Pulau Abadi

Pulau Abadi
Nawang Hamil


__ADS_3

"Eh, ini, Mas, tak tahu kenapa aku kok mual-mual ya."


"Memangnya kamu makan apa, Na?"


"Ya biasalah, Mas, makan nasi."


"Nasi sama apa?"


"Sama lauk, Mas, masa sama pasir."


"Haha, kamu bisa saja, Na."


"Habis, kau bertanya yang aneh-aneh sih, Mas."


"Ya maksud aku, kamu makan sama lauk yang pedas mungkin, atau pakai sambal satu kilo."


"Memangnya aku sudah gila, makan sambal sampai segitu banyak?"


"Apa kamu masuk angin?" Joko mulai terlihat cemas.


"Tak tahulah, hanya saja aku merasa lemas sekali."


"Kalau begitu, ayo kita ke dokter."


"Baiklah, aku akan mandi sebentar."


Nawang pun bergegas mandi kemudian berpakaian, setelah itu giliran Joko yang mandi, kemudian mereka menuju ke klinik terdekat mengendarai sepeda motor yang dibelikan oleh Nawang.


Sampai di klinik, Joko dan Nawang turun dari sepeda motornya, dan masuk ke dalam klinik. Mereka berdua disambut oleh seorang dokter.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang dokter yang menyambutnya.


Joko memberitahukan kondisi Nawang, kemudian dokter pun memeriksa Nawang.


"Selamat ya, Pak," kata dokter itu.


"Hah? Selamat? Memang saya menang lotre, Dok?" Joko terlihat bingung.


Dokter itupun terkekeh mendengar ucapan Joko. "Maksud saya, istri anda hamil, dan usia kandungannya menginjak satu minggu."


Kedua bola mata Joko membulat. "Benarkah dok?"


Dokter itu mengangguk. Joko merasa bahagia, mendengar pengakuan dokter itu.


"Alhamdulillah, setelah satu tahun menunggu, akhirnya dikasih momongan juga," lirih Joko.


"Ini vitamin yang harus diminum oleh istri bapak."


Joko menerima vitamin dari tangan dokter itu, sambil menggerutu.


"Yeee, saya masih muda kali dok, panggil mas saja dong, nggak perlu bapak."


"Tapi kan, kau sebentar lagi mau menjadi bapak mas," ujar Nawang yang baru saja keluar dari ruang periksa.


Joko menoleh ke arah Nawang, kemudian meringis.


"Hehe, iya, iya."


Dokter itu hanya tersenyum geli, kemudian Joko dan Nawang berpamitan pulang.

__ADS_1


****


Pagi itu, Franky bangun dari tidurnya, dia bergegas mandi dan berpakaian rapi, setelah itu dia keluar rumah dan berjalan menuju ke tempat pak Bani. Sesampainya, Franky segera masuk ke kamar kos Via, saat itu Via telah selesai mandi.


"Pagi, Vi," sapa Franky.


Via terkesiap. "Eh, kamu, Mas."


"Kamu pasti belum makan kan, ayo kita cari rumah makan," ajak Franky.


"Eh, nggak perlu, Mas, aku bisa cari sendiri," ujar Via malu-malu.


"Sudah jangan membantah, nurut saja, ayo." Franky meraih pergelangan tangan Via, lalu menuntunnya keluar, Via akhirnya mengikuti Franky.


Kini Franky dan Via berjalan menuju mobilnya, dan menyuruh Via naik ke dalam mobilnya. Kemudian Franky mengemudikan mobilnya, dan mencari rumah makan. Franky sengaja mengajak Via ke rumah makan minang.


Sesampainya, Franky mengajak Via masuk ke dalam rumah makan tersebut, Franky pun memesan dua porsi makanan, tanpa meminta Via untuk memilih terlebih dahulu.


Tak lama, pesanan datang, dan Franky segera menyuruh Via untuk makan.


"Wah, enak sekali makanan ini, seumur-umur, baru kali ini aku makan makanan seenak ini," celetuk Via.


Franky menatap iba ke arah Via. "Benarkah?" tanyanya.


Via mengangguk pelan.


"Oh iya, Vi, kamu kerja atau masih kuliah?"


"Aku bekerja di pabrik, Mas, kalau aku kuliah, siapa yang akan membiayai? Orang tua sudah nggak ada."


"Umur kamu berapa?"


"Dua puluh empat."


"Kalau kamu, Mas, umur berapa?"


"Ah, aku sudah tua, hehe ... tiga puluh tiga tahun."


"Masa sih? Tapi masih kelihatan muda lho, aku kira dua puluh tujuh gitu."


"Ah, kamu bercandanya kelewatan, Vi."


"Yeee, engak, Mas, benar aku nggak bohong.


Wajah Franky merah padam, dia menjadi nervous saat itu.


