Pulau Abadi

Pulau Abadi
Jelmaan Kucing Hitam


__ADS_3

"Iya, aku juga sudah berinteraksi dengannya, dan sudah tahu semua kejadiannya. Tapi, dia itu sedang mencari jasadnya, aku dengar ada yang menyembunyikan jasadnya, sehingga rohnya terjebak dan matinya nggak sempurna, karna dia belum bisa menuju ke alam selanjutnya. Untuk itu, dia terus bergentayangan menjadi arwah penasaran."


"Betul, jadi tugas kamu, menemukan arwah si Rinjani itu?" tanya suara hati Nawang.


"Betul, kalau enggak, ngapain juga aku jauh-jauh ke sini, dan sekaligus antar teman juga tuh." Joko melirik ke arah Franky, tanpa sepengetahuan Franky.


"Dia itu penulis terkenal, sempat kehilangan inspirasi karna istrinya meninggal, dia jadi depresi dan sempat menurun karirnya, dan dia diajak sama yang punya kantor penerbit ke pulau ini. Karna, katanya pulau ini tempatnya nyaman dan damai, jadi bisa berkonsentrasi menciptakan sebuah inspirasi."


"Oh begitu, tenang saja, aku juga akan membantu kau untuk mencari jasad si Rinjani."


"Okelah ...."


Kini, mobil yang dikendarai oleh Joko pun tiba di depan gapura, yang tak lain adalah jalan masuk ke pulau abadi itu, dan selangkah lagi mereka akan memasuki pulau abadi. Bertepatan dengan itu, muncullah sosok wanita berkebaya dan berkerudung serba putih, berdiri di depan mobil yang dikendarai oleh Joko.


Franky terkejut. "Rinjani?"


Joko menoleh ke arah Franky. "Hem, yang sedang kasmaran," lirihnya.


"Itu beneran Rinjani kan, Jok?" tanya Franky.


"Ya, terus kenapa? Sabar lah, Fran, nanti kalau kita sudah sampai tempat tujuan, baru kamu bisa kangen-kangenan sama dia, kan kita juga mau lama di tempat ini, kamu juga butuh inspirasi kan, memangnya bisa, nulis hanya satu hari saja, langsung selesai ?"


"Iya deh, Jok, huft ...." Franky setengah menggerutu.


"Nawang, kamu tunggu sini ya, aku akan berbicara sebentar dengan Rinjani," kata Joko kepada Nawang, dalam hatinya.


"Nah,.kamu saja mau menemui dia," ledek Franky.


"Haduh, kamu jangan cemburu, aku hanya ingin menyuruh Rinjani untuk pulang dulu, biar


perjalanan kita nggak terganggu."


"Okelah, Jok," sahut Franky lemas.


Joko pun turun dari mobil, dan berjalan ke arah sosok Rinjani.


"Hey, jin bucin, nanti saja kalau mau ketemu sama Franky, kita tuh masih repot, belum cari tempat tinggal, kamu ini mengganggu saja!" hardik Joko.


"Kalau bicara biasa saja, tak perlu mengegas," cetus Rinjani.


"Hahaha! Tuh kan baper, bucinnya keluar deh," ledek Joko.


Rinjani tak mempedulikan ucapan Joko, dia berbalik arah, dan berjalan lurus ke depan. Joko pun kembali masuk ke dalam mobilnya, dan mobil pun melaju. Ketika melewati gapura, Rinjani melayang ke atas, Joko yang menyaksikan hal itu, pun merasa heran.


"Itu hantu ngapain pakai melayang segala? Tinggal menghilang apa susahnya sih, dasar kurang kerjaan," batinnya.


"Fran, apa kamu lihat si Rinjani melayang?" tanya Joko, yang merasa penasaran.


"Hah? Melayang? Maksud kamu apa, Jok? Bukankah dia jalan masuk ke pulau itu?" Terus, aku nggak lihat lagi."

__ADS_1


Joko menoleh ke belakang, dia melihat Leon tertidur pulas. "Ya ampun, nih orang kerjaannya makan tidur terus, lama-lama hamil tuh perut, sudah besar begitu."


Nawang si kucing hitam itu, tersenyum geli dengan tingkah Joko. Mobil pun melewati gapura, dan terus melaju, hingga sampailah mereka di depan rumah Bento.


"Le, bangun, kita sudah sampai," kata Franky membangunkan Leon.


Perlahan, Leon membuka matanya. "Sudah sampai, Fran? Kok cepat sekali."


"Cepat apanya, Le? Kamu itu tidur terus, hem."


"Hehe," Leon pun meringis, sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Joko menggendong Nawang, lalu turun dari mobilnya diikuti Franky dan Leon.


