
Dan ketiga pria itu pun terlelap, menuju ke alam mimpi.
Waktu pun terus berjalan tanpa henti, dan saat ini, sudah menunjukan pukul dua belas, tengah malam.
Sedang asik-asiknya tidur, Joko mendengar suara tangis seorang wanita.
Joko pun terjaga dari tidurnya. "Siapa yang nangis malam-malam begini?" batinnya.
Dan, suara tangisan itu semakin lama, semakin terdengar jelas di telinga.
Joko menoleh ke arah Franky dan Leon.
"Kebo sekali sih mereka, masa nggak dengar suara orang nangis, padahal jelas sekali," batin Joko.
Joko hendak membangunkan kedua temannya itu, namun dia mengurungkan niatnya, dia merasa tak sampai hati.
Ceklek ....
Joko membuka pintu kamarnya, dan berjalan keluar.
"Suaranya seperti dari gudang misterius itu," batinnya.
Perlahan, Joko melangkahkan kakinya, mendekati gudang itu, dari kejauhan, memang terdengar suara orang menangis, dan semakin dekat langkah kaki Joko, semakin jelas suara tangisan itu terdengar.
"Hiiiiiiiii ... hiiiiiiiii ... hiiiiiiii ...."
Joko tampak tenang, berdiri di depan gudang itu.
"Ngapain sih, nangis malam-malam begini? Diputus cinta ya sama pacar, hehehe. Tidur saja sana, sudah malam," kelakar Joko.
Suara tangis itu pun bertambah jelas di telinga.
"Ya ampun, berisik tahu, aku mau tidur nih, nangisnya di pantai saja sana, kan nggak ada yang terganggu," kata Joko.
Kemudian, suara tangis itu pun berhenti, dan suasana menjadi hening.
"Nah, capek dia hehe," kekeh Joko, lalu dia kembali masuk ke dalam kamarnya.
Joko merebahkan tubuhnya di atas kasur, namun, dia tak dapat memejamkan kembali matanya, dia tampak sedang merenung.
"Sebenarnya, ada apa di dalam gudang itu? kenapa nggak boleh dibuka? Kan aneh," batin Joko.
Joko penasaran, ingin sekali membuka gudang itu, untuk mengetahui apa yang ada di dalam sana. Namun, dia masih mematuhi aturan yang berlaku, dia tak mau melanggar, karena dia menyadari, kalau dia di tempat itu hanya sebagai pendatang.
Akhirnya, Joko pun terlelap dalam tidurnya.
Dan kini, waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
Kini, giliran Leon, yang terbangun dari tidurnya, dia pun mendengar suara orang menangis. Leon terduduk, dia menoleh ke kanan, dan ke kiri.
"Kok seperti ada yang menangis," batinnya.
Suara tangis itu semakin jelas terdengar, karena rasa penasaran yang amat sangat, Leon pun keluar dari kamarnya.
"Suaranya seperti dari gudang itu."
Dan Leon pun berjalan perlahan, mendekati gudang itu. Suara tangis itu masih terdengar jelas di telinga Leon. Langkah kaki Leon pun berhenti di depan pintu gudang, dia menempelkan telinganya di pintu gudang itu. Dia masih mendengar suara tangisan itu.
"Siapa sih? Memangnya, ada orang di dalam gudang ini?" Leon semakin penasaran.
__ADS_1
Suara tangis itu, masih terus terdengar kuat di telinga. Leon memberanikan diri, untuk mengetuk pintu itu.
Tok ... tok ... tok ....
Leon mengetuk pintu sebanyak tiga kali.
"Apakah ada orang di dalam?" tanya Leon dengan bibir gemetar.
"Hiiiiiiii ... hiiiii ... hiiiii ...."
Namun, bukan jawaban yang Leon dengar, melainkan suara tangisan yang bertambah kencang.
"Haduh, gimana sih, di tanya malah tambah nangis," gumam Leon.
Leon mencoba mengetuk pintu gudang itu sekali lagi.
"Permisi, apa ada orang di dalam?"
"Hiiiiii ... hiiiiii ... hiiiiiii ...."
Lagi-lagi, suara tangisan itu bertambah kencang. Leon pun bergidik ngeri.
"Sebenarnya, siapa sih yang nangis? Apa ada orang yang dikurung di sini." Leon semakin bingung dengan apa yang tengah di alami saat ini.
Akhirnya, Leon kembali mengetuk pintu untuk yang ke tiga kalinya. "Maaf, apa ada orang di dalam? Tolong di jawab dong," ujar Leon, setengah ketakutan.