"Eh, Vi, apa kamu sudah punya pacar?" tanya Franky to the point.


"Belum, Mas, siapa juga sih yang mau sama aku, orang miskin."


"Ah kamu jangan bicara seperti itu, semua yang kita punya di dunia ini pun hanya titipan saja, besok kalau kita mati, nggak akan dibawa, kan?"


Deg!


Jantung Via berdegup kencang, iramanya tak beraturan, dan Franky dapat merasakan hal itu. Perlahan Franky menggenggam tangan Via, hal itu membuat Via terkesiap, dia pun sama nervousnya.


"Vi, sebelumnya aku minta maaf kalau aku lancang, tapi aku nggak mau basa-basi, kalau kamu nggak keberatan, aku ingin melamar kamu, aku duda, istriku meninggal karna kecelakaan, dan aku pernah punya pacar, tapi dia juga meninggal, aku merasa kesepian, jujur pertama aku ketemu kamu, aku langsung ada rasa sama kamu, kamu mirip seseorang."


Via pun menjadi salah tingkah, dia terdiam untuk beberapa saat.

__ADS_1


"Bagaimana Vi, apa kamu mau? Tapi, aku nggak akan memaksa kamu juga, kalau kamu keberatan juga nggak apa-apa."


"Iya, Mas, aku juga suka sama kamu, tapi aku takut."


"Takut sama siapa?"


"Ya takut ada yang marah, hehe," kekeh Via.


"Kan aku sudah bilang, kalau aku sekarang hidup sendiri."


"Iya, Mas, aku mau kok."


"Maksud aku, kita langsung menikah, aku nggak mau pacaran dulu, takut kamu diambil orang, karna aku sering dengar pepatah, sebelum janur juning melengkung dia belum milik siapa-siapa gitu."


Via tersenyum geli, mendengar ucapan Franky ....


"Lho, kamu malah ketawa sih."


"Habis kamu itu lucu, Mas, hehe."


"Jadi bagaimana? Apa kamu mau jadi istri aku?"


"Iya, aku mau, Mas, tapi aku orang nggak punya."


"Ya sama Vi, aku juga nggak punya, sudah jangan bahas itu lagi, besok aku akan melamar kamu secepatnya, dan kamu tinggal di rumah-ku, kamu mau kan?"


"Mau sekali, Mas, em ... sebenarnya, rumah-ku sudah melayang."


"Melayang? Maksud kamu?"


"Iya, melayang, rumah itu sudah disita sama tukang bank, karna hutang-hutang orang tua-ku semasa hidupnya, makannya waktu aku ditawarin untuk donor ginjal, dengan bayaran yang tinggi, aku langsung tergiur, dengan harapan, aku bisa melunasi semua hutang orang tua ku, tapi aku nggak menyangka, kalau akhirnya aku tahu, kedua orang tua ku meninggal setelah mereka mendonorkan ginjalnya, apa lagi aku tahu, kalau mereka meninggal karna dibunuh sama Anton brengsek itu, akhirnya aku nggak jadi melunasi hutang orang tua ku, dan rumah itupun disita, aku dikasih waktu satu minggu untuk pergi dari rumah itu."


"Ya ampun Vi, kasihan sekali kamu, terus kalau misalkan kamu nggak ketemu aku, apa yang bakal kamu lakukan?"


"Ya rencananya, aku mau tinggal di tempat kerja ku, kan ada mesnya."


"Ya sudah, besok kita ke KUA, aku urus biaya ijab kabul, dan setelah menikah, kamu berhenti kerja ya, kamu mengurus rumah saja, sama masak, dan malamnya, kamu melayani aku, hehe."


"Ih, kamu, Mas ... apaan sih." Via tersipu malu.


"Kamu mau?"


Via mengangguk. "Makasih banyak ya Mas."


"Sama-sama, Vi."


Setelah makanan mereka habis, Franky pun membayar dan mengajak Via pulang. Sampai di rumah, Franky menyuruh Via, untuk masuk ke rumahnya.


"Vi, kamu di sini dulu ya, aku mau cari inspirasi."


"Di mana, Mas?"


"Ya, cari-cari tempat yang tenang, apa kamu mau ikut?"


"Tapi ... memang nggak apa-apa aku di sini?"


"Ya nggak masalah, kan kamu istri aku," kata Franky sambil mengerlingkan matanya, membuat Via salah tingkah.


"Ya sudah Mas, aku nonton tivi ya."

__ADS_1


"Oh, silahkan Vi, kalau ngantuk tidur saja, terus kalau haus ambil sendiri di dapur, nantinya ini juga bakal jadi rumah kamu juga."


Via mengangguk, dan Franky segera berlalu dari hadapan Via, dengan membawa laptopnya.


__ADS_2