Pulau Abadi

Pulau Abadi
Dan Terjadi Lagi


__ADS_3

Keesokan hari, Franky berjalan masuk ke dalam rumahnya.


"Kamu dari mana, Mas?" tanya Via.


"Ini Vi, aku habis beli CCTV, mau aku pasang di hutan itu. Kemarin malam aku ke hutan hendak mencari inspirasi, tapi aku nggak sengaja lihat orang membuang mayat di jurang, dan aku curiga itu korban pembunuhan para pendonor darah."


"Em, Bisa jadi Mas, karna hutan itu letaknya kan nggak jauh dari salon."


"Maka dari itu, aku mau pasang alat ini di sana, tentunya di tempat tersembunyi."


"Ck, ck, ck, tindakan mereka benar-benar meresahkan warga ya Mas, mereka pikir, dengan membuang mayat-mayat itu di danau, polisi nggak akan mengendus kejahatan mereka."


"Kamu tenang saja Vi, sepandai-pandai mereka menyimpan bangkai, suatu saat tercium juga busuknya."


"Iya, kamu benar Mas."


"Ya sudah, aku ke hutan dulu ya, aku mau pasang CCTV ini, lebih cepat lebih baik, aku akan ajak Joko."


"Iya Mas, kamu hati-hati ya."


"Iya sayang." Franky mengecup kening Via, kemudian dia menuju ke rumah Joko.


Tak lama, Franky dan Joko tiba di hutan yang dimaksud, hutan itu sangatlah sunyi, dan hal itu adalah kesempatan bagi mereka untuk memasang CCTV, mereka memasangnya serapi mungkin di tempat yang benar-benar tersembunyi, dan tak dapat dilihat orang.


Setelah selesai memasang CCTV, mereka pulang ke rumah masing-masing.


Tiga hari setelahnya, novel Franky telah selesai di rilis, dan Franky pun mengantar naskahnya kepada Nurdiana, di kantor penerbit.


"Ini honor kamu, Fran, wah, kamu tambah semangat ya, karna sudah ada yang selalu mendukung kamu, menemani kamu setiap hari, dan pastinya melayani kamu."


"Hehe, iya Nyonya, aku senang punya istri yang mau menerimaku apa adanya."


"Ya sudah, mulai sekarang jangan sedih lagi, dan ingat, jangan suka melamun."


Franky tersenyum dalam anggukannya, kemudian berpamitan pulang. Sesuai janji Franky, sore itu dia mengajak Via untuk jalan-jalan, Franky mengendarai mobilnya.


"Kita mau ke mana Mas?"


"Merefresh otak Vi, aku tahu, kamu pasti bosan kan di rumah terus."


"Ah, kamu bisa saja Mas, enggak kok, aku senang-senang saja di rumah."


"Iya, aku tahu Vi, tapi aku ingin mengajak kamu jalan-jalan, biar kamu senang."


"Oh gitu, makasih ya Mas, kamu perhatian sekali sama aku."


"Iya Vi, kalau aku nggak sayang sama kamu, mana mau aku kasih perhatian sama kamu?"


Via pun tersenyum malu, tak lama mereka sampai di alun-alun, Franky mengajak Via untuk turun, dan berjalan mencari tempat duduk.


"Kamu mau makan apa, Vi?" tanya Franky.


"Apa saja Mas."

__ADS_1


"Lho, jangan gitu dong, bilang saja mau makan apa."


"Em, apa ya, itu ada batagor," tunjuk Via.


Franky menoleh ke arah yang ditunjuk. "Kamu mau makan batagor?"


"Iya Mas."


"Ya sudah, kamu tunggu sini sebentar, aku akan belikan."


"Iya Mas, oh iya, aku nggak pake kecap ya, saos sama sambal kacang saja."


"Oke, Vi."


Franky pun membeli batagor dua porsi, kemudian memberikan yang satu porsi kepada Via, dan Via pun menikmatinya, mereka duduk di atas rerumputan kering.


"Mas ...."


"Iya Vi, ada apa?"


"Kamu nggak kecewa sama aku?"


"Lho, memangnya kecewa kenapa?"


"Sampai sekarang, aku belum hamil juga."


"Ya ampun Vi, nggak apa-apa lagi, kamu yang sabar ya, kalau sudah waktunya, pasti dikasih juga kok, kamu tahu nggak? Itu si Nawang istrinya Joko, satu tahun lho, dia baru hamil."


Via terbelalak. "Hah? Masa sih?"


"Tapi kan aku kenal mereka belum lama Mas, baru kemarin kok."


