
"Eh, Jok, kalau si Franky kan, kamu bilang dia punya indera ke enam ya?"
"Iya, Le, tapi sepertinya tertutup."
"Maksudnya bagaimana, Jok?"
"Dia itu mata batinnya tertutup, Le, jadi dia hanya bisa melihat hantu, yang menjelma menjadi manusia saja, ya seperti hantu Rinjani itu, dia kan menampakkan dirinya di depan Franky dengan wujud manusia biasa."
Leon pun mengangguk, mendengarkan ucapan Joko dengan seksama.
"Si Franky itu suka melamun, Le, jadi gampang dipengaruhi sama roh halus."
"Tapi, sepertinya melamun sudah menjadi hobi bagi Franky, karna sudah dinasehati berapa kali pun, masih tetap suka melamun."
"Ya maka dari itu, susah kalau gitu, Le."
Tak terasa, adzan subuh pun berkumandang.
"Wah sudah subuh, Jok, cepat sekali ya."
"Iya nih, Le."
"Yuk jalan-jalan," ajak Joko.
"Nanti lah Jok, masih dingin, gelap juga."
"Yah, namanya juga jalan-jalan pagi, ya masih gelap, masih dingin, kalau sudah terang dan panas, itu namanya bukan jalan-jalan pagi, tapi berjemur, hahaha!" lagi-lagi Joko terbahak.
"Bentar lagi, Jok, tunggu Franky bangun."
"Kapan dia bangun, Le?"
"Nanti, biasanya sekitar jam enam."
"Ya sudah, kita tunggu dia bangun saja.
"Mau jalan-jalan kemana, Jok?"
"Ke hutan itu, mau?"
"Hah? Tempat tinggal Rinjani?"
"Memang kenapa? Kalau kamu takut, buar aku sama Franky saja."
"Yeee, aku nggak mau di tinggal sendiri, Jok, dari pada aku dengar suara orang nangis di dalam gudang itu, ya lebih baik aku ikut kamu."
"Ya sudah sana mandi atau cuci muka, Le, sambil nunggu si Franky bangun."
"Ah nanti saja lah, Jok, malas aku, masih dingin."
"Bilang saja kamu takut, Le, hehehe."
Leon tersipu, dia memang takut ke kamar mandi sendiri, karena itu artinya, dia harus melewati gudang itu, namun, dia malu untuk minta diantar Joko, Leon berpikir, kalau Joko pasti akan mengolok-olok nya.
Tak terasa, waktu pun menunjukan pukul enam pagi, langit terlihat terang, burung-burung berkicau dengan merdunya, selang-seling sahutan ayam, membangunkan orang-orang yang masih terlelap.
****
Sementara itu, Franky mengulet, perlahan dia membuka matanya, kemudian, dia menyibakkan selimutnya, dan duduk di atas kasur.
"Sudah bangun kamu, Frank?" sapa Leon.
Franky menoleh ke arah Leon. "Eh kamu, Le, bangun jam berapa kamu?"
"Jam dua, Fran?"
"Hah? Jam dua malam?" Franky terbelalak.
__ADS_1
"Iya, Le, sama si Joko nih."
"Kamu begadang, Le?"
"Ya mau bagaimana lagi, Fran, bangun jam segitu, terus nggak bisa tidur lagi."
"Berarti kalian jagain aku tidur ya?"
"Dih, ngapain juga jagain kamu tidur, seperti bayi saja," kelakar Joko.
Franky terkekeh.
"Mandi sana, Fran, kita jalan-jalan ke rumah Rinjani."
Franky terkesiap, mendengar ucapan Joko. "Rinjani siapa, Jok?"
"Pura-pura nggak tahu lagi, ya Rinjani pacar kamu lah, Fran."
"Memang kamu kenal sama dia, Jok?"
"Bukan hanya sekedar kenal, Fran tapi dia itu teman aku," kata Joko, sambil mengedipkan sebelah matanya, ke arah Leon.
Leon pun paham maksud Joko.
"Memang rumah Rinjani di mana, Jok?"
"Ya di dekat pantai itulah, memang di mana lagi? Kamu kalau bertemu dia, juga di sana, kan?"
"Iya juga sih, hehe," kekeh Franky.
"Ya sudah, kamu mandi dulu, Fran, terus giliran aku," sambung Leon.
"Oke, Le, aku mandi dulu ya, Jok."
Kemudian, Franky mandi, dan selesai mandi, Franky kembali ke dalam kamarnya, lalu giliran Leon, yang akan mandi.
Suasana di luar ruangan, masih mencekam.
Leon melewati gudang itu, selangkah demi selangkah, hingga akhirnya sampai di depan kamar mandi.
