Pulau Abadi

Pulau Abadi
Ke Pantai


__ADS_3

Sementara itu, di penginapan, Franky merasa jenuh, dia pun keluar dan berjalan menuju pantai.


"Kalau malam, pasti Rinjani ada di pantai, bosan aku di kamar, nggak ngantuk juga," batinnya.


Dalam perjalanan menuju pantai, Franky berpapasan dengan Jarwo, namun karena tak mengenalinya, dia cuek saja, dan terus berjalan.


Jarwo pun menyetop Franky. "Kau ini dari mana?" tanyanya tanpa berbasa basi terlebih dahulu.


"Eh, saya dari desa seberang yang lumayan jauh," jawab Franky sedikit merasa canggung.


"Ada perlu apa kau di tempat ini?" tanya Jarwo penuh selidik.


"Eh, saya ini sedang menulis novel, karna saya nggak bisa fokus, jadi saya ke sini untuk mencari inspirasi," ujar Franky.


"Oh novelis rupanya, terus, ini mau ke mana? Malam-malam begini?"


"Biasa, saya suka suntuk, jadi saya pergi ke pantai untuk mencari udara segar."


Jarwo menggeleng, merasa geli dengan Franky.


"Hem, ada-ada saja, malam-malam cari udara segar, di pantai lagi," lirihnya.


Franky hanya tersenyum tipis, dia hanya tak mau berdebat dengan orang yang baru di kenalnya.


"Ya sudah saya permisi," kata Franky kemudian membalikkan tubuhnya, dan berjalan tanpa menunggu jawaban dari Jarwo.


Jarwo tersenyum intens, kemudian segera berlalu dari tempat itu, dia merasa Franky bukan tandingannya.


Sampai di pantai, Franky duduk di sebuah kayu panjang, yang melintang di tempat itu, dia bersiul dan bernyanyi riang. Franky merasakan udara yang sejuk, dan suasana di pantai malam itu sangtlah sepi. Karena waktu pun hampir tengah malam, dan tak ada orang satu pun, selain Franky.


"Sepi sekali, mungkin sudah pada pulang," batin Franky.


"Saya akan menemani anda, supaya anda tak kesepian."


Sebuah suara mengejutkan Franky, pria itupun menoleh ke asal suara tersebut.


"Rin," lirihnya.


Di belakang Franky telah berdiri Rinjani dengan senyumnya yang khas. Rinjani pun duduk di sebelah Franky.


"Malam-malam begini datang ke pantai, apakah anda sedang susah tidur?" tanya Rinjani.


"Kalau tidur, aku biasa malam, tapi aku suntuk sekali, jadi aku ke sini, sebenarnya tadi siang aku juga ke sini, tapi kamu nggak ada."


"Kan saya sudah pernah bilang, kalau saya tak bisa menemui anda siang hari, karna saya bekerja."

__ADS_1


"Iya, aku tahu, kok."


"Kita jalan-jalan, yuk, supaya anda tak merasa suntuk lagi," ajak Rinjani.


"Jalan-jalan? Kemana?"


"Ya di dekat sini saja, dari pada duduk terus."


"Em, bolehlah."


Rinjani pun berjalan, diikuti Franky mengekor di belakang.


"Kenapa anda di belakang? Seperti satpam saja," celetuk Rinjani.


"Memangnya, aku harus di mana?"


Rinjani menggandeng tangan Franky.


"Kok dingin sekali tangannya," batin Franky.


"Karna udara di sini pun dingin, jadi wajarlah, kalau tangan saya dingin," ujar Franky tiba-tiba.


Franky terhenyak, dia lupa kalau Rinjani dapat mendengar suara hatinya.


"Hehe, iya, Rin," ucap Franky sambil meringis.


"Lho, mana si Rinjani? Kok nggak ada, apa dia pulang? Tapi kenapa nggak bilang? Huft, dia itu makin lama makin aneh saja," batin Franky.


Franky berdiri termenung di dekat gapura itu, tanpa sadar, kepalanya menengadah ke atas.


Dan Franky melihat lukisan wanita di atas gapura itu. Pria itu mengamati lukisan itu dengan seksama, dia merasakan keanehan pada lukisan tersebut.


