Pulau Abadi

Pulau Abadi
Tiba di Lembah Ilusi


__ADS_3

Dua puluh menit kemudian, mereka sampai di lembah ilusi.


Saat itu Leon baru saja terbangun.


"Sudah sampai, Frank?"


"Ah kamu itu Le, dari tadi tidur terus, kamu kan harusnya jadi penunjuk jalan," gerutu Franky.


"Hehe, maaf, Fran, aku ngantuk banget, eh lapar nih, cari makan dulu yuk."


"Ini jam berapa Le, aku dari tadi menahan lapar, sepanjang jalan sampai ke sini nggak ketemu warung makan satupun."


"Memangnya ini jam berapa?"


"Kamu lihat saja sendiri Le."


Leon melirik jam di ponselnya.


"Hah? Jam dua belas?"


"Emang kamu pikir jam berapa sekarang, Le?"


Leon menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Ini sudah sampai Le, terus kita kemana?"


"Kita turun dulu, nanti cari rumah penduduk yang masih berjaga."


"Tapi sepertinya tempat ini sudah sepi, kemungkinan sudah pada tidur semua."


"Ya sudah, kita tunggu di mobil saja dulu Fran, tunggu sampai terang, atau gantian kamu yang tidur, aku jagain, aku sudah tidur lama tadi, jadi nggak ngantuk lagi."


"Aku mana bisa tidur Le, perut aku lapar sekali."


"Sama, Fran, tapi cari makan di mana? Sudah nggak ada warung kan."


Sedang asik berbincang, tiba-tiba seorang mengetuk kaca mobil mereka.


"Siapa tuh, Fran?"


"Nggak tahulah, Le."


"Coba buka kacanya."


Franky membuka kaca pintu mobilnya, dia tertegun melihat seorang wanita cantik tersenyum ke arahnya.


"Permisi, Mas, saya mau menawarkan roti, saya jualan dari pagi belum ada yang beli."


Seketika Franky merasa iba terhadap wanita tersebut.


"Wah kebetulan, kita kan belum makan," ujar Leon.


"Iya Le, kamu mau roti?"


"Ya mau makan apa lagi, dari pada lapar, adanya hanya itu."


Franky mengangguk.


"Satu rotinya berapa mbak?" tanya Franky.


"Lima ribu saja, Mas."


Franky pun mengambil enam bungkus roti, dan memberikannya kepada Leon, lalu Franky mengambil uang dari saku celananya.


Ketika Franky berbalik badan hendak memberikan uang kepada wanita itu, dia terkejut karena wanita itu sudah tak ada.


"Lho, mana perempuan tadi, Le?"


"Hah? Tadi kan berdiri di situ, Fran."


"Nah iya, tapi pas aku mau bayar kok sudah nggak ada."


Franky pun turun dari mobilnya, dan mencari keberadaan wanita tadi.

__ADS_1


"Kemana perempuan itu? Cepat sekali jalannya, aneh, aku kan belum membayar rotinya."


"Ya sudahlah, aku kembali ke mobil saja, nanti juga pasti dia kembali lagi kalau tahu aku belum membayar," batin Franky.


Saat Franky membalikkan tubuhnya, Dia di kejutkan oleh kehadiran seorang kakek tua berambut panjang, berwarna putih merata, janggutnya pun panjang.


"Eh Kakek, mengagetkan saya saja."


"Sedang apa kamu disini?"


Franky pun menceritakan, yang mana dia membeli roti dari seorang wanita, namun ketika akan membayar, wanita itu sudah menghilang.


Kakek tua itu menatap intens ke arah Franky.


"Jam segini mana ada wanita berkeliaran, apa lagi berjualan."


Franky terbelalak mendengar ucapan kakek tersebut.


"Ma.. maksud Kakek apa?"


"Kamu pendatang?"


"Iya kek."


"Saya hanya berpesan, kalau tinggal di sini berhati-hatilah, jangan mudah terpengaruh dengan orang yang baru kamu kenal, kamu fokus saja dengan tujuan utama kamu, dan satu lagi, jangan berbuat macam-macam."


"Baik kek, ya sudah, saya kembali ke mobil dulu."


Franky berlalu melewati kakek tua itu.


Seketika Franky teringat sesuatu, dia pun membalikkan badannya.


"Oh iya kek...."