Dan setelah ketukan pintu yang ke tiga kalinya, suara tangis itu pun berhenti, dan suasana menjadi hening, hanya suara nafas Leon yang memburu.
"Kok diam ya, apa sudah capek nangisnya," batin Leon.
Tiba-tiba, bulu kuduk Leon meremang, dan leon pun meraba tengkuk lehernya.
"Kenapa aku jadi merinding begini ya."
"Dooorrr ....!"
Suara seseorang menggertak.
"Ampun! Ampun!" Leon meloncat dari tempat dia berdiri.
Ternyata, Joko sudah berdiri di hadapannya.
"Kamu, Jok, bikin aku kaget saja," cetus Leon.
"Kamu itu yang berisik, ngapain sih teriak-teriak? Ganggu orang tidur, aku tuh sedang mimpi makan enak, eh kamunya berisik, belum jadi makan malah bangun deh," seloroh Joko.
"Ah kamu, Jok, tuh bikin mie sana kalau lapar, mimpi kok makan, mimpi tuh kenalan sama perempuan cantik, tuh baru mimpi namanya," balas Leon.
"Yah, sama saja, Le, mimpi kok bangga, hahaha!" Joko terbahak.
"Eh, ngomong-ngomong, kamu tuh ngapain sih di sini?" tanya Joko heran.
"Ini, Jok, aku tadi dengar perempuan nangis, kerasa sekali. Terus, aku datangin deh, nah ku ketok pintunya, aku tanya siapa di dalam, tapi nggak jawab, malah tambah kencang nangisnya, eh sekarang malah diam, sepi nggak ada suara lagi."
"Huft, kamu itu, Le, sudah lupa ya? Sudah aku bilang, kalau dengar suara apapun, jangan ditanggapin, biarkan saja."
"Lah, tapi aku nggak tega, kasihan, Jok."
"Dih, pakai kasihan segala, nggak tega bagaimana, Le?"
__ADS_1
"Ya, nggak tega saja, dengar perempuan nangis, takutnya kenapa-kenapa gitu, Jok."
"Ya ampun, kamu ini, Le, kalau masalah perempuan, semangat sekali, ya sudah ayo kita tidur lagi, masih malam ini." Joko menarik tangan Leon.
"Eh tunggu, Jok."
"Apa lagi sih?"
"Sebenarnya, ada apa sih, di dalam gudang itu? Aku pikir, ada orang yang dikurung, kan kasihan."
"Aku juga nggak tahu, Le, tapi yang jelas, kita harus mematuhi peraturan bu Regina, nggak boleh buka pintu gudang itu."
"Tapi aku penasaran, Jok."
"Sudahlah, Le, kita nggak perlu terlalu kepo, sama urusan orang, nggak baik, lagian kita kan hanya pendatang, jadi apa salahnya sih kita patuhi larangan pemilik tempat ini."
Leon pun terdiam, dia berjalan mengikuti Joko ke dalam kamarnya. Sampai di kamar, mereka berdua merebahkan tubuhnya di atas kasur, sedangkan Franky masih pulas dalam tidurnya.
"Si Franky kebo sekali sih," ledek Leon.
"Ya maklumlah, Le, dia sedang bahagia, kan tadi sudah ketemu sama pacarnya, jadi tidurnya nyenyak hehe." Joko terkekeh.
"Maksud kamu, si Rinjani itu?" telaah Leon.
"Ya iyalah, Le, masa kamu nggak tahu."
"Ya tahu, tapi kan Rinjani itu hantu, Jok."
"Memangnya kenapa?"
"Ya aneh saja, masa pacaran sama hantu."
"Ya nggak aneh juga sih, kalau menurutku, kan sekarang sedang viral tuh."
"Viral apaan, Jok?"
"Ya sedang viral, hantu jatuh cinta hehe."
"Hem, kamu nih ada-ada saja, Jok."
"Yeee, dibilangin juga."
"Eh, aku nggak ngantuk lagi nih, Jok."
"Sama Le, aku juga, ya sudah kita ngobrol saja, lagian sekarang sudah jam empat pagi nih, sebentar lagi subuh."
"Iya juga sih, tapi mau ngapain coba, nggak tidur?"
"Lho, kalau nggak bisa tidur, mau gimana lagi coba, Le?"
"Iya ya, hehe." Leon terkekeh.
"Eh, Jok, memangnya kamu nggak penasaran?"
"Penasaran apa, Le?"
"Sama gudang itu."
"Yah, masih dibahas lagi, hem." Joko mulai geram.
__ADS_1
"Ya aku hanya merasa aneh saja, Jok."
"Nggak ada yang aneh, Le, di setiap tempat, pasti ada larangan tertentu," ujar Joko.