
Siang itu, Franky merasa mengantuk sekali, dia pun masuk kedalam kamarnya dan tertidur pulas.
Franky.. Franky.."
Sebuah suara membangunkan tidur Franky.
Dia terjaga dari tidurnya, dia mencari-cari asal suara yang di dengarnya.
Franky berjalan ke luar kamar, tiba-tiba ada sebuah cahaya yang sangat menyilaukan mata.
Di antara cahaya tersebut, Franky melihat ada sebuah bola cahaya yang sinarnya paling terang, bola cahaya itu melayang-layang mengelilingi Franky dan perlahan bergerak menjauh, Franky yang penasaran berjalan mengikuti gerakan bola cahaya itu, hingga tiba di suatu tempat yang lebih mirip dengan Taman Bunga, Franky sedang duduk sendiri mengamati bunga-bunga yang sedang bermekaran.
"Ayah!" tiba-tiba seorang anak kecil laki-laki berusia empat tahun berlari-lari kecil menghampiri Franky.
Franky mengerutkan keningnya.
"Siapa anak ini? Kenapa memanggilku ayah?" batinnya.
Anak kecil itu memeluk kaki Franky.
"Dia adalah Raju, anak kita," kata sebuah suara yang tak asing di telinga Franky.
"Raju? Anak?" Franky semakin bingung.
Kemudian Franky menoleh ke kanan, kedua bola matanya membulat seketika.
"Rin.. Rinjani," lirih Franky.
Seorang wanita cantik berkebaya serba putih lengkap dengan kerudung yang juga berwarna putih tulang menambah keanggunannya.
Ya, dia adalah Rinjani.
Rinjani tersenyum manis ke arah Franky.
"Apa kabar kau?" tanya Rinjani.
Franky tak menjawab, dia terus memperhatikan Rinjani tanpa berkedip sekalipun.
"Ayah," suara anak kecil tadi kembali memanggil Feanky.
Franky pun berjongkok hingga menjadi sejajar dengan anak itu.
"Raju? Kamu anakku?" tanya Franky.
"Benar Fran, saat anda pergi meninggalkan saya, kala itu saya sedang mengandung benih-benih cinta kita," ungkap Rinjani.
Franky merasa bingung.
"Hah? Apa aku pernah melakukan itu? Kenapa Rinjani bisa mengandung anakku?"
Franky memangku Raju, dia seakan mengingat kembali kejadian sebelumnya.
"Tapi.. kamu bukannya sudah di jodohkan dengan Pangeran pilihan Ayah kamu, dan kalian tentunya sudah menikah kan? Lalu, anak ini pasti anak Pangeran itu, kamu jangan membodohiku Rin," tukas Franky.
"Tidak Fran, saya tidak mencintai dia, dan saat itu saya kabur dari rumah lalu bersembunyi di sebuah tempat, sampai saya melahirkan anak anda," papar Rinjani.
"Dan setelah saya melahirkan, saya kembali ke rumah membawa anak ini, dan menceritakannya kepada ayah saya," kata Rinjani lagi.
"Enggak, ini nggak masuk akal," Franky menyangkal.
"Benar Fran, ini anak kita."
__ADS_1
Franky tetap tak percaya dengan ucapan Rinjani, dia merasa Raju bukanlah anaknya.
Franky tersenyum sinis.
"Franky, apakah anda masih mencintai saya?" tanya Rinjani.
Franky terkesiap mendengar pertanyaan Rinjani.
"Eh, aku.. iya Rin, tentu saja aku mencintaimu, tapi tidak untuk saat ini, karna kamu sudah dengan pangeran itu," jawab Franky.
"Saya sudah bilang berkali-kali, kalau saya tak mencintainya, dan kalau anda memang mencintai saya, tentunya anda mau ikut dengan saya, hidup bahagia bersama anak kita," ujar Rinjani.
Franky terdiam untuk beberapa saat.
"Bagaimana?
Apakah anda mau ikut dengan saya? tanya Rinjani sekali lagi.
Franky seolah terhipnotis dengan tatapan Rinjani.
"I.. iya.. Rin, saya pasti.. pasti mau ikut dengan kamu," gagap Franky.
"Baiklah kalau begitu, mari ikutlah dengan saya.
"Rinjani menggandeng tangan Raju kecil, dan berjalan menuju arah jalan yang berada di hadapannya.
Tanpa sadar Franky mengikutinya, dan ketika Franky hendak melangkahkan kakinya, dia tiba-tiba terjatuh.
Kriiiiing!
Franky terbangun dari tidurnya, mendengar ponselnya berdering.
"Ya ampun, aku mimpi rupanya, tapi kenapa mimpi itu begitu nyata? Rinjani? Siapa dia ya? Kenapa aku sulit sekali mengingatnya?" gumam Franky dalam lamunannya.
