Pulau Abadi

Pulau Abadi
Keanehan di Rumah Makan


__ADS_3

Selesai mandi, Franky berpakaian kemudian duduk di teras depan rumahnya.


Tak lama Roy menghampirinya.


"Kamu sedang apa, Fran?" sapa Roy.


"Eh kamu Roy, ini lagi santai saja."


Roy duduk di sebelah Franky.


"Sudah wangi nih, mau kencan, ya?" kelakar Roy.


"Enggak kok, Roy, aku gerah jadi mandi."


"Oh gitu, oh iya kok si Nila nggak pernah main kesini lagi, ya?"


"Kan, aku sudah bilang, kalau dia sudah punya suami, kalau keseringan main kesini, nanti suaminya bisa curiga, dikira ada main sama aku lagi."


Roy terkekeh.


"Kamu kok tanya si Nila terus sih, jangan-jangan kamu suka ya sama dia," kelakar Franky.


Wajah Roy merah padam.


"Enggaklah, Fran, aku hanya tanya saja, memangnya nggak boleh?"


Franky menahan tawa, dia tahu bahwa Roy sedang berbohong.


"Eh.. kamu lapar nggak Roy?"


"Lapar Fran, hehe."


"Ya sudah, ayo kita cari makan, aku bayarin."


"Wah baik sekali kamu, Fran."


"Ya sekali-kali nggak apa lah Roy."


"Sering-sering juga nggak apa-apa kok Fran."


Mereka berdua pun tertawa.


Kemudian Franky melajukan mobilnya menuju ke rumah makan.


"Kita mau makan di mana, Roy?"


"Ngikut kamu sajalah, Fran, kan kamu yang ajak."


"Maksudnya, kamu ingin makan apa hari ini?"


"Em apa ya, nggak tahu ah, Fran, aku jarang makan di rumah makan, setiap hari aku makan masakan ibuku."


"Kamu enak Roy, tiap hari ada yang masakin, nah.. aku nggak punya siapa-siapa, jadi nggak ada yang masak buat aku, hehe."


"Makannya, cepat cari istri Fran, biar ada yang melayani kamu, sebentar lagi musim hujan lho, tentunya cuaca pasti sangat dingin."


"Ah, kamu itu pinter mojokin aku, padahal kamu sendiri juga belum nikah, haha!"


Roy tersipu.


"Hehe, iya Fran, ini aku sedang mencari."


Tak lama sampailah mereka di sebuah rumah makan.


Mereka berdua turun dan masuk ke dalam, namun Roy merasakan keanehan pada tempat itu.


"Fran, kamu yakin, kita akan makan di sini?"

__ADS_1


"Memangnya kenapa, Roy? Apa kamu mau cari tempat lain?"


Roy merasa tak enak hati terhadap Franky.


"Eh enggak, Fran, disini juga nggak apa-apa, hanya saja perasaanku nggak enak."


"Ah.. hanya perasaan kamu saja Roy."


Sampai di dalam rumah makan, Franky merasa heran, karena tempat itu sepi.


"Kok sepi ya? Penjualnya juga nggak ada."


"Mungkin belum ada pembeli, jadi dia tinggal kebelakang sebentar."


"Permisi!" sapa Franky setengah berseru.


Berkali-kali Franky mengucap salam, namun pemilik rumah makan itu tak kunjung keluar.


"Tutup mungkin, Fran, maksud aku nggak jualan."


"Tapi itu ada ayam sama buah-buahan tertata rapi, kalau pun memang libur, pasti tutup tempatnya."


"Kita cari tempat lain saja yuk, perasaanku tambah nggak enak nih."


"Kamu kenapa sih, Roy? Dari tadi sepertinya gelisah."


"Tempat ini serem, Fran, kita pergi yuk."


Seketika angin dingin berhembus cukup kencang, dan menerpa wajah Roy, dan seketika itu juga bulu kuduk Roy merinding."


"Ya sudah Roy, kita cari tempat lain deh kalau begitu."


Baru selangkah mereka berdua berjalan, sebuah suara sedikit serak mengejutkan mereka.


"Mau makan apa?"


Mereka berdua menoleh, terlihat seorang wanita telah berdiri di belakang mereka, wajahnya pucat.


Wanita itu berjalan masuk di ikuti Franky dan Roy.


Frankuly dan Roy duduk, wanita itu menyodorkan sebuah buku daftar menu ke arah mereka berdua, dan diterima oleh Franky, ketika mengambil buku menu dari tangan wanita itu, tangan Franky tak sengaja menyentuh tangan wanita itu.