"Permisi," sapa Joko, ketika sampai di depan pintu.


Tak lama, Bento pun keluar. "Eh, kalian sudah ke sini lagi," sambutnya, dengan wajah ceria.


"Ibu kamu mana, Ben?" tanya Franky.


"Dia sedang arisan di rumah tetangga, Fran, eh ayo masuk."


Ketiga pria itu pun masuk ke dalam rumah Bento ....


"Wah, sejak kapan kamu pelihara kucing, Jok?" tanya Bento, ketika melihat Joko menggendong kucing.


"Eh, sejak kemarin, Ben, hehe ... nggak tahu kenapa, mendadak aku suka sama kucing," jawab Joko berbohong.


"Ya namanya juga orang suka, bebas kan mau warna apa saja, hehe."


"Ya iya sih, Jok," seloroh Bento.


"Oh iya, Jok, aku mau bilang, apa di sini ada penginapan lagi, selain di tempat bu Regina?" tanya Franky.


"Wah, sepertinya sudah nggak ada, Fran, hanya itu saja."


"Oh gitu ya, terus kalau rumah kontrakan pak Yusuf itu, apa masih kosong?"


"Rumah itu, sudah nggak disewakan lagi, Fran, sudah dibangun tempat usaha sekarang."


"Oh, usaha apa memangnya?"


"Warung soto, Fran, tapi hanya buka pagi saja, kalau siang sudah habis-habisan.


"Wah hebat, laris manis ya, kapan-kapan boleh dicoba nih," ujar Franky antusias.


"Kok kapan-kapan sih, Fran, besok pagi saja kita sarapan, kan siang sudah habis, hehe," kekeh Leon.


Franky dan Joko saling berpandangan, kemudian tersenyum penuh makna, sedangkan Bento terlihat bingung, dengan tingkah kedua pria tersebut, sementara Leon hanya meringis, memamerkan deretan gigi mentimunnya.

__ADS_1


"Berarti, hanya penginapan bu Regina saja, yang ada?" tanya Franky.


"Iya, Fran."


"Tuh, Le, kamu dengar sendiri kan, nggak ada penginapan lagi?" ujar Joko.


"Iya, iya, ya sudah di sana lagi nggak apa-apa kok."


"Ya sudah Ben, karna ini sudah sore, dan hampir malam juga, kita pamit dulu ya, mau istirahat," kata Joko.


"Oh iya, Jok, perlu aku antar atau enggak?"


"Nggak perlu, Ben, kan kita sudah hafal tempatnya."


"Ya sudah, hati-hati ya."


"Oke, Ben."


Kemudian, ketiga pria itu pun berjalan menuju penginapan. Sesampainya, Franky segera menemui bu Regina di rumahnya. Setelah berbincang-bincang, bu Regina pun mengantar ketiga pria itu ke penginapannya.


"Ingat ya pesan saya, jangan sekali-kali memasuki gudang itu," ujar bu Regina tegas.


Ketiga pria itu mengiyakan ucapan bu Regina. Kemudian bu Regina kembali ke rumahnya. Sementara Franky dan kedua temannya masuk ke dalam kamar, lalu mereka segera menata barang-barang yang dibawanya, ke dalam lemari yang telah tersedia.


"Istirahat, Fran, kalau capek," kata Joko.


"Iya, Jok, kamu juga," sahut Franky.


"Oke, kamu juga, Le, istirahat, sudah kenyang kan perutnya," kelakar Joko.


"Hehe, iya, Jok."


Joko pun keluar kamar, dan berjalan menuju ke belakang. Dia menaruh Nawang, si kucing hitam, di sudut dapur.


"Hey, apa kamu nggak keberatan, aku taruh di sini? Besok aku akan membelikan makanan untuk kamu."


"Nggak masalah, jadi kalau aku ingin buang air, tinggal masuk kamar mandi."


"Ya sudah, ingat ya, jangan bikin keributan."


"Kau pikir, aku ini hantu? Suka bikin keributan, dan meresahkan masyarakat?"


"Hehe, iya, iya, jangan marah lah, nanti lucunya hilang."


Kucing itu terdiam, dan Joko pun berjalan masuk ke dalam kamarnya.


"Mana kucingnya Jok?" tanya Leon.


"Di dapur, Le, masa iya aku taruh di kamar, nanti kalau buang air di sini, kasihan kalian, kan."

__ADS_1


"Aku pikir, mau kamu keloni haha!" Franky terbahak.


"Huuu, kalau Rinjani, kamu keloni nggak apa-apa Ngga."


__ADS_2