Pulau Abadi

Pulau Abadi
Kejutan Misteri


__ADS_3

Kemudian Franky masuk ke dalam rumahnya, dan mengunci pintu.


Franky berjalan masuk ke dalam kamarnya, ketika dia hendak merebahkan tubuhnya di atas kasur, netranya mengarah ke beberapa lembar kertas di kasurnya.


"Apa itu ya?"


Franky mengambil benda tersebut, dia terkejut bukan main, sebuah naskah berjudul :


'BIDADARI SURGA'


Di sana ada tulisan karya : 'FRANKY'


Franky heran dan bingung, dia membuka lembaran demi lembaran yang berisi naskah itu, dia teliti setiap bab nya.


"Lho, ini hasil tulisan tanganku, tapi kapan ya aku nulis? Bukannya aku baru saja berencana akan menulis lagi, tapi kenapa sudah jadi saja?"


Franky merebahkan tubuhnya, dia masih merasa heran, karena lelah yang dia rasakan, akhirnya dia pun tertidur pulas.


****


Keesokan harinya, Franky bangun dari tidurnya, dia segera mandi dan berpakaian rapi.


Lalu Franky mengambil naskah hasil karyanya.


Franky mengemudikan mobilnya menuju kantor penerbit novel, sampai di sana dia di sambut oleh Nurdiana.


"Halo Franky! Apa kabar?"


"Ba.. baik Nyonya," gagap Franky.


"Kamu kenapa? Seperti di kejar-kejar sama hantu saja."


Franky menyerahkan naskah yang di bawanya kepada Nurdiana dengan raut wajah bingung.


Nurdiana menerima naskah tersebut.


"Lho, ini novel baru kamu Fran?"


"Eh itu, saya bingung Nyonya, itu...."


Ucapan Franky terhenti.


"Kok bingung?" Nurdiana ikutan merasa heran.


Franky diam, dia pun tak tahu harus berkata apa.


"Ya sudah, saya coba cek dulu ya," sela Nurdiana, kemudian berjalan masuk ke dalam kantornya diikuti Franky mengekor di belakang.


"Duh, gimana nih?"


Di dalam ruangannya, Nurdiana mengecek naskah itu, dia berdecak kagum.


"Wah, Franky, saya sangat senang dan salut sama kamu, makin hari kamu makin ada kemajuan."


"Hah? Maksud Nyonya gimana? Saya nggak paham."


"Kamu sedang nggak sehatkah Fran? Kamu ini aneh sekali, bikin novel, dan novelmu bagus malah kamu bingung, harusnya kamu tuh senang."


Franky terdiam untuk beberapa saat.


"Oh iya saya telponkan Rindi ya supaya segera menerbitkan karya kamu.


Deg!


Jantung Franky berdetak kencang mendengar nama itu.


"Rindi?"


"Nah, kamu pasti kangen kan sama dia?" ujar Nurdiana.


Wajah Franky merah padam, Nurdiana yang memperhatikan hal itu pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Beberapa saat kemudian, setelah Nurdiana menelpon Rindi, datanglah Rindi ke tempat itu.


Franky terpesona dengan keanggunannya, dia mengenakan gaun panjang berwarna merah maroon, berbalut blazer berwarna hitam, surainya yang panjang sebatas bahu dibiarkan tergerai.


"Halo Rindi!" seru Nurdiana.


Rindi tersenyum sambil menyalami Nurdiana.


"Halo Franky," sapa Rindi.


Franky menjadi nervous.


"Eh iya, halo juga, kamu apa kabar?"


"Baik, kamu sendiri bagaimana kabarnya?"


"Ya beginilah seperti yang kamu lihat."

__ADS_1


Rindi tertawa kecil, dia merasa lucu dengan tingkah Franky.


"Oh iya, jadi kamu baru saja selesai membuat novel baru?"


"Em iya."


Sebaiknya aku tak menceritakan hal yang sebenarnya, nanti yang ada, mereka malah mentertawaiku lagi, pasti mereka menganggap aku sudah nggak waras," gumam Franky dalam hati.


"Baiklah, nanti saya bawa ke kantor untuk segera di terbitkan dan di pasarkan."


Franky mengangguk.


Kemudian Rindi mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat dari dalam saku blezernya.


"Oh iya Fran, ini honor kamu."


