
Malam hari pun tiba ....
"Ayo Jok, kita ke salon sekarang," ajak Nila.
"Oke, aku akan mengajak Franky."
Joko pun ke rumah Franky, kemudian mereka bertiga pergi ke salon dengan mengendarai mobil. Sampai di kejauhan, Franky memarkirkan mobil di tempat yang aman.
"Kalian tunggu di sini dulu, aku akan menyamar sebagai pendonor ginjal," ujar Nila.
"Oke Nil, hati-hati ya," kata Joko.
"Kalau ada apa-apa kasih kabar, La," sambung Franky.
"Oke."
Nila pun turun, dan menuju ke salon, sampai di depan salon seorang lelaki menyambutnya.
"Siapa dan mau apa kau?" tanyanya.
"Ini pasti salah satu anak buah si Anton," batin Nila.
"Em, saya ingin mendonorkan ginjal, maaf, dengar-dengar dapat honor ya, kebetulan saya sedang butuh biaya untuk berobat ibu saya."
"Silahkan masuk."
"Seperti ada yang aneh, apa laki-laki ini mencurigaiku?" gumam Nila dalam hati.
Nila mengikuti lelaki itu masuk ke dalam salon, dan menuju ke sebuah ruangan yang mirip kamar, di dalam kamar itu terdapat sebuah kasur.
"Berbaringlah, aku akan memanggil dokter yang akan melakukan transplantasi ginjal," ujar lelaki itu.
Nila naik ke atas kasur, dan merebahkan tubuhnya, dan lelaki itu keluar dari kamar dan masuk ke ruangan yang ada di sebelahnya, Nila dapat mendengar lelaki itu sedang berbicara kepada seorang dokter.
Nila menempelkan telinganya ke tembok kamarnya, dan ternyata tembok itu tidak kedap suara, jadi pembicaraan di dalam ruangan sebelah dapat terdengar jelas di telinga Nila.
"Ambil kedua ginjal perempuan itu, dan jangan biarkan dia hidup, sepertinya dia mempunyai tujuan untuk menyelidiki bisnis kita, bisa gawat kalau kita membiarkan dia hidup," ucap lelaki itu kepada seorang dokter.
"Baik, pak."
Nila terkejut mendengar percakapan kedua lelaki itu, dia bergegas naik ke atas kasur.
"Aku harus cepat-cepat kabur dari sini, tapi ... bagaimana caranya?" Nila berpikir sejenak.
Dia mengedarkan pandangannya, netranya tertuju pada sebuah lemari, Nila mendekati lemari itu, dan membukanya, dia terbelalak tatkala melihat sejumlah ginjal manusia yang sudah diawetkan.
Dia pun mengambil beberapa ginjal itu, kemudian dia keluar dari kamar itu, dia berjalan menuju ke kamar mandi, dia bertemu dengan beberapa orang yang hendak melakukan penelitian, kemudian Nila membekap salah seorang tersebut, yang masuk ke dalam toilet, dan menukar pakaiannya, lalu dia mengikat dan memasukan orang itu ke dalam toilet, tak lupa dia juga menyumpal mulutnya, supaya tak berteriak-teriak.
Kemudian Nila memasuki ruangan tempat packing produk, dan Nila mengambil beberapa bungkus makanan yang telah dikemas. Nila mengirim signal telepati kepada Joko, dan Joko diharuskan menjemputnya.
Di sisi lain, Joko membaca mantera, dan tak lama Nila telah berdiri di hadapannya.
"Bagaimana?" tanya Joko.
"Masih banyak lagi tugas kita, ini simpan dulu di mobil." Nila menyerahkan apa yang baru saja dia dapat di salon itu.
__ADS_1
"Nih Fran, simpan," kata Joko kepada Franky.
Franky menerima pemberian Joko kemudian menaruh di dalam bagasi mobil, ketika dia menutup bagasi itu, netranya tertuju ke arah sosok lelaki yang keluar dari dalam salon itu, dia mengendarai motor.
"Eh, coba lihat itu!" tunjuknya.
Joko dan Nila menoleh ke arah yang dimaksud.
"Itu kan Anton, Ayo kita ikuti dia, siapa tahu kita bisa mendapatkan informasi lagi," titah Nila.
