Pulau Abadi

Pulau Abadi
Mencari Tulang Babi


__ADS_3

Adzan dzuhur berkumandang, Di kamar, Leon membuka matanya, dia pun terduduk, sambil celingukan.


Kemudian, Leon pun keluar kamar dan berjalan ke depan, di sana dia melihat Joko sedang duduk, dan Leon pun menghampirinya.


"Franky mana, Jok?"


"Ke pantai."


"Wah, pagi-pagi sudah mau menemui si hantu hutan itu," kelakar Leon.


"Ya gitu deh, eh makan dulu sana, tuh aku taruh di dapur makanannya."


"Nanti lah, Jok, lagi males makan," jawab Leon.


"Tumben, Le, biasanya kamu sudah ribut makan," ledek Joko.


"Hari ini aku nggak napsu makan, gara-gara tadi malam," ucap Leon.


"Memang tadi malam ada apa, Le?"


"Ah tempat kerjanya serem, Jok, aku sepertinya males ke sana lagi."


"Serem gimana, Le?" Joko mengerutkan keningnya.


Leon pun menceritakan kejadian semalam, ketika mendengar suara minta tolong di lantai delapan, dari apartemen tempat kerjanya.


"Hanya karna suara itu, terus kamu ingin berhenti bekerja?" tanya Joko dengan nada tegas.


"Iya, Jok, sepertinya tempat itu angker, aku mau cari pekerjaan lain saja," ujar Leon.


"Le, apa kamu masih belum paham, kalau ini pulau berhantu, kamu pindah-pindah kerja di beberapa tempat pun, sama saja, pasti tempatnya angker semua," jelas Joko.


"Terus, gimana dong, Jok?"


"Kalau kita berada di tempat angker, ya kita harus cari solusi, gimana cara mengatasinya, bukan terus pergi menghindari."


"Caranya gimana, Jok?"


"Ah kamu, Le, dijelaskan juga nggak akan paham. Begini saja, nanti malam, aku akan ikut kamu bekerja, nanti akan aku selidiki suara misterius yang kamu dengar itu."


"Wah, boleh deh, Jok, makasih sebelumnya."


"Iya santai saja, tapi aku harus cari tulang babi dulu."


"Hah? Tulang babi? Untuk apa Jok?" Leon pun ternganga.


"Konon, tulang babi dipercaya sebagai pengusir makhluk halus," ungkap Joko.


"Hah? Yang benar Jok, aneh-aneh saja," lirih Leon.


"Ya, namanya juga urusan hantu, ya pasti selalu aneh, Le," seloroh Joko.


"Iya juga ya, Jok, hehe." Leon terkekeh, kemudian menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Terus, kamu mau cari tulang babi di mana?" tanya Leon.


"Nanti aku akan tanya sama orang sini, rumah makan yang pengelolanya orang China."


"Oh, ya sudah, semoga saja kamu bisa dapatkan apa yang kamu cari, Jok," ujar Leon.


"Iya, Le."


"Ya sudah, aku keluar dulu, cari tulang babi, nanti malam kita bawa ke tempat kerja."

__ADS_1


"Oke deh Jok, hati-hati ya."


Joko mengangguk, kemudian berlalu dari hadapan Leon.


"Ah aku naik mobil saja, biar cepat," batin Joko.


Joko pun mengendarai mobil, dan berkeliling, mencari rumah makan.


Beberapa lama kemudian, mobil yang dikendarai Joko, berhenti di sebuah rumah makan masakan cina.


Joko pun turun, dan berjalan ke arah rumah makan tersebut, ketika dia memasuki rumah makan itu, seorang pelayan menghampirinya.


"Silahkan, Mas," sapa pelayan itu.


"Em, sebelumnya saya minta maaf, apakah di sini menyediakan menu daging babi?" tanya Joko.


"Oh, benar sekali," jawab pelayan itu.


"Kalau begitu, saya pesan menu daging babi, yang dimasak apa saja, sekalian saya minta tulangnya, apa bisa?"


"Buat apa?" pelayan itu merasa heran.


"Saya ingin sekali membuat kaldu dari tulang babi, karna saya pernah di kasih kaldu tulang babi sama teman saya, dan rasanya enak sekali, nah ini saya mau coba bikin sendiri."


Joko berbohong, dan sebenarnya dia hanya ingin meminta tulang babi saja, namun, karena tak enak hati, dia pun membeli satu porsi masakan daging babi.


"Oh, begitu, baiklah, di sini tulang babi nggak terpakai, dan saya akan memberikannya kepada anda," kata pelayan itu.


