
Ah mungkin aku mimpi, tapi kenapa mimpi itu nyata sekali?"
Sementara itu di rumah Rindi, Rinjani segera keluar dari tubuh Rindi, lalu berubah menjadi kepulan asap putih dan menghilang.
Tak lama terdengar pintu kamar Rindi di ketuk, Rindi membuka matanya, kemudian membukakan pintu kamar, seorang wanita yang sudah tua renta berdiri di hadapannya.
"Kamu kerja atau tidak Nak? Ini sudah jam delapan, bukankah kamu masuk jam setengah sembilan, biasanya kamu selalu bangun jam tujuh."
"Hah? Sudah jam delapan, astaga aku bakal telat ke kantor."
"Ya sudah, sekarang kamu cepat mandi, ibu buatkan roti sama susu saja ya untuk sarapan kamu, yang praktis."
"Baik Bu."
Rindi hanya tinggal berdua dengan ibunya saja, dia anak tunggal di rumah itu, ayahnya sudah lama meninggal karena sakit parah.
Rindi segera berjalan menuju kamar mandi.
"Sepertinya tadi malam aku mimpi, tapi mimpi apa ya?" Rindi mencoba mengingat sesuatu.
"Ah, aku ingat sekarang, aku mimpi ke rumah Franky, tapi kok seperti nyata ya? Mungkin aku terlalu memikirkan dia, sampai-sampai terbawa mimpi."
Rindi masuk ke dalam kamar mandi dan melaksanakan ritual mandinya, selesai mandi dia segera berpakaian kemudian berjalan menuju ke meja makan, di mana sudah tersedia roti tawar dengan toping coklat dan segelas susu hangat.
Rindi segera menghabiskannya, kemudian berpamitan kepada ibunya.
Setelah itu dia mengendarai motornya menuju ke kantornya untuk memulai aktifitasnya.
Dan di rumah Franky, Roy mengetuk pintu, Franky pun membukakan.
"Eh Roy, ada apa pagi-pagi begini?"
"Emang nggak boleh, kalau bertamu pagi-pagi?" kelakar Roy.
"Oh maaf, aku nggak bilang seperti itu, silahkan duduk lah."
Roy masuk dan duduk, sementara Franky berjalan ke belakang dan kembali lagi dengan dua buah gelas berisi teh panas di kedua tangannya.
"Ah kamu kok repot-repot Fran."
"Nggak apa-apa Roy, hanya air saja kok."
"Oh iya Fran, aku mau tanya, maaf kalau aku kepo, apakah tadi malam pacar kamu main kesini?"
"Hah? Pacar? Pacar yang mana? Rasanya aku saat ini belum menjalin hubungan dengan perempuan mana pun."
Roy mengerutkan keningnya.
"Masa kamu belum punya pacar?"
"Belum Roy."
__ADS_1
Terus, perempuan yang kamu carikan kos itu, yang namanya Nila kalau nggak salah, dia itu siapa kamu?"
"Oh, dia itu hanya teman saja."
"Teman atau teman?"
"Teman."
"Kenapa nggak kamu pacarin saja? Dia itu cantik kok, cocok kalau sama kamu."
"Kamu bisa saja Roy, dia itu sudah punya suami."
Franky terpaksa berbohong karena dia malas membahas tentang Nila di depan Roy.
"Hah? Beneran kamu Fran?"
"Bener Roy, jadi kemarin rumah orang tuanya kebakaran, nah saat itu Nila nggak ada di tempat kejadian, dan suaminya pun sedang kerja, dan dia di beritahu oleh tetangganya, jadi dia ketemu aku minta tolong di carikan kos sementara, dia rencana akan tinggal sama suaminya, tapi katanya dia di tawarin untuk tinggal di rumah tantenya, karna rumah tantenya luas dan masih ada kamar kosong."
"Em, gitu ya ceritanya?" angguk Roy.
"Apa kamu nggak kepikiran, untuk menikah lagi?"
"Ya kepikiran Roy, sebenernya aku sedang dekat sama perempuan, doakan saja semoga jodoh hehe."
"Wah bagus itu Fran, oke deh aku bakal dukung kamu."
