
Selesai mandi, Joko masuk ke dalam kamar.
"Ayo, Jok kita makan!" seru Leon antusias.
"Hem, kamu, Le, kalau masalah makan nomer satu," kelakar Joko.
"Ah biarlah, aku lapar, sudah jangan bicara apa-apa lagi, ayo kita makan sekarang saja."
Franky dan Joko menahan tawanya.
"Ya ayo kita ke depan, jangan makan di kamar, nggak baik," ujar Joko.
Franky dan Leon pun, memindah makanan yang ada di dalam kamar satu persatu, mereka membawanya ke ruang depan, sedangkan Joko mengambil piring, dan peralatan makan di dapur.
"Hey, kamu nggak makan?" tanya Joko, kepada kucing hitam itu.
"Ambilkan ikan asin saja satu, bawa ke sini."
"Hah," Joko mengerutkan keningnya.
"Dari mana kamu tahu, kalau ada ikan asin juga?" lanjut Joko.
"Hahaha, tentu saja penciumanku masih tajam," tawa Nawang.
"Iya juga ya, kucing kan kalau ada ikan asin pasti tahu, hehe, ya sudah tunggu di sini, aku akan mengambilkan ikan asin untuk kamu."
Joko pun berjalan ke depan, dia menaruh peralatan makan di atas meja, dan mengambil satu buah ikan asin.
"Mau kamu apakan ikan asin itu Jok?" tanya Franky melihat Joko hendak membawa ikan asin itu ke dapur.
"Buat makan kucing di belakang," jawab Joko simpel, sambil terus berjalan.
"Oh iya, kasihan tuh kucing, dari kemarin nggak makan," gumam Leon.
"Iya, Le, nanti suruh Joko beli makanan kucing saja," sahut Franky.
Leon mengangguk, sambil memasukkan sendok berisi nasi dan irisan ikan, ke dalam mulutnya.
Tak lama, Joko pun datang, dan bergabung bersama kedua temannya, kemudian dia mengambil piring, dan mengisinya dengan nasi dan sayuran saja.
"Itu ikannya kok nggak dimakan, Jok? Enak lho," tanya Leon, merasa heran melihat Joko makan dengan porsi sedikit sekali.
"Kan aku sudah pernah bilang, aku nggak begitu tertarik sama yang amis-amis, aku lebih suka sayuran."
"Sudah biarkan saja, Le, selera orang kan beda-beda." Franky menimpali.
Leon mengangguk, dan melanjutkan makannya.
__ADS_1
"Eh, Fran, Jok, kita di sini akan lama ya?" tanya Leon, di sela-sela suara sendok yang bersentuhan dengan piring.
"Sepertinya begitu, karna aku ada urusan penting, dan Franky juga sedang membuat novel barunya," sahut Joko sambil mengunyah makanannya.
"Oh begitu," kata Leon.
"Memang kenapa, Le?" tanya Franky penuh selidik.
"Em, begini, aku ingin mencari pekerjaan di sini, kira-kira ada nggak ya? Bosan juga, kalau tiap hari di dalam kamar, nggak ngapa-ngapain, mana nggak ada tivi, nggak ada hiburan apa-apa," ujar Leon.
"Oh, coba saja kamu tanya sama Bento, Le, siapa tahu saja dia punya info," kata Joko.
"Benar juga ya, ya sudah, nanti habis makan, aku akan ke rumah Bento ya," kata Leon.
"Iya, Le, pergilah, aku akan mencari inspirasi," kata Franky.
Selesai makan, Leon pun menuju ke rumah Bento, ketika Leon hendak sampai di rumah Bento, tanpa sengaja, Leon bertabrakan dengan seorang gadis. Dan gadis itu menjatuhkan barang bawaannya, berupa beberapa buah buku tulis.
"Aduh, maafkan saya, Neng, jalan nggak lihat-lihat," kata Leon, sambil mengambil buku-buku yang terjatuh.
Ketika Leon hendak memberikan buku-buku itu kepada pemiliknya, Leon terperanjat, ternyata dia mengenali sosok wanita yang baru saja bertabrakan dengannya, dan kini telah berdiri di hadapan Leon.
"Aisyah?" lirih Leon.
"Lho, mas Leon, temannya mas Franky kan ya?" Aisyah balik bertanya.
"Eh, iya betul, wah nggak nyangka, kita bisa bertemu lagi," ujar Leon malu-malu.
"Iya, Syah, kita datang ke sini bertiga, sama temanku satu lagi," sahut Leon.
