Pulau Abadi

Pulau Abadi
Awal Leon Bekerja


__ADS_3

Adzan isya pun berkumandang, Leon telah selesai mandi, dia bersiap hendak berangkat.


"Kerjanya mulai jam berapa, Le?" tanya Franky yang sedang memainkan laptopnya di dalam kamar.


"Jam sembilan, Fran, masih lama," sahut Leon, sambil berdiri di dekat cermin.


"Pakai saja mobil-ku, Le," kata Franky.


"Memang nggak apa-apa, Fran?"


"Ya nggak apa-apa lah, Le, kan mobil itu juga nganggur," ujar Franky.


"Iya juga sih, tapi tempatnya dekat kok, Fran, jalan kaki lima belas menit juga sampai, seperti dari sini ke pantai, kan dekat."


"Biarpun dekat, ya jangan jalan, Le, nanti berat badan kamu langsung turun, malah repot," celetuk Joko yang sedang memangku Nawang dari ruang depan.


"Apaan sih kamu Jok," gumam Leon.


Franky terkekeh ....


"Aku jalan saja, Fran, kelamaan kalau naik mobil, takutnya mogok malam-malam, kan susah cari orang yang jualan bensin," ujar Leon.


"Ya sudah, terserah kamu saja, Le, aku kan hanya kasih saran saja," tutur Franky.


Waktu terus berlalu, dan kini jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan lebih empat puluh lima menit.


"Aku berangkat dulu ya, Fran, Jok."


"Eh iya, Le, beneran nih nggak mau naik mobil?" tanya Franky memastikan.


Leon menggeleng. "Aku jalan saja, dekat kok."


"Atau mau aku antar, Le?" sambung Joko.


"Sudah nggak perlu repot-repot, aku jalan saja."


"Ya sudah kalau begitu, hati-hati, Le," kata sambung Franky.


"Oke."


Leon pun keluar dari penginapan dan berjalan ke arah apartemen, tempat dia melamar kerja tempo hari. Setibanya, Leon disambut oleh Sam, pemilik apartemen itu.


Apakah kamu yang bernama Leon?" tanya Sam.


"Eh iya betul, Pak," jawab Leon.


"Oke, kalau begitu silahkan duduk," kata Sam, sambil menunjuk kursi di sebelah Leon.


Kemudian Sam mulai menjelaskan kepada Leon, tentang tuga-tugas yang harus di kerjakan.


"Baik pak, saya akan berusaha mengerjakan tugas sebaik mungkin," kata Leon.


"Bagus, ini pakailah dulu," Sam menyerahkan baju seragam satpam kepada Leon.


Leon segera menerima pakaian itu, kemudian memakainya.

__ADS_1


"Dan di sini kamu sama teman kamu, jadi ada dua satpam yang akan berjaga malam, dan dua satpam yang shift pagi," kata Sam.


"Yes, ada teman, berarti aku nggak sendirian, bisa gila aku kalau sendirian," batin Leon sedikit


merasa lega.


"Tapi kalian beda ruangan, kamu di lantai sebelas, dan teman kamu di lantai dua puluh," ujar Sam.


Leon terbelalak, yang semula merasa lega kini menjadi tegang.


"Hah? Saya kira jadi satu, Pak, hehe." Leon meringis sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Namanya juga satpam, ya jelas punya ruangan sendiri, dong," sahut Sam.


"Hehe, baiklah, Pak," kekeh Leon.


"Ya sudah, sekarang mari saya antar ke ruangan kerja kamu," kata Sam.


Leon mengangguk, kemudian berjalan mengikuti Sam di belakangnya, Leon dibawa ke lantai sebelas, lalu mereka berjalan ke arah pintu, yang berada di ujung lorong sebelah kiri.


Sam membuka pintu. "Le, ini ruangan-mu."


"Baik pak."


Saat Leon masuk, dia melihat seorang pemuda, di dalam ruangan itu.


"Le, itu Eki, satpam shift pagi, dan sekarang tugasnya digantikan sama kamu," ujar Sam.


Eki pun menyalami Leon.


"Eh iya, nama-ku Leon."


Eki tersenyum dalam anggukannya, kemudian berpamitan kepada Sam untuk pulang.


"Ya sudah, saya tinggal dulu ya, kalau ada apa-apa, bisa hubungi saya, itu ada telpon, nanti kamu tekan nomer lima, nanti akan tersambung ke saya," papar Sam.


"Baik, Pak," jawab Leon.


Sam pun berlalu pergi.


