Pulau Abadi

Pulau Abadi
Primadona Online


__ADS_3

Sampai di rumah, Rinjani segera melahap habis lima puluh tusuk sate itu sekaligus, hingga hanya tersisa tusuk satenya saja.


Setelah merasa kenyang, Rinjani kembali masuk ke dalam kamarnya.


Huft, saya bosan di bumi ini, perputaran waktu lama sekali."


Dan pagi hari pun tiba, pintu kamar Rinjani di ketuk oleh bu mira.


Rinjani membukakan pintu kamarnya.


"Ada apa, Bu?"


"Ini sudah jam delapan, Rin, apa kamu nggak kerja?"


"Kerja?"


"Iya kerja, Rin, apa kamu libur?"


"Duh sialan, kenapa harus kerja pula sih? Ah saya tak mau kerja, lebih baik saya seolah keluar dari kerjaan itu, saya kan tak tahu apa-apa mengenai pekerjaan manusia ini," gumam Rinjani dalam hati.


"Rindi?"


"Eh, iya, Bu."


"Kok malah melamun."


"Em begini, Bu, apa saya boleh minta tolong?"


"Minta tolong apa, Rin?"


"Tolong pamitkan saya dari kerjaan, saya hendak berhenti, saya ingin mencari pekerjaan lain saja."


"Lho, tapi kenapa, Rin? Pekerjaan kamu ini kan sudah enak dan penghasilannya sudah lumayan sekali, apa tidak sayang?"


"Bu, saya sudah lelah kerja di sana, tolong pamitkan saya untuk berhenti, kalau ibu tak mau pun tak apa."


Tanpa menunggu jawaban dari bu Mira, Rinjani segera masuk ke dalam kamar, dan menutup pintu.


"Ya Tuhan, kenapa Rindi jadi berubah setelah pulang dari rumah sakit? Ada apa sama dia ya? Kok sikapnya aneh sekali," batin bu Mira.


"Baiklah Rin, ibu akan pamitkan, setelah ini, ibu akan ke kantor kamu!" seru bu Mira dari luar kamar Rindi.


Dari dalam, Rinjani mendengar ucapan bu Mira, namun dia diam saja dan duduk di bibir kasurnya.

__ADS_1


"Tapi, kalau saya tak bekerja, saya tak punya uang, padahal manusia di bumi ini, mendapatkan barang-barang yang diinginkan, dengan cara membeli dan membayar, dan mereka membayar dengan uang.. ya uang! Masa iya saya harus membayar memakai daun terus, bisa-bisa semua curiga kepada saya, dan ini pasti akan mempersulit saya."


Rinjani tampak berpikir keras, bagaimana cara dia mendapatkan uang, tanpa harus bekerja, karena setiap dia membeli sesuatu, dia selalu membayarnya dengan beberapa helaian daun, yang dia sulap menjadi uang, namun itu tak berlangsung lama, setelah satu jam, uang itu akan berubah kembali menjadi daun.


Tiba-tiba, pandangan netra Rinjani mengarah ke sebuah benda di samping bantal, Rinjani meraih benda itu, yang ternyata sebuah ponsel milik Rindi.


"Aha! Saya punya ide."


Wajah Rinjani pun tampak berseri.


Seketika dia teringat akan pesan leluhur ibunya pada jaman dahulu kala yang berbunyi :


"Sebagai makhluk hidup yang tak memiliki harta, tentu saja kita harus memiliki kelebihan, supaya tak mudah di remehkan oleh orang lain."


Setelah teringat pesan leluhur ibunya, wajah Rinjani berubah murung, dia seolah menyesali perbuatannya di masa lalu.


"Di usia remaja yang seharusnya dapat saya manfaatkan untuk bersenang-senang menikmati hidup, namun itu tak berlaku untuk saya, jangankan kekasih atau kawan dekat, untuk sekedar berbagi cerita, hidup saya justru sudah habis untuk memikirkan kepentingan saya sendiri, yang ingin awet muda, hingga akhirnya, saya tak dapat menikmati hidup, dan saya justru mati, di usia saya yang masih muda."


Tanpa sadar, bulir bening menetes di kedua pipi Rinjani, dan sebuah keajaiban tak diduga pun terjadi.


