
Sementara itu, Via sedang memasak di dapur, dia mencicipi masakannya.
"Kurang asin sedikit," batinnya.
Lalu Via keluar, hendak membeli garam di warung, setelah mematikan kompor terlebih dahulu. Namun semua warung sedang kehabisan stok garam dapur.
"Huft, masa sih warung-warung sini pada nggak ada garam, ya sudah deh, aku ke supermarket saja sekalian beli agak banyak, untuk stok selama beberapa bulan," gumam Via dalam hati.
Dia pun naik ojek menuju ke supermarket, saat sampai di depan supermarket, seseorang membungkam mulut Via, kemudian memapah paksa tubuh Via hingga masuk ke dalam mobil.
Bruggghhh!
Setibanya di sebuah tempat, Via diseret ke sebuah gudang, dan tubuhnya didorong, hingga terjatuh.
"Kau adalah peserta pendonor ginjal, yang tempo hari melarikan diri kan, sekarang, kau tidak akan bisa kemana-mana lagi, hahaha!"
Terdengar tawa menggelegar, dan ternyata dia adalah Anton pemilik salon ilegal itu, dia mengunci Via di dalam gudang yang berada di belakang salon.
Tap tap tap ....
Selang satu jam, Anton kembali lagi ke dalam gudang, diikuti oleh kedua anak buahnya, dia menatap intens ke arah Via.
"Hai, gadis cantik, aku akan membunuhmu, karna kehadiranmu sudah membuat semua orang mencurigaiku, dan aku yakin, kau pasti sudah menyebarkan informasi tentang usahaku kan? Untuk itu, aku akan menyingkirkanmu, dan setelah aku membunuhmu, tentu saja aku akan mengambil kedua ginjal milikmu, dengan ginjal itu, aku bisa menghasilkan uang hingga ratusan juta, hahaha!" tawa Anton menggelegar.
Via tampak ketakutan, wajahnya berubah menjadi pucat pasi, dan kedua anak buahnya membekap mulutnya, supaya tak bersuara.
"Aku akan menyuntikan cairan pemicu serangan jantung ke tubuhmu, supaya orang-orang mengira kau mati karna serangan jantung, dengan begitu aku bebas dari incaran polisi."
"Mas Franky, tolonglah aku ...." Via membatin.
Do tempat lain ....
Praaaang!
Sebuah piring terlepas dari tangan Franky ketika dia akan mengambil nasi, dan menempatkan ke piring yang dipegangnya di rumah Joko.
"Kamu kenapa, Fran?" tanya Joko terlihat panik, sedangkan Nawang dan Nila saling berpandangan, kemudian mengangkat kedua bahunya.
"Nggak tahu Jok, tiba-tiba perasaanku kok nggak enak gini ya."
Joko terdiam untuk beberapa saat ....
"Aku pulang saja Jok, maaf ya sudah memecahkan piring."
"Iya, nggak apa-apa Fran, em ... apa nggak sebaiknya, kamu makan dulu?"
"Enggak Jok, aku mau pulang saja."
Franky pun berjalan pulang ke rumahnya, dia mencium aroma masakan dari arah dapur, dia pun berjalan ke dapur, betapa terkejutnya dia tak mendapati Via di sana, hanya masakan yang baru setengah matang saja yang dilihatnya.
"Via kemana ya? Kenapa nggak pamit."
Franky pun berlari kembali ke rumah Joko.
__ADS_1
"Jok, Via nggak ada."
"Lho, memang kemana?"
"Nggak tahu Jok, tapi perasaanku benar-benar nggak enak."
"La, coba kamu terawang Via, ada di mana dia?" titah Joko sambil menatap ke arah Nila.
Nila mengangguk, dia pun memejamkan matanya, tak lama di membuka mata.
"Gawat, Via diculik oleh pemilik salon itu."
"Hah? Anton maksud kamu?" Franky terbelalak.
"Ya mungkin itu namanya, dia disekap di sebuah gudang, sepertinya di belakang salon itu," papar Nila.
"Keterlaluan! Benar-benar nggak bisa dibiarkan!" seru Franky dengan geram.
"Sabar, Fran ...." Joko mencoba menenangkan.
"Ayo kita ke sana."
"Tunggu! Sebaiknya aku saja yang ke sana, kalian tunggu di sini saja, jangan ramai-ramai ke sana, karna kita tak tahu, bagaimana situasi di sana, yang aku takutkan, nyawa Via bisa terancam kalau Anton melihat kedatangan kalian," cegah Nila.