"Kok dingin sekali tangannya," batinnya.


Namun Franky tak mempedulikan hal itu.


Franky terlahir sejak bayi sudah mempunyai sixth sence, untuk itu dia dapat merasakan kehadiran makhluk tak kasat mata, namun mata batinnya tertutup, maka dari itu dia hanya dapat merasakannya namun tak dapat melihat, dia hanya dapat melihat makhluk gaib yang menjelma menjadi manusia saja.


Kendati demikian, Franky tak menyadari akan hal itu, dia pun tak pernah mengetahui kalau dia mempunyai kelebihan yang dapat melihat makhluk gaib.


"Kamu mau makan apa, Roy?" tanya Franky sambil membuka buku daftar menu tersebut.


"Ada bebek goreng, nggak?"


"Ada nih, Roy, kamu mau?"


Roy mengangguk.


"Ya sudah, aku juga bebek goreng deh."


Franky menulis pesanannya di selembar kertas, kemudian memberikannya kepada wanita penjual tersebut.


Beberapa saat ketika mereka sedang menunggu pesanannya, tiba-tiba Roy mencium bau anyir.


"Bau apa nih, Fran?"


"Bau apa, Roy?" tanya Franky sambil mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Masa kamu nggak mencium bau busuk."


"Enggak tuh, Roy."


Tak lama, pesanan mereka datang.


"Ayo Roy, di makan enak nih."


Roy memperhatikan sejenak bebek goreng di hadapannya, dia merasa seperti ada yang tak beres.


"Fran, sepertinya bau busuknya berasal dari bebek ini deh, ini seperti bebek yang sudah mati terus di masak."


"Ah kamu Le, jangan ngaco deh, ini bebek lezat kok," ujar Franky sambil memakan potongan bebek goreng itu."


Mendadak perut Roy seperti di aduk-aduk karena bau busuk yang dia cium bertambah menyengat.


Tak tahan akhirnya Roy memuntahkan isi perutnya di lantai bawah di samping Framky duduk.


"Ah kamu Roy, bikin nafsu makanku hilang saja."


"Maaf, Fran, aku mual sekali."


"Memangnya berapa bulan?"


"Apanya, Fran?"


"Lho, kamu bilang katanya mual, apa kamu sedang hamil?"


Roy mencubit lengan Franky, dan Franky pun meringis.


"Kamu ini, orang sedang tegang malah kamu bercanda terus," cibir Roy.


"Hehe, lagian kamu dari tadi nggak jelas sekali, di ajak makan bukannya senang malah ketakutan.


Roy terdiam.


"Sepertinya Franky nggak peka sama makhluk halus, percuma juga aku menjelaskan, sepertinya dia tak bisa merasakan apa-apa, huft beruntung juga jadi dia, sedangkan aku bisa merasakan kehadiran mereka, walaupun aku nggak bisa melihatnya," batinnya.


Tiba-tiba angin berhembus lagi menerpa wajah Roy, dan seketika itu pula bulu kuduk Roy kembali meremang.


"Sial, lagi-lagi aku merinding," batinnya lagi.


"Maaf ya, Fran, aku nggak bisa makan, kamu kalau mau marah silahkan, tapi perutku mendadak mual, mungkin asam lambungku naik," Roy berbohong.


"Iya nggak apa-apalah, Roy, aku kan hanya mengajakmu makan saja."


Selesai makan, Franky membayar makanannya, termasuk bebek goreng milik Roy yang tak dimakan.


Setelah membayar, Franky mengajak Roy pulang.


Di tengah perjalanan, mobil yang di kendarai Franky terasa berat.


"Sebagai gantinya, kita cari tempat lain yuk, kamu mau makan apa?"


"Sudahlah, Fran, kita pulang saja, lain waktu lagi kan bisa."


"Ya sudahlah, Roy, aku minta maaf ya, kamu jadi nggak bisa menikmati makanannya."


"Nggak apa-apa, Fran, santai saja."


"Eh Roy, kok mobilnya seperti berat sekali ya?"


"Oh iya, Fran, apa bannya bocor?"


"Nggak tahu juga, Roy, sebentar aku akan periksa."


Franky turun dari mobilnya, dia mengecek ban mobilnya satu persatu, namun semuanya normal, dia pun memeriksa semua mesinnya, dan normal juga.

__ADS_1


"Aneh, kenapa mobilnya jadi berat ya, padahal normal semua," gumam Franky dalam hati.


Halo para Readers yang setia, terimakasih sudah mampir di karyaku, mohon maaf bila terlambat up, karna bulan puasa author super sibuk 🙏


__ADS_2