Pulau Abadi

Pulau Abadi
Sungguh Keji


__ADS_3

"Cepat kasih mereka suntikan cairan pemicu serangan jantung, supaya seolah mereka mati karna serangan jantung!" seru Anton kepada dokter sewaannya.


"Tapi Pak, apa tidak menimbulkan kecurigaan, secara meraka mati bersamaan, dan lagi, mereka masih kecil," kata dokter itu.


"Sudah, ikuti saja perintah ku."


"Baik Pak." Akhirnya dokter itu melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Anton.


Setengah jam kemudian, lima puluh anak kecil terkena serangan jantung, dan tanpa menunggu lama, mereka semua meninggal di tempat.


"Bagaimana ini Pak?" tanya ibu pengurus panti itu.


Anton pun menyerahkan amplop berisi uang yang jumlahnya terbilang banyak kepada pengurus panti itu, dan pengurus panti itu segera menerima amplop dari Anton, dengan mata berbinar-binar.


"Kubur saja mereka di belakang panti ini, toh mereka yatim piatu, sudah pasti tidak ada keluarga yang mencarinya," titah Anton.


"Baik Pak."


Beberapa dari anak-anak yang mendonorkan ginjalnya cukup kuat fisiknya, untuk itu mereka masih dapat bertahan hidup, ibu panti menyuruh mereka beristirahat.


Setelah urusan beres, dokter dan karyawannya berpamitan untuk pulang, Anton pun memberikan sejumlah uang kepada mereka berdua.


"Urusan sudah selesai, terimakasih, kerja bagus," ucap Anton.


"Sama-sama Pak, saya juga terimakasih untuk honornya," kata ibu panti itu.


"Okey, yang penting, setiap hari kalian pantau jalanan, kalau ada anak yang berkeliaran, segera saja bawa mereka, dan kalau sudah terkumpul banyak, hubungi saya, saya akan kasih bonus dua kali lipat."


"Siap Pak."


Anton pun meninggalkan panti asuhan itu, dia menemui teman lamanya, di suatu tempat yang sudah disepakati.


"Halo kawan, sudah lama menunggu?" sapa Anton kepada seorang pria yang sedang duduk di sebuah bar.


"Eh kamu, Ton, baru saja ini, ayo duduk, kita minum-minum dulu lah," jawab teman Anton yang bernama Rudi.


Anton pun duduk di sebelah Rudi.


"Apa kabar Ton? Sudah lama sekali kita nggak ketemu."


"Baik Rud, kamu sendiri?"


"Ya, seperti yang kamu lihat, masih jomblo hahaha!"


Anton tersenyum geli dengan ucapan Rudi.


"Eh, kamu dari mana Ton?"


"Biasa berbisnis."


"Wah, kamu sekarang jadi orang sukses ya?"


"Ah, biasa saja Rud, oh ya, kamu sendiri bagaimana? Usaha apa kamu sekarang?"


"Aku usaha peternakan ayam, Ton, ya lumayan sih hasilnya."


"Ya bagus dong, dari pada nganggur, kan bingung nggak punya uang."


"Iya Ton, eh ngomong-ngomong, kamu bisnis apa, Ton?"


"Jual beli makanan ringan Rud, tapi aku menjualnya ke luar negeri."


"Oh gitu, makanan apa Ton, kapan-kapan aku order ya, mau coba rasanya hehe."


"Iya, besok aku bawakan, kalau kita ketemu lagi."


Rudi tersenyum, dia memesan satu botol bir, dan meminumnya bersama Anton.


"Eh, kamu sudah berkeluarga Ton?"

__ADS_1


"Belum Rud, sama seperti kamu."


"Lho, kenapa kamu nggak cari perempuan untuk kamu nikahi? Kan kamu sudah berumur."


"Aku mau fokus sama bisnis ku dulu, Rud, baru aku cari istri."


"Ya punya istri sambil berbisnis kan malah lebih enak, Ton."


"Ah, kamu itu Rud, kamu sendiri saja belum punya istri, malah suruh-suruh orang." Anton terkekeh.


"Ya nggak apa-apalah, Ton, kan kamu lebih tua dari aku, jadi ya kamu dulu saja yang menikah, aku nyusul besok, hehe."


"Ya kapan-kapan, Rud."


"Huuu, kamu itu Ton, payah."


Rudi menggelengkan kepala, dia sudah paham watak Anton, dari dulu memang dingin, dan cuek dengan para wanita, yang ada di otaknya hanyalah uang saja, dia berpikir, kalau mempunyai banyak uang, dia bisa membeli segalanya, termasuk wanita.


