
Setelah Franky naik ke dalam mobil, Joko segera mengemudikan mobilnya.
"Jok, sini gantian aku yang nyetir mobilnya," tutur Franky.
"Sudah, biar aku saja, perjalanan keluar pulau ini sangat rumit, kalau kalian yang nyetir, pasti bakal lama," papar Joko.
"Rumit gimana, Jok?" sambung Leon.
"Sepertinya, perjalanan kita bakal nggak lancar, ya sebentar lagi, akan ada gangguan kalau menurutku," ucap Joko begitu yakin.
"Memang, siapa yang akan mengganggu?" tanya Franky.
"Ya biasa lah, makhluk gaib, aku lihat, banyak sekali makhluk gaib di sepanjang perjalanan ke luar pulau ini," ungkap Joko.
"Tunggu deh, aku masih ingat, dulu kita juga kan Fran, waktu mau pulang dari pulai ini kita diganggu," celetuk Leon kepada Franky.
Franky tampak sedang mengingat sesuatu.
"Oh iya, benar, Jok, dulu sewaktu aku sama Leon mau keluar dari pulau ini, mobil kita tuh mogok tiba-tiba, dan ponsel kita juga mati, nah, yang paling aneh lagi, aku sudah nyetir mobil seharian, tapi sepertinya kita nggak keluar juga dari pulau ini."
Dan Franky pun menceritakan tentang dirinya dan Leon, yang mereka tersesat, dan ditolong oleh seseorang yang bernama pak Prapto.
"Prapto? Sepertinya nama itu nggak asing deh," gumam Joko dalam hati.
"Sepertinya, kalian dijebak oleh seseorang, dan kalian akan ditumbalkan, untuk menambah kekuatan orang itu," tutur Joko.
"Hah, masa sih? Lalu, siapa orang itu?" Leon terbelalak.
"Mungkin yang kalian maksud pak Prapto itu," tukas Joko.
Franky dan Leon saling berpandangan.
"Tapi kalian selamat kan?" tanya Joko.
"Iya, ada anak perempuan, umurnya sekitar dua belas tahun, dia yang menolong kita, Jok," papar Leon.
"Anak kecil umurnya dua belas tahun? Menolong kalian?" Joko terlihat bingung.
"Iya, Jok," angguk Leon.
"Eh, eh, tunggu deh, kok kalau aku ingat-ingat lagi, muka anak itu nggak asing," sambung Franky.
"Kamu kenal, Fran?" tanya Leon.
"Em, iya, Le, sepertinya anak itu, dekat sekali sama aku, kok seperti Se .. Se .."
"Sella!" seru Joko dengan lantang.
Franky terhenyak. "Ya betul, anak itu seperti Sella."
"Ya mungkin saja Sella yang menolong kalian," tutur Joko.
"Tapi, bagaimana mungkin, Sella bisa sampai di tempat ini?" tanya Franky keheranan.
"Ya bukan tubuhnya yang kesini, tapi jiwanya," kata Joko.
__ADS_1
"Maksud kamu, Jok?" Leon masih belum mengerti.
"Sella itu, anak kecil, tapi pikirannya sudah dewasa, dia bisa meraga sukma.
"Meraga sukma?" ucap Franky dan Leon bersamaan.
"Iya, meraga sukma adalah, keluarnya jiwa dari badan, badannya hanya diam di tempat, namun jiwanya bisa melayang kemana-mana," papar Joko.
"Oh gitu, Jok," ujar Leon, sementara Franky hanya mengangguk.
"Ya syukurlah, kalau kalian selamat," kata Joko.
Franky dan Leon hanya mengangguk, dan mobilpun terus melaju, kini Joko akan keluar dari gapura, yang merupakan pemisah antara dalam pulau, dan luar pulau abadi.
Sebelum Joko mengemudikan mobilnya, hendak keluar dari gapura itu, tak sengaja netranya mengarah ke bagian atas gapura tersebut.
Dia melihat sebuah lukisan yang terpajang di bagian atas gapura itu, lukisan itu menggambarkan seorang wanita cantik, berkebaya, dan berselendang serba putih.
Joko menghentikan mobilnya.
"Ada apa Jok?" tanya Leon.
"Itu Le, Fran, coba lihat ke atas sana," kata Joko sambil tangannya menunjuk ke arah atas.
Spontan Franky dan Leon mendongakan kepalanya ke atas, dan mengedarkan pandangannya ke arah gapura bagian atas.
"Itu kan hanya lukisan saja, ya wajarlah namanya lukisan, mau dipajang di mana saja kan nggak masalah," kata Leon, dia tampak biasa saja.
"Tapi, coba lihat lagi deh, sepertinya ada yang aneh sama lukisan itu," ujar Joko.
