
iya sih, tapi kalau malam, aku suka takut."
"Takut apa sih, Le?" tanya Franky.
"Ya taku ada hantu, hehe," Leon meringis.
"Kamu kan nggak bisa lihat hantu, Le, jadi ngapain takut?" ujar Joko.
"Ya memang, aku nggak punya kemampuan bisa melihat mereka, tapi aku kan bisa mendengar suara-suara aneh, dan aku bisa merasakan kehadiran mereka," papar Leon.
"Ah, hanya suara saja, aku kan sudah bilang, kalau dengar suara nggak jelas, biarkan saja, nggak perlu kamu hiraukan, nanti juga hilang sendiri. Jangan kamu dekati, justru kamu akan semakin terganggu sama suara-suara itu," ujar Joko.
"Iya, Le, kamu bilang ingin kerja, sekarang sudah dapat kerja, malah bingung sendiri." Franky menimpali.
"Memangnya, kapan kamu mulai bekerja, Le?" tanya Joko.
"Lusa, Jok, kan pas hari senin," sahut Leon.
"Ya sudah dicoba dulu saja," kata Joko.
"Ya sudah, aku coba sampai terima gaji saja, kalau sanggup, aku lanjut, tapi kalau nggak kuat, ya terpaksa aku berhenti."
"Hem, Le, Le, belum apa-apa sudah mikir gaji, huft," Joko menghembuskan nafas kasarnya.
"Hehehehe ...."
Kekehan Leon membuat Franky dan Joko saling berpandangan, kemudian mereka mengangkat kedua bahunya.
****
Tak terasa, malam hari pun tiba ....
"Jok, aku mau keluar sebentar ya," kata Franky yang merasa bosan, terus berada di dalam kamar.
"Kamu mau ke mana, Fran? Malam-malam begini," tanya Leon.
"Ah aku mau cari angin segar," sahut Franky dengan santainya.
"Aku temani ya," kata Leon.
"Nggak perlulah, Le, aku bisa sendiri kok," tolak Franky.
"Sudah, biarkan saja, Le, dia itu pasti mau menemui pacarnya, kan sudah lama sekali mereka nggak bertemu, kamu malah mau ikut, memangnya kamu mau jadi obat nyamuk?" ledek Joko.
"Eh iya ya, ih nggak mau lah, jadi obat nyamuk, bisa pusing," kelakar Leon.
"Pusing kenapa?" tanya Joko.
"Obat nyamuk kan muter-muter, Jok."
"Hahaha!" Joko terbahak, sedangkan Franky hanya senyum-senyum sendiri.
"Ya sudah, aku berangkat Le, Jok."
"Iya, Fran, hati-hati, salam buat pacar kamu, dari Leon," kelakar Joko.
"Eh, apaan sih kamu, Jok, huuu, dasar gila, main salam-salam saja," cibir Leon.
Joko terkekeh, dan Franky pun berlalu dari hadapan kedua sahabatnya itu.
Franky berjalan menyusuri kegelapan malam sambil bernyanyi riang, angin sepoi-sepoi menerpa wajah tampan pria itu.
Kini Franky berada di sebuah pantai, tempat yang tak asing baginya, malam itu, pantai sepi pengunjung, hanya beberapa orang saja.
__ADS_1
"Rin ...."
Franky bergumam lirih.
"Ada perlu apa, anda memanggil saya, Fran?"
Sebuah suara mengejutkan Franky, arahnya dari belakang tubuh pria itu.
Franky pun menoleh ke belakang. Dia terkesiap, melihat sosok wanita cantik berkebaya putih, lengkap dengan kerudung putih di kepalanya.
"Rin? Kamu dari mana?" tanya Franky.
Rinjani hanya tersenyum.
"Kamu ini, selalu mengejutkan saya," kata Franky.
"Anda apa kabar, Fran?" tanya Rinjani mengalihkan pembicaraan.
"Baik, kamu sendiri?"
Rinjani mengangguk dalam senyumannya.
"Rin, aku sangat merindukanmu," ucap Franky.
"Begitupun dengan saya," balas Rinjani.
Franky tersenyum ....
"Rin, apa kamu mau ikut aku pulang ke rumah?" tanya Franky.
"Untuk apa, Fran?" Rinjani mengerutkan keningnya.
"Aku ingin melamar kamu," kata-kata itu, spontan terlontar dari bibir Franky.
Deg!
"Bagaimana, Rin? Apa kamu mau, jadi istriku?"
Bulir bening menetes di pipi Rinjani.
"Lho, kamu nangis? Apa aku salah bicara?" Franky semakin heran.
Rinjani menggeleng lemah.