Ketiga insan itu segera masuk ke dalam mobil, dan mengikuti lelaki itu dari jauh.
Lelaki yang diduga adalah Anton, menghentikan motornya di sebuah hotel mewah, di kota itu.
"Mau apa dia di sana?" tanya Franky heran.
"Sudah, kita ikuti saja," sahut Nila.
Kemudian ketiga insan itu memasuki hotel, dan mencari lelaki tersebut. Franky melihat lelaki itu memasuki salah satu kamar hotel itu.
"Itu dia," tunjuknya.
"Sebaiknya, aku saja yang mengikuti, kalian tunggu di sini saja," ucap Nila.
"Oke La, hati-hati."
Nila menghilang, sehingga orang-orang di sekitar tak dapat melihat aksinya, kemudian berjalan ke arah kamar yang dimasuki oleh lelaki itu, dia menempelkan telinganya ke pintu hotel itu.
"Bagaimana? Apa kau sudah merasakan manfaatnya, setelah makan snack kering itu?" tanya Anton di dalam kamar.
"Kalau begitu, aku ingin mengajakmu untuk bekerja sama."
Dalam hal apa?"
"Aku ingin kau menjadi brand ambasador kami."
"Terus, apa yang harus aku lakukan?"
"Kau akan aku ajak ke Singapura, untuk launching produk kami di sana, dan aku harap kau mau mempromosikan produk kami di sana."
"Kapan?"
"Minggu depan."
"Apa ada honornya?"
"Tentu saja honornya besar, dan kalau produk kami laku keras, kau akan kami kasih bonus tambahan."
Wanita itu menyunggingkan senyumnya. "Baiklah, aku bersedia."
Kemudian Anton menyodorkan sebuah kertas. "Kalau kau memang bersedia, tolong tanda tangani surat kontrak ini.
Wanita itu segera menandatangi surat kontrak itu, dengan senyum lebar tersungging di bibirnya.
"Deal ya," kata Anton.
__ADS_1
"Oke, minggu depan kita langsung bertemu di bandara saja."
"Siap."
Anton segera berlalu, dari hotel itu.
Sementara Nila kembali menemui Franky dan Joko. "Ayo kita pulang, nanti kita bicarakan di rumah."
Franky mengemudikan mobilnya hingga tiba di rumahnya.
"Kita ngobrol di rumahku saja yuk," ajak Franky.
"Boleh deh, sekali-kali," sahut Joko.
Ketiga insan masuk ke dalam rumah Franky kemudian duduk di ruang depan.
"Sepi sekali rumahmu, Fran," kata Joko.
"Jelas sepi, penghuninya saja hanya dua orang, aku dan Via, kamu ini bagaimana sih, Jok."
Joko terkekeh.
"Mana istrimu?" tanya Nila.
"Mungkin sudah tidur ini kan sudah malam, tuh lihat, sudah jam dua belas," kata Franky sambil menunjuk ke arah jam dinding.
"Astaga, nggak nyangka waktu cepat sekali berputar," gumam Joko.
"Ya sudah, besok kalian selidiki dokter yang membantu dalam pengoperasian ginjal."
"Kita harus selidiki dia di mana?"
"Aku mendapat informasi, kalau dia mempunyai klinik harapan, di kota K."
"Baik, besok aku akan menyelidiki," kata Joko.
"Terus, tugasku apa?" tanya Franky.
"Sebaiknya kau jaga istrimu dan istrinya Joko, kalian mau di rumah Joko, atau di rumahmu terserah, karna aku khawatir kejadian yang menimpa istrimu terulang lagi, bukan tidak mungkin anak buah Anton sampai di desa ini, mereka sudah merajalela."
"Nila benar Fran, sebaiknya ada laki-laki yang berjaga, jangan perempuan sendiri," sambung Joko.
"Baiklah," ucap Franky.
"Kalau ada apa-apa, kau bisa hubungi Joko," kata Nila.
Franky pun mengangguk.
"Ya sudah, kalau kau mau istirahat, kau pasti capek," kata Nila.
"Oke, La," balas Franky.
"Ayo kita pulang," ajak Nila kepada Joko.
Joko berjalan ke rumah, diikuti Nila mengekor di belakang, sedangkan Franky mengunci pintu rumah, dan masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1