Pulau Abadi

Pulau Abadi
Usaha Snack Kering


__ADS_3

"Apaan sih Vi, kamu itu iseng sekali deh, orang nggak ada apa-apa juga."


"Hehe ... bercanda Mas, biar nggak stress."


"Yeee, aku masih waras kali Vi, enak saja dibilang stress." Franky menggembungkan kedua pipinya, dan Via pun tersenyum geli memperhatikan tingkah suaminya.


Sementara itu, Joko, Nawang, dan Nila sedang berkumpul di ruang tengah, mereka sedang menikmati acara televisi.


"Lho, itu bukannya Anton, pemilik salon itu?" tunjuk Joko, ketika Anton muncul di sebuah acara televisi.


"Aku mana paham wajahnya, belum pernah lihat pun," sambung Nawang.


"Wah, benar, wajahnya mirip sekali sama laki-laki yang ada di salon tadi." Nila menimpali.


Acara itu membahas mengenai usaha makanan kering buatan Anton, yang sangat laris di dalam maupun luar negeri, Anton memproduksi snack kering, yang konon dipercaya, dapat membuat awet muda bagi yang mengonsumsinya.


"Sebaiknya, kita mengungkap kejahatannya, supaya masyarakat tahu siapa Anton, dan mereka nggak mau membeli makanan yang dia produksi itu. Gila, masa makanan terbuat dari ginjal manusia, kalau orang-orang sampai tahu pasti mereka jijik, dan nggak mau membeli makanan itu lagi," ujar Joko.


"Tapi tidak segampang itu, Joko," sela Nila.


"Maksud kamu?" Joko mengerutkan keningnya.


"Meskipun kita sakti, tapi tidak segampang itu mengalahkan orang seperti Anton, kalau menurut penerawanganku, Anton itu licik, kalau kita tidak hati-hati, bisa-bisa kita yang celaka, sudah pasti dia main dukun, dan sepertinya dukunnya bukan sembarang dukun," jelas Nila.


"Terus, apa yang harus kita lakukan?" tanya Joko.


"Kita harus menjatuhkan imagenya dulu di mata publik, karna kalau nama baiknya saja sudah jatuh, maka karirnya pun perlahan pasti hancur," jelas Nila.


"Caranya?"


"Ya itu tadi, kita teruskan rencana kita, untuk menyelidiki bisnisnya, terutama tentang salonnya, kita kumpulkan bukti-bukti kejahatannya, dan kita posting di media sosial, pasti seluruh dunia akan mengetahui kebusukannya."


"Kalau begitu, kamu harus melanjutkan penyelidikan yang gagal kemarin, La."


"Gagal?"


"Iya La, tempo hari aku berhasil masuk ke ruangan yang ada di dalam salon itu, seperti ruangan laboratorium, dan aku melihat sampel makanan kering, yang baru selesai dipacking," tutur Joko.


"Oh, kalau itu okelah, tapi tadi aku sempat mengambil ini, sebelum aku masuk ke dalam gudang di belakang salon." Nila mengeluarkan sebuah sampel berisi makanan kering yang telah dibungkus plastik.


"Apa itu?" tanya Joko.


"Sebelum aku ke gudang, aku sempat masuk ke dalam ruangan, memang benar, ruangan itu mirip seperti laboratorium, dan aku menemukan itu di atas meja."


Joko meraih sampel makanan dari tangan Nila, dia mengamatinya dengan seksama.


"Jadi makanan ini mengandung ginjal manusia, tapi nggak ditulis di komposisinya," lirih Joko.


"Jelas saja nggak ditulis, itu sama saja bunuh diri, kalau orang sampai membaca komposisinya," tandas Nila.


"Hem, benar-benar licik dia, tapi apa benar, ginjal manusia dapat membuat awet muda yang mengonsumsinya?" tanya Joko.


"Entahlah, aku pun tak begitu paham, tapi nyatanya, makanan itu laris manis di pasaran, kan? Mungkin mereka yang membeli dan memakannya berkali-kali, memang merasa menjadi awet muda, maka dari itu, mereka terus berlangganan," tutur Nila.


"Rasanya seperti apa, ya?" Joko penasaran.

__ADS_1


"Kalau kau penasaran, cobalah makan itu."


"Dih, jijik ah, dengar komposisinya kalau makanan ini diolah dan dicampur ginjal manusia saja, aku sudah hampir muntah, perutku seperti diaduk-aduk."


Nila tersenyum geli.


"Ya sudah, kalau begitu, kapan kita beroperasi?" tanya Nila.


