
Setelah Rindi pulang, Franky merasa mengantuk sekali.
"Berat sekali mataku, sebaiknya aku tidur dulu sebentar."
Franky pun masuk kedalam kamarnya kemudian membaringkan tubuhnya di atas kasur, tanpa menunggu lama dia pun terlelap dalam tidurnya.
Kini Franky sedang berdiri di atas awan dan di hadapannya telah berdiri sosok Rinjani.
"Anda benar-benar tak punya perasaan, bagaimana bisa, anda menjalin hubungan dengan perempuan lain, sedangkan anda masih menjadi milik saya!" seru Rinjani.
"Rin, maafkan aku, tapi.. kamu sendiri nggak mau ikut ke rumahku, jadi aku terpaksa mencari istri lagi, aku kesepian Rin, tolong kamu mengerti itu, aku nggak bisa ikut dengan kamu, kamu yang seharusnya ikut denganku, kita hidup bersama sampai tua sampai maut memisahkan kita, tapi kamu yang nggak mau, jadi jangan salahkan aku kalau aku mencari pendamping hidup lagi," sahut Franky tanpa merasa berdosa sama sekali.
"Keterlaluan anda! Lebih baik anda mati, dari pada harus jadi milik orang lain!" cetus Rinjani.
Kemudian Rinjani mengeluarkan kilatan cahaya berwarna hijau dan mengarahkannya kepada Franky.
Sebelum kilatan itu mengenai tubuh Franky, ada kilatan cahaya berwarna ungu yang menghalaunya, sehingga Franky selamat dari serangan tersebut.
Franky menoleh, ternyata Nila sudah berdiri di belakangnya.
"Nila," lirih Franky.
Nila tersenyum ramah ke arah Franky.
"Kurang ajar anda, beraninya ikut campur dalam urusan saya!" seru Rinjani kesal.
"Hey Jin genit, ketahuilah, bahwa Franky sudah mempunyai penggantimu, dan mereka akan menikah secepatnya," kata Nila dengan nada setengah mengejek.
"Apa? Berani sekali perempuan yang merebut suami saya." kata Rinjani
"Dia tidak merebut, tapi Franky lah yang menyatakan cinta kepadanya, kamu tahu sendiri kan, kalau lelaki memang seperti itu hahaha!" Nila tertawa menggelegar membuat awan-awan yang berada di sekitarnya bergerak menjauh.
Rinjani menjadi sangat murka, dia kembali menyerang Nila.
"Rasakan ini, Bidadari sialan!" Rinjani mengarahkan kilatan cahaya berwarna hijau ke tubuh Nila.
Dengan cekatan Nila menghalau kilatan demi kilatan yang di lontarkan oleh Rinjani.
Kedua makhluk gaib itu pun saling mengadu kekuatan.
Franky terbangun dari tidurnya, dia melirik jam dinding yang tergantung di dalam kamarnya, waktu menunjukkan pukul tiga dini hari.
"Hah? Aku tidur dari jam berapa? Kok tiba-tiba sudah pagi saja, rasanya aku belum sempat bertemu malam," pikirnya.
__ADS_1
Franky duduk dan termenung di atas kasurnya.
"Aku mimpi apa barusan? Seperti nyata tapi aku nggak bisa mengingat mimpi itu," gumamnya.
Franky beranjak dan berjalan menuju dapur karena merasakan haus dan tenggorokannya kering.
Sesampainya di dapur, dia mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih.
Setelah cukup membasahi tenggorokannya, Franky kembali ke dalam kamar melanjutkan petualangannya di alam mimpi.
Sementara itu di atas awan, Nila dan Rinjani masih terlibat dalam pertarungan sengit, mereka sama kuatnya.
Namun beberapa saat kemudian Rinjani nampak kewalahan, dan hal itu di ketahui oleh Nila.
"Menyerahlah kau, Jin genit, sayang kalau kekuatanmu terbuang sia-sia, karna kamu bukan tandinganku!" seru Nila dengan senyum sinisnya.
Rinjani tidak gentar, dia terus mengerahkan segenap tenaga dan kekuatannya untuk mengalahkan Nila.
Pada saat yang bersamaan, sebuah kilatan cahaya berwarna kuning muncul dan menyerang Nila, seketika Nila jatuh terjerembab, darah segar keluar dari mulutnya.
