
Namun netranya justru tertuju ke arah sebuah cahaya yang membentang berwarna warni, sinarnya begitu indah.
"Kenapa ada pelangi malam-malam begini, di tempat seperti ini?" tanya Franky dalam hati.
Seketika bulu kuduknya meremang.
"Ah, sebaiknya aku kembali saja ke tenda, buat apa juga aku menonton orang yang sedang mandi, seperti kurang kerjaan saja" batin Franky.
Baru beberapa langkah Franky melangkahkan kakinya hendak menuju tenda, tiba-tiba angin bertiup sangat kencang, sebuah selendang sutra berwarna ungu mendarat di wajah Franky.
Franky menghentikan langkahnya dan meraih selendang itu, dia mengamatinya dengan seksama.
"Apa ini? seperti selendang perempuan," lirihnya.
Franky menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi dia tak melihat seseorang pun di sekitarnya.
Tanpa sadar hidung Franky mengendus selendang tersebut.
"Wangi sekali, ah, aku bawa pulang saja untuk selimut di rumah," pikirnya.
Franky melangkahkan kakinya menuju ke tendanya.
Sebelumnya dia menyimpan selendang itu di dalam mobilnya, tepatnya di jok bagian kiri depan.
Karena Franky menaruh selendang itu agak ke pinggir, maka selendang yang halus dan licin itu pun merosot jatuh ke bawah jok mobil sehingga selendang itu tak terlihat karna tertutup jok, sedangkan Franky langsung menutup pintu mobilnya, oleh karena itu dia tak mengetahui bahwa selendang itu telah terjatuh.
Dan dalam sekejap saja Franky telah melupakan selendang tersebut.
Di dalam tenda, Franky melihat Leon masih tertidur pulas.
Dia pun kemudian merebahkan tubuhnya di samping Leon, dengan posisi membelakangi tubuh Leon.
Sssshhhh...
Angin kencang bertiup di luar tenda, membuat Franky merapatkan tubuhnya menempel ke tubuh Leon.
Suasana makin mencekam, Franky dapat mendengar suara hewan-hewan malam, mengingat tempatnya itu berada di tengah-tengah hutan.
Guk! guk! auuummm!
Franky bergidik ngeri mendengar suara lolongan seekor hewan yang mirip dengan serigala.
Dia sangat heran karna Leon tidur begitu pulas tanpa terbangun sedikitpun.
Di sela-sela lolongan hewan itu, Franky seperti mendengar suara seorang wanita yang sedang terisak.
"Hik, hik, hik..."
"Siapa yang nangis malam-malam begini?" tanya Franky dalam hati.
Suara tangisan itu semakin terdengar jelas di telinga Franky, membuatnya penasaran dan akhirnya dia keluar dari tenda.
Franky berjalan mencari sumber suara tangisan itu.
Tiba-tiba langkahnya terhenti lantaran melihat sosok wanita yang sedang duduk dengan tubuh tertelungkup.
Franky mendekati wanita itu.
"Hey, siapa kamu? Sedang apa malam-malam begini, dan menangis pula?" tanya Franky.
__ADS_1
Wanita itu terkejut mendengar suara Franky, lalu dia mendongakkan kepalanya, seketika wanita itu bangkit berdiri dan perlahan menjauh.
"Jangan sakiti aku," kata wanita itu mengiba.
"Hey, hey, please, aku ini bukan orang jahat, aku sedang berkemah disini," sahut Franky tenang.
Wanita itu bingung, dia tak mau kalau pria di depannya ini mengetahui bahwa dirinya adalah seorang Bidadari yang turun dari Kahyangan untuk mandi.
Karna di dalam Kahyangan tidak ada air, jadi setiap satu bulan sekali para bidadari selalu turun untuk mandi di sebuah danau yang berada di dalam hutan itu, mereka sengaja melakukan ritual mandi pada malam hari, karena mereka yakin kalau malam hari keadaan di dalam hutan sudah sepi dan tak ada manusia yang melihatnya.
Bidadari itu bernama Nila.
Nila mandi bersama ke enam saudaranya, di antara ketujuh Bidadari, Nila lah yang paling muda, ketika selesai mandi, mereka memakai selendang mereka masing-masing.
Konon selendang itulah yang membuat mereka dapat kembali ke kahyangan, tanpa selendang mereka tak bisa kembali.
Keenam Bidadari telah memakai selendang mereka masing-masing dan bersiap hendak kembali ke Kahyangan, namun mereka tak sengaja melihat Nila sedang kebingungan.
"Mana selendangmu Nila?" tanya seorang bidadari yang bernama mirah.
"Tidak tahu kak, tiba-tiba tidak ada, tapi aku yakin sekali, aku tadi menaruh disini," jawab Nila dengan raut wajah sedih.
"Bagaimana ini? Sudah waktunya kembali ke Kahyangan," sahut Bidadari Jingga.
