Pulau Abadi

Pulau Abadi
Novel Horor


__ADS_3

Malam hari pun tiba, dan Franky sedang memainkan laptopnya, di ruang tamu, dengan ditemani oleh Joko.


Dia berencana, akan menyiapkan kembali sebuah novel terbarunya.


"Sekarang, kamu mau buat cerita apa, Fran?" tanya Joko.


"Em, kali ini aku ingin membuat cerita horor, Jok, nggak tahu kenapa, tiba-tiba saja ingin menulis cerita tentang makhluk gaib, sepertinya sangat menantang bagiku," jawab Franky antusias.


"Wah, aku tahu nih, Fran, pasti kamu terisnpirasi sama kejadian-kejadian yang kamu alami selama ini, kan?"


"Bisa jadi Jok, hehe," kekeh Franky.


"Nggak apa-apa, Fran, lama-lama pasti ada kemajuan kamu, jangan hanya menulis cerita roman saja, nanti ikutan bucin kamu, hahaha!" Joko terbahak.


"Apaan sih kamu, Jok." Franky cemberut.


Joko pun terkekeh.


"Eh Jok, kamu kalau haus bikin minum sendiri sana, anggap saja ini rumah kamu sendiri, dan kalau kamu ingin tidur di sini juga boleh, kan aku ada kamar dua, yang satu nggak terpakai."


"Iya, Fran, kapan-kapan deh, makasih ya. Awalnya, aku mengira kalau kamu itu sombong dan angkuh, karna kamu kan jarang kumpul-kumpul sama warga, eh ternyata kamu itu baik juga, hehe," ujar Joko sambil terkekeh.


"Entahlah, Jok, semenjak kepergian istriku, aku jadi malas kumpul-kumpul, aku lebih suka menyendiri," ucap Franky sambil jari-jari tangannya memainkan mouse laptop.


"Nggak apa-apa kok, Fran, yang penting kan kita nggak bikin keributan di desa ini, lagi pula setiap orang kan beda-beda, dan di desa ini nggak ada peraturan yang mengharuskan kita untuk berkumpul."


"Hehe, iya Jok, aku juga nggak mengira, kalau kamu orangnya ramah, aku pikir tadinya kamu itu angkuh, karna kamu kan pendiam orangnya."


"Huuu, kamu itu, ikut-ikutan omonganku saja," sorak Joko.


Franky pun terkekeh ....


"Tiba-tiba, di hadapan mereka berdua, munculah gumpalan asap putih. Franky dan Joko terkejut.


Perlahan, asap itu menghilang, dan berubah wujud menjadi sosok Rinjani.


Franky terbelalak. "Rin?"


tersenyum penuh makna. "Hey, Fran, apa kabar anda? Saya kangen sekali."


"Wah, mbak kun-kun bucin datang lagi nih, hem ... aku pulang saja ya, Fran, silahkan kalian asik-asik berdua," ledek Joko.


Franky tersipu ....


"Lho, kok pulang sih Jok, di sini saja nggak apa-apa, ini kan masih sore."


"Yeee, kamu pikir aku obat nyamuk, suruh menemani kalian bermesraan?" ujar Joko ketus.


"Benar yang anda katakan, sebaiknya anda pulang saja, di sini hanya mengganggu saja hihihihi," kekeh Rinjani.

__ADS_1


"Cih, dasar jin genit, siapa juga yang mau di sini terus, malas sekali. Aku memang mau pulang, karna aku punya rumah, nggak seperti kamu, berkeliaran di mana-mana, karna kamu nggak punya rumah hahaha," tawa Joko menggelegar.


"Hey, kurang ajar sekali anda, beraninya berbicara seperti itu, saya pun punya rumah, bahkan lebih bagus dari pada rumah anda," sahut Rinjani tak mau kalah.


"Hisss, aku nggak heran sama rumah bagus, dan aku pun nggak pernah bermimpi, punya rumah bagus. Rumah bagus kalau nggak membuat nyaman, untuk apa juga," cibir Joko.


Rinjani merasa kesal dengan ucapan Joko.


Dia pun mengeluarkan kilatan cahaya berwarna hijau, dan melesatkan ke arah Joko.


Dengan tangkas, Joko menghalau kilatan itu, dan mengembalikannya ke arah Rinjani.


Rinjani terjatuh, sambil memegangi dadanya.


Franky segera membantu Rinajni untuk berdiri.


Joko tertawa terbahak sekali lagi. "Hey, jin genit, kamu bukan tandinganku, jadi janganlah mencoba bermain denganku."


Kemudian Joko segera pergi dari rumah Franky.


