
"Nah ... warung ini kan gabungan sama tempat tinggal ibu, ruang depan untuk berjualan dan di belakang warung untuk kami beristirahat, karna suami saya sudah meninggal jadi saya mencari nafkah dengan cara berjualan bebek goreng, untuk menghidupi kebutuhan si Ririn."
"Terus, selanjutnya bagaimana dengan anak ibu?"
"Oh iya, nama saya Lely, saya nggak tahu kenapa, kalau saya mengira sih mereka itu hanya duduk-duduk di ruang tengah sambil mengobrol, karna saat itu sedang banyak pembeli, jadi saya nggak begitu memperhatikan."
"Terus, bagaimana lagi, Bu, selanjutnya?" tanya Franky yang tampak penasaran sekali.
"Waktu warung sudah tutup, saya nggak melihat Ririn, padahal sudah malam, dan pagi hari, Ririn nggak pulang juga, kejadian itu sudah satu minggu berlalu, dan sampai sekarang Ririn belum juga di ketemukan." Kata bu Lely yang masih terisak.
"Bu, maaf ... saya mau kasih ibu petunjuk, tapi ibu jangan salah paham ya?"
"Iya mas, saya nggak suka seudzon kok orangnya."
"Bu, sebenarnya saya kemarin habis makan bebek goreng sama teman saya di sini."
"Hah? Masa sih? Tapi kenapa saya sama sekali nggak lihat kalian ya?"
"Ya jelas enggak, kita juga nggak lihat ibu, mungkin waktu itu ibu lagi pergi, jadi yang melayani anak ibu, si Ririn itu.
Deg!
Jantung ibu itu berdegup semakin kencang.
"Kemarin? Anak saya yang melayani? Aneh, bukannya Ririn sudah hilang selama satu minggu?"
"Saya juga nggak tahu, Bu, apa mungkin itu sebuah petunjuk ya?"
"Ya, kemungkinan begitu mas."
"Baiklah, sekarang ibu ikut saya."
Franky berjalan ke sebuah kamar yang kemarin dia lihat, dia membuka pintunya, dan ternyata tidak di kunci.
"Franky masuk kedalam bersama ibu Lely.
Ibu Lely terkejut bukan main, melihat bercak darah di kasur yang beralaskan sprei berwarna putih.
Seketika bau anyir menusuk hidung.
"Ini maksudnya bagaimana, Mas?"
"Bu, kalau menurut saya, sepertinya Ririn itu diperkosa sama si Roy, dan mungkin karna mereka terlibat suatu perdebatan, akhirnya Roy membunuh si Ririn."
"Jadi, Ririn dibunuh sama pacarnya sendiri?"
"Maaf, Bu ... saya baru mengira-ngira saja, karna kejadian itu sama persis dengan mimpi saya."
"Ya ampun, Rin, malang sekali nasib kamu," tangis bu Lely pun pecah.
"Terus, kalau memang Ririn dibunuh, di mana kita bisa menemukan jasad dia mas?"
__ADS_1
Franky tampak mengendus-endus sesuatu.
"Apakah ibu dari tadi mencium bau nggak enak gitu?"
"Eh maaf, indera penciuman saya sudah sedikit berkurang."
"Oh, begitu, coba ibu buka lemari baju itu."
Bu Lely pun membuka lemari pakaian milik Ririn, dan ... betapa terkejutnya dia melihat seonggok mayat wanita di dalam lemari bagian bawah dengan posisi tertelungkup dan tubuhnya berlumur darah yang sudah mengering dan berbau amis, wajahnya pun pucat dan suhu tubuhnya telah dingin.
"Ya Tuhan, Ririn! Kenapa jadi begini, nak, tega sekali orang yang melakukan ini sama kamu!"
Bu Lely menangis sejadinya di dekat jenazah anaknya itu.
Beberapa saat kemudian, tangis bu Lely mulai agak mereda.
"Bu, Ibu yang sabar ya, ikhlaskan saja, supaya Ririn tenang di sana, semua sudah takdir." Franky mencoba menenangkan.
"Iya, Mas, trimakasih sudah membantu ibu."
"Iya, Bu, maaf saya pamit pulang dulu, ibu bisa kan mengurus jenazah Ririn sendiri?"
"Iya, Mas, saya bisa kok, ya sudah hati-hati, sekali lagi terimakasih."
