Pulau Abadi

Pulau Abadi
Jasad Dalam Lukisan


__ADS_3

Joko pun tiba di penginapan, dia masuk ke dalam, dan di sana terlihat Franky dan Leon sedang mengobrol.


"Lho, tumben, Le, kamu nggak tidur, biasanya sudah ngorok," kelakar Joko.


"Iya nih, Jok, aku kan mau tidur, tapi nggak bisa," kata Leon.


"Lho, memangnya kenapa, Le? Joko penasaran.


"Itu, Jok, di kamar ada lukisan, nggak tahu kenapa kita nggak bisa tidur, lukisan itu seperti mengganggu kita," ujar Leon.


"Hah, mengganggu gimana, Le?"


"Ya gimana ya, pokoknya seperti ada sesuatu yang keluar dari lukisan itu, dan mengganggu gitu."


"Iya, Jok, tadi tuh aku sedang melanjutkan novel-ku, nah terus aku dengar Leon teriak-teriak di kamar, jadi aku datangin dia, dan dia bilang diganggu sama lukisan itu," jelas Franky.


"Nah, itu dia, yang mau aku selidiki, aku pun selalu bermimpi tentang lukisan itu, dan mimpi itu seperti menyuruhku untuk menyelidiki lukisan itu," ungkap Joko.


"Oh gitu, terus mau kamu apakan lukisan itu, Jok?" tanya Franky.


"Ya aku selidiki, kalian duduk aja ya, aku akan mengambil lukisan itu, terus aku periksa," kata Joko.


"Oke deh, Jok," kata Franky, sedangkan Leon hanya mengangguk.


Joko pun masuk ke dalam kamar, dan keluar lagi dengan membawa lukisan, dia meletakkan lukisan itu di lantai, kemudian Joko mengamati lukisan itu dengan seksama, sedangkan Franky dan Leon ikut memperhatikan aksi Joko.


"Hem, sebenarnya apa yang aneh dari lukisan ini ya?" gumam Joko.


"Iya ya, Jok, tapi memang lukisan itu terlihat aneh, tapi aneh di bagian mana ya," sambung Franky.


Sedangkan Leon hanya menyimak, karena dia sama sekali tidak tidak tahu menahu mengenai lukisan itu.


"Iya nih, Fran, tapi coba kamu lihat deh, Fran, ini lukisan kok tebal sekali ya, nggak seperti lukisan pada umumnya," ujar Joko.


Franky mengamati lukisan itu dengan seksama, dia pun mengerutkan keningnya.


"Iya juga ya, Jok, coba kamu balik lukisan itu deh," kata Franky.


Joko pun membalik lukisan itu, betapa terkejutnya dia, melihat sesuatu di balik lukisan itu.


"Kok aneh ya, Fran?"


"Iya, Jok, kok dikasih semen gitu ya."


"Aku jadi curiga nih, sepertinya ada sesuatu di dalam lukisan ini," ucap Joko.


"Aku juga berpikir begitu, Jok," ujar Franky.


"Memangnya, ada apa sih dengan lukisan itu?" Leon menimpali.

__ADS_1


"Nggak tahu, Le, tapi mencurigakan," sahut Franky.


"Le, aku boleh minta tolong?" kata Joko.


"Iya, Jok, gimana?" jawab Leon.


"Tolong pinjamkan palu atau apalah, untuk membongkar semen, sama bu Regina."


"Oh oke, Jok," angguk Leon kemudian berjalan menuju ke rumah bu Regina.


Tok ... tok ... tok ...


Leon mengetuk pintu rumah bu Regina, tak lama pintu pun terbuka dan keluarlah bu Regina.


"Maaf, ada apa ya, Mas?" tanyanya.


"Em ini, Bu, saya mau pinjam palu," kata Leon.


"Oh iya, sebentar, Mas." Bu Regina pun masuk ke dalam, dan keluar lagi membawa bungkusan Plastik berisi palu.


"Ini, Mas, palunya saya bungkus plastik."


Leon menerima bungkusan tersebut. "Terimakasih, Bu, ya sudah saya permisi."


Bu Regina tersenyum dalam anggukannya, dan Leon pun berlalu, berjalan menuju ke penginapan.


"Ini, Jok," kata Leon ketika masuk ke dalam dan memberikan palu kepada Joko.


Berkali-kali Joko menghancurkan semen itu, hingga hancur berkeping-keping. Dan setelah semen tersebut hancur menjadi kepingan, ketiga pria itu ternganga, ada sesuatu yang tersembul dari dalam.


