
Agung terus berlari, tanpa sadar kakinya tersandung sebuah batu, dia pun terjatuh dan seketika pandangan menjadi gelap, Agung pun tak ingat apa-apa lagi.
Pagi hari di sebuah rumah sewa, Joni terlihat gelisah.
"Kenapa Agung belum pulang juga ya, kemana dia sebenarnya," gumam Joni dalam hati.
Dia menyusul ke Pantai dan mencari keberadaan temannya itu, satu jam dia berada di Pantai itu namun Agung tak nampak batang hidungnya.
Joni mulai putus asa, akhirnya dia pun pulang, di tengah jalan, dia bertemu dengan kyai Toha.
"Dari mana anak muda? tanya Kyai Toha.
"Eh itu, saya habis mencari teman saya Agung Pak, dari semalam nggak pulang," jawab Joni.
Kyai Toha mengerutkan keningnya.
"Saya kan sudah bilang, jangan masuk ke dalam hutan itu, berbahaya, tapi temanmu itu keras kepala sekali," kata Kyai Toha.
"Iya pak, saya juga sudah mengajak dia pulang tapi dia nggak mau, malah tetep masuk ke hutan itu," jawab Joni dengan nada datar.
"Ya sudah, nanti malam saya akan bantu mencari, sekarang, kamu silahkan pulang dan diam diri di rumah, jangan pergi ke Pantai dulu sampai teman kamu di temukan," kata Kyai Toha.
"Baik pak," sahut Joni.
Joni pun akhirnya kembali ke rumah sewanya dengan perasaan tidak menentu.
"Kemana si Agung sebenarnya, apakah dia sudah bertemu dengan perempuan itu, ck, ck, ck, Gung, kamu ini di rumah sudah punya anak dan istri, tapi masih saja suka bermain sama perempuan lain," Joni mengelus dadanya yang bidang.
Malam hari, ketika Joni sudah terlelap dalam tidurnya, terdengar suara pintu di ketuk, Joni terbangun dari tidurnya.
"Siapa yang ketuk-ketuk pintu malam-malam begini, jangan-jangan itu Agung?" tanya Joni dalam hati.
Joni bergegas keluar kamar, dan membukakan pintu rumah itu.
Di ambang pintu, Joni melihat Agung berdiri dengan pakaian serba putih, wajahnya pucat.
Seketika hawa dingin menyeruak masuk dan menerpa wajah Joni, tapi Joni tak menyadari hal itu.
"Agung! Dari mana saja kamu?" seru Joni dengan nada gembira.
Agung diam tak menjawab, dia langsung berjalan masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu.
"Kenapa dia? Ah mungkin dia capek, ya sudahlah biar dia istirahat saja," batin Joni.
Pagi hari Joni bangun dan berjalan ke dapur, dia memasak mie instan untuk sarapannya.
Selesai sarapan dia duduk di ruang depan sambil menghisap rokok di tangan, tak terasa hari telah menjelang siang.
"Kenapa Agung belum bangun ya," gumam Joni.
Joni pun menuju ke kamar Agung dan mengetuknya, tidak ada jawaban, Joni kembali mengetuk pintu berkali-kali, namun hening, akhirnya dia membuka pintu kamar itu.
"Nggak di kunci?" gumam Joni.
__ADS_1
Joni terkejut saat mendapati Agung tak berada di kamarnya.
Dia bingung, dan mencari ke setiap sudut ruangan yang ada di dalam rumah yang di tempatinya.
"Ke mana lagi si Agung, kok nggak bilang-bilang," gumam Joni lirih.
"Jangan-jangan dia menemui perempuan itu lagi di pantai, sebaiknya aku kesana saja."
Joni pun berjalan menuju ke Pantai.
Saat tiba di pesisir Pantai, Joni melihat banyak orang yang berkumpul di tengah pantai.
Joni penasaran, dia pun mendekati kerumunan orang-orang tersebut.
Setelah mendekat, kedua bola mata Joni membulat, jantung berdetak kencang, nafasnya memburu, dia benar-benar tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Tepat di dekat pesisir pantai, ada seonggok mayat dengan posisi tubuh tertelungkup, tanpa sehelai benang pun menempel di tubuhnya.
"A.. A.. Agung!" Joni berteriak histeris mengetahui siapa mayat tersebut.
Joni pun menangis di dekat mayat Agung.
