
Setelah turun dari mobil, Putri mendadak pingsan, dan Via pun membopong Putri. Mereka bertiga masuk ke dalam klinik, dan segera disambut oleh seorang perawat, mereka membawa Putri ke ruang rawat, pada saat yang bersamaan, seseorang berjalan tergesa-gesa dan tak sengaja menabrak Franky, hingga membuat novelis itu hampir saja terjatuh.
"Aduh!" seru orang itu.
Franky mengamati wajah orang itu. "Kamu, Le?"
"Lho, Fran?" Leon sama terkejutnya.
Ternyata mereka bertemu Leon, yang baru saja keluar dari klinik itu.
"Kamu kenapa, Le? Apa kamu sakit? Kok keluar dari klinik ini," tanya Franky heran.
"Duh, ceritanya panjang, Fran."
"Terus, kamu sama siapa?"
"Aku naik ojek, Fran."
"Kamu ikut aku saja dulu, nanti aku antar pulang."
"Tapi ... apa nggak merepotkan kamu?"
"Kamu itu, Le, seperti sama siapa saja, biasanya gimana sih?"
"Ya sudah, nanti aku main ke rumah kamu dulu ya, aku mau cerita sesuatu."
"Iya Le, ya sudah ayo."
Satu jam kemudian, Putri mulai menggerakan jari jemarinya, dia pun perlahan membuka matanya, menatap sekeliling.
"Aku di mana?" tanya Putri.
"Kamu sudah sadar? Kamu berada di klinik," ujar Via menghampirinya.
Putri mencoba untuk bangun, dan Via membantunya agar dapat bersandar di brankar.
"Kenapa aku bisa berada di sini?"
"Kamu lupa ya? Tadi kita ketemu kamu di alun-alun, kamu kesakitan, dan kita membawamu ke sini."
Putri mencoba mengingat sesuatu. "Astaga, iya aku tadi di kejar-kejar sama orang."
"Apa kamu sudah baikan?"
"Ya, aku sudah agak mendingan."
"Ya sudah, karna ini sudah malam, ayo ikut aku pulang, dan besok aku akan mengantar kamu pulang."
Via dan Putri berjalan ke depan, di mana Franky sudah menunggu bersama Leon.
"Bagaimana, Vi? Apa dia sudah baikkan?"
"Iya sudah, Mas, kita bawa dia ke rumah kita saja dulu, besok baru kita antar pulang."
"Baiklah, ayo Le." Franky pun mengajak Leon.
"Siapa dia?" tanya Leon.
"Nanti kita mengobrol di rumah, ini sudah malam, dingin juga."
Mereka berempat kini sudah berada di dalam mobil. Franky pun mengemudikan mobilnya perlahan. Sampai di rumah, Franky segera memanggil Joko, untuk ke rumahnya.
Kini di rumah Franky telah berkumpul lima orang yang terdiri dari Franky, Joko, Via, Leon dan Putri.
"Istri kamu mana, Mas?" tanya Via kepada Joko.
"Dia sudah tidur, mungkin capek, karna dia kan sedang hamil."
Deg!
Jantung Via berdegup, dia sangat sensitif mendengar kata-kata hamil.
"Kamu kenapa, Vi?" tanya Franky yang memperhatikan sikap Via.
"Eh, nggak apa-apa kok, Mas."
"Benar? Kamu nggak apa-apa."
__ADS_1
"Iya Mas, hehe ... hanya ngantuk saja."
"Kalau ngantuk tidur dulu nggak apa-apa, Vi."
"Ah, nanti saja, Mas."
"Ya sudah ...."
"Sebenarnya, ada apa ini, Fran? Terus, siapa gadis ini? Dan kenapa ada Leon juga?" Joko semakin bingung.
Franky menceritakan pertemuannya dengan Putri, dan juga Leon.
"Astaga! Kok semakin merajalela saja sih, ini benar-benar nggak bisa dibiarkan." Joko mulai geram.
"Apa? Dia juga habis donorin ginjalnya?" tanya Leon tiba-tiba dengan kedua bola mata yang membulat.
"Iya, Le, memang kenapa? Oh ya, kamu kenapa bisa ada di klinik tadi?"
"Nah, itu dia Fran, yang mau aku ceritakan, aku juga dipaksa sama orang."
"Dipaksa bagaimana?"
"Ya, aku itu ketemu sama dua orang laki-laki, terus ditawarin jadi pendonor ginjal, nah mereka mengimingiku uang dengan jumlah sangat besar, jujur aku nggak tertarik, karna kondisi tubuhku lemah, tapi mereka justru memaksaku, maka dari itu aku curiga, terus aku lari, dan mereka mengejarku, nah aku lari sampai jauh, dan mereka sepertinya sudah kehilangan jejakku. Tapi apesnya, aku jatuh, karna aku sudah terlalu lemas berlari terus, aku jatuh membentur aspal, lututku memar, beruntungnya ada ojek lewat, jadi aku suruh antar ke klinik terdekat."
