Pulau Abadi

Pulau Abadi
Obrolan Empat Mata


__ADS_3

Leon masih terus merasa penasaran.


"Sudah, ayo kita tidur lagi saja, besok kita jalan-jalan lagi, kemana gitu, biar kamu nggak mikirin gudang itu terus."


"Lagian, kamu juga sih, Jok."


"Lho kok aku, kenapa?"


"Ya kamu itu, bisa-bisanya ajak kita ke sini."


"Aku tuh ingin menguak sesuatu."


"Sesuatu apa, Jok?"


"Ada deh, nanti kamu juga tahu sendiri."


"Ah males aku, kalau main rahasia-rahasia segala."


"Terus, aku harus bilang apa?"


"Ya kamu bilang saja, apa tujuan kamu ke sini?"


"Kamu tahu kan, di seberang pantai itu, ada hutan terlarang, yang siapa pun nggak boleh masuk ke sana?"


"Oh, hutan yang katanya tempat tinggal Rinjani itu?"


"Nah, itu maksud aku, Le."


"Memang kamu sudah bertemu Rinjani, Jok?"


"Em, gini deh, Le, aku kasih tahu ya, kamu tahu artinya indera ke enam?"


"Ya tahu, Jok, bisa lihat hantu kan?"


"Nah, itu tahu."


"Terus, ada apa memangnya?"


"Aku itu, bisa lihat makhluk halus."


"Oh jadi kamu punya indera ke enam?"


"Iya, Le, itu bawaan dari lahir."


"Nah, si Franky juga punya indera ke enam."


"Yang benar kamu, Jok?"


"Iya benar, makanya dia bisa lihat Rinjani, tapi bukan sebagai hantu."


"Terus?"


"Ya sebagai manusia biasa."


"Maksud kamu, Rinjani itu nyamar jadi manusia biasa?"


"Iya, dan yang bisa lihat dia, hanya orang-orang yang punya indera ke enam."


"Oh, gitu ya? Eh, berarti kamu kan bisa lihat Rinjani, apa kamu sudah pernah lihat dia?"


"Sering, Le."


"Terus, seperti apa dia? Cantik?"


"Ya ampun, Le, kamu itu, kalau yang berbau perempuan saja, semangat sekali, kamu tuh tahunya perempuan cantik doang."

__ADS_1


Leon terkekeh. "Efek jomblo, hehe."


"Hem, di mana-mana, yang namanya hantu itu jelek, mukanya rusak, nggak ada yang cantik, nah karna dia menjelma jadi manusia, ya bisa saja di bikin cantik."


"Oh gitu ya, Jok, berarti aslinya serem ya."


"Ya iya lah, Le, hantu itu ya serem huft, apa kamu mau, aku datangin hantu yang paling serem?"


"Emang bisa, Jok?"


"Hahaha, masalah dunia gaib, apa sih yang nggak bisa? Justru semua hantu yang ada di dunia ini tuh temanku, jadi kalau aku panggil yang model gimana saja, mereka tetap datang."


Leon bergidik ngeri. "Ih, enggak ah Jok, nanti aku nggak kuat, bisa-bisa kencing di celana lagi, hiiiyyy."


Joko pun terkekeh ....


"Tapi, kok kamu bisa tahu tentang Rinjani, terus, bisa tahu pulau abadi juga?"


"Kan sudah di bilang, aku punya ilmu terawang, jadi bisa tahu sesuatu, dan para hantu yang ada di dunia ini, temanku semua."


"Berarti kamu sering ketemu sama hantu, Jok?"


"Hampir tiap hari kali, Le."


"Wah, apa kamu nggak takut?"


"Biasa saja sih, kalau menurutku, lagi pula, hantu itu kan sama seperti kita, hanya saja bedanya, mereka sudah beda alam."


"Ya mau sama seperti kita, tetap saja, yang hantu itu, ya menyeramkan."


"Kamu itu, kok takut sama hantu, padahal derajat kita lebih tinggi dari mereka, harusnya tuh, mereka yang takut sama kita."


"Lah kalau mukanya saja seram, dan mereka juga mengganggu kita, siapa orangnya yang nggak takut, Jok?"


"Ya itu tadi, kalau dasarnya penakut, lihat kecoa saja langsung lari."


"Eh Jok, kamu kok bisa lihat hantu, itu bawaan dari lahir, atau belajar?"


"Ya sebagian keturunan dari ibu aku yang sudah meninggal Le, beliau selalu bisa melihat, dan merasakan kehadiran makhluk gaib, nah pas aku lahir, kemampuan itu menurun ke aku."


"Oh gitu ya, Jok?"


"Iya, Le, dan kebetulan juga, hobi aku tuh berkelana, cari ilmu."


"Ilmu apa, Jok?"


"Ya ilmu, biar kita kebal dan terhindar dari segala sesuatu, yang berbau kejahatan, Le."