Frankt tersenyum.
"Masa sh? Yang benar kamu Roy, pasti kamu salah lihat."
"Enggaklah, mataku masih awas kok."
Tiba-tiba bulu kuduk Roy meremang.
"Kok mendadak jadi merinding gini ya," batin Roy.
"Eh ya sudah Fran, aku pulang dulu ya, baru ingat kalau aku mau ke toko, membeli sesuatu," Roy berbohong.
"Iya Roy."
Roy segera meminum teh buatan Franky kemudian berlalu dari hadapan Franky.
"Hem, aneh sekali si Roy, tapi kenapa bisa pas ya, apa yang di katakan Roy sama kejadian tadi malam, apa jangan-jangan Rindi memang main kesini, aku juga merasa seperti nyata, tapi... Roy bilang masuk tapi nembus, maksudnya apa ya?"
Franky kembali mencoba mengingat sesuatu, namun semakin di ingat-ingat, kepala Franky justru semakin merasa sakit.
"Sudahlah, mungkin Roy salah lihat."
Franky merasa lapar, dia malas keluar rumah, karena itu dia hanya memasak mie instan di rumah.
Selesai memasak, Franky duduk dan menikmatinya.
__ADS_1
"Aku ingin sekali melamar Rindi, tapi apa dia mau? Kalau di lihat dari sikap dan gerak geriknya, sepertinya dia juga menyukaiku, tapi.. aku nggak mau terlalu pede, siapa tahu saja dia memang baik dan ramah sama semua orang," pikir Franky.
*******
Sementara itu di dunia gaib, terlihat Rinjani dan Pangeran Endro sedang berdebat.
"Cih, ternyata kau menggunakan tubuh manusia untuk mendekati mantanmu itu."
"Apa urusan anda? Saya ingin melakukan hal apa pun, terserah saya, kenapa jadi anda yang sewot?"
"Ingat Rin, kalian ini berbeda alam, kau tahu bukan, kalau kau terus berhubungan dengan manusia bumi, kekuatanmu akan hilang dan kau pun akan punah!"
"Sudah berapa kali anda mengatakan hal itu? Saya bosan mendengarnya."
"Tapi kita sudah menikah Rin, kau justru enak-enakan berselingkuh, kau benar-banar tak menghargai aku sebagai suamimu."
"Kita menikah karna terpaksa, dan anda tahu kan, kalau suatu hubungan yang di paksakan itu, tak akan kekal."
"Kau sungguh keras kepala, aku sangat mencintaimu dengan tulus, tapi balasanmu seperti itu."
"Lantas, siapa pula yang menyuruh anda mencintai saya?"
Pokoknya aku akan terus mengganggu hubungan kau dengan manusia bumi itu, tak akan aku kasih kesempatan sedikitpun, apa lagi membiarkan kau bahagia dengannya."
"Hahahaha!"
Tawa Rinjani menggelegar membuat telinga Pangeran Endro merasa sakit, Pangeran Endro pun menutup telinganya.
"Berhentilah tertawa Rin! Telingaku jadi sakit!"
"Cih, anda pun sama saja, kalau tertawa perut saya jadi sakit."
"Ayo kita masuk saja."
"Mau apa?"
"Ya melaksanakan kewajiban suami istri lah, masa main bola," kelakar Pangeran Endro.
"Ih dasar wowo genit, malas ah, anda cari saja perempuan yang mau anda ajak seperti itu."
"Kau itu istriku, jadi sudah sewajarnya kau melayaniku."
"Kalau saya tak mau, kau mau apa?"
"Ayolah Rin, sejak pertama kita menikah aku belum pernah menyentuhmu sama sekali."
"Saya pun tak sudi di sentuh oleh anda."
"Kau benar-benar telah berubah, sejak kenal dengan manusia itu, apakah kau lupa Rin, dulu kau sangat lembut kepadaku, tapi sekarang kau sudah seperti tak kenal aku saja, kau sudah terhipnotis dengan manusia sialan itu."
Pangeran Endro pun berubah wujud menjadi gumpalan asap berwarna hitam dan menghilang.
__ADS_1
Sedangkan Rinjani masuk ke dalam rumahnya.