"Hahaha, rasakan akibatnya, karna kau telah berani mengganggu istriku!" seru seseorang yang ternyata adalah Pangeran Endro.
"Kurang ajar kamu Wowo sialan! hey.. kalau memang dia istrimu, nasehatilah dia supaya tidak mengganggu calon suami orang," kata Nila ketus.
"Sudahlah, percuma kamu bicara panjang lebar, kenyataannya Franky telah menjadi milik manusia lain, ya wajar saja karna mereka kan sejenis dan sebangsa," kata Nila.
"Pulanglah kau, Bidadari gila, dan jangan kau usik lagi hidup istriku," kata Pangeran Endro.
"Apakah aku tidak salah dengar? Bukankah istrimu itu, yang sudah mengusik manusia di bumi terlebih dahulu? Dan tugasku hanya melindungi saja," ujar Nila.
"Banyak bicara kau!" seru Pangeran Endro, dia kembali mengeluarkan kilatan berwarna kuning dan dengan garang menyerang Nila tanpa basa-basi.
Akhirnya Nila terpental hingga menembus awan dan terjatuh sekali lagi.
"Kurang ajar sekali Wowo sialan itu, datang-datang main serang saja, lihat pembalasanku nanti," geram Nila dalam hati.
Di atas awan Rinjani kembali berdebat dengan Pangeran Endro.
"Untuk apa anda datang menolong saya? Seharusnya anda tak perlu bersikap seperti tadi," kata Rinjani.
"Rin, kenapa hatimu begitu keras? Sudah jelas kita sudah menikah, dan aku sanggup membahagiakanmu, tapi kenapa kau masih mengejar manusia lemah itu? Sebenarnya apa yang kau inginkan darinya?" tanya Pangeran Endro.
"Bukan urusan anda!" cetus Rinjani kemudian menghilang dari hadapan Pangeran Endro.
__ADS_1
Pangeran Endro semakin kesal dengan sikap Rinjani, dia pun berlalu menyusul Rinjani.
******
Pagi hari, Franky bangun dengan badan segar.
"Nyenyak sekali tidurku," gumamnya.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ada satu pesan dari Leon.
"Fran, bagaimana kalau lusa kita berangkat ke lembah ilusi?"
Isi pesan tersebut.
"Baik Le, aku siap kapan pun," balas Franky.
Pesan berakhir...
"Aku akan menulis satu buku lagi, setelah satu buku selesai, aku akan pulang dan mempersiapkan segala sesuatu untuk melamar Rindi," batin Franky.
Lagi-lagi angin dingin menyeruak masuk kedalam kamar Franky, mendadak tubuh Franky merasakan kedinginan yang luar biasa.
"Kenapa tiba-tiba dingin sekali sih, padahal ini musim panas, bukan musim dingin, aku rasa lama-lama rumah ini nggak beres, padahal sebelumnya rumah ini nggak pernah ada keanehan apa-apa," batin Franky kemudian angin yang berhembus tadi pun berhenti, dan suhu ruangan menjadi normal kembali.
"Tuh kan, sekarang sudah nggak dingin lagi, apa mungkin di kamarku ada AC gaib ya, AC tak kasat mata yang tiba-tiba dingin gitu."
"Hahaha!"
Franky tertawa terpingkal, dia merasa bahwa ada yang tak beres dengan dirinya sendiri.
Kemudian Franky pun segera mandi.
Setelah mandi Franky berpakaian, kemudian dia berjalan ke arah dapur, hendak menyeduh segelas teh.
Setelah itu Franky duduk di ruang depan sambil menikmati segelas teh itu.
"Hem, kalau punya istri senang, bangun tidur sudah ada yang membuatkan minum, terus kalau lapar sudah ada yang masak makanan, baju kotor pun ada yang mencucikan," batin Franky sambil membayangkan sesuatu.
Seketika Franky teringat dengan sosok Nila.
"Nila sedang apa ya disana? Pasti dia sedang berkumpul sama saudara-saudaranya, lho, kenapa juga aku jadi memikirkan dia? Bukankan dia itu Bidadari? Dan bukan manusia seperti aku?"
Franky meminum tehnya yang kini sudah hangat.
__ADS_1
"Seperti ada yang kurang kalau minum sendiri, lebih romantis kalau ditemani sama istri, aku benar-benar tak sabar ingin cepat-cepat menikah lagi," Franky tersenyum sendiri dan menghabiskan teh nya.