"Oh, jadi, kalau kita punya ilmu, kita nggak mempan dijahatin sama orang ya, Jok?"


"Iya, Le, misal kita di santet, kan jadi nggak mempan."


"Terus, kalau kita ingin punya ilmu seperti itu, apa ada syaratnya, Jok?"


"Ya ada lah, Le, di dunia ini, nggak ada yang gratis."


Leon mengangguk. "Syaratnya apa saja Le? Berat nggak?"


"Tentu saja berat, Le, dan karna nggak gampang, maka dari itu, nggak semua orang bisa melakukannya."


"Oh gitu, Jok."


"Nah, syaratnya macam-macam, Le, ada puasa mutih, tirakat, pati geni, dan masih banyak lagi deh, kamu nggak bakal sanggup, Le."


"Lho, kok?"

__ADS_1


"Ya iya lah, Le, secara kamu itu hobinya makan, jadi mana kuat kamu puasa, hehe."


"Berarti, syaratnya hanya puasa ya, seperti puasa biasa setiap tahun itu kan?"


"Beda, Le, kalau puasa mutih, kita harus makan nasi putih, sama minum air putih saja, nggak boleh makan dan minum selain itu."


"Wah cuma makan nasi putih saja? Nggak boleh pakai lauk?"


"Le, Le, kamu ini ada-ada saja, namanya juga puasa mutih, huft," Joko menepuk keningnya.


"Hehe, terus, kalau pati geni itu apa? Kok aku baru dengar."


"Pati geni itu, nggak makan dan minum seharian selama empat puluh hari, empat puluh malam, kita juga nggak boleh keluar-keluar, tapi kalau yang ini berat sekali Le, bayangkan, nggak makan dan minum selama empat puluh hari, empat puluh malam, apa kuat kamu?"


"Wah boro-boro empat puluh hari, empat puluh malam Jok, sehari saja aku bisa pingsan."


"Hahaha! Joko terbahak.


"Memang kamu sudah pernah ngelakuin itu semua? Puasa mutih, puasa pati geni, terus apa lagi tuh?"


"Sudah semua, Le."


"Hah, yang benar, Jok?"


"Buat apa sih aku bohong? Nggak ada untungnya juga."


"Jadi, kamu pernah puasa pati geni?"


"Pernah Le."


"Nggak makan dan minum selama empat puluh hari, empat puluh malam?"


"Iya Le."


"Wah, kok kamu kuat, Jok?"


"Apa pun rencana dan tujuan kita, kalau di kita sudah niat dan mantap, ya apa sih yang nggak bisa?"


"Buseeetttt, hebat benar kamu, Jok."


"Ah biasa saja, Le, aku memang hobi sama segala sesuatu yang berbau gaib."


"Pantas saja, kamu nggak takut sama hantu."


"Sudah aku bilang kan, buat apa kita takut sama hantu? Kan derajat kita lebih tinggi dari mereka, justru mereka yang harusnya takluk sama kita."


"Ah tetap saja, namanya takut, ya sampai kapan pun tetap takut."


"Ya sudah, kamu nggak perlu mainan ilmu seperti itu, karna nggak bisa sembarangan juga, kalau nggak kuat, bisa gila."


"Gila kenapa Jok?"


"Nah, kalau kita setiap hari diganggu makhluk halus, terus kita takut, lama-lama kan bisa terganggu jiwanya."


"Iya juga ya Jok, eh, Jok berarti aku nggak bisa lihat makhluk halus kan, karna aku nggak punya indera ke enam, tapi kok aku sering dengar suara-suara aneh gitu Jok, ya seperti tadi dengar suara orang nangis, juga suara orang jalan, tapi nggak ada orangnya, tapi kok aku hanya dengar suara saja, nggak lihat hantunya."


"Kamu berharap ya Le, bisa lihat hantu, sini mata batin kamu aku buka."


"Eh, jangan Jok, maksud aku, aku bisa dengar suara tapi nggak lihat wujudnya."


"Ya itu Le, yang namanya punya indera ke enam, bisa lihat dan merasakan, juga mendengar, tapi kalau nggak punya indera ke enam, ya nggak bisa lihat, hanya bisa dengar saja, jadi intinya, di ganggu gitu."


"Maksud kamu, diganggu gimana, Jok?"


"Ya yang namanya tempat angker dan berhantu, pasti, kalau ada orang yang nempatin, pasti di ganggu, kalau pun nggak punya indera ke enam, ya tetap bisa di ganggu, entah itu hanya dengar suara saja, atau tiba-tiba merinding sendiri gitu."

__ADS_1


"Oh, gitu, pantas saja, aku sering merinding, berarti tandanya ada hantu ya."


"Betul, Le, makannya aku kan bilang, kalau kamu dengar suara, jangan ditanggapin, biarkan saja, nanti juga hilang sendiri."


__ADS_2