Kemudian, pelayan itu berjalan ke belakang, setelah dijawab dengan anggukan kepala Joko.


Setelah Joko menunggu cukup lama, pelayan itu keluar, dan menyerahkan sebuah bungkusan kepada Joko.


"Berapa semua?" tanya Joko.


Joko mengeluarkan uang dari saku celananya, dan memberikannya kepada pelayan itu.


Joko memang diberikan sejumlah uang oleh Franky, untuk berjaga-jaga ketika Joko pergi ke mana, dan ingin membeli sesuatu.


Setelah mengucapkan terimakasih, Joko pun berpamitan pulang. Sesampainya di penginapan, Joko turun dari mobil, dan masuk ke dalam.


"Dapat, Jok?" Leon menyambut kedatangan Joko.


Joko pun menceritakan, bagaimana dia bisa mendapatkan tulang babi tersebut, kepada Leon.


"Wah bagus deh, kalau sudah dapat."


"Iya, Le, dan ini ada masakan daging babi, apa kamu suka?"


"Wah, suka sekali, Jok," jawab Leon antusias.


Joko pun memberikan bungkusan berisi masakan daging babi, kepada Leon. Dan, Leon pun menerimanya, dia segera menikmati masakan daging babi yang diberikan oleh Joko.


Sedangkan Joko menyimpan bungkusan berisi tulang babi di suatu tempat, kemudian berjalan menghampiri Leon yamg sedang makan, dan duduk di sampingnya.


"Kamu nggak makan, Jok?" tanya Leon.


"Tadi sudah," jawab Joko.


"Pasti makan masakan misterius itu kan," kelakar Leon.


"Iya, Le, aku masih heran, sebenarnya siapa ya, yang mengirim masakan begitu banyak, setiap hari lagi."


"Iya ya, Jok, aku juga aneh," kata Leon.

__ADS_1


"Aku mau menyelidiki, tapi gagal terus," kata Joko.


"Memang bagaimana cara menyelidikinya, Jok?"


"Ya aku tuh, ingin sekali bangun pagi jam empat pagi gitu, terus mulai deh aku menyelidiki."


"Em, memang kenapa harus jam empat pagi?"


"Karna perempuan kalau masak, biasanya jam segitu, Le."


"Oh gitu," Leon pun mengangguk.


"Eh, tapi memang aneh juga ya, Jok, masa setiap hari, kita dikirim masakan, tapi kita sendiri nggak tahu, siapa yang mengirim masakan itu."


"Nah, maka dari itu, Le, aku pun heran."


"Memang kamu nggak bisa bangun jam empat pagi, Jok?"


"Susah, Le, jam segitu kan sedang ngantuk-ngantuknya," ujar Joko.


"Iya juga sih, aku sekarang, nggak pernah tidur malam, Jok."


"Ya iyalah, Le, kan kamu kalau malam kerja, dan tidurnya pagi."


"Nah, maka dari itu, aku kalau bangun siang, hehe."


"Ya sudah dihabiskan makannya, Le."


"Iya, Jok."


Leon segera menghabiskan makanannya, selesai makan, Leon membawa piringnya ke dapur, kemudian mencucinya sebentar. Setelah itu, dia kembali berjalan ke ruang depan, dan duduk di sebelah Joko.


"Kalau mau tidur lagi, juga nggak apa-apa, Le, biar nanti malam nggak ngantuk," kata Joko.


"Nantilah, Jok, baru saja bangun, nih malah perut aku penuh sekali."


"Ya jelas penuh, kamu makannya banyak, Le."


"Hehehe," lagi-lagi Leon hanya meringis.


"Si Franky sudah dari kapan ke pantai?" tanya Leon.


"Sehabis kita sarapan," jawan Joko.


"Tapi aku pernah dengar, kalau Franky bilang ...."


Ucapan Leon terputus.


"Bilang apa, Le?" tanya Joko penuh selidik.


"Em, kata Franky, si Rinjani itu, nggak pernah mau ditemui siang hari."


"Ya jelas lah, Le, Rinjani kan hantu, dan hantu itu takut sama sinar matahari, jadi mereka hanya keluar pada malam hari saja."


"Oh gitu," Leon mengangguk.


"Iya, Le."


"Ya sudah Jok, aku mandi dulu," kata Leon.


"Iya Le," sahut Joko.


Leon pun beranjak dari duduknya, dan berjalan ke kamar mandi, setelah sebelumnya meraih handuk yang berada di gantungan di depan kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2