Pulau Abadi

Pulau Abadi
Membunuh Jarwo


__ADS_3

"Aku tak begitu paham, karna aku tak pernah memperhatikan lukisan itu, hanya sekilas lihat, ya aku pikir hanya lukisan saja, sama seperti lukisan lainnya."


"Ya sudah, kamu tidurlah, aku harus gerak cepat, tengah malam nanti, aku akan menyelidiki lukisan itu."


Setelah berkata demikian, Joko kembali menghampiri Franky di ruang depan.


"Belum tidur kamu, Fran?" tanya Joko yang kemudian duduk di sebelah Franky.


"Ini mau tidur," jawa Franky sambil menutup laptopnya.


"Ya sudah, tidurlah."


"Ayo kita tidur, Jok."


"Kamu duluan saja, Fran, aku masih ada urusan."


"Ya sudah, aku duluan ya."


Joko mengangguk, dan Franky pun membawa laptopnya, masuk ke dalam kamar.


****


Tengah malam pun tiba, Joko bergegas keluar penginapan, dia berjalan menuju gapura.


SesamPainya, tempat itu sudah sepi, dan Joko mengamati ke sekeliling, tak ada seorang pun yang berkeliaran di tempat itu.


"Ini kesempatan-ku," batin Joko.


Dia pun menengadahkan kepalanya ke atas, dan terlihat lukisan wanita, berpakaian kebaya dan kerudung serba putih.


Joko memejamkan mata, mulutnya berkomat-kamit membaca mantra, setelah itu, dia membuka matanya, dan bersiap hendak melayang ke atas gapura, dan setelah sampai di atas gapura, Joko segera mengambil lukisan itu dengan hati-hati.


Namun, ketika Joko hampir saja berhasil membawa turun lukisan itu, sebuah suara mengejutkannya.


"Hey! mau apa kau dengan lukisan itu? Lancang sekali kau!"


Joko menoleh ke sumber suara, ternyata Jarwo sudah berdiri di bawah.


"Sial, kenapa harus ketemu sama orang itu lagi sih," batin Joko.


"Hey juga, apa urusanmu?" balas Joko.


"Apa urusanku? Asal kau tahu, itu adalah lukisan milikku, dan akulah yang melukis gambar itu," tegas Jarwo.


Joko terbelalak, dia sungguh tak menyangka kalau Jarwo adalah pemilik lukisan itu.


"Hanya lukisan, lagian kalau ini memang lukisanmu, kenapa harus ditaruh di atas gapura? Nggak kamu taruh saja di rumah kamu?"


"Banyak bicara kau, turunlah, apa kau mau, aku teriak maling?"

__ADS_1


Joko pun turun, dan seketika Jarwo melesatkan kilatan biru ke arah Joko. Dengan sigap, Joko pun menangkis kilatan itu, dan mengembalikan ke arah Jarwo.


Kilatan itu mengenai Jarwo ....


"Kurang ajar kau!" serunya.


"Kau yang kurang ajar, menyerang orang seenaknya!" balas Joko.


"Siapa suruh, kau lancang?" ujar Jarwo.


"Lancang apa?" tanya Joko.


"Kau mengusik sesuatu yang bukan milikmu."


Joko pun menjadi curiga dengan Jarwo.


"Jangan-jangan, memang benar, ada sesuatu di balik lukisan itu," batinnya.


"Hey lelaki tua, aku mau tanya, sebenarnya ada apa di balik lukisan itu?"


"Bukan urusan kau anak muda, dan kau, ada apa mengusik lukisanku?"


"Aku setiap hari selalu diganggu oleh bayangan perempuan yang ada di dalam lukisan itu."


Jarwo pun terbelalak.


"Waduh, jangan-jangan dia curiga dengan apa yang ada di dalam lukisan itu lagi," batin Jarwo.


"Hey, anak muda, sebaiknya kau pulang, dan jangan pernah sekali lagi menyentuh lukisan itu!"


"Enak saja kamu menyuruhku pulang, memang kamu siapa?"


"Wah, rupanya kau memang keras kepala, dan ingin bermain denganku, anak muda!" Jarwo mulai merasa kesal.


"Terus kamu mau apa?" tantang Joko.


"Akan kubuat supaya kau tak bisa kembali ke daerah asalmu!" ancam Jarwo.


"Silahkan saja, aku nggak takut sama sekali."


Jarwo langsung melesatkan ajian saktinya ke arah Joko, dan Joko segera mengembalikannya.