"Maafkan kami Nila, kami harus kembali ke Kahyangan, kalau terlambat Romo bisa murka," sahut Bidadari Sengkuni.
"Baiklah kakak-kakakku, biarlah aku mencari selendangku sampai ketemu, baru aku akan kembali ke Kahyangan," ucap Nila dengan sedih.
"Hey, aku bertanya, kenapa nggak di jawab? Kamu malah melamun," tegur Franky membuat lamunan Nila buyar.
"Eh.. itu.. aku sedang mencari bajuku, karna itu hadiah ulang tahun dari ayahku, beliau akan sangat kecewa, kalau sampai tahu baju itu hilang," jawab Nila berbohong.
"Baju? Tapi kamu ini sudah memakai baju, kenapa masih mencari baju lagi?" Franky mulai curiga.
"Rumah kamu di mana? Biar aku antar pulang," tanya Franky lagi.
Nila justru menangis sejadinya.
"Hey apa aku salah bicara? Kenapa kamu malah menangis?" Franky semakin bingung.
"Justru itu, aku tersesat dan tidak tahu jalan pulang, aku tidak ingat sama sekali, di mana rumahku," kata Nila sambil terisak.
Franky menjadi iba terhadap Nila.
"Baiklah, kalau kamu mau, kamu bisa ikut aku pulang, itu kalau kamu mau, sampai ada berita keluarga yang mencarimu," ajak Franky.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Nila mengangguk setuju.
"Namaku Nila."
"Oh iya, kita sampai lupa berkenalan, aku Franky," Franky mengulurkan tangannya hendak bersalaman.
Nila pun menyalami Franky.
Franky tak menyangka, tangan Nila begitu halus dan lembut bak sutra, namun terasa sangat dingin.
Lama mereka bersalaman, akhirnya Nila menarik tangannya.
"Eh maaf," ucap Franky malu.
__ADS_1
Nila hanya tersenyum dan pipinya pun merona.
Akhirnya Franky mengajak Nila masuk ke dalam tenda.
Mereka pun tertidur di sisa malam yang masih panjang.
Keesokan harinya, Leon membuka matanya, dia membangunkan Franky.
Franky membuka matanya, dia terduduk, menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Kamu mencari apa Fran?" tanya Leon.
Franky terdiam sejenak, akhirnya dia menceritakan pertemuannya dengan Nila.
"Hah? terus gimana Fran?" tanya Leon.
"Aku hanya kasihan sama dia, katanya nggak tahu jalan pulang, seperti tersesat gitu deh, tapi aku juga bingung nih Le."
"Bingung kenapa Fran?"
"Aku ingin ajak Nila pulang, tapi nggak mungkin juga dia tinggal di rumahku, bukan muhrim, nanti warga bisa curiga."
"Ya sudah Fran, kamu nikahin dia saja, biar bisa tinggal di rumah kamu hehe," kekeh Leon.
"Kamu ini, bercanda terus Le.. bukannya bantu aku mikir huft."
Leon terpingkal, sedangkan Franky pun menahan tawa, dia sudah mengerti kalau temannya itu memang suka bercanda.
"Em, gimana kalau kamu carikan dia kos gitu, tapi yang deket sama rumah kamu, biar kamu nggak kejauhan juga kalau mau pantau dia," usul Leon.
"Benar juga ya, di tempat ku ada sih kost-kosan, ya sudah, coba nanti aku ke sana, masih ada kamar kosong atau enggak."
"Terus, mana si Nila?" tanya Leon.
"Aku nggak tahu Le, kamu 'kan tahu sendiri, kamu duluan yang bangun, nah waktu aku bangun, bukannya dia sudah nggak ada?"
"Ya sudah, sebaiknya kamu cari dia, nanti kalau tersesat bahaya, ini kan di hutan," ujar Leon.
"Iya Le, kamu tunggu disini sebentar ya," kata Franky.
Leon mengangguk.
Franky pun keluar dari tenda mencari keberadaan Nila.
Tak lama Franky menemukan Nila sedang duduk di tepi danau yang di lihatnya semalam.
"Di sini kamu rupanya," kata Franky mendekatinya.
Nila menoleh.
"Eh, iya nih Fran, aku coba jalan-jalan sambil mencari bajuku, tapi tidak ketemu juga," sahut Nila dengan nada datar.
"Ya sudah, lebih baik kamu ikut aku pulang saja, besok aku carikan kamu kost, kamu mau 'kan?"
Nila menyunggingkan tersenyum
"Tapi, aku jadi merepotkan kamu," ujar Nila.
"Nggak ada yang merasa di repotkan La, namanya manusia hidup, ya wajar kalau saling membantu orang yang sedang kesusahan."
__ADS_1
"Baik sekali dia," batin Nila.
Akhirnya Franky berjalan menuju ke tendanya, di ikuti Nila mengekor di belakang.