"Kalau nanti malam gimana? Kan sepi, kamu ke klinik itu, dan kumpulkan semua bukti-bukti yang ada, terus aku dan Franky akan melakukan penyelidikan di hutan."


"Hutan?"


"Oh iya, aku belum cerita ya, kalau para pendonor ginjal yang di bunuh itu, mayatnya di buang di jurang yang ada di dalam hutan."


"Gila, pasti sudah banyak sekali mayat-mayat yang dibuang di sana."


"Nah, maka dari itu, dan Franky telah memasang cctv di sekitar jurang itu, jadi bisa lebih memudahkan kita untuk melaporkan kejahatan mereka."


"Huft, aku tidak habis pikir, kenapa orang-orang di dunia ini begitu kejam," ujar Nila.


"Ya jangan samakan bumi sama kahyangan, jelas beda jauh," cibir Joko.


"Aku hanya heran saja."


"Eh, La ... kamu nggak cemburu, tuh?" tanya Joko setengah berbisik sambil melirik ke sebuah arah.


"Cemburu sama siapa?" heran Nila.


"Itu, si Franky sedang berduaan sama Via, hehe ...."


"Untuk apa aku cemburu, lagi pula mereka kan sudah menikah dan menjadi suami istri, ih kamu ini ada-ada saja."


"Jangan ngaco deh."


"Kalian ngobrol apaan, sih? Kok pakai bisik-bisik segala?" tanya Nawang tiba-tiba, mereka lupa bahwa Nawang juga berkumpul bersama mereka.


"Em, biasa Na, curhat masa lalu kakak kamu," sahut Joko dengan tawa tertahan.


"Memangnya, ada apa dengan masa lalu dia?"


Pada saat Joko hendak berbicara, Nila sudah mencegahnya.


"Cukup, jangan kau teruskan, dasar banyak bicara."


Joko terkekeh, sedangkan Nawang semakin merasa bingung.


Bersamaan dengan itu, Franky dan Via menghampiri mereka.


"Aku pulang dulu ya Jok, makasih makanannya," pamit Franky.


"Eh, iya Jok, kalian istirahat saja dulu, nanti malam Via biar tidur di sini saja sama Nawang, kasihan di tinggal sendiri."


Franky menatap lekat ke arah Via. "Bagaimana, Vi?"


"Apa nggak merepotkan?"

__ADS_1


"Enggak kok Vi, kita tidur berdua, kan asik, aku jadi ada teman," sambung Nawang.


Via tersenyum. "Okelah, makasih ya sebelumnya."


Nawang mengangguk antusias. Franky dan Via pun pulang ke rumah.


"Berarti kamu belum jadi beli garam, ya?" tanya Franky.


"Mau beli gimana Mas, baru sampai di depan supermarket saja, aku langsung disergap dari belakang."


"Gila, berarti mereka berkeliaran di mana-mana, kamu harus hati-hati ya, Vi."


"Iya Mas."


"Ya sudah, besok aku antar kamu beli garam."


"Terus gimana itu, masakan aku belum matang?"


"Em, kamu tunggu sini sebentar, aku minta garam sama Joko ya, tadi kok nggak ingat sih."


"Ya sudah, tapi cepat ya, jangan lama-lama."


"Oke sayang."


Franky berlalu dari hadapan Via, tak lama dia kembali dengan membawa satu bungkus garam, dan memberikannya kepada Via.


"Nih, kamu pakai ini dulu, besok baru kita beli yang banyak sekalian."


"Baik Mas." Via menerima garam itu, dan berjalan ke dapur untuk meneruskan memasak.


Setelah selesai masak, dia segera mandi dan berpakaian, kemudian dia menyeduh teh melati untuk Franky.


"Makasih Vi, kamu benar-benar pengertian." Franky menyesap gelas berisi teh itu secara perlahan.


"Lho, kamu nggak bikin, Vi?"


"Enggak Mas, aku nggak begitu suka minum teh."


"Sukanya apa?"


"Nggak suka apa-apa, hehe."


"Susu?"


"Enggak juga."


"Oh iya, kan kamu sudah punya ya, dua lagi."


"Apa?"


"Oh, itu Vi, ini teh buatan kamu enak sekali."


"Ah, bohong kamu."


"Ya sudah kalau nggak percaya."

__ADS_1


"Nggak ah, aku nggak percaya sama kamu." Via pun berjalan masuk ke dalam kamar.


Franky tersenyum geli melihat tingkah Via.


__ADS_2