Franky dan Joko saling berpandangan, kemudian Joko mengangguk, memberi isyarat kepada Franky untuk menuruti ucapan Nila. Franky pun akhirnya mengangguk pasrah.
****
Sementara di dalam gudang, ketika Anton hendak menyuntikan cairan pemicu serangan jantung ke tubuh Via, angin berhembus kencang menerpa tubuh Anton dan kedua anak buahnya.
"Ada apa ini?"
"Nggak tahu Bos, seperti ada angin beliung," kata salah satu anak buahnya.
"Ah, jangan ngaco kamu, ini bukan musimnya."
"Tapi kan, angin itu dapat bertiup kapan saja, bos."
"Sudah, jangan banyak bicara!" Anton terlihat geram.
Kini Nila telah berdiri di hadapan mereka, namun keberadaannya tak dapat dilihat oleh Anton dan kedua anak buahnya, begitu juga Via.
Nila terlihat meniupkan sesuatu ke arah Anton dan anak buahnya, dan dalam sekejap saja, Anton dan anak buahnya tak sadarkan diri.
Kemudian Nila menampakkan diri di hadapan Via.
"Siapa kamu?" Via mengerutkan keningnya.
"Namaku Nila dan aku akan menolongmu, jangan takut, nanti Franky akan menjelaskan kepadamu, siapa aku."
Via mengangguk, kemudian Nila memapah tubuh Via, dan dalam sekali kerjapan mata, kini mereka telah berada di rumah Joko.
Franky segera menghampiri Via, dan memeluknya. "Kamu dari mana saja, Vi?"
__ADS_1
"Tadi masakanku kurang asin, dan garam di dapur habis Mas, jadi aku ke warung, tapi semua warung pada kehabisan stok garam, terus aku ke supermarket deh, aku pikir akan membeli garam yang banyak sekalian, untuk stok beberapa bulan."
"Kenapa nggak pamit sama aku Vi, aku benar-benar cemas, ketika tahu kamu nggak ada di rumah."
"Ya, aku pikir hanya dekat saja Mas, tapi nggak tahu tiba-tiba ada yang menculikku."
"Benar-benar sudah keterlaluan si Anton itu."
"Sabar, Fran." Joko kembali menenangkan.
"Tapi kamu nggak di apa-apakan, Vi?" tanya Franky.
"Justru kalau Nila nggak cepat datang, aku sudah mati, karna si Anton hampir saja menyuntikkan cairan pemicu serangan jantung."
"Benar-benar sudah gila Anton itu, lihat saja, akan aku bunuh dia!" Franky terlihat sangat geram.
"Sabar Mas," sela Nawang.
"Iya Fran, kamu jangan terbawa emosi, kita harus bertindak dengan rapi, seperti Anton, dia bermain rapi, nah kita juga harus bertindak rapi."
Franky pun pasrah. "Kamu sudah makan belum, Vi?"
"Belum, Mas." Via menggeleng lemah.
"Ajak dia makan di belakang sana, Fran, kamu juga ikut makan, tadi kan belum jadi," sambung Joko.
"Oke, Jok." Franky menuntun Via ke dapur, dia mengajak Via makan bersama.
"Makan yang banyak, Vi."
"Iya Mas, maaf ya Mas, aku sudah membuat kamu khawatir."
"Kamu nggak salah Vi, memang Anton tuh iblis, dia sudah menghilangkan nyawa banyak orang."
"Ya Mas, kita berdoa saja, semoga dia jera."
"Orang seperti dia nggak akan pernah jera, kalau belum dapat balasan dan hukuman yang setimpal."
"Oh ya Mas, Nila itu siapa?"
Deg!
Jantung Franky berdetak seketika mendengar pertanyaan Via.
"Eh, dia itu temannya Joko, dia Bidadari, bisa menghilang, makanya dia bisa menolong kamu."
"Bidadari?"
"Ya."
"Jaman secanggih ini, masih ada makhluk gaib di bumi ini," lirih Via.
"Lah, jangankan bidadari, hantu saja masih ada, Vi."
__ADS_1
"Kalau hantu sih, dari dulu memang sudah ada, Mas ... tuh di belakang kamu juga ada," tunjuk Via.
Franky menoleh ke belakang.