"Ayo kita bersulang, Ton." Rudi menuangkan segelas bir, dan memberikannya kepada Anton, Anton pun menerimanya, mereka berdua pun asik mengobrol.


****


Di tempat lain ....


Siang itu, Nawang telah selesai memasak.


"Mas, ayo kita makan."


"Memang sudah matang?"


"Sudah dong."


Joko duduk di ruang makan bersama Nawang.


"Mulai sekarang, kamu jangan capek-capek, Na, kamu kan sedang hamil, takutnya berdampak sama kandungan kamu," kata Joko.


"Iya Mas, aku hanya memasak saja kok."


"Iya, iya Mas."


"Kalau bisa, salonnya tutup saja dulu."


"Lho, itu kan untuk penghasilan kita mas."


"Kamu tenang saja, aku masih punya simpanan lumayan banyak untuk bekal kita selama kamu hamil."


"Tapi kan kita tetap butuh pemasukan, Mas."


"Sudah, kamu nurut saja sama aku, aku nggak rela istri ku kerja capek, sedangkan dia posisi hamil."


"Aku masih sanggup kok Mas, kan kerjanya santai, paling melayani orang keramas, creambath, gitu-gitu saja kok, mana mungkin capek."


"Sudahlah, Na, aku melarang kamu, itu karna aku sayang sama kamu, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa."


"Ya sudah deh Mas, tapi kalau aku tak ada pekerjaan, aku jenuh."


"Lho, kamu setiap hari masak, cuci baju, melayani aku di kamar, itu sudah termasuk kerja juga kok."


"Ya tak perlu bahas masalah melayani juga kali Mas," Nawang menggembungkan kedua pipinya.


"Hehe, iya Na, bercanda, gitu saja ngambek."


Nawang tersenyum.


"Anaknya laki atau perempuan ya kira-kira?"


"Ya belum tahulah Mas, Lagian masih bentuk cairan juga, kau ini ada-ada saja."


"Hehe, nggak sabar aku ingin punya momongan."

__ADS_1


"Ya kan sedang proses ini."


"Iya, aku tahu, makasih ya Na."


"Buat apa?"


"Kamu sudah menjadi istri ku, dan melayani ku dengan baik."


"Ah biasa saja Mas, jangan terlalu memuji."


"Ya, namanya orang cinta pasti selalu memuji, hehe."


"Ah kau ini Mas, suka menggombal."


"Tapi kamu suka kan?"


Nawang menunduk, wajahnya merah padam. Joko yang diam-diam memperhatikan tingkah Nawang sambil tersenyum geli.


"Ya sudah, ayo habiskan makannya, terus minum vitamin dari dokter tadi."


"Iya Mas."


"Oh ya, setelah ini, aku ke rumah Franky sebentar ya, aku mau rundingan masalah kemarin."


"Iya Mas."


Selesai makan, Joko berjalan ke rumah Franky. sesampainya, Joko langsung masuk begitu saja. Dia melihat Via sedang menonton televisi.


"Lho, Franky mana, Vi?"


"Eh, kamu Mas, Franky keluar dari tadi, dia bilang mau cari inspirasi," jawab Via yang sedang duduk.


"Di mana?"


"Wah, dia nggak bilang tuh."


"Oh, ya sudah kalau begitu."


"Mau kemana?"


"Ya pulanglah, kan Franky nggak ada, masa mau ngapelin kamu."


"Huuu, kamu itu, kalau bicara sembarangan saja."


Joko terkekeh.


"Aku mau bicara sesuatu, Mas."


"Apa, Vi?"


"Em, aku sama Franky kan baru saja kenal, tapi dia sudah mau melamarku."


"Lho, bagus itu."


"Bagus gimana?"


"Ya kan Franky sudah lama menduda, ya kalau ada yang mau menjadi pendamping hidupnya, syukurlah, kasihan dia."


Via terdiam.


"Kamu sendiri, suka nggak sama dia?"


Belum sempat Via menjawab, Joko sudah melontarkan perkataan lagi.


"Aku kasih tahu ya Vi, lebih baik kita menerima cinta orang yang mencintai kita, dari pada orang yang kita cintai, karna orang yang mencintai kita, sudah tentu lebih menyayangi kita, karna orang yang kita cintai, belum tentu tulus membalas cinta kita."


"Kamu benar Mas, aku pernah mencintai orang, tapi orang itu seperti nggak peduli sama aku."


"Nah, kamu sudah merasakan sendiri kan, sekarang aku tanya, apa kamu juga suka sama Franky?"

__ADS_1


"Ya suka sih."


"Jujur? Dia itu sudah tua lho, umurnya selisih banyak sama kamu."


__ADS_2