Jarwo bertambah kesal, dia menghunuskan keris ke ke arah Joko, namun Joko segera mengambil tongkat sakti miliknya yang selalu dia bawa, dan dia masukan di dalam baju yang dikenakan.


Kedua pria itu bertarung hebat, Jarwo berusaha menusuk Joko, namun Joko selalu dilindungi oleh tongkat sakti miliknya.


Jarwo menatap lekat cincin batu giok berwarna hijau yang melingkar di jari tangan Joko.


Ternyata benar, kucing yang kau bawa kemarin adalah Nawang keponakan-ku," gumamnya.

__ADS_1


"Ya, dan aku akan membunuh orang yang sudah mengutuk dia," ancam Joko.


"Hahahaha! Dasar anak ingusan, bisa apa kau?" ejek Jarwo, sambil bersiap mengarahkan ajian sakti ke arah Joko.


"Kau pikir, aku akan mati dengan ajian lebur nyawa milikmu, tua bangka," batin Joko.


Joko segera menangkis ajian sakti milik Jarwo, dan mengembalikan serangan itu kepada Jarwo, menggunakan cincin pemberian Nawang, si kucing hitam itu.


"Aaaaarrrrgggghhhh!"


Jarwo mengerang kesakitan, dan tubuhnya terpental menjauh dari Joko. Kemudian Jarwo menelungkupkan tubuhnya. Dan dalam sekejap, keluarlah makhluk tinggi besar menyeramkan dari tubuh Jarwo.


"Baiklah, kalau itu maumu, aku bisa melawan," lirih Joko sambil mengusap cincinnya.


Beberapa saat kemudian, muncullah cahaya warna warni dari dalam batu giok tersebut. Cahaya itu berjalan ke arah Jarwo, dan menyerang Jarwo dalam sekejap, sedangkan Joko menendang tubuh Jarwo, hingga lelaki itu sempoyongan.


Jraaaasssshhh!


Jarwo berhasil mengoyak tangan Joko menggunakan keris sakti miliknya.


"Aaarrrggghhh!


Joko pun mengerang, dan memegangi tangannya, berusaha menghentikan pendarahan yang keluar dari tangannya.


Jarwo pun bersiap hendak menyerang Joko, namun Joko segera mengarahkan tongkat saktinya ke arah Jarwo, dan menusukkan tongkat itu tepat di tengah-tengah jantung Jarwo.


"Aaaaarrrrggggg!


Terdengar teriakan keras dari mulut Jarwo. Seketika lelaki tua itu jatuh tersungkur dan tergeletak tak kaku.


Joko segera mendekati, dia memeriksa denyut nadi milik Jarwo.


"Dia sudah mati," gumam Joko dalam hati.


Kemudian Joko kembali menengadahkan kepalanya ke atas gapura, dia memejamkan matanya, dan mulutnya berkomat-kamit membaca mantra. Dalam sekejap, Joko sudah melayang dan berada di atas gapura.


Dia berusaha melepas lukisan yang tertancap di atas gapura itu dengan kekuatannya. Akhirnya lukisan itu terlepas juga, dan Joko melayang turun dengan membawa lukisan itu.


Sampai di bawah, terdengar adzan subuh berkumandang.


"Buset, sudah hampir pagi, cepat sekali, aku harus pulang membawa lukisan ini sebelum langit terang," batin Joko, sambil berjalan ke arah penginapan.


Sampai di penginapan, Joko masuk ke dalam kamarnya, dan meletakan lukisan itu di pinggir dekat lemari.


Tiba-tiba, hidungnya merasakan aroma sedap, dari sebuah masakan.


"Seperti ada yang memasak ... ah, ini saatnya, pasti ada yang memasak di dapur itu, aku harus menangkap basah, siapa yang selama ini selalu memasak banyak makanan," batin Joko.


Joko pun berjalan perlahan ke arah dapur, sampai di gudang, dia mendengar suara wanita sedang bernyanyi dengan suara yang sangat merdu.

__ADS_1


Joko terus berjalan, dan sampailah dia di dapur, dan di sana tepat di depan kompor, dia melihat seorang wanita berpakaian serba hitam, bersurai panjang tergerai sebatas pinggang, sedang berdiri dengan posisi menghadap kompor dan membelakangi Joko.


"Siapa dia? Kenapa bisa ada di sini? Apa dia adalah makhluk yang ada di dalam gudang itu? Ah tapi nggak mungkin, makhluk di gudang itu kan jahat, mana mungkin dia memasak setiap hari untuk kita orang," batin Joko.


__ADS_2