti Franky berjalan ke rumah Joko. Sesampainya, mereka segera disambut oleh Joko yang kebetulan sedang menjemur handuk kecil di depan salonnya.
"Wah, wah, pamitnya cari inspirasi, eh ... ternyata cari calon istri," ledek Joko.
Wajah Franky merah padam seketika. "Ah, kamu, Jok, selalu asal bicara."
Joko terkekeh. "Ayo masuk dulu."
__ADS_1
Franky mengajak Via masuk ke dalam rumahnya, kemudian Nawang menghampiri mereka, dan menyalaminya.
"Kalian ini dari mana, dan siapa perempuan ini, Fran?" tanya Joko sambil menunjuk ke arah Via.