Pulau Abadi

Pulau Abadi
Ingin Bunuh Diri


__ADS_3

Adzan maghrib pun berkumandang, kala itu perut Franky merasa lapar sekali.


Sedangkan di luar hujan turun dengan sangat lebatnya.


Franky mendekati jendela rumah bagian depan, dia menyibak tirai jendela dan mengintip ke luar jendela, terlihat kabut tebal menutupi jalan di luar rumah Franky.


"Huft, aku lapar sekali, tapi malah hujan, mau keluar malas juga, itu kabut tebal sekali," batinnya.


Tiba-tiba netranya menangkap sebuah sosok yang sedang berdiri di depan pekarangan rumah Franky dengan baju berwarna putih lusuh dan surai panjang yang berantakan seperti tak pernah menyisir surainya selama satu tahun.


Sosok itu berdiri di tengah lebatnya air hujan tanpa payung pun yang melindungi tubuhnya.


Franky terkejut bukan main, dia segera menutup tirai jendela itu.


"Siapa dia? kenapa hujan-hujanan? Cari penyakit saja," batinnya.


Kemudian Franky membuka kembali tirai jendelanya, hendak memastikan lagi siapa sosok yang di lihatnya.


Betapa terkejutnya Franky karena sosok yang di lihatnya telah hilang.


"Lho kemana dia? Kok cepat sekali perginya, aneh ... ah, mungkin dia orang yang ingin berteduh, tapi nggak jadi."


Kemudian Franky berjalan ke dapur, seketika dia merasa sedikit lega karena masih memiliki beberapa mie instan dan beberapa butir telur.


"Hem, untung aku masih punya makanan instan, ya sudah, sementara aku makan mie telur dulu deh."


Franky pun mulai memasak mie instan, setelah matang tiba-tiba dia berasa ingin buang air kecil, dia pun masuk ke dalam kamar mandi.


Selesai membuang hajatnya Franky keluar dari kamar mandi dan berencana akan menyantap mie instan yang baru saja dia masak.


Namun alangkah terkejutnya dia ketika melihat mangkuk itu sudah kosong dan mie instan yang sudah matang itu pun raib.


"Kok bisa ya? Siapa yang sudah memakan mieku? Tapi siapa? Di rumah ini kan nggak ada siapa-siapa lagi selain aku," batinnya.


Franky merasa kesal, dia pun melempar mangkuk kosong itu ke arah tembok dan seketika mangkuk itu jatuh dan pecah menjadi beberapa kepingan.


Franky benar-benar marah sekali, dia sudah malas makan, nafsu makannya mendadak hilang.


Franky pun masuk ke dalam kamarnya, dia merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Dia tampak merenungi keanehan demi keanehan, yang dia alami selama ini.

__ADS_1


"Lama-lama aku bisa stress, kalau terus-terusan di teror sama kejadian yang nggak masuk akal, sebenarnya ada apa sama diriku ini? Kalau seperti ini terus, lebih baik aku menyusul Soraya."


Duaaarrr!


Bersamaan dengan itu petir menyambar-nyambar dengan keras dan terbesitlah sebuah pikiran kotor di benak Franky untuk segera mengakhiri hidupnya.


Franky berpikir bahwa dunia tak menginginkan dia hidup bahagia.


Tiba-tiba listrik pun padam.


Franky berjalan ke dapur sambil meraba-raba tembok rumahnya hendak mencari pisau untuk sarana bunuh diri. Saat itu dia sudah gelap mata dan kehilangan akal sehat.


Di dapur Franky meraba-raba mencari sebuah pisau. Akhirnya dia menemukan sebuah pisau yang biasa digunakan oleh istrinya untuk memotong daging.


Bulir bening berjatuhan di kedua pipi Franky. Tanpa pikir panjang dia hendak menebaskan pisau besar itu ke lehernya.


Tiba-tiba kejadian aneh terjadi, tangan Franky seketika menjadi kaku tak bisa digerakan.


Dalam kebingungan, sebuah fenomena pun terjadi di hadapan Franky.


