Pulau Abadi

Pulau Abadi
Perpisahan


__ADS_3

"Benda ini ada di mobilmu, jelas kau yang sudah mencurinya!" tukas Nila.


"Sungguh La, aku nggak punya niat untuk mencuri selendang itu."


Kemudian Franky menceritakan kejadian sebenarnya ketika berkemah di hutan bersama Leon, dia juga bercerita yang dia tak sengaja memergoki tujuh orang wanita yang sedang mandi di danau, hingga dia mendapatkan selendang itu.


"Jadi, kamu tidak mencuri?"


"Buat apa aku mencuri La? Saat aku akan kembali ke tenda, ada angin yang bertiup kencang, dan tiba-tiba selendang itu terbang melayang entah dari mana, lalu menempel di mukaku, terus aku bawa dan aku taruh di jok mobil ini, setelah itu aku nggak ingat sama sekali tentang selendang itu, karena beberapa hari aku nggak lihat, rupanya jatuh di bawah jok itu, aku benar-benar nggak tahu La, apalagi mencuri."


"Sepertinya, manusia ini bicara jujur, mungkin waktu itu selendangku terbang di bawa angin," batin Nila.


Leon terdiam menyaksikan adegan di depan matanya itu.


"Memangnya, selendang itu buat apa sih La? Apa kamu seorang penari?" tanya Franky penasaran.


"Maafkan aku, kalau selama ini aku berbohong, sebenarnya aku adalah Bidadari yang tinggal di Kahyangan, aku bukan manusia biasa, dan berbeda alam dengan kalian berdua, dan karna di Kahyangan tidak ada air, jadi setiap bulan kami mandi di danau yang ada di dalam hutan itu, kami mandi pada malam hari, karna kami pikir kalau malam, semua manusia sudah tertidur, dan tidak mungkin ada manusia yang akan pergi ke danau. Selesai mandi, aku panik karna selendangku hilang, aku mencari ke seluruh tempat di hutan itu tapi tak ketemu, tanpa selendang ini aku tak bisa pulang ke Kahyangan, karna selendang ini adalah baju adat Kahyangan, aku sedih karna semua saudaraku sudah pulang, tinggal aku saja, untung aku bertemu manusia baik sepertimu, yang mau menolongku."


Franky dan Leon terbelalak mendengar penuturan Nila, mereka seolah tak percaya.


"Ah kamu ini, pintar sekali menghayal La, pasti kamu waktu sekolah, pelajaran Bahasa Indonesia dapat nilai seratus terus ya, hehe," kekeh Leon.


"Terserah, kalau kalian tidak percaya denganku, yang jelas, selendangku sudah ketemu dan aku harus pulang, Romo dan keenam saudaraku pasti sudah lama menungguku," ujar Nila.


Kemudian Nila melilitkan selendang itu ke tubuhnya, dan dalam sekejap sebuah sinar terang mengelilingi tubuh Nila, wajahnya berubah menjadi lebih cantik dari sebelumnya, dan di bagian belakang punggung Nila, keluarlah sepasang sayap cantik berwarna keemasan.


Franky dan Leon tercengang sekaligus kagum terhadap Nila.


"Apakah kamu benar-benar seorang Bidadari?" tanya Franky.


Nila mengangguk.


"Benar, dan sekarang sudah saatnya aku pulang, terimakasih atas semua kebaikan yang kau berikan."


Franky bingung, hatinya terasa berat untuk melepas Nila.


"Tapi, apa kamu nggak bisa tinggal di sini lebih lama lagi?" mohon Franky.


Nila menggeleng pasrah.


"Maafkan aku Fran, aku tidak bisa lama-lama tinggal di bumi, aku harus kembali ke tempat asalku, jaga diri kalian baik-baik dan ingat, jangan suka melamun."


Kemudian Nila segera terbang ke atas awan dan menghilang seketika.


"Selamat tinggal Franky, Leon, kalian sahabatku yang baik, aku akan selalu mengingat kalian."


Itulah kata-kata terakhir yang keluar dari mulut Nila.


Beberapa saat kemudian...


"Ternyata Nila itu bukan manusia, dia makhluk gaib, pantas saja, aku selalu merinding setiap berada di dekatnya," gumam Leon.


"Aku juga nggak nyangka Le, pantas juga sikap dia sedikit aneh selama ini," sambung Franky.

__ADS_1


Franky seperti belum ikhlas melepas kepergian Nila.


"Kamu melamun Fran?" tanya Leon.