"Kenapa ya, aku merasa kalau lukisan itu aneh, tapi apa ya yang bikin aneh?" Franky menempelkan jari telunjuknya di keningnya, seperti sedang berpikir, sedangkan tangan satunya dia tempelkan melingkar di pinggangnya.


Kemudian, Franky kembali mengamati lukisan itu.


"Hah? Apa aku nggak salah lihat?" batinnya.


Franky melihat, kalau wanita di dalam lukisan itu tersenyum.


"Meooong ...."


Sedang asik memperhatikan wanita dalam lukisan itu, Franky dikejutkan oleh suara mengeong dari seekor kucing yang berada di belakangnya.


"Itu bukannya kucingnya si Joko," batin Franky ketika melihat kucing hitam di belakangnya.

__ADS_1


"Kok bisa kesini ya, ngapain dia?"


"Meoooong..."


Kucing itu terus mengeong, dan Franky pun membungkukkan tubuhnya.


"Kamu kenapa pus?" tanyanya.


Namun kucing itu terus mengeong, akhirnya Franky menggendong kucing itu, dan membawanya pulang ke penginapan.


Sampai di penginapan, Franky masuk dan meletakkan kucing hitam itu di atas kursi yang berada di ruang depan, kemudian Franky berjalan ke dapur.


"Hem benar, dia kucingnya si Joko, nah di sini nggak ada kucing, tapi kok dia bisa menyusul aku? Dan yang lebih anehnya lagi, kenapa dia bisa tahu, kalau aku di gapura, masa iya dia membuntuti-ku, huft, nggak di rumah sendiri, nggak di sini, selalu saja ketemu sama hal-hal aneh," batin Franky.


Franky pun teringat, kalau dia membawa teh melati dari rumahnya.


"Astaga, kenapa aku baru ingat, kalau aku punya teh melati ... huft, gara-gara banyak kejadian aneh di sini, aku nggak pernah minum teh melati," batinnya.


Kemudian Franky masuk ke dalam kamar, dia membuka kopernya dan mengambil box berisi teh melati, lalu kembali lagi ke dapur untuk merebus air. Setelah mendidih, Franky menuangnya ke dalam cangkir berisi kantong teh, yang telah disiapkan.


Setelah itu, dia berjalan ke ruang depan meletakkan cangkir berisi teh di atas meja, kemudian duduk di sebelah kucing hitam itu. Franky melihat, kalau kucing itu meringkuk sambil memejamkan matanya.


"Sudah merem saja nih kucing," batinnya.


Kemudian Franky mengangkat cangkir berisi teh, seperti biasa dia meniup uapnya perlahan, lalu menyeruputnya.


"Ah, segar sekali teh ini, benar-benar nggak salah pilih aku" batin Franky.


"Eh, ngomong-ngomong, Joko sedang apa ya? Mungkin sedang menyelidiki suara misterius itu, sepertinya tempat ini memang benar-benar angker, bukan hanya di sini, tapi di semua tempat angker semua."


Erlangga kembali menyeruput tehnya, hingga habis, lalu dia meletakan gelas itu di atas meja. Dia kembali menatap kucing hitam, yang tertidur di dekatnya.


"Kok aku merasa, kalau kucing ini bukan sembarang kucing," batinnya sambil terus mengamati kucing tersebut.


Tiba-tiba Franky menguap, dan dia merasakan matanya sudah berat sekali.


"Akhirnya ngantuk juga aku," lirihnya, kemudian berjalan masuk ke dalam kamar, dan menutup pintu.


Franky merebahkan tubuhnya di atas kasur, dengan posisi terlentang. Dia menatap langit-langit, hingga akhirnya matanya terpejam dan masuk ke alam mimpi.


Sedangkan di apartemen, Joko masih berkomunikasi dengan arwah Eli.


"Aku akan membantumu, tapi semampu-ku," ujar Joko.


"Baiklah," sahut arwah Eli.

__ADS_1


"Tapi kamu juga janji, jangan ganggu teman-ku lagi, biarkan dia bekerja dengan tenang di sini, kasihan dia, datang dari jauh. Dia bekerja untuk membuat orang tuanya bangga," kata Joko.


"Baik, aku nggak akan ganggu teman kamu lagi, aku akan menunggu di sini, sampai ada orang yang menguburkan jasad-ku dengan layak," ucap arwah Eli.


__ADS_2