Di antara butiran air mata yang menetes dari kelopak mata Rinjani, salah satunya berubah menjadi batu kristal berwarna putih, yang berkilauan.


Rinjani tertegun, dia pun mengambil batu kristal itu.


"Apa ini?"


Rinjani sudah paham dengan sang pemilik suara itu.


"Ratu."


"Kau makanlah batu kristal itu, jangan disimpan di tempat lain, karena banyak orang-orang sakti di bumi ini yang mengincar batu itu."


"Memang, apa keistimewaan batu ini Ratu?"


"Batu itu dapat menambah ilmu kesaktian, batu itu biasa di perebutkan oleh orang-orang yang sakti mandra guna, seperti para dukun, penganut ilmu hitam, dan sebagainya, sekarang kau makanlah batu itu, cepat!"


"Baik Ratu," Rinjani segera melahap batu kristal itu, dan menelannya, kini batu kristal sumber kekuatan itu telah berada di dalam tubuh Rinjani.


"Ingat pesanku, tetaplah menabur kebaikan di bumi ini, dan janganlah suka memanfaatkan segala sesuatu yang kebetulan, kau paham kan?"


Kemudian suara itu menghilang, dan bersamaan dengan itu, berhembuslah angin dari luar, menyeruak ke dalam kamar milik Rindi, yang menerpa wajah Rinjani seketika wajah Rinjani menjadi sejuk.


Rinjani hampir saja melupakan ponselnya, dia pun meraih ponsel Rindi, dan membuka layarnya.

__ADS_1


Dia melacak beberapa aplikasi, kedua matanya berbinar, tatkala melihat sebuah aplikasi bernama instagram.


Di dalam aplikasi itu, ada fitur yang menyediakan ruang obrolan bagi para penggunannya, untuk mencari teman, jodoh, bahkan mendapatkan penghasilan dengan menjadi host talent.


Di sinilah peran Rinjani di mulai....


Rinjani memilih menjadi selebgram, dia bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah, dengan menjadi primadona online.


Di dunia halu, semua yang ada di dalamnya pastilah halu, begitulah prinsip Rinjani.


Dia sengaja tak pernah mengekspose data pribadinya, karena tak mau para penggemarnya mengganggunya di real.


Rinjani hanya memanfaatkan aplikasi itu, untuk sekedar mendapatkan pundi-pundi rupiah, untuk bertahan hidup.


Beberapa hari pun telah di lalui Rinjani di bumi dengan menjadi primadona online, hal itu membuat kehidupan Rinjani berubah, dia sengaja tak membagikan nomor ponselnya, kepada penggemar online nya, karena baginya itu adalah prifasi.


Rinjani tak mau penggemarnya mengetahui bahwasana dirinya adalah manusia setengah Jin.


****


Siang itu di kediaman rumah Franky....


"Rindi sedang apa ya, aku kangen sekali."


Franky pun menelpon Rindi, yang kini tubuhnya tengah di kuasai oleh roh Rinjani.


Panggilan tersambung, Franky mengobrol dengan Rindi dengan asik dan mesra.


Tak terasa mereka mengobrol, satu jam pun telah berlalu, dan Rinjani meminta Franky untuk menemuinya nanti malam dan panggilan pun berakhir.


"Astaga, kenapa saya bodoh sekali? Karna asik menjadi primadona, dan mendapatkan uang banyak, saya sampai melupakan Franky padahal tujuan saya ke bumi ini kan hanya untuk memiliki manusia itu."


****


Sementara di sebuah kantor penerbit, Nurdiana sedang menghubungi manager PT. Bintang Kejora.


Panggilan tersambung, dan Nurdiana terlibat pembicaraan dengan manager PT. tersebut.


Tak lama, panggilan pun berakhir.


"Apa? Rindi mengundurkan diri? Tapi kenapa? Ada apa? Dia kan sudah menjadi kepercayaannya bos di PT. itu, kerja dia pun sangat bagus, nggak ada yang bisa menggantikan posisi dia," batin Nurdiana.


Nurdiana merasa heran dengan pengunduran diri yang di lakukan oleh Rindi, dan dia berniat akan ke rumah Rindi.

__ADS_1


****


yuk kak kasih like, komen, & votenya 😍


__ADS_2