"Aneh gimana Jok?" tanya Franky penasaran.
Leon pun mengamati kembali lukisan wanita tersebut, namun bagi Leon, lukisan itu bisa saja. Sedangkan Franky, mengamati dengan cermat lukisan itu, dia merasa seperti mengingat seseorang, namun tiba-tiba kepalanya merasa sakit.
"Au! Sakit sekali kepalaku."
"Ya sudah lah nggak perlu dibahas lagi tentang lukisan itu, kita lanjut lagi," kata Joko.
"Iya, Jok," kata Franky dan Leon bersamaan.
Joko pun kembali mengendarai mobilnya, hingga keluar pulau.
"Eh, Fran, satu minggu lagi, aku mau ke sini lagi, kamu ikut saja ya, kamu bawa laptop kamu, nah kamu bisa sambil nulis lagi," kata Joko kepada Franky.
"Mau apa lagi kita ke sini, Jok?" Franky mengerutkan keningnya.
"Ya mau antar kamu pacaran sama si Rinjani lah, memang kamu nggak mau ya, sering-sering ketemu dia?"
"Eh, tentu saja aku mau, Jok, tapi, memang nggak merepotkan kamu?"
"Aku tuh, nggak pernah merasa direpotkan sama siapa pun, dan kamu, Le, mau ikut lagi nggak?" Joko berganti bertanya kepada Leon.
"Ikut lah Jok, aku bosan di rumah terus, nggak ada kerjaan," sahut Leon.
"Memang kamu nggak takut?" ledek Joko.
__ADS_1
"Sekarang sudah enggak takut aku, Jok, kan ada kamu hehe," kekeh Leon.
Joko tersenyum penuh makna kemudian menatap Franky. "Gimana, Fran? Apa kamu mau ikut aku lagi ke pulau ini?"
"Iya, Jok, aku mau kok, aku mau bikin novel baru lagi, tapi beneran, kamu nggak apa-apa?" ujar Franky.
"Enggak lah, Fran, aku kan sudah bilang, kalau aku ingin berpetualang."
"Oke deh, Jok," sahut Franky.
Mobil pun terus melaju, tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi mogok.
"Tuh kan Jok, mogok lagi, dulu juga begitu," ujar Leon.
"Apa bensinnya habis, ya?" ujar Joko.
"Kalau habis, sepertinya nggak mungkin, Jok, kan sebelum kita ke sini, sudah aku isi full," sambung Franky.
"Tapi kan pulau abadi jauh sekali, Fran, ya mungkin saja habis kan." Leon menimpali.
"Sial, mana nggak ada pom lagi," gerutu Joko.
"Kamu nggak perlu marah-marah, Jok, kan nggak ada yang nyuruh kamu ke sini, tapi kemauan kamu sendiri," cetus Leon.
"Siapa yang marah, Le? Aku hanya kesal karna di dekat sini nggak ada yang jual bensin," ujar Joko.
"Ya, mau gimana lagi, terpaksa deh, kita dorong mobilnya," sambung Franky.
"Ya sudah, ayo Le, kita turun, dorong mobilnya dan biar Franky yang menstarter mobilnya," ajak Joko.
Leon dan Joko pun turun, mereka mendorong mobil itu. Namun anehnya, mobil itu tak bisa didorong, seolah terasa berat sekali.
"Kok susah sekali, Le."
"Iya, Jok, kenapa nggak bisa didorong ya," tanya Leon.
Mereka berdua mencoba sekali lagi, mendorong mobil itu, namun usahanya tetap sia-sia. Akhirnya mereka menyerah, dan mereka berdua pun duduk di sebuah batu, yang terletak di sekitar tempat itu.
Tak lama, Franky keluar dari mobilnya. "Kenapa Jok?" tanyanya kepada Joko.
"Mobilnya nggak mau didorong, Fran, susah sekali," jawab Joko.
Kemudian Franky mencoba mendorongnya, namun sama saja, mobil itu tetap diam tak mau melaju.
"Kenapa ya?" gumam Franky.
"Duduk dulu sini, Fran," kata Joko.
Franky pun duduk bergabung bersama kedua temannya, dan tak terasa, hari sudah gelap.
"Wah kok mendadak sudah malam sih, perasaan, tadi masih siang deh," celetuk Leon.
"Iya nih, Le." Franky menimpali.
"Pasti kita akan diganggu lagi," kata Joko.
__ADS_1
"Diganggu hantu maksud kamu, Jok?" Leon terlihat khawatir.
"Siapa lagi? Masa iya, perempuan cantik dan sexy, mau ganggu kamu hahaha!" Joko pun tertawa terpingkal.