"Iya juga ya, ya sudah, pokoknya kamu jangan banyak pikiran ya, dibuat santai saja."


"Iya Mas, yang penting kamu nggak ninggalin aku."


"Ya nggak mungkinlah, aku itu terlalu sayang sama kamu."


"Makasih ya Mas." Via menyandarkan kepalanya di pundak Franky.


Saat mereka asik bermesraan, mereka melihat seorang gadis berusia tujuh belas tahun berlari ke arah mereka.


"Pak, Bu, tolong saya."


"Lho, kamu kenapa Neng?" tanya Franky kepada gadis itu.


"Saya dikejar-kejar sama orang."


"Memang kenapa? Apa kamu mencuri?"


"Husss! Kamu itu hat-hati kalau bicara, Mas," tegur Via.


"Em, Neng, kamu kenapa, kok sampai di kejar-kejar sama orang?" Kini Via bertanya kepada gadis itu.

__ADS_1


"Ceritanya panjang, sebaiknya tolong amankan saya dulu, nanti saya ceritakan, auuu!"


Gadis itu berteriak sembari memegangi perutnya sebelah kanan.


Franky dan Via saling berpandangan.


"Ya sudah yuk Mas, kita pulang saja, ajak anak ini, kasihan dia, seperti kesakitan."


"Iya deh Vi, ayo."


Franky dan Via memapah tubuh gadis itu ke dalam mobil, kemudian Franky mengemudikan mobilnya, sedangkan Via duduk di belakang bersama gadis itu.


"Siapa nama kamu?" Via bertanya kepada gadis itu.


"Putri," jawabnya.


"Oh, nama yang bagus, terus kamu itu sebenarnya dikejar-kejar sama orang siapa?"


"Sebenarnya tempo hari lalu, saya mendonorkan ginjal saya, saya mau karna saya diimingi uang yang besar."


"Apa?" Via terbelalak.


"Ya Tuhan, korban donor ginjal lagi, untung saja kamu ketemu sama kita, kalau enggak ... nggak tahu deh bagaimana nasib kamu," sambung Franky.


"Tapi, kamu sudah sempat mendonorkan ginjal kamu?" tanya Via.


"Sudah, satu minggu yang lalu, dan saya memang dikasih uang banyak, uang itu untuk biaya sekolah saya, karna tinggal satu semester lagi saya lulus, sayang kalau nggak dilanjutkan, di samping itu, saya terpentok biaya, ibu saya hanya buruh cuci di tempat tetangga saya, sedangkan bapak saya hanyalah tukang sol sepatu, dan penghasilan mereka nggak seberapa, hanya cukup untuk makan sehari-hari. Nah satu minggu kemudian, aku di datangi mereka lagi, dan mereka memaksaku untuk mendonorkan ginjalku satunya lagi, jujur aku nggak kuat, dan aku menolaknya, tapi mereka memaksa, jadi aku kabur deh."


"Astaga, biadab sekali mereka," gumam Via.


"Ini nggak bisa di biarkan, Vi," timpal Franky.


"Iya Mas, tapi kita harus gimana Mas?"


"Tenang Vi, dengan CCTV yang aku pasang di hutan itu, kita akan segera meringkus penjahat itu."


"Iya Mas, semoga saja deh."


"Kamu jangan mau Put, kalau kamu sampai mendonorkan satu ginjalmu lagi, nyawa kamu dalam bahaya, karna mana mungkin kita bisa hidup tanpa ginjal, dan kalaupun kamu mau mendonorkan satu ginjalmu lagi, setelah itu kamu akan dibunuh, mereka itu licik."


"Iya Pak, makannya saya lari."


"Kamu kok pegang perut terus, apa sakit?" tanya Via, yang sedari tadi terus memperhatikan gerak-gerik Putri.


"Sakit sekali Bu, nyeri," sahut Putri sambil meringis.


"Ya ampun, sebaiknya kita cari klinik terdekat Mas," kata Via kepada Franky.


"Iya Vi, memang rencanaku hendak ke klinik, sabar ya, kita cari yang dekat-dekat saja."


"Iya Mas, kamu yang sabar ya Put."


Gadis dengan nama Putri itu mengangguk lemah, sementara Franky terus mengemudikan mobilnya, hingga melewati sebuah klinik kecil. Pria itu memarkirkan mobilnya di depan klinik tersebut.

__ADS_1


"Ayo kita turun Vi, bantu si Putri juga."


"Iya Mas, ayo Put, pelan-pelan saja."


__ADS_2