Pulau Abadi

Pulau Abadi
Tertutupnya Mata Batin


__ADS_3

Selesai makan, Franky membayar makanan tersebut, kemudian berjalan menuju mobilnya, diikuti oleh Joko.


Mereka berdua masuk ke dalam mobil.


Franky melajukan mobilnya, di sepanjang perjalanan, Joko mengajak Erlangga mengobrol dengan riang.


"Fran, makasih banyak ya, kamu sudah traktir aku."


"Ah santai saja, Jok hehe."


Tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi terasa berat. Franky kebingungan, dan segera menghentikan mobilnya, karena dia merasa kesulitan dalam mengemudi.


"Jok, apa kamu merasakan sesuatu?"


"Iya, Fran, mobilnya berat kan?"


"Iya Jok, kenapa ya, aneh."


Joko pun merasa kebingungan, namun, seketika dia merasakan dingin di sekujur badannya.


"Kok tiba-tiba dingin ya, padahal AC mobil Franky mati, tunggu deh, tapi kok anginnya seperti dari belakang," batin Joko.


Dan seketika Joko menoleh ke belakang.


Dia terbelalak, melihat sosok Rinjani tengah duduk di jok mobil, di belakangnya.


"Hah? Mau apa jin genit ini? Pasti mau ganggu Franky, nggak ada bosan-bosannya dia, memang di dunia gaib nggak ada laki-lali?" gumam Joko dalam hati.


"Anda tak perlu berisik, saya pun tak mengganggu anda," kata Rinjani.


"Waduh, sialan dia bisa dengar aku bicara dalam hati," umpat Joko.


Sedangkan Rinjani tersenyum penuh makna ke arah Joko.


"Hah? Siapa yang kamu maksud, Jok?"


Joko terkesiap. "Eh, itu Fran, di belakang kamu," kata Joko, sambil menunjuk ke arah jok belakang.


Franky menoleh ke belakang, dia mengerutkan keningnya.


"Itu apa, Jok? Kamu bicara apa sih?"


Joko merasa heran, karena ternyata Franky tak bisa melihat Rinjani, begitu juga dengan Rinjani tak bisa melihat Franky.


"Lho, kenapa Franky tak bisa melihat saya? Ini sangat aneh, bukankah dulu, waktu di pulau abadi kita bisa saling mengobrol?" gumam Rinjani dalam hati.


"Kok Franky nggak bisa lihat jin itu, kenapa ya? Bukankah dia juga punya indera ke enam, bisa lihat makhluk gaib," batin Joko.


Franky tak dapat melihat Rinjani, namun dia dapat merasakan kehadirannya.


Tiba-tiba, bulu kuduk Franky meremang. "Kok mendadak aku jadi merinding begini ya Jok."


"Merinding kenapa, Fran?"


"Nggak tahu Jok, seperti ada yang datang."


Joko terperanjat.

__ADS_1


"Franky bisa merasakan kehadiran makhluk gaib, tapi dia nggak bisa melihat? Apa mata batinnya tertutup ya?" Joko tampak berpikir.


"Itu, Fran, di belakang kamu," kata Joko.


Franky kembali menoleh ke belakang. "Di belakang kenapa, Jok?


"Ada Rinjani." Joko berbisik di telinga Franky.


Kedua bola mata Franky membulat seketika. "Rinjani katamu?"


Joko mengangguk.


"Tapi, kenapa aku nggak bisa melihat dia?"


"Sepertinya, mata batin kamu sudah tertutup, Fran tapi siapa yang menutup ya?" ujar Joko.


Franky semakin heran. "Dia sedang apa, Jok?"


"Siapa? Rinjani? Ya itu, di belakang kamu, sedang duduk, mungkin dia kangen sama kamu, ya secara dia kan hantu bucin, haha!" kelakar Joko, sambil terbahak.


"Kamu itu, bisa saja Jok, hehe," kekeh Franky.


"Ya sudah yuk, lanjut lagi, masa kita di sini terus," kata Joko.


"Franky pun mengemudikan mobilnya kembali, dan kali ini, mobil pun melaju perlahan."


"Wah sudah nggak berat lagi, Jok," kata Franky.


Joko menoleh ke belakang, namun kini, dia tak lagi melihat Rinjani di sana.


Tempo hari, Joko memang sempat mengincar batu kristal putih yang ada di dalam tubuh Rinjani, karena Joko dapat menerawang keberadaan benda itu, namun Joko tak mengetahui, jika benda itu sudah tak ada lagi di dalam tubuh Rinjani. Batu itu telah dia pergunakan untuk memusnahkan pangeran Endro.