"Aku minta maaf ya, Rin, kalau perkataanku melukai hati kamu."
"Tidak, Fran, anda tak salah, anda bersabarlah dulu, kita pasti bisa bersatu," tutur Rinjani.
"Kenapa sih, Rin? Dari dulu jawaban kamu selalu sama."
"Sama bagaimana?" Rinjani mengerutkan keningnya.
"Ya kamu itu, selalu mengulur waktu. Sebenarnya, kamu punya perasaan juga nggak sih sama aku?"
"Fran, saya punya perasaan terhadap anda, tapi saya minta waktu, kasih saya kesempatan lagi, untuk memantapkan hati."
Franky menghembuskan nafas kasarnya.
"Untuk sementara waktu, kita seperti ini dulu, yang penting, kita bisa saling bertemu," ujar Rinjani.
"Tapi, sampai kapan, Rin?"
"Bukankah anda sedang membuat novel terbaru?"
__ADS_1
Franky mengerutkan keningnya. "Kok kamu bisa tahu, Rin? Siapa yang bilang sama kamu?"
Rinjani tersenyum smirk. "Kan saya penggemar novel anda, pasti selalu mendapatkan informasi tentang anda.
Franky tersipu malu, wajahnya merah padam. Kemudian kedua insan itupun duduk berdua di sebuah batu besar, mereka berdua asik bersenda gurau.
Sedangkan di sebuah penginapan, Joko terlihat merenung sendiri di ruang depan, sementara itu, Nawang si kucing hitam telah tertidur pulas dengan tubuh meringkuk, di sudut dapur.
"Hem, sebenarnya malam ini, aku yang akan menemui Jin genit itu, tapi sudah keduluan Franky. Ya sudahlah, nggak apa-apa, lagi pula sekarang ini, jin itu sudah jinak," batin Joko.
"Ya sudah deh, biar si Franky senang, kasihan juga dia selama ini seperti tertekan sama keadaan.
"Jok, kamu sedang apa? Kenapa sendirian saja di situ? Apa kamu nggak ngantuk?" Suara Leon mengejutkan Joko.
"Eh, ini, Le, nggak ngapa-ngapain," Joko berusaha menutupinya.
"Kok nggak tidur kamu, Jok?"
"Aku belum ngantuk, Le, kamu sendiri kenapa nggak tidur?"
"Aku nggak bisa tidur, Jok."
"Ah, bilang saja kamu takut, kan?" ledek Joko.
"Yeee, enggak kok, memang aku nggak bisa tidur."
"Nggak bisa tidur kenapa? Lapar?" seloroh Joko.
"Nggak juga, Jok."
"Lho, kok aneh, biasanya kamu nggak bisa tidur karna lapar, Le."
"Nah, kalau sekarang bukan karna lapar, Jok."
"Karna apa? Pasti kamu memikirkan pekerjaan itu ya? Ya kalau saranku sih, kamu kan belum masuk, nah, kamu bisa membatalkan."
"Membatalkan bagaimana maksud kamu, Jok?"
"Ya kamu bisa mengensel pekerjaan itu, Le."
"Tapi, aku butuh sekali pekerjaan, Jok, aku ingin kalau aku pulang dari sini, aku bisa membelikan sesuatu yang istimewa buat om sama tante aku," papar Leon.
"Wah, mulia sekali hati kamu, Le, ya sudah, kamu yang semangat ya, buang jauh-jauh pikiran negatif kamu, kamu fokus saja sama satu tujuan, yaitu mencari uang, untuk membahagiakan orang, yang sudah merawat kamu dari kecil."
"Iya, Jok, makasih ya supportnya."
Joko tersenyum dalam anggukannya.
"Ya sudah, sekarang kita tidur yuk, nih kebetulan aku sudah ngantuk," ajak Joko.
"Eh, tapi Franky gimana, Jok?" Leon terlihat cemas.
"Sudahlah, dia kan sudah dewasa, bisa jaga diri pastinya," ucap Joko santai.
"Bisa jaga diri gimana, Jok? Kamu kan tahu sendiri, kalau dia sudah berkali-kali mengalami kejadian aneh."
"Kejadian aneh gimana, Le?"
"Ya, seperti sukmanya terlepas, terus dia juga koma lama, dan masih banyak lagi deh."
"Ya itu kan dulu, sekarang beda, Le."
"Beda gimana, Jok?"
__ADS_1
"Sudah, Le, kamu tenang saja, si Franky nggak akan kenapa-napa kok, aku jamin deh."
"Ya sudah, kalau gitu, ayo kita tidur, kamu ngapain juga di sini sendiri, mau pacaran sama kucing kamu ya, hehe," ledek Leon.