
Joko pun segera kembali ke penginapannya, dan langsung menuju ke gudang, kemudian dia mulai memasang kunci gembok pada pintu gudang itu.
Selesai aktifitas, Joko kembali ke dalam kamarnya.
"Jam berapa ini, Le? Kenapa aku ngantuk sekali ya? kata Franky kepada Leon.
"Baru jam sepuluh pagi," sahut Leon.
"Aku tidur sebentar ya, Le," kata Franky yamg kemudian langsung memejamkan mata, dan masuk ke alam mimpi.
"Hem, jelas saja kamu ngantuk, Fran, aku sendiri juga ngantuk, kan nggak tidur selama empat puluh hari, bayangkan saja," batin Joko.
"Eh, Jok, kamu ngapain saja di alam sana?" tanya Leon merasa ingin tahu.
"Ya nyari Franky, Le."
Joko pun menceritakan tentang desa misterius, yang dia temui di alam gaib, beserta orang-orang yang berubah menjadi kerbau, karena melanggar aturan adat desa itu.
"Wah, ternyata ngeri juga ya," kata Leon.
"Maka dari itu, Le, kalau kita pergi ke mana, terus ada peraturan atau larangan, kita jangan melanggar, ya gitu akibatnya."
"Iya Jok, terus gimana sama makhluk yang menculik Franky? Apa dia nggak ngamuk, kamu jemput si Franky?"
"Nggak tahu, Le, aku nggak ketemu sama makhluk itu, karna aku kan ngikut petunjuk, jadi aman dari makhluk itu, aku hanya lihat Franky sedang jalan sendiri, seperti kecape-an gitu, ya langsung saja aku ajak pulang."
"Oh gitu ya, Jok."
Joko mengangguk. "Oh ya, Le, kamu selama aku tinggal, gimana makannya?"
"Aku juga heran, Jok, tiap aku bangun tidur pasti di meja itu ada makanan enak-enak, nggak tahu siapa yang kasih," tutur Leon sambil menunjuk sebuah meja di sudut kamar itu.
"Hah? Masa sih?" Joko tak percaya dengan ucapan Leon.
"Betul, Jok, ngapain juga sih, aku bohong? Apa bu Regina ya, yang kasih makanan itu?"
"Sepertinya nggak mungkin, Le, karna dia tadi bilang, kalau lama nggak dengar kabar dari kita."
"Hah? Terus siapa ya?"
"Apakah makanan itu ada tiap hari, Le?" selidik Joko.
"Iya, Jok, aku bangun jam sembilan pagi, terus nyium bau sedap gitu, pas aku cari, eh ternyata di meja sudah ada nasi, ikan, sayur, tahu, tempe, lengkap sama minumannya. Makanannya banyak bisa untuk makan seharian, pasti aku habiskan terus hehe."
"Kalau itu, aku nggak heran, Le, kan perut kamu perut karet hahaha!" Joko tertawa, sedangkan Leon hanya meringis.
"Ya sudah, aku juga tidur sebentar ya, Le, ngantuk sekali, nanti malam aku ada urusan soalnya," kata Joko.
"Oke deh, Jok."
Joko pun merebahkan tubuhnya di atas kasur, kemudian bermain di alam mimpi.
***
Saat itu, Joko tengah berdiri di depan gapura, yang merupakan perbatasan pulau abadi.
__ADS_1
Dia menengadah ke atas gapura, dan seketika itu juga, Joko melihat lukisan seorang wanita mengenakan baju berwarna putih.
Joko terus menatap lukisan itu, samar-samar dia melihat wanita di dalam lukisan itu, tersenyum. Joko pun terbelalak.
Kemudian, wanita dalam lukisan itu melayang keluar, dan berjalan membelakangi Joko. Joko bertambah terkejut, dia pun mengikuti wanita itu dari belakang.
Tiba-tiba datang kabut tebal menutupi sekitar jalanan itu, dan ketika kabut itu hilang, wanita tersebut sudah tak nampak lagi.
"Ke mana dia?" batin Joko.
Dia mencari-cari wanita itu, namun tak diketemukan, Joko tak sadar bahwa kakinya menabrak sebuah batu berukuran sedang, dan ....
Bugh!
"Au!"
Dan sekeliling menjadi gelap, tak lama, Joko membuka matanya, dia terbangun dari tidurnya, dia pun duduk di kasurnya.
"Kamu mimpi apa, Jok? Dari tadi teriak-teriak nggak jelas," tanya Leon.
"Hah? Aku teriak-teriak? Masa sih?" Joko terlihat mengingat sesuatu. Dan seketika, dia teringat akan wanita di dalam lukisan itu.
"Ternyata hanya mimpi," batin Joko.
