
Sesampainya di rumah, Franky segera memasukan mobilnya ke garasi kemudian dia masuk ke dalam rumahnya.
Franky duduk sejenak di sebuah kursi yang berada di ruang depan, tiba-tiba tenggorokannya terasa haus. Franky pun berjalan ke dapur mengambil air putih dan meminumnya.
Sampai di dapur, Franky dikejutkan oleh sosok berwajah pucat dengan surai terurai. Sebagian menutupi wajahnya dan mata yang berwarna merah menyala. Sosok itu menyeringai ke arah Franky.
"Rindi! Kamu itu kebiasaan! Selalu mengagetkan saja," seru Franky, ternyata sosok itu adalah hantu Rindi.
"Bagaimana? Apa kau sudah siap?" tanya hantu Rindi.
"Siap? Siap untuk apa?" tanya Franky keheranan.
"Kita akan ke pulau abadi, menguak sejarah tentang Rinjani," jawab hantu Rindi, sambil duduk di atas wastafel.
"Oh itu, ya nggak masalah. Terus, setelah kita mengetahui cerita tentang Rinjani, apa yang akan kita lakukan? Ataukah kita hanya sekedar ingin mengetahuinya?" tanya Franky.
"Tentu saja enggak, kalau hanya sekedar ingin tahu, aku rasa kamu sudah tahu, kalau Rinjani itu adalah jin pulau abadi, tujuan kita ke pulau abadi, kita juga akan memusnahkan rakyat-rakyatnya."
"Memusnahkan rakyatnya? Bagaimana caranya, Rin?"
"Nah, untuk itu, kita harus bekerja sama."
"Bekerja sama?" Franky semakin tak paham dengan apa yang di bicarakan oleh hantu Rindi.
"Ya, bekerja sama, kita harus mengumpulkan orang-orang indigo, yang juga mempunyai kekuatan menghadapi makhluk gaib."
"Tapi siapa?" tanya Franky sambil mengerutkan keningnya.
"Apa kamu nggak tahu, di sini ada banyak sekali manusia indigo?"
Franky menggeleng pelan dan hantu Rindi pun tampak kesal.
"Huft, apakah kamu jarang bergaul dengan manusia-manusia di sekitar sini?"
"Entahlah, sejak kematian istriku, aku jadi malas berkumpul sama orang-orang."
Hantu Rindi pun menatap iba ke arah Franky.
__ADS_1
"Maaf ya, kalau aku jadi mengingatkanmu sama almarhum istri kamu."
"Nggak perlu menyalahkan dirimu sendiri Rin, buat apa kamu minta maaf? Kamu nggak salah, aku hanya menjelaskan saja."
"Ya sudah, kapan kamu siap ke pulau abadi?"
"Satu minggu lagi, setelah aku menerima honor dari buku terbaruku," jawab Franky antusias.
"Ya sudah, sebelumnya aku juga akan berkomunikasi sama manusia indigo yang ada di sini, apakah mereka mau aku ajak bekerja sama."
"Terus, misalkan mereka semua nggak mau, bagaimana?" tanya Franky.
"Nggak masalah, aku akan menghadapinya sendiri," jawab Rindi ketus.
"Memangnya, kita harus ke pulau abadi lagi ya?" tanya Franky lagi.
"Apa kamu mau, seumur hidupmu diganggu sama makhluk halus? Bukankah kamu sudah merasakan sendiri, sejak kamu pulang dari pulau itu, kamu selalu di ganggu sama mereka kan? Dan kamu selalu mengalami kejadian-kejadian aneh?"
Franky tampak berpikir sejenak ...
"Betul juga ya."
"Kalau Rinjani dan rakyatnya kita musnahkan, apakah itu artinya aku sudah terbebas dari gangguan makhluk itu?" tanya Franky penuh harap.
"Tentu saja, bukan hanya terbebas dari gangguan makhluk itu, tapi hidup kamu juga akan kembali normal seperti sebelumnya."
Franky pun mengangguk, memahami ucapan hantu Rindi.
"Ah kenapa aku lupa ya, aku kan haus tadi," gumam Franky kemudian segera meraih gelas dari rak piring, dan mengisinya dengan air putih.