Lagi-lagi Franky dibuat terkejut, karena kakek tersebut sudah menghilang.


"Ya ampun, cepat sekali kakek itu hilang, padahal aku baru saja mau menanyakan rumah sewa, huft kenapa orang-orang disini aneh semua."


Franky kembali ke mobil dengan langkah gontai, dan masuk ke dalam mobilnya.


"Bayar apaan Le, orangnya sudah hilang."


"Mungkin dia lupa dan terburu-buru, Fran, besok kalau ingat pasti nyariin kita kok."


"Ya tapi aneh saja, Le, kok cepat sekali hilangnya."


"Mungkin kaki sepeda kali, Fran."


"Apaan tuh kaki sepeda?"


"Ya itu, jalannya seperti sepeda, cepat gitu."


Franky menggeleng.


"Kamu itu Le, ada-ada saja."


"Oh iya Le, tadi aku ketemu sama...." Franky menghentikan ucapannya.


"Duh, lebih baik aku nggak cerita tentang kakek itu deh, leon pasti nggak bakal percaya," batinnya.


"Ketemu sama siapa, Fran?"


"Eh itu Le, sama kucing hehe."


"Dih kamu, Fran, ketemu sama kucing saja pakai cerita segala, kirain ketemu sama perempuan cantik seperti penjual roti tadi hehe," kekeh Leon sambil mengunyah rotinya.


"Hem, kamu itu pikirannya perempuan terus, Le."


Leon meringis.


"Oh iya, Fran, ini dimakan rotinya, katanya lapar."


Leon memberikan roti itu kepada Franky, dan Franky mengambil satu bungkus roti, kemudian melahapnya.

__ADS_1


"Kok enak sekali Le."


"Enak gimana Fran?"


"Ya enak gitu, rasanya nggak seperti roti biasanya.


"Ah, biasa saja kok, Fran, rasanya sama seperti roti-roti yang dijual di warung-warung, mungkin karna kamu terlalu lapar jadi roti ini terasa lezat sekali."


"Iya deh, Le, terserah kamu saja."


Franky memakan habis dua bungkus roti.


"Haus nih, Fran."


"Ini Le, kebetulan aku bawa minum tadi," Franky memberikan satu botol pastik berisi air putih kepada Leon.


Leon pun meminumnya.


"Ah akhirnya kenyang juga nih perut, kamu kalau ngantuk tidur saja Fran."


"Iya Le, nanti kalau ngantuk juga merem."


"Besok kita cari rumah sewa."


"Iya Le, seperti waktu di Pulau Abadi itu, kita kontak untuk beberapa bulan sampai novelku selesai."


"Oke siap, Fran."


Seketika angin dingin berhembus menyeruak masuk ke dalam mobil.


"Kok jadi dingin begini ya, Fran."


"Namanya juga angin malam, ya dinginlah, Le."


"Tapi tadi nggak sedingin sekarang, Fran."


"Ya kan tambah malam tambah dingin, Le."


"Huft, mana masih lama paginya, ini baru jam dua."


"Sabar Le, kamu tidur lagi saja, kan nggak terasa, bangun-bangun sudah pagi."


"Kan aku sudah bilang aku nggak ngantuk."


"Ya di paksa merem, pasti lama-lama mimpi."


"Mimpi ketemu perempuan cantik mending, Fran, nah kalau mimpi buruk gimana?"


"Kamu coba bayangin perempuan cantik dulu Le, terus tidur, pasti kebawa mimpi deh."


"Ah bisa saja kamu, Fran."


Franky terkekeh.


Tiba-tiba Franky berasa ingin buang air kecil.


"Duh males sekali aku buang air, masa suruh buang air di bawah pohon lagi, perasaanku nggak enak, lebih baik aku tahan saja," batinnya.


Namun semakin di tahan semakin Franky merasa tak nyaman.


"Duh, nggak tahan nih."


"Le, kamu nggak ingin buang air?"


"Eh iya nih agak berasa, kamu juga mau buang air?"


"Iya nih hehe, tapi kita cari toilet umum ya, aku nggak mau di bawah pohon."


"Memang kenapa, Fran?"


"Nggak terbiasa saja, Le," Franky berbohong.


"Ya sudah yuk, kita cari toilet umum."

__ADS_1


Franky dan leon pun turun dari mobilnya, dan berjalan mencari toilet umum.


__ADS_2