"Kamu yang ikhlas, temanmu sudah menjadi tumbal penghuni hutan itu," kata kyai Toha yang berada di antara kerumunan orang banyak itu.
Mayat Agung di bawa pulang, dan di mandikan oleh pengurus jenazah, setelah didoakan dan di balut kain kafan, Joni memesan travel, dia membawa dan mengantarkan jenazah Agung pulang ke tempat asalnya.
Sementara itu di dunia gaib, terjadi perdebatan antara Raja Jin dan Rinjani.
"Sampai kapan kau akan mengambil nyawa manusia-manusia, yang tak tahu apa-apa itu, anakku."
"Berhentilah mencari tumbal para manusia itu anakku, kasihan mereka," kata Raja Jin.
"Tidak bisa Romo, karena ini sudah menjadi perjanjian saya dengan Sang Penguasa Pantai.
Sebenarnya saya sangat mencintai Franky, dan dia hampir menjadi bagian dari hidup saya, dengan begitu saya akan berhenti mencari tumbal para lelaki setiap tahunnya, tapi sayangnya Franky justru pergi meninggalkan saya, jadi saya akan terus mencari tumbal sesuai perjanjian yang berlaku supaya saya tidak punah," papar Rinjani.
Raja Jin hanya diam kemudian pergi meninggalkan Rinjani.
Dan Rinjani pun tertawa puas.
"Franky, saya masih menunggu kedatangan anda," gumam Rinjani.
****
Di kediaman rumah Leon, suara Rinjani seakan terdengar sampai ke telinga Franky yang sedang berada di rumah Leon.
"Seperti ada yang memanggilku," pikir Franky.
"Setelah buku-buku kamu lulus, apakah kamu akan terus menulis Fran?" tanya Leon.
"Kamu ini bagaimana sih Le, aku itu penulis, ya sudah pasti kerjanya menulis dan menulis dong," tegas Franky.
"Hahaha, santai kawan, aku hanya mencairkan suasana, supaya kamu nggak tegang," kata Leon sambil terbahak.
__ADS_1
Franky pun tersenyum.
"Nah gitu dong senyum, muka dari tadi kusut terus," kata Leon.
"Entahlah Le, aku sangat lelah dengan kejadian-kejadian yang sudah aku alami," sahut Franky.
"Di bawa santai saja lah, Fran, biar nggak stress kamu," hibur Leon.
"Iya Le, terimakasih ya, kamu sudah sabar menghadapi aku," kata Franky.
"Kamu ini Fran, seperti baru kenal saja sama aku," kata Leon.
Akhirnya mereka berdua tertawa lepas.
"Aku akan membuat novel baru, tapi apa ya? Apakah aku harus ke Pulau Abadi lagi? Karna jujur saja di tempat itu aku bisa mendapatkan banyak inspirasi."
"Ya terserah kamu saja Fran, tapi maaf ya, kalau kamu kesana lagi, aku nggak bisa ikut, aku juga sudah trauma sama kejadian aneh di tempat itu."
"Sama Le, aku juga males sih kesana lagi, eh kamu tahu nggak tempat yang tenang dan asik selain Pulau Abadi?"
Leon tampak berpikir sejenak.
"Ada Fran, aku baru ingat, ada sebuah tempat yang nyaman, tenang dan damai, aku yakin kamu pasti bisa dapat inspirasi lagi di tempat itu!" ujar Leon antusias.
"Tempat apa itu Le? "
"Lembah Ilusi, Fran."
"Hah? Namanya aneh sekali."
"Ah, nggak aneh kok."
"Apa kamu mau mengantar aku kesana?"
"Tentu saja mau, lagian aku belum dapat kerja, di rumah terus bosan, nggak punya aktifitas apa pun."
"Tapi kamu sudah pernah kesana atau belum Le?"
"Pernah sekali di ajak teman, tapi hanya sebentar saja, jadi nggak tahu lebih detail deh, tempat nya seperti apa, tapi ramai sih tempatnya."
"Berarti kamu mau mengantarku?"
"Iya Fran, pasti aku antar kok, memangnya kapan kamu akan ke tempat itu?"
"Besok aku kasih kabar Le."
"Okelah, kabarin saja."
"Ya sudah, aku pulang dulu ya Le."
Leon pun mengangguk.
"Hati-hati."
__ADS_1
"Iya Le."
Franky pun mengemudikan mobilnya dan pulang ke rumah.