"Apa itu, Jok?" tanya Leon.


"Mana aku tahu, Le," jawab Joko sembari mengangkat sesuatu yang dimaksud.


"Kok berat ya," lirih Joko.


"Sini aku bantu, Jok," kata Franky segera mendekati Joko.


Franky dan Joko menggotong benda tersebut dan meletakannya di samping lukisan itu, kemudian Joko menyingkirkan sebagian semen yang masih menempel. Dan betapa terkejutnya Franky dan Joko ketika melihat dengan jelas, apa yang ada di hadapan mereka.


"Rinjani!" seru Franky. Sementara Joko dan Leon ternganga.


"Astaga! Perbuatan siapa ini?" kata Franky.


"Sepertinya ini perbuatan pamannya Nawang, kan dia bilang, kalau lukisan ini milik dia, ah sudahlah lebih baik aku diam saja, daripada Franky dan Leon bingung," batin Joko.


"Ternyata ini jawaban dari mimpi-ku," ujar Joko.


"Iya, Jok, aku juga selalu mimpi tentang lukisan ini, dan aku juga merasa ada yang aneh dengan lukisan ini, ternyata di sini mayat Rinjani," sambung Franky.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kalian tunggu di sini, tolong jaga mayat ini, aku akan ke pantai berbicara sama Rinjani," kata Joko kepada kedua temannya itu.


"Bagaimana kalau aku ikut?" tanya Franky.


"Wah, aku nggak mau, Fran, jaga lukisan ini sendiri, seram," celetuk Leon.


Joko menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Duh, ya sudah ayo ikut semua, kita kunci pintunya," kata Joko.


Akhirnya ketiga pria itu pun menuju ke pantai, dan sesampainya di pantai, mereka berhenti sejenak.


"Le, kamu tunggu sini saja ya, aku sama Franky akan ke hutan itu," kata Joko sambil menunjuk ke arah hutan di seberang pantai.


"Iya deh, Jok," sahut Leon sambil duduk di sebuah batu. Kemudian Franky dan Joko pun berjalan ke arah hutan.


Sampai di hutan, Joko memanggil Rinjani dengan kekuatannya, tak lama muncullah kepulan asap putih, dan berubah wujud menjadi sosok Rinjani.


"Kalian?" lirihnya.


"Iya, kita kemari mau memberitahu-mu, kalau tubuh-mu sudah kita temukan," kata Joko.


"Benarkah? Ketemu di mana?" tanya Rinjani antusias.


Joko pun menceritakan perihal lukisan di atas gapura, dan Rinjani terkejut mendengar pengakuan Joko.


"Jadi, tubuh saya ada di dalam lukisan itu?" ujar Rinjani.


Joko mengangguk. "Apa kamu nggak ingat sesuatu, tentang masa lalu kamu?" tanya Joko.


Rinjani menggeleng lemah.


"Hem, dasar hantu, yang diingat hanya laki-laki saja," gumam Joko lirih.


"Bukan urusan anda," tegas Rinjani.


"Hahaha, ya sudah, terus apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Joko sambil tertawa.


"Saya minta tolong kepada kalian, tolong kuburkan jasad saya di dekat hutan ini," kata Rinjani.


"Oke, Rin, kalau itu mau kamu, tapi sebelum kamu benar-benar pergi dari dunia ini, apakah ada yang mau kamu sampaikan sama kekasih kamu? Tuh si Franky," ujar Joko sambil menoleh ke arah Franky.


"Eh, iya ada ...." Rinjani menjadi gugup seketika.


"Ya sudah, silahkan kamu bicara sama dia," kata Joko.


Rinjani pun berjalan mendekati Franky, dan kini mereka berdua berdiri berhadapan. Rinjani menatap Franky dengan tatapan sendu, Franky pun demikian, mereka berdua kini saling tatap.


"Dasar hantu bucin," batin Joko yang menyaksikan tingkah mereka berdua, kemudian berjalan beberapa langkah menjauhi Franky dan Rinjani.


Joko duduk di sebuah bongkahan kayu yang terletak di sekitar tempat itu, dia bersiul sembari menikmati pemandangan di sekitarnya.

__ADS_1


"Kira-kira apa ya, yang mau dibicarakan jin bucin itu? Ah ... kok aku jadi kepo gini, dasar aku," batin Joko sambil menepuk keningnya.


__ADS_2