Awalnya Leon merasa canggung berada di ruangan itu sendiri, tapi di dalam ruangan itu ada televisi mini, jadi Leon sedikit terhibur, dia pun duduk di kursi yang telah tersedia, kemudian menyalakan televisi.


Satu minggu telah berlalu, semenjak Leon bekerja. Awalnya, semua hal terlihat normal, dia melakukan pekerjaan rutinnya setiap hari.


Tapi lama kelamaan, suasana di apartemen itu mulai mencekam, Leon mulai mendengar dan mencium, bahwa ada yang mengawasinya di belakangnya.


Leon mulai merinding dan berkeringat dingin, perlahan dia mulai membalikkan tubuhnya, namun tak ada siapa-siapa di belakangnya.


Leon pun mengeraskan volume televisi, yang dia hidupkan, dengan tujuan supaya tak mendengar suara-suara aneh.


Kreeekkk...


Tiba-tiba pintu terbuka perlahan, Leon terkesiap, dia melihat seorang lelaki dengan usia lebih tua dua tahun dari Leon, berpakaian seragam satpam, sama dengan Leon, dengan sebuah cangkir di tangannya.


Leon pun kembali merasa lega.

__ADS_1


"Anda mengagetkan saja," kata leon.


Lelaki itu tersenyum ramah, dan menyalami Leon.


"Satpam baru, ya? Perkenalkan, nama saya Rubi, saya berjaga di lantai atas."


"Oh mas Rubi, salam kenal juga, saya Leon."


Rubi pun menyerahkan cangkir tersebut kepada Leon.


"Ini ada kopi hitam, minumlah, supaya kamu semangat kerjanya," katanya.


Leon mengambil cangkir itu dari tangan Rubi, kemudian dia menyesapnya perlahan.


"Hem, nikmat sekali kopi ini, terimakasih ya, Mas."


Rubi pun mengangguk.


"Eh, ngomong-ngomong, mas Rubi sudah berapa lama kerja di sini?" tanya Leon.


"Saya sudah tiga tahun jadi satpam di sini," sahut Leon.


"Oh, selama mas Rubi bekerja di sini, pernah nggak merasa takut?"


"Takut? Takut apa? Memangnya aku ini anak kecil haha," jawab Rubi sambil tertawa kecil.


Leon hanya meringis, dia bingung harus berkata apa lagi.


"Kamu jangan mikir macam-macam, di sini nggak ada apa-apa," tutur Rubi, dia memang sengaja merahasiakan sesuatu, karena dia tak ingin pekerja baru itu merasa tak nyaman selama bekerja.


"Eh, iya, Mas, maaf kalau pertanyaan saya bikin nggak nyaman," kata Leon hati-hati.


"Nggak masalah, santai saja, ya sudah, selamat bekerja, saya kembali dulu ke ruangan saya," kata Rubi.


"Baik, Mas," jawab Leon.


Rubi pun meninggalkan Leon seorang diri, dan Leon pun melanjutkan jaga malamnya.


Tak terasa, tengah malam pun tiba, saat itu waktu sudah menunjukan pukul dua belas, Leon merasakan kantuk yang luar biasa, dia pun memindah acara televisi, mencari chanel yang seru untuk mengusir rasa kantuknya.


Tiba-tiba telpon di ruangan itu berdering, Leon mengangkatnya. "Halo, selamat malam, ada yang bisa saya bantu?" ujar Leon.


"Tolong ke lantai delapan, ada hal penting yang akan saya bicarakan." Ucap suara di seberang sana.


Leon mengerutkan dahinya. "Kok seperti suara pak Sam ya," batinnya.


Leon pun bergegas turun, dengan menaiki lift, menuju lantai delapan yang dimaksudkan, karena dia tak mau di cap lalai dalam menjalankan tugasnya.


Sampai di lantai delapan, Leon berjalan ke arah ruangan kecil, dia mengetuk pintu ruangan itu.


"Permisi ...."


Namun hening, tak ada jawaban, dan Leon kembali mengetuk pintu itu, namun setelah berkali-kali Leon mengetuk pintu dan memanggil nama orang yang berada di dalam, dia justru tak mendapatkan jawaban apa-apa.


Leon pun langsung membuka pintu itu, dan betapa terkejutnya dia, ketika mendapati ruangan itu kosong.

__ADS_1


"Lho, kemana orangnya? bukannya dia bilang di lantai delapan, ini kan benar lantai delapan," batinnya.


__ADS_2