"Aku lupa, Le, mimpi apa. Tapi yang jelas, aku tuh kesandung batu, pas sedang jalan-jalan, jadi ya aku jatuh deh," Joko berbohong.
"Oh, aku kira kamu kenapa, Jok," ujar Leon.
Joko melirik jam dinding yang berada di kamarnya.
Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam.
"Ah biasa saja, Jok, kamu saja yang tidur terlalu lama," ledek Leon.
"Iya ya ...." Joko meringis, kemudian menoleh ke arah Franky yang masih terbaring di sampingnya.
"Ni orang, kuat sekali tidurnya," gumamnya.
"Ya wajarlah, Jok, kamu bilang sudah empat puluh hari, nggak tidur," kata Leon.
"Iya sih, Le, ya sudah, aku keluar dulu ya, ingat kamu jangan ke mana-mana," kata Joko.
"Iya, Jok, aku juga sudah ngantuk, mungkin sebentar lagi aku tidur," ujar Leon.
"Oke lah, Le."
Joko pun keluar kamar, dan berjalan menuju dapur, dia menggendong kucing hitam yang sedang meringkuk. Dan seketika itu juga, kucing itu menggeliat, kemudian membuka matanya.
"Meoooong ...."
"Kau mau membawaku ke mana, anak muda?" tanyanya menggunakan suara hati.
"Kita akan jalan-jalan, menikmati udara malam yang segar," kata Joko.
Kucing itu hanya diam, sementara Joko keluar dari penginapan, dan menuju ke pantai. Sampai di pantai, Joko berjalan ke arah seberang pantai, hingga kini tiba di sebuah hutan.
__ADS_1
"Rinjani! Keluarlah!" seru Joko.
Namun tak ada jawaban. Joko pun memanggil Rinjani kembali, namun tetap tak ada jawaban, akhirnya Joko duduk di sebuah batu besar yang terletak di depan hutan itu, dia memangku Nawang si kucing hitam itu, dan tanpa sadar tangan Joko mengusap kepala kucing itu.
"Hey, berhentilah!" seru kucing itu, dalam hatinya.
"Memangnya kenapa? Dasar kucing aneh, di sayang malah nggak mau," gerutu Joko dalam hati.
"Kau tak akan paham, aku tak mau tercipta sebuah perasaan, di antara kita."
"Ah kamu ini bicara apa sih, aku nggak mengerti," ucap Joko cuek.
Kucing itu terdiam, dan tak lama, muncullah kepulan asap putih di hadapan Joko, dan perlahan membentuk sosok Rinjani.
"Rupanya anda sudah datang lagi," kata Rinjani.
"Ya, aku akan menepati janjiku, untuk mencari jasadmu," tutur Joko.
Rinjani tersenyum smirk. "Baguslah kalau begitu."
"Tapi, mulai dari mana ya?" ujar Joko.
"Apa selama ini, anda tak mendapat petunjuk?" tanya Rinjani santai.
"Petunjuk? Petunjuk apa?" Joko mengerutkan keningnya.
"Ya petunjuk tentang jasad saya," jawab Rinjani.
"Kalau aku dapat petunjuk, pasti aku sudah menemukan jasadmu saat ini juga," papar Joko.
"Anda saja yang tak peka," lirih Rinjani.
Joko bertambah bingung dengan ucapan Rinjani. "Ah, kamu ini biacara apa? Kalau bicara itu yang jelas, huft."
"Hahahahaha!"
Tawa Rinjani pun menggelegar, membuat dedaunan yang melekat di ranting pohon berjatuhan.
"Hey, berhenti tertawa, nggak merdu sama sekali," cetus Joko.
Rinjani pun berhenti tertawa. "Jadi bagaimana? Anda bisa kan, mencari jasad saya?"
"Bisa, asalkan kamu mau bersabar. Mencari jasad itu, tak semudah memetik bunga di taman," ujar Joko.
"Saya pun tak memaksa anda harus cepat-cepat. Nah ... anda datang kemari, jadi saya pikir, anda sudah menemukan jasad saya."
"Apa kamu nggak bisa kasih petunjuk?"
"Sudah saya bilang, bahwa anda kurang peka," ucap Rinjani yang kemudian berubah menjadi kepulan asap putih, dan perlahan menghilang.
"Dasar jin genit, nggak sopan sekali, main hilang saja dia," gerutu Joko.
"Mana ada juga, makhluk gaib yang punya sopan santun, kamu ini aneh sekali, hahaha," kata Nawang sambil tertawa kecil.
"Huft ...." Joko mengesah.
__ADS_1
"Jadi, dia itu Rinjani?" tanya Nawang.
"Iya, pus," jawab Joko.