Franky pun segera keluar dari rumah makan bebek goreng itu, dan mengemudikan mobilnya hendak pulang.
"Lega deh, aku sudah berhasil menemukan mayat si Ririn," batinnya di tengah perjalanan.
Tiba-tiba ada sebuah pelangi membentang di depan mobil Franky.
Franky mengucek matanya, dan seketika pelangi itu hilang dari pandangan.
"Hem, ternyata aku salah lihat," gumam Franky.
Di balik pelangi tersebut, sosok Nila sang Bidadari tengah beridiri di atas awan, sedang tersenyum sambil menatap ke arah Franky, dan konon ibu paruh baya yang kemarin ditemui oleh Franky di jalan adalah jelmaan dari Nila.
Kemudian Nila pun menghilang hingga jauh ke dalam awan, sementara mobil yang di kendarai Franky semakin menjauh.
Franky bersiul dan bernyanyi riang, namun sedang asik bernyanyi, lagi-lagi dia dikejutkan oleh sosok wanita cantik di depan mobilnya.
Franky menghentikan mobilnya.
"Siapa lagi, sih?"
Franky memperhatikan wanita itu, tampak wanita itu tersenyum ke arah Franky sambil mengatupkan kedua telapak tangannya dan menempelkannya di dada, kemudian wanita itu menghilang dari pandangan.
"Lah, kok hilang lagi? Hem.. benar kan sejak aku pulang dari Pulau Abadi, banyak kejadian aneh yang aku alami," gumamnya.
Franky pun melajukan mobilnya sedikit ngebut.
Kurang lebih satu jam, Franky sampai di rumahnya, dia pun turun dan segera masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
"Huft, akhirnya kelar juga urusanku, tapi masih ada satu hal lagi yang mengganjal pikiranku."
Franky tampak berpikir sejenak.
"Roy.. iya.. Roy, aku harus menemui dia."
Franky segera berjalan keluar rumah lagi, baru beberapa langkah, dia berpapasan dengan Sella.
"Halo adik, dari mana nih?" tanya Franky ramah.
Sella tak menjawab pertanyaan Franky, dia justru menatap tajam ke arah Franky.
"Om sebaiknya diruqiyah deh," kata Sella sambil terus berjalan hingga menjauh dari hadapan Franky.
Franky merasa bingung dan tak paham dengan ucapan Sella.
"Anak itu bicara apa sih? Kenapa hari-hariku semakin aneh saja, ya?" batin Franky sambil terus berjalan ke rumah Roy.
Baru beberapa langkah, Franky bertemu dengan Joko.
"Hey, Fran."
"Eh.. iya, Jok, mau kemana kamu?"
"Biasalah Fran, mau mencari ilmu kanuragan hehe, eh, si Nila sudah pulang ke kahyangan?"
"Hah? Kamu kok tahu tentang Nila, Jok?"
"Ups, aduh kenapa aku kelepasan sih? Kan si Franky nggak tahu, kalau Nila itu bidadari, dia tahunya manusia biasa seperti dia, huft," batin Joko.
"Eh iya Fran, kamu kan tahu, aku punya ilmu terawang, jadi aku tahu kalau Nila itu Bidadari."
"Betul juga ya, Jok, kamu kan manusia sakti," puji Franky.
"Ah biasa sajalah, Fran, aku mencari ilmu kesaktian juga hanya untuk melindungi diri dari hal-hal buruk saja."
"Iya, Jok."
"Eh, ngomong-ngomong, bagaimana Nila bisa menemukan selendangnya?"
Franky terdiam sejenak, dia merasa canggung, akhirnya dia menceritakan semua tentang asal usul bertemu Nila, dan juga perihal selendang yang dia dapat.
"Oh begitu, ya sudah, anggap saja ini pengalaman buat kamu, tapi dia itu sampai saat ini masih melindungi kamu lho, Fran."
Itulah kalimat terakhir yang di ucapkan Joko sebelum akhirnya dia berlalu dari hadapan Franky.
Franky semakin bertambah heran.
"Maksud Joko apa? Ah, dia itu, bicara nggak sekalian kasih kejelasan, malah main pergi saja, hari ini kok aku bertemu sama orang-orang aneh ya."
Franky terus berjalan hingga sampai di rumah Roy.
__ADS_1
****
Terimakasih sudah membaca cerita ini, mohon likenya