Krieeettt ....
Leon membuka pintu, dan masuk ke dalamnya.
Di dalam kamar mandi itu, Leon melihat bak air berukuran kecil, dengan air yang sudah berkurang, dan kini hanya tinggal setengahnya. Leon pun membuka kran airnya.
Syuuuurrrr ....
Air pun mengalir, kemudian Lon membuka baju, dan menaruhya tepat di belakang pintu kamar mandi, bersebelahan dengan handuk.
Byuuuurrrr ....
Leon pun mengguyur tubuhnya, dinginnya air pagi hari itu, membuat tubuh terasa segar.
Selesai mandi, Leon membalikkan tubuhnya, hendak mengambil handuk. Namun betapa terkejutnya dia, ketika handuk yang digantung di belakang pintu kamar mandi, tiba-tiba menghilang.
"Lho, mana ya handuknya? Perasaan, tadi aku taruh di sini," gumam Leon dalam hati.
Leon menoleh ke lantai, dia pikir kalau kemungkinan, handuknya jatuh, namun tak terlihat sedikitpun.
"Mana sih handuknya? Masa iya diambil sama hantu? Ah pagi-pagi begini memangnya sudah ada hantu?"
Karena bingung, handuk itu tak kunjung ketemu, Leon pun mencari cara supaya dia bisa keluar dari kamar mandi itu, tanpa membuat baju gantinya basah, dia pun tak mau, kalau keluar hanya memakai celana kolor saja.
"Jok? Joko! Fran, Franky!" Leon berteriak, memanggil kedua temannya, yang berada di kamarnya.
Sementara itu, di dalam kamar, Franky dan Joko, seperti mendengar suara orang memanggil mereka.
__ADS_1
"Eh, Jok, kamu dengar nggak?"
"Iya, suara Leon panggil-panggil kita."
"Kenapa ya?"
"Nggak tahu, Fran, mungkin dia lihat hantu."
"Hah? Hantu? Ah kamu ada-ada saja Jok."
"Ya sudah aku lihat dulu, Fran."
Joko pun keluar kamar, dan berjalan menuju ke kamar mandi.
"Ada apa sih, Le? Teriak-teriak segala?"
"Jok, handuknya hilang, apa di kamar, masih ada handuk?"
"Hah? Handuk kok bisa hilang?"
"Nggak tahulah, Jok, mungkin diambil sama hantu."
"Hantu apa, Le? Masih pagi ini, hantunya belum pada bangun, kalau siang juga nggak berani, mereka takut panas kali, Le."
"Lah buktinya handuknya tiba-tiba nggak ada, Jok."
"Ya sudah, aku carikan lagi."
Joko kembali berjalan ke kamarnya, ketika melewati gudang, Joko menoleh, dan betapa terkejutnya dia, melihat sebuah handuk tergantung di handle pintu gudang tersebut.
Joko pun meraih handuk itu, dan mencoba menerawang sesuatu.
"Hem, dasar hantu, masih pagi sudah main umpet-umpetan handuk."
Kemudian, Joko berjalan ke arah kamar mandi
"Nih, Le, handuknya."
Leon pun membuka sedikit, pintu kamar mandi itu, dan meraih handuk yang diberikan oleh Joko.
"Lho, ini kan handuk yang tadi, Jok? Kamu dapat dari mana?" Leon merasa heran.
"Ada di kamar, kamu pasti lupa, bilang hilang, padahal nggak dibawa."
Joko sengaja berbohong, supaya temannya itu tak merasa takut.
"Ah masa sih, Jok, perasaan aku ke sini bawa handuk, terus aku gantungin di belakang pintu."
"Itu buktinya, ada di kamar."
"Aneh sekali, perasaan, aku tadi bawa nih handuk." gumam Leon lirih, namun masih bisa di dengar oleh Joko.
"Sudah nggak perlu protes terus, yang penting handuknya kan sudah ketemu, dari pada handukan pakai baju, keringnya lama," kelakar Joko.
"Ya sudah makasih ya, Jok," sahut Leon, dari dalam kamar mandi.
"Oke."
Kemudian, Joko pun kembali ke dalam kamar. Dan tak lama, Leon pun masuk ke dalam kamar.
"Wah sudah seger kamu Le," celetuk Franky.
"Iya nih, Fran, ya sudah sekarang kamu mandi sana, terus giliran Joko."
Franky pun mengangguk, kemudian berjalan ke arah kamar mandi, dan melaksanakan ritual mandinya.
Setelah Franky selesai mandi, kini giliran Joko yang mandi, mereka memakai baju yang diberikan oleh Bento.
__ADS_1