"Kamu nggak apa-apa, Rin?" tanya Franky dengan hati-hati.


"Siapa dia, Fran?" Rinjani balik bertanya.


"Oh dia itu tetanggaku," sahut Franky.


"Beraninya dia menantang saya."


Rinjani mengangguk dalam senyumannya. "Fran, saya kangen sekali dengan anda."


"Aku juga, Rin," sahut Franky. Wajahnya merah padam.


Rinjani pun menarik tangan Franky, dan mengajaknya masuk ke dalam kamar.


Rinjani merebahkan tubuh Franky, sedangkan Franky seperti kerbau dicucuk hidungnya.


Kemudian tubuh Rinjani menindih tubuh Franky. Rinjani melekatkan bibirnya ke bibir Franky.


Tiba-tiba, terdengar suara gelas jatuh dan pecah. Franky terkejut, dan terbangun dari tidurnya, ternyata saat itu dia sedang duduk di kursi ruang tamu, karena mengantuk, Franky tertidur.


"Kamu mimpi apa, Fran?" tanya sebuah suara.


Franky menoleh, ternyata Joko sedang duduk di sampingnya, masih dalam posisi semula.


"Joko? Kok kamu bisa ada di sini?" Franky mengerutkan keningnya.


Joko tersenyum geli. "Ck, ck, ck, Fran ... Fran ... kamu ini sudah pikun ya, padahal setahu aku, kamu belum tua sekali hehe."


Franky tampak kebingungan, dan masih belum paham apa yang baru saja terjadi.

__ADS_1


"Maksud kamu apa, Jok?"


"Ngga, kita itu tadi sedang mengobrol, dan kamu sedang menulis cerita, tiba-tiba kamu merem."


"Merem?" gumam Franky masih belum paham.


"Iya, Fran, kamu itu ketiduran, kalau ngantuk, istirahat dulu, jangan dipaksa, kasihan mata kamu," ujar Joko.


"Terus tadi, apa yang jatuh? Karna aku mendengar seperti ada barang yang jatuh."


"Iya, tadi aku bikin teh di dapur. Nah, aku lupa kalau teh itu masih panas, aku ingin membawa ke sini, tapi karna gelasnya panas, jadi aku kaget, karna jariku jadi kepanasan, dan nggak sengaja, jatuh deh gelas itu, hehe, maaf ya, Fran. Tapi sudah aku aku bersihkan kok."


"Oh begitu, terus, kamu nggak jadi minum teh ya? Biar aku buatkan lagi," kata Franky.


"Eh, nggak perlu, Fran, aku sudah bikin lagi, dan sudah habis, terus, gelasnya langsung aku cuci," kata Joko, sambil meringis.


"Lain kali, nggak perlu dicuci juga Jok, taruh saja, biar aku yang mencucinya."


"Ah nggak masalah, Fran, katanya aku suruh anggap ini rumah sendiri, ya aku bikin minum sendiri, aku cuci sendiri juga dong."


Franky pun terkekeh.


"Ya sudah, aku pulang dulu ya, sudah malam."


"Nggak tidur di sini saja, Jok?"


"Kapan-kapan saja, Fran, sekarang sedang nggak ingin hehe."


"Ya sudah, Jok, trimakasih ya, sudah sudi mampir di rumahku."


"Iya, Fran, aku juga trimakasih, kamu kalau capek, istirahat ya, jangan dipaksa nulis."


Franky tersenyum dalam anggukannya, dan Joko pun berlalu dari hadapan Franky.


Malam semakin larut, Franky mengunci pintu rumahnya, dan berjalan masuk ke dalam kamar.


Dia duduk di bibir ranjang.


Franky meraih laptop yang terletak di atas kasur, kemudian membukanya. Dia membaca ulang novel yang baru setengah jadi.


"Hem, sepertinya seru nih ceritanya, sedikit seram, tapi menantang," batinnya.


Erlangga membuat novel yang berjudul :


'MATA GHAIB'


Franky baru saja menyelesaikan bab satu dari cerita tersebut, yang isinya :


Vivin adalah seorang gadis indigo, dia sejak lahir sudah dapat melihat mereka.

__ADS_1


Suatu malam, Vivin di ganggu oleh sebuah penampakan di dalam kamarnya. Dia selalu didatangi sepotong tangan buntung, ketika malam tiba.


Vivin didatangi tangan buntung itu, hampir setiap malam, dan tangan itu melayang dan menari-nari di depan Vivin. Vivin bergidik ngeri, bulu kuduknya meremang, namun dia tetap tenang di tempat tidurnya.


__ADS_2