Akhirnya, mobil Franky pun sampai di depan rumahnya. Franky dan Joko turun.


"Fran, aku terusan ya, aku ingin beristirahat sebentar," kata Joko.


"Kenapa nggak istirahat di sini saja, Jok?"


"Kapan-kapan saja, Fran, aku nggak enak sama kamu, kamu juga pasti capek, mau istirahat kan?"


"Tapi Jok ...."


"Sudah, Fran, lain kali saja ya." Joko menyela ucapan Franky.


"Hem, ya sudah deh Jok."


Joko pun segera berlalu dari hadapan Franky.


Sementara Franky masuk ke dalam rumahnya. Di sana, sudah ada Rinjani sedang berdiri seolah menunggu kedatangan Franky. Sampai di dalam, Franky duduk di ruang tengah.


"Fran ... ini saya, kekasih anda, saya datang untuk anda," kata Violetta, namun Franky tak mendengarnya, hanya saja dia seolah merasakan kehadiran Rinjani.


"Kok seperti ada orang lain di sini, selain aku ya," batinnya.


Franky menoleh ke kanan dan ke kiri, namun dia tak menemukan siapa pun, dan seketika angin dingin berhembus, menyeruak masuk, dan menerpa lembut wajah Franky.


"Kok tiba-tiba dingin sekali ya, padahal hari masih siang," batinnya.

__ADS_1


Rinjani menjadi sedih, dia pun segera menghilang dari rumah Franky. Dan kini, Rinjani telah berada di pantai, di pulau abadi.


"Wahai, penguasa pantai, keluarlah!" seru Rinjani.


Seketika, air pantai itu terbelah menjadi dua, dan munculah sebuah jalan yang membentuk tangga, dan tak lama, muncullah Ratu penguasa pantai itu.


"Ada apa kau memanggilku?"


"Kenapa manusia itu tak dapat melihat saya?"


"Batu kristal yang aku berikan, itu adalah sumber kekuatanmu, terbukti kalau kau bisa masuk ke dalam raga seseorang, tapi sayangnya, batu itu sudah kau salah gunakan, dengan membunuh makhluk sesama jenis denganmu yang tak bersalah, kau benar-benar telah menyalahi aturan."


"Tapi Ratu, kenapa teman dari manusia itu dapat melihat saya, sedangkan manusia yang saya cintai justru tak dapat melihat saya?"


"Itulah hukuman perasaan untukmu."


"Apa maksud Ratu dengan hukuman perasaan?"


"Kau pikir saja sendiri."


"Ratu, tolong berikan saya batu kristal itu lagi."


"Maaf, kesempatan tak datang dua kali."


Kemudian, Ratu penguasa pantai itu masuk ke dalam pantai itu, dan seketika air pantai yang terbelah menyatu kembali.


"Hukuman perasaan? Apaan sih?" gumamnya.


****


Sementara itu di rumah Joko, hari sudah malam, dan Joko sedang duduk di kursi yang terbuat dari anyaman bambu, sambil memegang sebuah gitar di tangannya.


Aku bertemu bidadari ....


Matamu penuh pelangi ....


Hadirmu memberi ku warna ....


Yang menyinari kisah kelam ku ....


Sebait lagu, dinyanyikan oleh Joko.


"Ah, kenapa tiba-tiba aku nyanyi lagu bucin ya? Hem ...." Joko bergumam dalam hati.


Joko pun mengakhiri lagunya, dan meletakan gitarnya di atas meja. Dia berjalan ke luar rumahnya, dan duduk di teras depan rumah, sambil memandangi bulan sabit yang bersinar di langit, pada malam itu.


Tiba-tiba Joko teringat akan pesan leluhurnya ....


"Aku harus membunuh jin itu, pada saat bulan purnama tiba. Tapi, kenapa harus bulan purnama ya?"


"Karena saat bulan purnama, kekuatannya akan bertambah, dan dia bisa saja menguasai bumi ini, kau tentu tak mau kan hidup dalam kuasa jin itu?" ucap sebuah suara.


Joko terhenyak, dia menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sumber suara tersebut. Namun Joko tak menemukan pemilik suara itu.


"Aki?" gumam Joko lirih, dan seketika, suasana menjadi hening kembali.


Malam semakin larut, Joko pun masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2