Franky mengambil amplop tersebut dari tangan Rindi, tapi karena dia terlalu fokus memperhatikan wajah Rindi, tanpa di sengaja amplop yang sudah berhasil dia pegang terjatuh ke lantai.


Spontan Franky dan Rindi membungkukkan badannya secara bersamaan dan mengulurkan tangan kanannya masing-masing untuk mengambil amplop yang jatuh itu.


Dan terjadilah adegan yang tak terduga, tangan Rindi sudah memegang amplop itu, sementara tangan Franky pun berada di atas punggung tangan Rindi.


Franky dan Rindi sama-sama reflek, Rindi menatap Franky, begitupun dengan Franky, dia juga menatap Rindi dalam-dalam.


Dengan segera Rindi menarik tangannya dan berdiri.


"Eh maaf," kata Rindi.


"Aku yang minta maaf, kalau aku nggak sopan seperti tadi," Franky tak mau kalah.


Rindi pun tersenyum, Franky mengambil amplop yang terjatuh itu.


"Terimakasih," kata Franky.


"Sama-sama, teruslah berkarya dan semoga sukses," kata Rindi.


"Baik Rin, terimakasih, em.. apakah kamu sudah makan?" tanya Franky.


"Belum, tapi sebentar lagi aku akan makan kok," sahut Rindi malu-malu.


"Bagaimana kalau aku traktir kamu makan?" ajak Franky.


"Apa nggak merepotkan kamu?" tanya Rindi malu-malu.


"Ah, sama sekali nggak ada kata repot untuk perempuan secantik kamu," ujar Franky antusias.


Wajah Rindi bersemu merah, dia menunduk.


Nurdiana sangat gembira melihat adegan di depan matanya.


"Oh iya Nyonya, ayo kita makan bersama," ajak Franky.


"Maaf, bukannya saya nggak mau, tapi saya masih banyak pekerjaan, lagi pula nanti suami saya mau kesini membawakan makanan untuk tante, kalian berdua saja," Nurdiana berusaha mencari alasan.


"Ya sudah, kalau nggak mau, saya sama Rindi pergi makan dulu ya, lapar nih hehe," kekeh Franky.


Nurdiana tersenyum dalam anggukannya, kemudian Franky mengajak Rindi keluar dari kantor Nurdiana.


"Rupanya si Franky sedang di masuk asmara, pantas saja, tingkahnya aneh begitu," batin Nurdiana sambil menggelengkan kepala.


Franky dan Rindi masuk ke dalam mobil.


"Kamu mau makan apa Rin?" tanya Franky memecah keheningan.


"Samakan saja sama kamu, apa saja yang kamu makan, pasti aku ikut makan juga," ucap Rindi ramah.


Franky tersenyum simpul.


"Sungguh cantik Rindi, nggak bosan-bosan aku memandang dia, apakah aku telah jatuh cinta? Ah apakah ini kelemahanku, yang mudah jatuh cinta kepada setiap perempuan yang dekat denganku?" ungkap isi hati Franky.


Sementara Rindi pun diam-diam mencuri pandang terhadap Franky.


"Tampan dan tajir sekali dia, pandai membuat novel pula, sungguh beruntung perempuan yang bisa mendapatkan hatinya, tapi dia sudah ada yang punya atau belum ya?" batinnya.


Tak lama mereka sampai di depan rumah makan khas minangkabau, "apakah kamu suka makanan khas minang Rindi?"


Deg!


Jantung Rindi berdetak kencang tak beraturan.


"Apakah.. ka.. kamu juga suka masakan minang Fran?" tanya Rindi dengan gugup.


"Bukan suka lagi Rin, masakan minang adalah favorit aku, hampir setiap satu minggu sekali aku mampir di tempat ini, menu yang paling aku suka adalah dendeng balado," papar Franky.


"Hah? Apakah ini hanya kebetulan, atau..." ucapan Rindi terputus.


"Atau apa Rin?" sela Franky mengerutkan keningnya.


"Kenapa selera kita sama? Sebenarnya aku nggak menyangka, kamu mengajakku ke sini, karna aku juga pecinta masakan minang, dan aku selalu delivery order di tempat ini, dan menu favoritku adalah nasi kapau," ujar Rindi merasa senang.

__ADS_1


"Wah benarkah? Kok bisa ya, mungkin kebetulan hehe," Franky terkekeh.


