Pulau Abadi

Pulau Abadi
Ada yang Aneh


__ADS_3

Franky dan Nila berjalan sampai di dekat mobil, terlihat Leon sedang membongkar tenda dan hendak menyimpannya di dalam bagasi mobil.


"Wah wah wah, rajin sekali kamu Le," puji Franky


Leon menoleh.


"Sambil nunggu kamu Fran, hehe."


Leon kemudian menatap Nila, entah kenapa perasaan aneh singgah di hatinya.


"Oh iya Le, kenalin ini Nila," kata Franky.


Leon dan Nila pun bersalaman.


"Tangannya dingin sekali, padahal cuaca sudah mulai panas," gumam Leon dalam hati.


Tiba-tiba seperti ada yang meniup tengkuk leher Leon.


"Kok aku jadi merinding gini ya," gumamnya dalam hati.


Franky yang menyaksikan adegan itu pun menjadi bingung.


"Duh jangan-jangan Leon naksir lagi sama Nila," batinnya.


"Ehem, ayo kita pulang," Franky memecah keheningan.


Leon pun melepas jabat tangannya, dan Nila pun masuk ke dalam mobil, Nila duduk di depan tepat di sebelah Franky, sementara Leon duduk di belakang Franky.


"Kamu mau ke rumahku dulu, atau langsung pulang Le?" tanya Franky.


"Em, aku langsung pulang saja deh," sahut Leon sambil meringis, dia sebenarnya ingin singgah terlebih dahulu di rumah Franky, namun bulu kuduknya terus merinding saat berada di dekat Nila.


Nila pun hanya terdiam, dia merasa Leon tak suka terhadapnya.


Franky mengendarai mobilnya menuju rumah Leon.


Sesampainya Leon turun.


"Sory ya Le, aku nggak bisa mampir, mungkin kapan-kapan."


"Ah nggak masalah Fran, santai saja."


Kemudian Leon menatap ke arah Nila sekali lagi, seketika Leon bergidik ngeri, lalu segera memutar balikan tubuhnya dan berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Franky pun meneruskan perjalanannya hingga sampai ke rumahnya.


Dia pun mengajak Nila turun.


"Wah bagus sekali rumah manusia," gumam Nila dalam hati.


Nila pun berjalan masuk ke dalam dan menuju ke bagian belakang, langkahnya terhenti ketika sampai tepat di depan kamar mandi.

__ADS_1


Nila masuk ke dalam kamar mandi itu.


"Air! Aku bisa mandi setiap hari dan badanku akan merasa segar," seru Nila dalam hati.


"Apakah kamu lapar? Biar aku carikan makanan untukmu, kamu beristirahatlah dulu," kata Franky ramah.


"Tidak perlu repot-repot, aku saja yang akan memasak," jawab Nila.


"Hah, benarkah?" Franky seolah tak percaya.


"Iya, ini aku ada sayuran dan lauk, kamu silahkan tunggu di depan, kalau sudah matang aku akan memanggilmu, kita makan bersama," kata Nila antusias.


"Lho, dari mana kamu mendapatkan sayuran itu?" heran Franky.


Nila menjadi gugup seketika.


"Gawat, aku tidak boleh membuat manusia ini curiga," batinnya.


"Eh, itu.. memangnya kamu tidak lihat, aku membawa bungkusan plastik semalam?" tanya Nila mencoba untuk tenang.


"Benarkah begitu? Aku nggak tahu, hehe, ya sudah, kalau kamu ingin memasak silahkan," Franky pun kembali ke masuk ke dalam kamarnya.


Sementara di dapur, dengan segenap kekuatan yang di miliki oleh Nila, dia hanya memutarkan jari telunjuknya dan mengarahkannya ke arah sayuran dan lauk yang masih mentah itu, dalam sekejap saja sayuran dan lauk mentah yang sebelumnya di taruh di atas piring itu berubah menjadi masakan dengan aroma yang menggoda selera.


Kemudian Nila memutarkan jari telunjuknya dan mengarahkannya ke arah beras dan memindahkannya ke dalam rice cooker, dalam sekejap rice cooker itu telah berisi nasi panas dengan asap yang mengepul.


Nila pun sengaja menunggu satu jam supaya Franky tidak curiga.


Franky berjalan ke arah dapur, dan duduk di kursi dekat meja makan di mana sudah ada Nila di sana.