Di balik gelapnya suasana dan di sertai kilatan cahaya petir, samar-samar Franky melihat sosok wanita berwajah pucat dengan pakaian berwarna putih lusuh dan bersurai hitam terurai sebatas pinggang, sosok itu melayang tepat di hadapan Franky.


Franky pun merasa ketakutan, tubuhnya gemetar dan bulu kuduknya meremang.


"Si ... siapa ka ... kamu? Pergi dari sini! Jangan ganggu aku, aku sudah capek dengan semua kejadian-kejadian yang nggak jelas!" Franky membentak sosok itu sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah sosok tersebut.


"Kematian dengan cara bunuh diri nggak akan menyelesaikan masalah.


Hidupmu masih panjang Franky, hiduplah dan raihlah mimpimu itu!" seru sosok tersebut.


Franky masih merasa heran, dia hanya bisa diam dan mendengarkan semua yang di katakan oleh sosok bermuka pucat itu.


Wajahnya terlihat begitu dingin bahkan lebih dingin dari es, terlihat beberapa surai panjangnya melewati matanya namun bagi Franky wajahnya cukup cantik.


Matanya berwarna merah menyala disertai dengan dua gigi taring kecil yang mengarah ke bawah, sosok hantu itu pun tersenyum ke arah Franky dengan tatapan sayu.


"Namaku Rindi, jadi aku minta, kau hentikan semua ini! Aku tahu, kau merasa jenuh dengan kehidupanmu, tapi apa kau pernah berpikir? Kematian hanya bisa menyelesaikan urusanmu di dunia ini, tapi selanjutnya, kamu akan di mintai pertanggung jawaban oleh sang kuasa di sana nanti."


Rundi berusaha menggagalkan niat buruk Franky yang akan bunuh diri itu.


"Tunggu!" sela Franky.

__ADS_1


"Nama kamu ... Rindi?"


"Iya, apa kau kenal?"


Franky terkesiap.


"Kenapa namanya mirip sama seseorang, ah tapi nggak mungkin juga dia Rindi calon istriku, mungkin hanya kebetulan saja," batin Franky.


"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa berani sekali mengaturku?" Franky mulai kesal.


Tanpa menjawab pertanyaan Franky sosok Rindi pun berjalan hingga mendekat di hadapan Franky. Dia meletakan telapak tangannya di kepala Franky.


Dapat di rasakan oleh Franky bahwa tangan Rindi berasa dingin sekali.


Tiba-tiba muncul sinar yang menyilaukan di depan mata Franky. Tak lama sinar itu pun menghilang perlahan, samar-samar Franky menyaksikan sebuah pemandangan di hadapannya yang membuat dia menjadi de javu.


Franky melihat Rindi sedang mengendarai sepeda motornya, dia berniat hendak pulang ke rumah dan harus melewati jalan besar untuk sampai di rumahnya karena memang tak ada jalan pintas yang mengarah ke rumahnya.


Ketika Rindi membelokkan motornya ke tikungan sebelah kanan sebuah mobil melaju dengan kecepatan kencang, Rindi terkejut, dia berusaha menginjak rem motornya namun Rindi menjadi hilang keseimbangan dan ....


Bruaakkkkk!!!


Mobil tersebut menabrak motor Rindi dan Rindi beserta motornya pun jatuh terguling, kepala Rindi sempat membentur jalan beraspal itu.


Rindi tak sadarkan Rindi, motor Rindi remuk, tak lama pengemudi mobil pun keluar dan turun dari mobilnya.


Dia menghampiri Rindi yang tergeletak tak berdaya.


Ternyata pengemudi mobil itu adalah Franky.


Franky mendekap erat tubuh Rindi.


****


Sesaat kemudian bayangan kenangan masa lalu yang ada di kepala Franky kini telah lenyap dan bersamaan dengan itu Franky merasa pusing namun dia masih dapat melihat sosok Rindi.


Franky memegangi kepalanya, dia seolah merasakan sekelilingnya berputar-putar. Tak henti-hentinya pria itu menatap wajah sosok hantu yang berada di hadapannya. Franky nampak sedang mengingat sesuatu.


"Apa kamu adalah Rindi calon istriku?"


"Kamu pikir saja sendiri!" seru hantu Rindi

__ADS_1


__ADS_2