Franky segera mengambil ponselnya, ada panggilan masuk dari nomor tak di kenal.
"Halo," sapa Franky
"Halo, apakah ini dengan Franky?" kata suara di seberang sana.
"Perempuan? Siapa ya?" batin Franky.
"Iya betul sekali, dengan siapa saya bicara?" sahut Franky.
"Saya Rindi, wakil dari PT. Bintang Media, saya dapat nomor kamu dari nyonya Nurdiana, dan saya hanya ingin memberi tahukan bahwa karya kamu sudah di terima oleh kantor pusat, dan akan segera di terbitkan."
"Rindi? oh iya baik Rin, terimakasih," sahut Franky
Panggilan pun berakhir...
"Rindi.. Rinjani.. Rindi.. Rinjani.. ah pusing aku," gumam Franky setelah meletakkan ponselnya.
Seketika angin dingin berhembus menyeruak masuk ke dalam rumah Franky, kemudian menghilang.
"kenapa udara di sini berubah-ubah ya, aneh sekali," pikir Franky.
"Sebaiknya aku ke rumah Leon, jenuh di dalam rumah terus."
Franky memanaskan mobilnya lalu mengendarai ke jalanan untuk mencari sebuah warung, karena dia merasa lapar.
Tak butuh waktu lama, Franky menemukan sebuah warung kecil yang terletak di sudut jalan itu.
__ADS_1
Franky turun dari mobil dan berjalan menuju warung tersebut.
Di dalam warung, ada seorang bapak tua yang juga sedang makan nasi dan seorang ibu pemilik warung.
"Bu saya mau makan," kata Franky.
"Silahkan Mas," balas ibu pemilik warung.
Kemudian Franky menyebutkan makanan apa saja yang hendak di makannya, dan ibu pemilik warung pun melayaninya dengan cekatan.
Franky duduk dan menikmati makanannya.
Bapak tua yang sedang makan tadi menoleh ke arah Franky.
"Istrinya kok nggak ikut makan Mas?" tanyanya.
Franky terkejut bukan main.
"Hah? Istri? Istri yang mana?" gumam Franky dalam hati.
"Eh maaf, saya sendirian saja kok," kata Franky.
Bapak tua itu merasa heran dan berpikir bahwa Franky tak waras, namun dia tak mau ambil pusing.
Bapak tadi telah selesai makan, lalu membayar dan pergi, setelah sebelumnya memperhatikan sesuatu di sekitar Franky berada.
Ibu pemilik warung tersenyum penuh arti.
"Dia itu mempunyai kemampuan bisa melihat makhluk halus Mas, ibu bukannya mau menakut-nakuti kamu, tapi sepertinya kamu sedang di ikuti oleh makhluk halus."
"Uhuk!"
Kata-kata ibu tersebut membuat Franky tersedak.
"Aduh, maaf Mas, kalau ibu sudah membuat kamu kaget."
Ibu itu mengambil sebuah gelas dan menuangkan air putih lalu memberikannya kepada Franky.
"Di minum dulu Mas, setelah itu silahkan habiskan makannya," perintah ibu itu.
Franky menerima gelas berisi air putih itu kemudian meminumnya.
"Bu maaf, maksud ucapan bapak tadi apa ya?" tanya Franky dengan hati-hati.
"Sudahlah Mas, nggak perlu di ambil pusing, lupakan saja," sahut ibu pemilik warung dengan senyum di paksakan.
Franky pun diam penuh tanda tanya, dia segera menghabiskan makanannya lalu membayar dan pergi.
Franky masuk ke dalam mobil, melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah Leon.
Saat sampai di perempatan traffic lights, lampu sedang berwarna merah dan mobil Franky berhenti.
Sedang asik menunggu lampu berubah warna menjadi hijau, pandangan netra Franky tiba-tiba mengarah ke sosok berpakaian serba putih yang tiba-tiba muncul dari samping jalan, sosok itu berjalan hendak menyeberangi jalan, saat sampai di tengah jalan, langkah kakinya terhenti, sosok itu menoleh ke arah mobil Franky, kemudian tersenyum, dan berjalan lagi hingga menghilang.
Franky mencari sosok itu dengan raut wajah keheranan.
"Sepertinya, aku kenal sama dia," batin Franky.
Namun ketika Franky mengedarkan pandangannya, mencari sosok tersebut, dia tak melihatnya lagi.
"Kemana perginya perempuan itu, cepat sekali menghilang," lirihnya.
__ADS_1
Tin! tin!
Terdengar suara klakson kendaraan yang berada di belakang Franky rupanya lampu jalan sudah berwarna hijau, dan Franky pun bergegas mengendarai mobilnya.