"Eh, enggak Le."


"Jangan bilang kalau kamu jatuh cinta sama makhluk gaib itu."


Franky tersenyum, lalu kembali mengemudikan mobilnya.


Di dalam perjalanannya, tiba-tiba turun hujan yang sangat deras.


"Duh hujan lagi, kabutnya juga tebal."


"Pelan-pelan saja Fran, nggak perlu ngebut."


"Iya Le."


Setengah jam kemudian, hujan pun reda, dan di atas awan terbentang melingkar sebuah cahaya berwarna warni, tanpa sengaja Franky menoleh ke arah awan tersebut.


"Eh ada pelangi itu Le!" seru Franky.


Leon menoleh ke depan, ke arah yang di tunjuk oleh Franky.


"Kamu ini Fran, seperti belum pernah lihat pelangi saja, biasa saja lagi," ledek Leon.


"Hem, iya juga ya Le hehe," kekeh Franky.


"Nila...."


Dan dalam sekejap bayangan tersebut hilang.


"Nila? Mana Fran? Orang dia sudah pergi kan," ujar Leon.


Pikiran Franky sungguh tak menentu, Leon yang memperhatikan sikap Franky menjadi iba terhadapnya.


"Kasihan dia, dua kali jatuh cinta, tapi sama hantu, hiiiyyy," batin Leon.


"Fran, sini, aku saja yang bawa mobilnya, kamu istirahat saja ya, biar gantian," pinta Leon.


Franky mengangguk pasrah, dia menggeser duduknya berpindah di jok sebelahnya, sedangkan Leon turun dari mobil kemudian berpindah duduk di depan untuk mengemudikan mobilnya.


Beberapa jam kemudian, akhirnya mereka berdua sampai di rumah Leon.


"Kamu mau mampir di rumahku dulu, atau langsung pulang?" tanya Leon.


"Aku langsung pulang saja Le, lain kali aku akan main ke rumahmu," sahut Franky.


"Ya sudah, hati-hati ya pulangnya."


Franky mengangguk, kemudian Leon mengambil kopernya dan turun.


Franky pun melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah.

__ADS_1


Leon masuk ke dalam rumah, Nurdiana dan Abdul Rozak terheran-heran melihat keponakannya itu.


"Lho, kok sudah pulang Le? Katanya kerja?" tanya Nurdiana.


Leon berjalan menghampiri om dan tantenya itu, dia duduk dan kemudian menceritakan hal yang berhubungan dengan tempat kerjanya.


Nurdiana dan Abdul Rozak terbelalak.


"Kok bisa gitu ya?" ujar Abdul Rozak.


"Tante kan sudah bilang kemarin, hotel itu kebakaran Le, berarti yang menyuruh kamu kerja di sana ha... hantu dong."


Leon hanya diam, dia merasa lemas sekali.


"Sebaiknya, aku nggak perlu cerita tentang Nila deh, nanti mereka semua kepikiran terus lagi," batinnya.


"Ya sudah, aku mandi dulu ya Om, Tante, gerah nih."


"Silahkan Le, oh iya kamu sudah makan belum?" tanya Nurdiana.


"Belum Tante."


"Ya sudah, nanti selesai mandi, kamu makan, itu tadi tante masak opor ayam di meja belakang ya."


"Baik, Tante."


Sementara itu, Franky telah sampai di rumahnya.


Dia memasukkan mobilnya di dalam garasi, ketika dia hendak masuk ke dalam rumahnya, sebuah suara menyapanya.


"Dari mana Fran?"


Franky menoleh ke arah sumber suara, Roy sudah berdiri di sana.


"Eh.. kamu Roy, aku habis main di tempat temanku."


"Oh iya, perempuan yang kamu carikan kos itu kemana? Kok sudah nggak ada di kos?"


"Dasar playboy, dia pasti mau godain Nila," batin Franky.


"Em, dia sudah pulang ke rumahnya."


"Lho, katanya rumahnya kebakaran, terus orang tuanya juga meninggal?"


"Iya Roy, tapi dia sekarang tinggal di rumah tantenya."


"Oh gitu, ya sudah aku pulang dulu."


"Lho, memangnya kamu sendiri dari mana Roy?"


"Biasa, cari jodoh, tapi belum dapet hehe," kekeh Roy sambil terus berlalu dan menjauh dari hadapan Franky.


Franky menggeleng kepala merasa geli dengan tingkah Roy.

__ADS_1


__ADS_2