Makanan khas suku Minangkabau sangat terkenal dan punya banyak penggemar. Makanan khas suku Minangkabau ini lebih dikenal dengan masakan Padang.


Sebenarnya, Minangkabau meliputi daratan Sumatera Barat dan sebagian daerah lain di Sumatera.


Cita rasanya yang pedas dipadukan dengan aneka rempah khas Indonesia, membuat makanan khas suku Minangkabau menjadi idola banyak orang.


Dendeng balado adalah makanan khas suku Minangkabau dibuat dari irisan tipis dan lebar daging sapi yang dikeringkan lalu digoreng kering. Daging goreng ini lalu diberi bumbu balado.


Sedangkan nasi Kapau merupakan nasi campur khas Minangkabau. Makanan khas suku Minangkabau ini terdiri dari nasi, sambal, dan lauk pauk khas Kapau, dan ciri khas dari nasi ini adalah adanya gulai nangka khas Kapaunya.


Kemudian Franky mengajak Rindi turun dari mobil dan menuju warung makan tersebut.


Franky memesan satu porsi dendeng balado dan satu porsi nasi kapau kesukaan Rindi, tak lupa Franky juga memesan dua gelas minuman.


Beberapa saat kemudian, pelayan mengantarkan pesanan mereka.


"Ayo Rin, silahkan di makan," ajak Franky.


"Iya Fran," kata Rindi malu-malu.


Mereka tampak menikmati hidangan itu dengan lahap hingga habis.


"Benar-benar lezat," kata Rindi.


"Kapan-kapan, aku ajak makan di sini lagi, apakah kamu nggak keberatan?" tanya Franky.


"Em, aku sih mau saja, tapi.. apa pacar kamu nggak marah kalau kamu pergi sama perempuan lain?" tanya Rindi dengan hati-hati.


"Pacar? Hahaha!" Franky terbahak, membuat semua orang yang berada di warung itu menoleh ke arahnya.


Seketika Franky menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.


Rindi tersenyum geli melihat tingkah Franky.


"Maaf ya Rin, kalau aku bertingkah memalukan," kata Franky.


"Ah santai saja, aku sudah sering bertemu sama orang seperti kamu hehe," Rindi terkekeh.


"Em saya nggak punya pacar Rin," ungkap Franky.


Wussshhh!


Seketika angin dingin berhembus kencang menyeruak ke dalam rumah makan itu.


Franky berasa kedinginan.


"Kamu kenapa Fran?" tanya Rindi heran.


"Nggak tahu Rin, tiba-tiba dingin saja," jawab Franky.


"Hah? Dingin? Panas begini kamu bilang dingin, apakah kamu sedang nggak enak badan?" tanya Rindi lagi.


"Nggak kok, aku sehat, mungkin perasaanku saja hehe."


Rindi bertambah heran dengan tingkah Franky.


"Eh Fran, masa sih laki-laki setampan kamu belum punya pacar, kamu pasti bohong kan?" kata Rindi lagi.


Franky menunduk sejenak.


"Sebenarnya saya sudah menikah dan punya istri Rin," tutur Franky.


"Hah? Terus istri kamu di mana?" tanya Rindi.


"Dia sudah meninggal, kurang lebih sekitar satu tahun yang lalu," jawab Franky dengan nada datar.


"Oh.. maaf ya, aku benar-benar nggak tahu," kata Rindi menyesal.


"Ah itu, lupakan saja, nggak perlu di pikir pusing Rin," sahut Franky.


"Apakah kamu punya anak dari istri kamu?" tanya Rindi merasa ingin tahu.


"Istri saya meninggal dalam keadaan mengandung tujuh bulan," jawab Franky.


"Ya ampun, kamu yang sabar ya," kata Rindi menenangkan.


"Iya Rin," angguk Franky.


"Sebentar ya Rin, aku mau bayar makanan dulu," Franky kemudian berjalan menuju ke kasir.


Setelah membayar makanan itu, Franky mengantar Rindi kembali ke PT.


"Terimakasih Fran, untuk traktirannya, maaf sudah merepotkan," kata Rindi.


"Aku nggak merasa di repotkan kok Rin, ya sudah, aku pulang dulu," pamit Franky.


"Baiklah, kamu hati-hati pulangnya," kata Rindi.

__ADS_1


Franky mengangguk dan tersenyum, kemudian masuk ke dalam mobil dan pulang.


__ADS_2