Pulau Abadi

Pulau Abadi
Dejavu


__ADS_3

"Sudah ikutin saja apa kataku, ya sama seperti sebuah peraturan kan, di semua tempat pasti ada tempat yang nggak boleh didatangin."


Leon mengangguk, sedangkan Franky terlihat sedang melamun.


"Fran?" panggil Joko lirih.


Lamunan Franky buyar, ketika mendengar panggilan Joko.


"Eh, iya Jok, ada apa?"


Joko menggeleng. "Haduh, kamu itu, Fran, jangan suka melamun, nanti di kemasukan jin baru tahu rasa," kelakar Joko.


"Ya kalau jinnya cantik, boleh juga deh, hehe." Franky berucap tanpa sadar.


"Dih, kamu ini, genit sekali, jangan sembarangan kalau bicara," kata Joko.


"Tahu nih si Franky," sambung Leon.


Franky hanya terkekeh.


"Eh, Fran, besok beli mie, telur, gula, sama kopi ya, buat persediaan, kalau malam aku suka lapar," celetuk Leon.


"Iya, Le, besok aku beli," kata Franky.


"Pakai uang kamu dulu ya, Fran, hehe, aku nggak bawa uang," kekeh Leon.


"Santai saja, Le," sahut Franky.


"Oh iya Jok, mobilnya nggak di bawa kesini?" tanya Leon.


Joko menepuk keningnya. "Astaga, aku lupa, ya sudah tunggu sebentar ya, aku ambil dulu."


Joko keluar dari kamarnya, dan tak lama, dia masuk lagi.


"Sudah Jok?" tanya Leon.


"Sudah, aku parkir di depan," sahut Joko.


Adzan isya pun berkumandang, beberapa saat setelahnya, terdengar suara pintu diketuk.


Tok ... tok ... tok ....


"Siapa tuh, Le?"


"Nggak tahu, Fran."


"Biar aku yang buka," kata Joko kemudian membuka pintu kamarnya.


"Bento!" serunya.


Ternyata Bento yang mengetuk pintu kamar mereka, dan di tangannya membawa bungkusan.


"Halo kalian, nih aku bawakan baju-baju, yang sudah nggak kepakai, tapi maaf ya kalau jelek-jelek, dan nggak baru juga."


"Ah, yang penting kan bisa buat ganti, Ben," kata Joko.


"Iya, Ben, ini saja sudah lumayan, makasih ya," sambung Franky.


"Sama-sama, oh iya, ini dibawakan alat mandi sama sedikit mie telur, kalau kalian lapar, dan malas keluar."

__ADS_1


"Wah, kok jadi merepotkan kamu, Ben," kata Franky tak enak hati.


"Ah, nggak ada yang merasa direpotkan kok, Fran, kalian sudah aku anggap sebagai saudara aku, dan aku juga nggak nyangka, bakal ketemu kalian lagi," kata Bento.


"Bilang sama bu Monik, makasih ya," sambung Leon.


"Siap."


"Ya sudah, ayo kita ke pantai," ajak Joko.


"Oh iya, ayo, ayo, mumpung nggak hujan nih," kata Bento.


"Memang di sini sudah mulai musim hujan juga, Ben?" tanya Franky.


"Sudah, Fran, di tempat mu sudah hujan?"


"Sama, Ben, tapi ya nggak tiap hari, kadang tiga hari sekali baru hujan," kata Franky.


"Ya sama saja kalau gitu," kata Bento.


Mereka berempat pun, keluar dari penginapan, karena jarak dari penginapan ke pantai sangat dekat, mereka pun berjalan kaki. Sepuluh menit kemudian, mereka pun sampai di pantai.


Udara pantai malam itu, sangat sejuk, dan terlihat ramai pengunjung. Mereka pun mencari tempat duduk.


"Wah, cuacanya cerah, Ben!" seru Leon.


"Iya, Le," sahut Bento.


Mereka pun duduk di sebuah batang pohon yang tumbang.


Franky pun melihat-lihat pemandangan sekitar, dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling pantai tersebut, tiba-tiba matanya mengarah ke sosok wanita berkebaya putih, di kepalanya mengenakan kerudung, yang berwarna putih juga.


"Fran, mau kemana kamu?" tanya Bento.


Namun Franky diam tak bergeming, dan terus berjalan. Joko tampak sedang menerawang, ke arah yang dituju oleh Franky.


"Hem, dasar jin bucin, tahu saja kalau si Franky datang," batinnya.


"Yeee, si Franky ditanya kok diam saja," ujar Bento.


"Iya nih, jangan-jangan, dia mau masuk ke hutan itu lagi," sambung Leon.


"Wah bisa gawat ini," kata Bento.


"Sudah biarkan saja, kalian nggak perlu cemas, si Rinjani sudah jinak kok," celetuk Joko.


