Pulau Abadi

Pulau Abadi
Minta Tolong


__ADS_3

"Iya, iya, ya sudah yuk, kita duduk di bawah pohon sana tuh," kata Joko sambil menunjuk ke sebuah pohon besar, di sekitar jalan itu.


Kemudian, hantu wanita itu pun melayang ke arah pohon yang ditunjuk oleh Joko, dan Joko mengekor di belakang.


"Katakan apa maumu?" tanya Joko, setelah dia duduk di sebuah batu yang ada di dekat pohon itu.


"Jadi begini, namaku Aish, aku seorang pelajar kelas dua SMA, dan tadi pagi, aku mau ke mall, tapi di tengah jalan, aku mengalami kecelakaan. Aku tertabrak truk ketika akan menyeberang jalan, memang sih, orang-orang sekitar membawa jasad ku ke rumah sakit. Hanya saja, orang tua ku belum tahu, karna saat itu, aku nggak bawa kartu pelajar ku, jadi orang-orang yang membawaku nggak tahu identitasku, maka dari itu, mereka kesulitan mencari keluargaku."


"Maksud kamu, aku harus mencari keluarga kamu, dan memberi tahu, tentang kematianmu, gitu?"


"Tentu saja, agar mereka membawa pulang jasad ku dan menguburkannya dengan layak, sehingga aku bisa mati dengan tenang."


"Tapi, bagaimana caranya?"


"Ya kamu besok ke rumah ku, kamu sampaikan pesanku sama orang tua ku."


"Tapi, apa mereka bakal percaya?"


"Ya, aku sendiri pun kesulitan dengan semua ini, aku ingin berinteraksi dengan orang tuaku, tapi sayangnya, mereka nggak bisa melihat dan merasakan kehadiranku, begitu pula dengan diriku, yang tak bisa berkomunikasi dengan mereka, apa lagi menyentuhnya. Sekarang, aku benar-benar jadi hantu penasaran, jadi, aku mohon bantulah aku wahai pemuda tampan, apa kamu tega, lihat aku terus bergentayangan seperti ini?" ungkap Aish, dengan raut wajah sedih.


"Duh, aku dibilang tampan, bisa ge-er aku, tapi sayang sekali, yang memuji aku kok hantu, bukan manusia, huft," celetuk Joko.


"Itu karna kamu nggak punya pacar, coba saja kalau punya, pasti pacar kamu bakal memuji kamu."


Joko terkekeh, dan menggaruk kepalanya, yang tak gatal itu.


"Jadi, bagaimana? Apa kamu mau bantu aku?"


Joko terdiam sejenak, dia terlihat sedang berpikir.


"Hem, baiklah, aku aku akan coba bantu kamu sebisa aku ya? Tapi, aku nggak janji, ini semua akan berhasil."


"Baiklah, besok pagi, kamu temui aku di sini, nanti akan aku tunjukan rumahku, dekat kok dari sini."


"Oke deh kalau gitu, ya sudah, aku mau pulang, capek," kata Joko.


"Aku ikut," pinta hantu Aish.


Joko terbelalak. "Hah?"


"Dari pada aku gentayangan di jalan, memangnya kamu nggak kasihan sama aku?"


"Bukankah kamu menyuruh aku untuk menemui kamu di tempat ini lagi? Tapi kenapa justru kamu mau ikut aku pulang?"


"Aku nggak mau di sini sendiri, takut."

__ADS_1


"Haduh, kamu tuh takut apa sih? Takut hantu? Hahaha! Masa hantu takut sama hantu, nggak lucu ah."


"Sudahlah, pokoknya aku ikut kamu."


Akhirnya Joko pun luluh. "Dasar hantu, selalu ada maunya, ya sudah ayo."


Joko berjalan pulang, diikuti hantu Aish. Sampai di depan rumah, Joko pun menyuruh hantu Aish masuk, kemudian dia pun ikut masuk dan menutup pintu rumahnya.


Joko tak pernah mengunci pintu rumahnya, karena dia pikir, bahwa dia tak mempunyai harta benda berharga, jadi dia tak pernah khawatir, ketika meninggalkan rumahnya dengan pintu tak terkunci.


"Aku mau tidur, kamu diam di sini, kalau kamu ngantuk, silahkan tidur di kamarku, tapi setahu aku hantu nggak pernah tidur ya?"


"Mana aku tahu, aku kan baru saja mati."


"Ya sudah, terserah kamu mau ngapain, tapi ingat, jangan ganggu aku, dan jangan ganggu warga juga, apa lagi sampai menakuti," ujar Joko, sambil merebahkan tubuhnya di atas kursi bambunya itu.


