Pulau Abadi

Pulau Abadi
Arti Sebuah Mimpi


__ADS_3

Setelah cukup jauh Joko mengendarai mobilnya, dia pun menghentikan mobilnya.


"Kok berhenti, Jok?" tanya Franky.


"Iya, Jok, memangnya sudah sampai di warung makan ya?" sambung Leon, yang baru saja terbangun dari tidurnya.


"Ya ampun, kamu itu, Le, isi perut terus yang di pikir," lontar Joko.


"Iya nih, Le, kamu itu mengigau ya," kelakar Franky.


Leon meringis, sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Lihat tuh, Le," kata Joko, sembari tangannya menunjuk ke sebuah tempat.


Leon menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Joko, kedua bola matanya membulat seketika, dia melihat sebuah air terjun, dengan pemandangan yang masih alami.


"Lho, itu bukannya air terjun yang ada di mimpi aku tadi, ya?" ujarnya mencoba mengingat.


"Kamu pernah ke sini, Le?" tanya Joko.


"Entahlah, sepertinya aku pernah ke sini dalam mimpi ... eh benar, ini air terjun yang ada di dalam mimpiku, Jok." kata Leon semakin yakin, setelah mengamati air terjun itu berkali-kali.


"Oh ya? Terus kamu ngapain?" tanya Joko sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Ya yang aku bilang, aku ke sini sama perempuan cantik, yang pakai baju kuning itu," jawab Leon.


"Apa kamu tahu, arti mimpi kamu itu?" tanya Joko santai.


"Hah? Maksud kamu apa, Jok?" Leon berbalik tanya penuh selidik.


"Aku jelaskan sama kamu ya, kamu itu sedang dalam bahaya, di mimpi kamu itu, kamu ketarik sama aura perempuan berbaju kuning itu, masuk ke dunia gaib. Kalau saja aku tak membantumu keluar dari air terjun itu, kamu bisa tersesat di dunia mereka, jadi seolah-olah, kamu bisa saja pingsan dalam waktu lama, atau bisa juga disebut koma, bahkan roh kamu juga bisa nggak kembali untuk selamanya."


Franky hanya diam seribu bahasa, menyimak pembicaraan Joko dan Leon.


"Masa sih, Jok? Kok serem sekali," lirih Leon.


"Tolooooong ....!"


Tiba-tiba mereka mendengar seruan minta tolong.


"Itu kan suara yang aku dengar di mimpi aku juga Jok," ujar Leon, dengan raut wajah tegang.


"Nah, aku juga sudah pernah bilang, kan? Kalau kamu dengar suara yang sekiranya aneh, jangan hiraukan, biarkan saja, kalau kamu menanggapi, kamu pasti kebawa ke dunia mereka."


Leon bergidik ngeri, seketika bulu kuduknya meremang.


"Ini bisa dibilang sebagai latihan," kata Joko.


"Latihan apa, Jok?" Leon mengerutkan keningnya.


"Ya latihan, supaya nanti ketika sampai di pulau abadi, kamu sudah peka dengan hal-hal yang aneh, kamu paham, kan?"

__ADS_1


"Oh iya deh, Jok." Leon mengangguk.


"Kamu jangan iya-iya saja, Le, nanti sampai sana diulang lagi."


"Ya iya lah, Jok, hem."


Joko tersenyum penuh makna.


"Kamu kok diam saja, Fran? Sariawan ya?" kelakar Joko kepada Franky.


"Eh, aku nyimak saja, hehe."


"Ya sudah, yuk kita lanjut lagi," kata Joko.


Franky dan Leon mengiyakan ucapan Joko, dan Joko pun kembali melanjutkan perjalanannya. Tak terasa hari sudah sore, dan matahari pun kehilangan sinarnya, beberapa lama kemudian, mereka tiba di perbatasan pulau abadi.


"Nah, kalau ini pasti perbatasan pulau abadi, Jok, aku masih ingat jalannya," celetuk Franky.


"Sepertinya iya, Fran," sahut Joko.


Joko terus mengemudikan mobilnya, tak lama, mereka melihat warung makan kecil.


"Itu ada warung makan, Jok," tunjuk Leon.


"Mata kamu awas sekali, Le, kalau lihat rumah makan, langsung semangat haha!" Joko meledek Leon.


Leon pun meringis, Joko menerawang warung itu sejenak. "Nah, kalau ini warung makan beneran, aku juga sudah lapar, ayo Le, Fran."


"Ayolah, Jok," sahut Franky.


"Selamat sore, Mas-Mas, mari silahkan," sambut ibu pemilik warung tersebut.