"Kamu mau minum juga nggak, Rin?" Franky menoleh ke arah hantu Rindi namun makhluk itu sudah menghilang tanpa jejak.
"Hem, dasar hantu, selalu datang dan pergi semaunya," batin Franky.
Setelah minum Franky pun masuk ke dalam kamar, dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Apakah setelah hidupku kembali normal, Rindi juga akan kembali ke alamnya? Ah tentu saja iya, karna dia kan sebenarnya sudah mati, kenapa ya, orang-orang yang aku sayangi, selalu meninggalkan aku, apa memang sudah takdirku, nggak boleh mencintai perempuan, ah nggak mungkin, semua orang pasti punya jodohnya masing-masing, mungkin aku yang belum menemukan jodohku saja, dan kejadian-kejadian kemarin, mungkin hanya kebetulan saja," gumam Franky dalam hati.
__ADS_1
Di sebuah hutan rimba, hantu Rindi sedang duduk di atas sebuah pohon besar sambil tangannya memegang sebuah botol kecil berisi sosok Rinjani yang kini berwujud gumpalan asap putih.
Hantu Rindi mengamati botol tersebut dengan senyum smirknya.
"Setelah aku memusnahkan rakyatmu, baru aku akan memusnahkan jiwa kamu, Rinjani, dengan begitu, aku bisa merebut kembali jazadku, yang sudah kamu pakai, hihihihi," gumam hantu Rindi yang kemudian tertawa terkekeh dan terdengar mengerikan.
Hantu rindi pun memutar-mutar botol itu kekiri dan ke kanan sehingga sosok Rinjani yang berada di dalamnya pun ikut oleng.
Sementara di dalam botol, Rinjani yang kini berwujud gumpalan asap itu terlihat sedang menggerutu.
"Kurang ajar hantu sialan itu, beraninya memasukan saya ke dalam botol, awas saja kalau saya bisa keluar, saya balas anda," gumamnya.
"Ratu, tolonglah saya, keluarkan saya dari botol ini." Rinjani pun memohon kepada sang penguasa pantai.
Tiba-tiba, terdengarlah sebuah suara tanpa wujud, namun hanya Rinjani yang dapat mendengarnya.
"Hey, kau tak perlu selalu meminta bantuanku, kau atasi saja masalahmu sendiri, karna kaulah yang memulai semua ini!"
"Memulai bagaimana, Ratu?" tanya Rinjani.
"Bukankah kau sendiri yang sudah masuk ke dalam tubuh manusia yang sedang koma itu, nah itu artinya, kau sudah memulai permainanmu sendiri, jadi untuk apa kau melibatkan makhluk lainnya, aku sudah angkat tangan dengan tingkah kau itu."
"Ayolah Ratu, tolong saya kali ini saja." Rinjani terus memohon.
"Aku sudah memberimu batu kristal putih, sebagai sumber kekuatanmu, tapi kau justru tak mempergunakan dengan baik, kau hanya membesarkan ambisimu untuk mendekati manusia itu, ingat, Rin, kau dan dia berbeda, kau bisa mencintai makhluk yang sejenis denganmu, dan bukan manusia, tapi kalau kau nekat berhubungan dengan manusia, kau akan punah, ingat itu baik-baik." Dan suara itu pun kemudian menghilang.
"Huft, bagaimana cara saya keluar dari dalam botol ini?"
Rinjani tampak berpikir sejenak, hingga tanpa sadar dia tertidur pulas, konon jika jin sudah tertidur, bisa berbulan-bulan.
Hantu Rindi masih memegang dan mengamati sosok di dalam botol itu sambil tersenyum penuh makna.
Kemudian memasukan kembali botol itu ke dalam saku bajunya.
Hantu Rindi pun merebahkan tubuhnya di atas pohon itu.
Dia seperti sedang menerawang sesuatu.
__ADS_1
"Joko dan Sella ... ya, aku akan mencoba mendekati mereka, semoga saja mereka mau aku ajak bekerja sama," gumam hantu Rindi.
Tapi, kalau Sella, sepertinya dia agak susah untuk di ajak berkomunikasi, karna kalau aku perhatikan lagi, anak itu pribadinya sangat tertutup, ah aku coba saja berkomunikasi baik-baik."