"Wah, kamu pintar masak ternyata, cepat dan cekatan," puji Franky.


Nila hanya tersenyum.


Franky mengambil piring dan mengisinya dengan nasi, sayur, beserta lauknya.


Lalu Franky melahap habis makanannya.


"Hem lezat sekali, Nil, kamu benar-benar pintar masak, andai saja istriku masih ada, aku pasti setiap hari makan di rumah dan nggak akan sering-sering makan di warung," kenang Franky.


"Memang istri kamu di mana?" tanya Nila.


"Istriku sudah lama meninggal, dalam keadaan mengandung anak kami," sahut Franky lemas.


"Kasihan sekali, kamu yang sabar ya," kata Nila menghibur.


Franky tersenyum dan menghabiskan makanannya.


"Nanti habis makan, aku akan ajak kamu melihat kost yang akan kamu tempati, apakah kamu nggak apa-apa tinggal sendiri?"


"Iya, tidak apa-apa kok."

__ADS_1


"Kalau ada waktu, aku pasti menjenguk kamu."


"Terimakasih manusia, kamu sudah baik sama aku," gumam Nila lirih, namun masih dapat di dengar oleh Franky.


"Manusia?" Franky mengerutkan keningnya.


"Ups, maaf ya, kamu 'kan memang manusia, maksud aku, Franky, aku tuh suka lupa nama kamu," kata Nila dengan hati-hati.


"Hem.. kamu itu lucu juga ya hehe," kekeh Franky.


Nila tersipu.


"Oh iya, ngomong-ngomong bagaiman ceritanya kamu bisa sampai tersesat di hutan itu?" tanya Franky lagi.


Nila tersenyum penuh arti, dia sudah menduga kalau Franky akan menanyakan hal itu kepadanya, untuk itu dia sudah menyiapkan jawabannya.


"Jadi, sebenarnya aku bukan warga dalam negeri ini, aku berasal dari luar negeri, aku di culik oleh seseorang dan di kirim ke negeri ini, tapi orang itu membuangku di hutan, aku pun tak tahu apa alasannya, yang jelas penculikan ini bermotif


dendam," papar Nila.


"Jadi, rumah kamu jauh ya, kasihan sekali kamu, terus kamu semalam mencari baju, memangnya baju apa sih?" tanya Franky kepo.


"Oh, itu.. baju hadiah ulang tahun dari ayahku, baju itu hilang, aku hanya takut kalau suatu saat aku kembali ke Kahyangan, tapi aku tidak bawa baju itu, pasti ayahku kecewa," tutur Nila.


"Kahyangan? Tempat apa itu? Apakah itu nama daerah tempat tinggal kamu?" Franky semakin penasaran.


"Aduh, kenapa sih aku selalu keceplosan, bisa-bisa manusia ini curiga denganku," batin Nila.


"Eh, maksud aku Kesayangan, ya itu nama tempat tinggal di desaku," jawab Nila.


Franky menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia merasa aneh dengan ucapan Nila.


"Em, begitu ya? Maklum, aku nggak pernah jelajah sana sini hehe," Franky terkekeh.


Nila tersenyum lega.


Selesai makan, Nila membereskan peralatan makan dan mencucinya.


Franky berjalan dan duduk di teras depan rumah.


"Selain cantik, dia juga rajin dan pintar memasak, andai aku mempunyai istri seperti dia, pasti aku sangat bahagia sekali," gumam Franky lirih.


Tiba-tiba angin berhembus kencang menerpa wajah Franky, dia merasakan hawa dingin menyeruak ke dalam tubuhnya, dan seketika bulu kuduknya meremang.


"Kenapa aku jadi merinding?" batinnya.


Kemudian Franky masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.


Di dapur, Nila terlihat bingung.


"Di mana aku harus mencari selendangku yang hilang? Sepertinya kain itu hilang di hutan, tapi aku sudah mencarinya berkeliling, tapi tidak ketemu juga, apa di ambil binatang buas? Tapi untuk apa? Masa iya untuk di jadikan selimut, kan hewan tidak ada yang pakai baju, ada-ada saja aku ini, tapi aku sepertinya suka juga tinggal di dunia manusia, biarlah aku menikmati dulu kehidupan di dunia manusia ini," pikir Nila.

__ADS_1


__ADS_2