"Selamat sore juga, Bu, kita mau mencicipi masakan Ibu nih, hehe," balas Joko sambil terkekeh.


"Oh, silahkan, ambil sendiri ya, anggap saja prasmanan," seloroh ibu pemilik warung.


"Jangan ambil sendiri, Bu, bahaya," celetuk Joko.


"Lho, memang kenapa, Mas?" Ibu pemilik warung mengerutkan keningnya.


"Bisa-bisa langsung habis," sahut Joko sambil melirik ke arah Leon.


"Yeee, mana cukup juga perut aku, menghabiskan semua makanan ini, Jok," kata Leon sambil menggembungkan kedua pipinya.


"Pasti cukup, Le, kan perut kamu melar hehe," Franky ikut meledek.


"Ah kamu lagi, Fran, ikut-ikutan saja."


Dan, semua yang ada di warung itu pun tertawa terkekeh.


"Ya sudah, silahkan ambil sendiri, sesuai selera kalian," ucap ibu pemilik warung.

__ADS_1


Franky mengambil piring, dan mengisinya dengan nasi dan lauk, begitupun dengan Joko dan Leon. Kemudian, mereka bertiga duduk bersebelahan.


"Kalian ini dari mana, atau mau ke mana?" tanya ibu pemilik warung.


"Eh, kita mau ke pulau abadi, Bu?" jawab Franky.


"Apa? Pulau abadi? Pulau berhantu itu?" lirih ibu pemilik warung.


"Ah masa berhantu, Bu, saya sudah ke tempat itu beberapa kali, nggak ada hantu tuh, malah yang ada, saya kenal sama perempuan cantik, hehe," kekeh Franky.


Ibu pemilik warung terdiam sejenak, dia ingin melanjutkan ucapannya, namun dia urungkan, karena dia takut, ketiga pria itu tak akan percaya.


Namun Joko mengetahui, apa yang dirasakan oleh ibu pemilik warung itu, dia pun menengahi pembicaraan.


"Em, maaf, Bu, begini ... kita ke pulau abadi karna ada urusan penting, yang harus kita selesaikan."


"Oh begitu, ya sudah, kalian hati-hati ya," ucap ibu pemilik warung.


Franky dan Joko mengangguk, sedangkan Leon masih asik menikmati makanan di hadapannya.


"Maaf, Bu, apakah Ibu tahu sejarah tengang pulau abadi itu?" Joko memberanikan diri untuk bertanya.


Ibu pemilik warung terdiam sejenak ....


"Eh, itu, sebaiknya kalian selidiki saja sendiri, nanti setelah kalian berada di sana satu hari saja, kalian pasti akan merasakan sendiri, maaf, bukannya ibu tidak mau memberitahu mitos dan fakta, yang beredar di pulau itu, tapi pamali kalau ibu menceritakannya kepada orang asing, takutnya jadi suudzon, kalian bilang, pernah ke tempat itu kan, nah saya yakin, kalian pasti pernah mengalami kejadian yang mungkin menurut kalian tidak masuk akal. Untuk itu, sebaiknya kalian hati-hati, maaf, itu saja yang bisa saya sampaikan."


"Baiklah, Bu, terimakasih atas wejangannya," kata Joko mewakili kedua temannya itu.


Ibu pemilik warung tersenyum dalam anggukannya.


Sementara Franky dan Joko telah menghabiskan makanannya.


"Tambah, Le, makannya, biar awet hehe," kelakar Franky.


"Ah sudah penuh ini perutku, nanti saja kalau lapar lagi, kita cari warung lagi, hehe," kekeh Leon sambil meringis.


Franky dan Joko saling berpandangan, kemudian menggelengkan kepala, sedangkan ibu pemilik warung tersenyum geli melihat tingkah Leon.


Sudah selesai belum, Le, makannya?" tanya Franky.


"Sudah, Fran," jawab Leon.


"Ya sudah, ayo kita lanjut lagi," sambung Joko.


Franky pun membayar semua makanan yang telah dimakan, kemudian berpamitan.


"Kita permisi dulu, Bu," ujarnya.


"Baiklah, kalian hati-hati ya, terimakasih sudah singgah ke sini, kalau ada waktu, silahkan singgah lagi," ucap ibu pemilik warung.


Franky mengangguk, kemudian berlalu keninggalkan warung itu, diikuti Joko dan Leon mengekor di belakang.

__ADS_1


"Jok, aku saja yang bawa mobilnya," lirih Franky.


"Sudah, aku saja nggak apa-apa, Fran, banyak tempat berbahaya di daerah sini, hanya aku yang bisa menghandle," ucap Joko tegas.


__ADS_2