"Rinjani!" seru Leon dan Bento, secara bersamaan.


"Kalian kenal dia juga?" tanya Joko heran.


"Nggak kenal Jok, hanya saja, si Franky suka bercerita, kalau dia dapat kenalan perempuan namanya Rinjani ... gitu, Jok, tapi aku belum pernah lihat perempuan yang namanya Rinjani," kata Bento.


"Sama, aku juga belum pernah," sambung Leon.


"Hah? Yang benar? Jadi selama ini, kalian belum pernah bertemu Rinjani?" Joko mengerutkan keningnya.


Leon dan Bento menggeleng kepala, secara bersamaan.


"Oh iya, jelas saja mereka nggak bisa lihat, kan Rinjani itu makhluk halus, dan mereka berdua nggak punya indera ke enam," gumam Joko dalam hati.

__ADS_1


Sementara itu, Franky masih terus melangkahkan kakinya, hingga kini, dia sampai di hadapan sosok perempuan itu.


"Rin?" panggil Franky.


Ya, Franky bertemu dengan Rinjani, hantu penunggu hutan yang terletak di seberang pantai, jaraknya pun tak begitu jauh.


Rinjani tersenyum dalam anggukannya. "Anda apa kabar, Fran?"


"Baik, kamu sendiri?"


"Ya, seperti yang anda lihat, oh iya, anda masih ingat dengan saya?"


"Sampai kapan pun, aku nggak akan pernah lupa sama kamu, Rin."


Senyum Rinjani mengembang, mendengar ucapan Franky.


"Kamu makin cantik saja, Rin," puji Franky.


Rinjani tersipu, kedua pipinya merona. "Memang, kemarin itu, saya nggak cantik?"


"Ya cantik, Rin, hanya saja, sekarang makin cantik gitu."


"Anda bisa saja," kata Rinjani menurunkan pandangannya.


"Apa anda mau main ke rumah saya lagi?" tanya Rinjani.


Belum sempat Franky menjawab, sebuah suara menyela pembicaraan mereka.


"Nggak bisa, kali ini, aku yang akan menjaga Franky, karna aku yang membawa dia ke sini, jadi aku harus bertanggung jawab penuh, dan kamu, atau pun jin lainnya, nggak akan pernah bisa mengganggu temanku!"


Rinjani menoleh ke arah sumber suara, ternyata Joko diam-diam mengikuti Franky pergi, dan kini dia telah berada di dekat mereka berdua. Sedangkan Franky hanya menatap ke depan, pandangannya kosong, dia pun tak menyadari kehadiran Joko.


"Sial, anda selalu saja mengganggu kesenangan saya, tak bisakah anda menjauh dari kita berdua?" geram Rinjani.


"Kamu boleh saja berkomunikasi dengan Franky, mau bercinta pun, itu hak kamu, tapi untuk membawa dia ke alammu lagi, aku pastikan hal itu nggak akan pernah terjadi. Kalau sampai Franky tersesat lagi ke alammu, aku nggak akan pernah memaafkan diriku sendiri," ujar Joko penuh wibawa.


Rinjani menatap Joko dengan sengit, dan Joko pun tertawa terkekeh, menyadari hal itu.


"Kamu itu bucin sekali, apa di alam kamu sendiri, nggak ada pria tampan seperti Franky? Hahaha!"


"Sudah, anda bisa pergi sekarang, jangan mengganggu kesenangan saya!" hardik Rinjani.


"Aku akan pergi, tapi nanti kamu harus mengembalikan Franky, dia harus pulang bersama kita orang, jangan kau bawa pulang ke dunia mu, awas saja, kalau kamu berani, rasakan akibatnya," cetus Joko, kemudian berjalan menjauhi kedua insan berbeda alam itu.


Rinjani menatap punggung Joko, yang perlahan menghilang dari pandangan. Rinjani tahu, bahwa Joko mempunyai kekuatan gaib yang bisa memusnahkan dirinya, untuk itu, Rinjani hanya pasrah dengan ucapan Joko.


"Sial sekali, kenapa juga saya harus bertemu dengan manusia seperti dia," batin Rinjani kemudian berjalan mendekati Franky yang masih berdiri dengan tatapan kosong.


"Fran, kita duduk dulu, memang anda tak lelah berdiri terus?" ujar Rinjani.


"Eh iya, Rin," ucapan Rinjani membuyarkan lamunan Franky.


Mereka berdua pun duduk menikmati suasana malam, ditemani bintang-bintang yang bertaburan di langit.


"Saya sangat merindukan anda, Fran."


"Aku pun sama, Rin, kita sudah lama nggak bertemu."


Franky dan Violetta pun asik bersenda gurau.

__ADS_1


__ADS_2