"Oh gitu, terus, kalian tinggal di mana? Tentunya bukan di tempat pak Yusuf lagi kan, karna dia sudah nggak menyewakan rumahnya lagi."
"Iya, Syah, kita sekarang di penginapan, yang punya bu Regina."
"Hah? Penginapan bu Regina?" Aisyah mengerutkan keningnya, membuat Leon menjadi heran.
"Iya, Syah, memang kenapa?" tanya Leon.
"Tempat itu kan, ang ...." Aisyah tak melanjutkan ucapannya.
"Angker maksud kamu?"
Aisyah mengangguk perlahan.
"Kita sudah tahu, Syah, di dalam gudang itu, ada makhluk gaib, kan?"
Aisyah terbelalak. "Kok kamu bisa tahu?"
__ADS_1
"Iya, Syah, temanku yang satu, dia itu orang sakti di desa tempat tinggalnya, dia tetanggaan sama Franky, dan dia bisa melihat makhluk gaib, bahkan bisa berkomunikasi," jelas Leon.
Aisyah pun mengangguk.
"Oh gitu, ya bagus deh, jadi kalian ada yang menjaga," kata Aisyah.
"Hehe, iya, Syah," kekeh Leon, dia sengaja tak menceritakan tentang Franky yang masuk ke dalam gudang, hingga rohnya keluar dari tubuhnya, karna Leon nggak mau dihujani banyak pertanyaan, dari Aisyah.
"Terus, ini mas Leon mau kemana?" tanya Aisyah.
"Em, begini Syah, Franky kan sedang membuat novel baru, tentunya akan lama di sini, nah aku berniat mau cari pekerjaan nih, aku bosan di kamar terus, nggak ada kesibukan."
"Oh, begitu, em kemarin ada lowongan di pemadam kebakaran, mau aku antar?" ujar Aisyah.
Leon nervous seketika.
"Eh ... eng-enggak perlu, Syah, kamu kasih aku alamatnya saja, nanti aku akan ke sana."
"Oh yasudah, Aisyah mengeluarkan bolpoin dari dalam tasnya, kemudian menuliskan sesuatu di atas kertas, dan memberikannya kepada Leon.
"Ini ada beberapa tempat, untuk kamu mendaftar pekerjaan, tapi aku nggak paham, apa masih ada lowongan dan menerima karyawan. Untuk itu, mas Leon coba saja mendaftar itu ada juga di rumah makan, jadi satpam pun ada, masih banyak lagi, tinggal pilih saja, semoga segera dapat pekerjaan ya."
Leon menerima kertas pemberian Aisyah, kemudian mengucapkan terimakasih, Leon pun membalikkan tubuhnya meninggalkan Aisyah.
"Kalau gitu, aku nggak perlu ke rumah Bento, aku akan coba mendaftar, di tempat yang sudah di tulis di sini, siapa tahu ada yang mau menerimaku," batin Leon.
Leon pun segera berjalan, di sepanjang pulau abadi itu, tempat pertama yang dia datangi adalah pemadam kebakaran, dia melamar pekerjaan di tempat itu.
Sayangnya, sudah tak ada lowongan di tempat itu, Leon tampak sedikit putus asa, namun dia belum menyerah. Sekarang, dia mendaftar sebagai satpam di sebuah apartemen mewah, hanya bermodalkan ijazah SMA.
Beberapa hari, setelah Leon mengirim lamarannya, ponselnya berdering, dengan perasaan tegang, Leon menerima panggilan dari ponselnya.
Saat itu, dia sedang duduk di ruang depan, bersama kedua orang temannya. Betapa bahagianya Leon, karena suara di seberang sana menginfokan, kalau Leon diterima bekerja menjadi satpam di sebuah apartemen, yang bertugas sebagai penjaga malam.
Leon mengakhiri panggilannya, sambil tersenyum penuh arti.
"Duh, yang lagi happy nih," ledek Joko.
"Jok, aku diterima kerja," kata Leon.
"Ya bagus, Le, di mana?" sambung Franky.
"Jadi satpam di Apartemen," sahut Leon.
"Ya nggak apa-apa, Le, dari pada nggak ada kerjaan sama sekali," ujar Franky.
"Iya, Le, kamu bilang katanya bosan kan di kamar terus?" Joko menimpali.
__ADS_1
"Iya sih, Jok, tapi kok jaga malam ya," ucap Leon sedikit kecewa.
"Yah kamu, Le, namanya juga satpam, ya jaga malam, jaga pagi, harus mau," ujar Joko.