Franky ternganga. "Jadi, kamu juga ikut jadi korbannya?"
"Hampir saja, Fran, tapi kan aku belum donorin ginjalku sama sekali, dan aku nggak mau."
"Tuh kan, Jok, memang kita harus bertindak secepatnya, kalau nggak, semakin banyak korban berjatuhan. Kamu lihat sendiri, teman kita juga hampir jadi korban."
"Sabar Fran, kita jangan gegabah, kita harus hati-hati, salah-salah bisa-bisa kita yang celaka," sambung Joko.
"Em, memangnya ada apa Fran? Apa kamu kenal, sama orang yang memaksa aku donorin ginjal?"
Franky pun menceritakan tentang Anton, yang mempunyai bisnis makanan kering berbahan dasar ginjal manusia, yang dia berbisnis ginjal, secara ilegal.
"Apa? Gila, kok ngeri sih."
"Untuk itu, kamu harus hati-hati, Le."
"Putri, kamu tidur di sini dulu ya, besok kita antar ke rumah kamu," kata Franky.
"Iya Pak, terimakasih sebelumnya, dan maaf sudah merepotkan."
"Ah, nggak juga, sudah tugas kita menolong orang yang memang membutuhkan pertolongan."
"Ya sudah, aku pulang dulu, Fran." Joko pun berpamitan.
"Iya Jok, besok kita selidiki lagi hutan itu."
"Oke, Fran." Joko pun pulang ke rumahnya.
"Oh ya, kamu bisa tidur sama Via dulu Put, nanti biar aku tidur sama Leon di kamar sebelah, kamu nggak keberatan kan, Vi?"
"Enggaklah Mas, aku malah senang ada teman, hehe." Via terkekeh.
"Oh, jadi selama ini kamu nggak menganggap aku teman, ya?"
"Ih, kamu itu, apaan sih Mas? Orang kok sensi sekali."
Franky terkekeh ....
"Em, Fran, lebih baik kalian tidur dulu sana, satu kamar nggak apa-apa, aku mau ngobrol dulu sama neng ini, hehe," celetuk Leon.
Franky dan Via berpandangan, kemudian mereka mengangkat bahunya masing-masing.
"Cieee, mau PDKT nih," ledek Franky.
Leon meringis sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ya sudah, aku tinggal dulu, awas jangan nakal kamu, Le," ujar Franky menahan tawa.
"Cih, memangnya aku anak kecil, nakal segala," cibir Leon.
Franky dan Via tertawa terpingkal, kemudian mereka masuk ke kamar mereka, sedangkan Putri hanya tersenyum malu.
Kini tinggallah Leon dan Putri.
__ADS_1
"Maaf neng, boleh kenalan nggak?" Leon mengawali pembicaraannya.
"Eh, iya boleh," sahut Putri malu-malu.
"Aku Leon," kata Leon sambil memajukan telapak tangan kanannya ke arah Putri.
"Aku Putri."
"Rumah kamu mana, Put?"
"Di desa R, Mas."
"Oh, besok aku antar saja, kalau mau sih."
Putri menunduk.
"Kok diam?"
"Eh, iya Mas, boleh kok, hehe ...."
"Umur kamu berapa, Put?"
"Tujuh belas tahun, Mas."
"Oh, masih sekolah?"
"Masih, kelas tiga SMA."
"Oh, sudah mau lulus, eh ... apa kamu sudah punya pacar?"
Deg!
Putri menjadi nervous.
"Belum, Mas."
"Wah, sama dong, aku juga masih jomblo, hehe."
"Hehe, iya Mas."
"Put, apa boleh aku jadi pacar kamu?"
Deg!
Jantung Putri berdegup sekali lagi.
"Put? Kok diam lagi?" Leon semakin gemas dengan Putri.
"Iya Mas, boleh saja, tapi aku orang miskin, nanti kamu kecewa."
"Lho, memang apa masalahnya? Cinta itu nggak memandang harta, Put."
"Ya, kalau memang mas suka sama aku tulus, boleh saja, tapi aku masih sekolah."
"Ya nggak apa-apa, Put, kalau kamu mau, aku antar jemput."
"Nanti merepotkan, Mas."
"Buat kamu, nggak ada kata repot, oke?"
"Makasih sebelumnya, Mas."
Leon merasa bahagia sekali, akhirnya dia menemukan tambatan hatinya.
Di dalam kamar, Franky dan Via masih mengobrol sambil rebahan.
"Pasti Leon sedang menggoda si Putri, Vi," kata Franky.
"Memangnya, teman kamu itu belum nikah, Mas?"
"Boro-boro nikah, pacar saja dia nggak pernah punya, Vi."
"Wah, kasihan sekali ya Mas."
"Iya Vi, semoga saja Putri bisa jadi jodoh si Leon."
"Iya Mas, semoga mereka saling cocok satu sama lain."
__ADS_1