"Iya, aku juga bukan hantu usil kali."


Kemudian, hantu Aish merebahkan tubuhnya di samping Joko, dan seketika, Joko pun mencium aroma darah segar dari tubuh hantu Aish.


Joko pun terkesiap. "Hey, kamu ngapain ikut tidur di sini?"


"Sudahlah, biarkan saja sih, lagi pula aku nggak akan berbuat macam-macam sama kamu, kamunya saja yang terlalu pede."


"Apa itu?"


"Bisakah kamu menjelma ke wujud asli kamu? Jangan seperti itu, muka kamu hancur gitu, serem ih."


"Baiklah." Hantu Aish pun merubah wujudnya, menjadi sosok Aish yang sebelumnya, ketika maut belum menghampirinya.


Joko mendadak terkesima, melihat penampilan Aish, dia ternyata sangat cantik jelita, kulitnya putih bersih, surainya panjang sebatas pinggang, dan matanya bulat bak boneka. Joko tak henti-hentinya memandang wujud asli Aish.


"Sudahlah, jangan terlalu lama melihatku, bisa-bisa kamu naksir, aku sudah mati, kamu naksir pun percuma," kelakar Aish.


"Hem, andai saja kamu masih hidup, sudah aku jadikan pacar," kelakar Joko.


"Kalau aku masih hidup, justru aku nggak mungkin kenal sama kamu, dasar jomblo sih, tetap saja jomblo, hiii.. hiii.. hiii.."


Hantu Aish pun terkekeh, mengeluarkan suara tawa yang mengerikan.


"Hush! Diam, jangan kamu teruskan tawamu, fals tahu nggak," cetus Joko.


"Habis, kamu itu lucu juga."


"Ya sudah, aku mau tidur, kamu juga tidur, jangan bikin keributan."

__ADS_1


Joko memiringkan tubuhnya, membelakangi Aish, dan Aish pun melingkarkan tangannya, di pinggang Joko dari belakang.


Deg!


Jantung Joko berdegup kencang, seketika terciptalah perasaan aneh dalam diri Joko.


"Dasar hantu gila, sudah mati saja, masih genit sama manusia huft," gumam Joko dalam hati.


"Biarkan saja," sahut Aish, yang ternyata mendengar suara hati Joko.


"Iya, iya, aku tahu, kalau hantu bisa dengar isi hati orang."


"Ya sudah tidurlah, jangan bicara terus, hantu juga punya telinga, dan telingaku sakit, dengar kamu bicara terus, nggak berhenti.


Joko pun memejamkan matanya, dan tak menghiraukan ucapan Aish lagi, hingga akhirnya terlelap dalam tidurnya.


Sedangkan Aish pun ikut terlelap dalam tidurnya, dan pukul empat dini hari, Aish terjaga dan beranjak dari tidurnya.


Dia berjalan ke arah dapur. Kemudian, dia mengarahkan jari telunjuknya ke arah tempat berisi beras, dan memindahkannya ke dalam panci penanak nasi, dan dalam sekejap beras itu kini telah berubah menjadi nasi.


Setelah itu, Aish kembali mengarahkan jari tangannya ke arah tempat berisi telur, dan dalam sekejap, tiga butir telur pun telah berubah menjadi telur ceplok mata sapi.


Kemudian, Aish berjalan ke belakang rumah Joko, dia mencabut sebagian umbi singkong, beserta daunnya, dan membawanya masuk ke dalam.


Di dapur, Aish menyulap umbi singkong itu, menjadi singkong goreng, dan merebus daun singkong menjadi lalapan, Aish pun tak lupa mengubah cabai menjadi sambal.


Setelah itu, dia membuat peralatan kotor di dapur itu, menjadi bersih. Aish menata semua makanan yang telah matang di atas meja makan, dan menutupinya dengan tudung saji.


Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi, Aish kini duduk di bibir kursi bambu, sementara itu, Joko mengulet, dan membuka matanya perlahan.


"Kamu sudah bangun Ish?" tanya Joko.


"Sudah dari tadi."


Joko pun beranjak, dan duduk di kursi bambu itu.


"Mandi sana," perintah Aish.


"Ya, memang aku setiap pagi selalu mandi, biar segar," ujar Joko.


Joko pun berjalan ke kamar mandi, dan melaksanakan ritual mandinya.


Pada saat Joko sedang mandi, Aish membuat secangkir kopi dengan kekuatannya.


Selesai mandi, Joko berjalan ke dapur. "Hem lapar juga, goreng telur ah," batinnya.

__ADS_1


__ADS_2